Sunday, November 13, 2011

Mind Management: Optimisme yang Menyembuhkan


Adalah Angela seorang penderita kanker yang mengalami kesembuhan dan kemudian dia menuliskan pengalamannya dalam buku The Heroic Path. Dua kejadian menyesakkan hari itu pastilah diingat betul oleh Angela. Dia didiagnosis menderita kanker dan dia kehilangan hak mengasuh anak-anaknya. Seolah langit runtuh, tiada harapan, seolah ingin memilih mati saja. Namun apa daya, dia hanya bisa mengadu dan pasrah pada Tuhan yang diyakininya.

Seraya tidak ada lagi pilihan rasa atas kehidupan yang dialaminya, pahit dan getir tiada rasa manis walau sedikit. Dia mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri sembari menunggu jadwal bedah pengangkatan kankernya. Mulailah Angela menyelami sisi terdalam jiwanya, menemukan arti kehidupan, kasih ayang, dan kesehatan. Kesadaran bahwa ternyata banyak hal yang selayaknya disyukuri bermunculan. “Bukankah kehidupan ini sendiri adalah karunia”, bisik batinnya.
Hari-hari yang biasanya terasa sepi diisinya dengan bersepeda, berelaksasi, dan membayangkan dirinya yang segar bugar, sehat, dan bersemangat. Jika selama ini, dia lebih banyak memberikan kesempatan ketakutan, ketidakberdayaan, dan kekhawatiran maka mulai saat itu dia mencoba memberikan perhatian pada sisi spirit dalam dirinya. Sumber illahiah yang selama ini tertutupi oleh situasi dan keadaan. Keberanian, optimisme, dan keceriaan ditumbuhsuburkan dalam jiwanya.

Dia mencoba untuk memenangkan dirinya sendiri atas fakta yang dialami. Selama tiga minggu sebelum pembedahan, dia ‘bertarung’ dengan sel-sel kanker dengan membayangkan tentara kekebalan tubuh yang mengalahkan sel-sel kanker. Setiap hari dilakukannya, setiap ada bisikan melemahkan, dibesarkan optimismenya melebih sisi kelemahan itu. Hingga sampailah waktu untuk pengangkatan kanker. Dan betapa keajaiban terjadi, dokter yang memeriksanya menyatakan bahwa tidak ada kanker dalam tubuh Angela. "Kanker itu telah hilang!"
Pahit hari-hari yang dirasakan mulai berganti rasa manis mandu yang melegakan. Kebahagiaan pun berdatangan lebih banyak dari yang dia perkirakan. Hak mengasuh anak pun kembali padanya, dia bisa membuka bisnis baru, menjadi seorang terapis, dan menulis buku sebagai wujud semangatnya ingin berbagi pada banyak orang. Dia ingin menyampaikan pada dunia bahwa kehidupan ini berlimpah pilihan. Perlu kemampuan untuk memilih memang. Kemampuan yang muncul ketika seseorang mulai memandang diri penuh kasih dan menerima semuanya sebagai tahapan peningkatan kapasitas diri.

Demikian tadi kisah yang saya ceritakan ulang dari buku inspiratif “Chicken Soup for the Surviving Soul : 101 Healing Stories About Those Who Have Survived Cancer”. Sebuah buku yang saya dapatkan dari orang yang sangat antusias dalam berdiskusi, menulis paper, dan mengikuti banyak pelatihan. Kehadiran buku tersebut merupakan sebuah keajaiban tersendiri bagi saya. Saya sedang menguji sebuah teknik psikoterapi untuk membantupenanganan depresi penyakit kanker. Harapan besar seorang yang mendalami psikologi di Universitas Diponegoro, Semarang.
“Saya akan tetap tersenyum, saya tidak akan membiarkan apa yang saya alami mentertawakan saya”, begitu kata seorang yang pernah saya temui. Ada kekuatan hebat melebihi realitas terpancar dari dirinya. Itulah yang menjadikan dia tetap kuat dan menjadikan siapapun yang mendapati kata-katanya tergetar batinnya. Mereka yang sehat dengan badan yang kekar terkadang lemah hanya dihadapkan pada hal yang sepele. Ketakutan-ketakutan dalam bayangan mentalnya yang belum tentu terjadi dalam realitas.

Saya jadi ingat kata-kata seorang trainer hebat, Reza M. Syarif. Dalam salah satu acara yang dibawakannya, beliau pernah menyampaikan bahwa kita membutuhkan mind management disamping management-management yang lainnya. Semua pastinya familiar dengan apaq yang disampaikan Rasulullah SAW bahwa Allah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Senantiasa berprasangka baik adalah sebagian dari keimanan karena iman bukan hanya sekedar percaya tetapi juga persangkaan baik terhadap segala yang menimpanya.
“Aku berada dalam sangkaan hamba-Ku tentang Aku, dan Aku bersama-nya ketika ia menyebut Aku. Bila ia menyebut Aku dalam dirinya, Aku menyebut dia dalam Diri-Ku. Bila ia menyebut Aku dalam khalayak, Aku menyebut dia dalam khalayak yang lebih baik dari itu. Bila ia mendekat kepada-Ku satu jengkal, Aku mendekat kepadanya satu hasta. Bila ia mendekat kepada-Ku satu hasta, Aku mendekat kepadanya satu depa. Bila ia datang kepada-Ku berjalan kaki, Aku datang kepadanya berlari-lari”. (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ibn Majah, At-Tirmidzi, Ibn Hanbal).
Semoga kita senantiasa didekatkan Allah SWT dengan kesyukuran, kebahagiaan , kelapangan bukan karena penderitaan dan kesempitan. Ketulusan hati dan keringanan tangan untuk berbagi dengan banyak orang. Hidup ini lebih bermakna ketika seseorang menyadari keberadaannya bukanlah untuk dirinya sendiri tetapi juga bagi orang lain. Mereka barangkali keluarga, teman, kerabat bahkan mungkin calon pasangan hidup yang masih Tuhan rahasiakan. Bukan semata-mata untuk mengejar kepuasan diri sendiri ternyata ketika seseorang melakukan hal lebih tetapi karena Tuhan telah menciptakan orang-orang spesial untuk dirinya. Masihkah tidak bersemangat dalam kesendirian ketika mengetahui demikian? Masihkah meragukan Kasih Sayang Tuhan merata bagi hamba-Nya?

Ditulis oleh Pariman Siregar (Penulis Buku MASTER from minder, motivator, trainer, terapis, dan pemilik cita-cita “Inspiring The World”)
Bagi yang ingin berdiskusi atau mengundang untuk training, bedah buku, konsultasi bisa melalui email parimansiregar@gmail.com; FB Inspiring Man; Twitter @inspirasisegar. Salam bahagia! Salam MASTER!

0 komentar:

Post a Comment