Saturday, November 30, 2013

#SebuahRefleksi: Bermental Pengemis?


“Pengemis”, sebutan yang tidak asing lagi untuk para peminta-minta. Dulu, orang mengemis karena benar-benar kelewat miskin. Saya ingat saat saya masih kecil, ada pengemis yang meminta-minta dari rumah ke rumah. Tujuannya mengemis sekedar untuk makan, tidak lebih dari itu. Pengemis itu juga malu ketika ada orang yang menyebutnya “pengemis”. Seolah dia sebenarnya tidak menginginkan untuk menjadi pengemis andai bisa melakukan usaha yang lain. 


Dulu saat saya masih kecil memang sangat lain dengan sekarang. Saya menemukan banyak pengemis di zaman sekarang ini sudah menjadi “pekerjaan”. Cara yang dilakukan juga beragam. Pernah saya menemukan, anak-anak masuk di bus lalu menyebarkan amplop kosong dengan tulisan tangan. “Mohon bantuannya untuk membayar sekolah”. Bukannya pendidikan dasar itu gratis ya?


Ada juga yang menyanyi dulu sebelum minta, biasanya di perempatan jalan. Sasarannya para pengguna jalan yang berhenti saat lampu merah. Dulunya mungkin karena memang benar-benar kepepet melakukan hal tersebut tetapi sudah bergeser karena malas bekerja keras. Bagaimana tidak, suatu kali saya menemukan orangnya sedang asyik telpon. Saya yakin HPnya bukan HP yang harga 200an ribu tapi mungkin 700an ribu. Ketika ada salah seorang pengendara motor yang berselorok pada pengemis tersebut, dia hanya bilang kalau sedang telpon pacarnya. Keesokan harinya, biasanya pengemis itu menyanyi dengan diiringi tutup botol yang dirangkai dengan paku pada kayu tetapi saat itu sudah berganti dengan sound system kecil. 


Fenomena demikian semakin hangat dibicarakan ketika di Jakarta didapati seorang pengemis dengan uang 25 juta. Jumlah yang sangat fantastis. Ada banyak orang yang memiliki pengalaman yang membuat dahi berkerenyit. Seorang teman pernah bertanya tentang uang yang didapat. Jawab pengemis dengan enteng, “Lagi sepi hari ini, cuma dapat 200rb”. Dapat 200rb dianggap sepi? 


Kalau ditotal 200rb x 30 hari sudah 6 juta. Jumlahnya berlipat-lipat dari UMR dan gaji PNS yang baru awal diterima. Ada juga yang tahu persis kalau ada pengemis yang rumahnya mewah. Pengemis menjadi pekerjaannya. Ada pula yang sawahnya luas, pergi ke kota karena musim kering lalu mengemis. Saat sudah musim hujan, balik lagi menggarap sawah. Mendapati kenyataan tentang pengemis yang penghasilannya banyak, ada seorang yang mengatakan menyesal dan tidak akan lagi memberi uang receh karena gajinya ternyata lebih banyak yang diperoleh pengemis. Baru saja kemarin, saya menemukan ada peminta-minta dengan HP Black Berry. Dalam hati saya berkata, “Apa yang salah dengan negeri ini?” Nampaknya, fenomena tentang pengemis menggambarkan problem kronis secara mental.


Sebuah refleksi untuk diri sendiri, “Apakah mentalitas pengemis itu ada dalam diri kita juga?” Bentuknya bisa saja sangat lain karena norma yang kita pegang masih bisa mengendalikan dorongan mentalitas itu dalam bentuk perilaku yang lebih bisa diterima sebagai kewajaran. Mentalitas “mengemis” ditandai dengan “dependensi, meminta-minta, tidak mandiri”. Sampai seusia sekarang ini, masihkan menggantungkan pemenuhan kebutuhan pada pihak-pihak tertentu tanpa adanya kerja yang menghasilkan uang padahal jika berusaha lebih bisa menghasilkan sendiri? Berapa banyak jumlah yang diberikan atau disumbangkan selama ini? Dalam konteks lebih luas, dimana posisi kita, apakah menjadi beban atau memberi solusi?


Jika ada 1 “pengemis” saja, berarti Negara mengalokasikan pengeluaran untuk membiayani pengemis tersebut melalui dinas terkait. Jika 1 “pengemis” mendapat alokasi 1 juta tiap bulan dan ada 1 juta pengemis berarti ada 12 x 1 juta x 1 juta, totalnya ada 12.000.000.000.000,- Hitungannya sebagai “beban” anggaran karena dihitung sebagai konsumsi. 


Jumlah uang yang sangat besar dan sangat cukup untuk membeli modal tukang bakso keliling (misalnya). Jika modal tukang bakso keliling adalah 5 juta berarti ada (12.000.000.000.000,- : 5.000.000) 2,4 juta pedagang bakso. Berapa banyak orang yang diuntungkan, roda ekonominya digerakkan? Jika tukang bakso memiliki 2 anak yang masih sekolah, istrinya yang membantu bekerja, 1 pelayan yang membantu melayani, pembuat gerobak, penjual daging, pembuat mie dan pangsit dst. Roda ekonomi yang digerakkan lebih banyak dibandingkan jika anggaran tersebut dialokasikan pada “pengemis” 


Sampai di sini, jika boleh digarisbawahi bahwa segala yang menjadi beban anggaran itu layaknya posisi “pengemis”. Saya sendiri jadi tersadar saat dulu menerima beasiswa, berarti dulu itu alokasi anggaran untuk pengeluaran bukan pendapatan bagi pemberi beasiswa? Saya jadi ingat saat masih menggantungkan kiriman dari orangtua, berarti posisi dalam pos anggaran saya seperti pengemis? Segala fasilitas yang masih disubsidi dan dalam pos anggaran pengeluaran terhitung posisi sebagaimana pengemis? 


Saya jadi termenung dengan berbagai fenomena yang anda. Apakah selama berdoa juga lebih banyak memposisikan diri sebagai “pengemis”, minta melulu? Jika mendapat keadaan sedikit sulit, belum-belum sudah mengeluh. Sudahkah bersyukur hari ini? Sepertinya lebih banyak saya meminta daripada bersyukur atau berterima kasih. Semoga kita senantiasa menjadi hamba yang pandai bersyukur atas berlimpahnya nikmat Allah SWT. (#RefleksiDiri)