Saturday, June 2, 2012

Bila Kau Menjadi Isteriku Nanti


Bila kau menjadi isteriku nanti, jangan pernah berhenti mencitaiku.
Carilah isteri yang satu frequensi”, begitu pesan bijak bagi kita semua. Sudah selayaknya, pasangan saling mendukung dan menguatkan. Mendukung berbagai hal positif yang direncanakan dan menguatkan kembali saat melemahnya niatan. Dalam bagian inilah diperlukan kesamaan tujuan hidup, pandangan hidup, dan pegangan hidup. 

Tujuan hidup mengarah pada kesamaan visi. Ibaratkan rumah tangga adalah bahtera, maka sudah tentu para penumpangnya mesti memiliki kesamaan tujuan. Labuhan-labuhan yang akan dituju selama mengaruhi samudera kehidupan. Sedangkan pandangan hidup terkait dengan cara menyikapi segala yang hadir dalam kehidupan. Dari sinilah konsepsi rumah tangga itu dibangun. Suasana dalam rumah tangga juga ditentukan oleh pandangan hidup. Jika tujuan hidup berfungsi sebagai peta yang menggambarkan segala yang dituju, pandangan hidup memberikan penjelasan bagaimana membaca simbol-simbol dalam peta, maka pegangan hidup berfungsi layaknya kompas. Saat perjalanan hampir kehilangan arah, kompas akan mengembalikan pada arah yang semestinya. Karena itulah, berumah tangga mesti memiliki ketiganya.

Bila kau menjadi isteriku nanti, jangan pernah berhenti menggenapkan agamaku.
Dalam konsepsi agama, berumah tangga biasa dikatakan menggenapkan separuh agama. Bukan berarti kalau sudah menikah terus sudah genap lalu semaunya dalam beragama. Dalam berumah tangga selayaknya memiliki semangat untuk bersama-sama menyempurnakan penghambaan pada Allah SWT. Jika selama ini, motivasi dibangun oleh diri sendiri, maka setelah berumah tangga satu sama lain saling memotivasi dan menguatkan. Kala bujang, sholat malam jarang, maka ketika berumah tangga sholat malam makin rajin saja. Hal tersebut terjadi karena saling mengingatkan dan menggenapkan. Termasuk juga dalam berbagai amal ibadah lainnya. 

Bisa dipahami mengapa Rasulullah berpesan untuk memilih pasangan paling utama ditentukan dari kualitas agama seseorang. Tidak lain merupakan bagian dari konsepsi menggenapkan agama. Hubungan mutual untuk saling mengingatkan. Karena itu pula, kurang bijak jika menginginkan pasangan yang baik agamanya tetapi agama diri sendiri tidak diperbaiki. Sebuah ketentuan yang adil dari Allah SWT bahwa mereka yang baik adalah untuk yang baik dan sebaliknya. Menggenapkan agama berarti saling mengingatkan. Jika suami mengurus hubungan luar negeri, maka seorang isteri mengurus hubungan dalam negeri. Sebagaimana pesan dalam Al Qur’an bahwa kita diminta untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka. 

Bila kau menjadi isteriku nanti, jangan pernah berhenti menguatkanku.
Nyata bagaimana pentinganya satu frequensi bisa ditelisik dari kekompakannya setiap hari. Akhir pekan misalnya. Bagi kebanyakan orang menjadi waktu bercengkrama dan bermanja-manja dengan keluarga. Hal tersebut memang menjadi hak bagi keluarga untuk mendapatkannya. Namun demikian, ketika tanggung jawab ummat memanggil, tentunya seorang isteri yang smart akan senantiasa mendukungnya. Tanggung jawab yang dimaksud misalnya keluar kota untuk tugas dakwah, mengisi pengajian, dan kepentingan ummat lainnya. 

Belajar dari keluarga Nabi Muhammad SAW ketika Rasulullah menggigil, cemas, takut setelah ditemui malaikat Jibril. Kala itu, Khadijah berusaha memenangkan hati beliau dengan mengatakan bahwa beliau orang yang baik dan Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan beliau. Dalam perjalanan mengajak ummat, tidak terhitung dukungan Khadijah pada Rasulullah. Sampai-sampai Aisyah cemburu karena dalam banyak kesempatan, Rasulullah menyebut-nyebut nama Khadijah padahal dia sudah lama meninggal. Hal tersebut karena Khadijah yang mendukung Rasulullah saat orang-orang merendahkan beliau dan banyak hal yang dilakukan Khadijah pada beliau. 

Jika seorang isteri tidak satu frequensi, hal yang terjadi bisa belajar dari kisah Nabi Nuh. Seorang laki-laki pilihan yang diberikan tanggung jawab untuk mewujudkan visi yang besar yaitu membangun ummat kembali ke jalan kebenaran. Saat beliau berlelah-lelah siang dan malam menyerukan kebaikan, justru orang yang semestinya mendukung yaitu isteri beliau ‘menusuk’ dari belakang. Akibatnya, salah seorang anak yang begitu disayangi menjadi lawan perjuangan yang dilakukan sang ayah. Tentu hal tersebut, tidak diinginkan siapapun yang berumah tangga.

Seorang suami tentunya akan bangga memiliki istri sebagaimana Siti Hajar. Dimana beliau menunjukkan keimanannya yang kuat kala ditinggal sendiri di Makkah. Kala itu, Makkah masih daerah gersang, hanya rumput gurun yang tumbuh, tidak ada air, dan sedikit orang yang mau tinggal di sana. Siapa pula wanita yang mau tinggal di tempat yang demikian? Lebih-lebih lagi dia baru saja melahirkan dan masih terhitung kecil bayinya. Hidup berada di kurva terbawah tetapi tetap tegar. 

“Mengapa engkau meninggalkan kami di sini?” tanya Hajar pada Ibrahim. Sebagai seorang wanita, sudah menjadi kewajaran sensitifitas perasaannya muncul. Ingin mendapatkan penjelasan yang logis atas keputusan suami. Bukan hanya logis tetapi juga manusiawi. Ibrahim hanya terdiam, dia tidak bisa menjawab sampai berulang tiga kali Hajar bertanya demikian. Lalu Hajar pun mengubah pertanyaannya, “Apakah ini adalah perintah Tuhanmu?” Barulah Ibrahim menyatakan memang benar demikian. “Jika ini dari Tuhanmu, aku yakin Tuhan tidak akan menyia-nyiakan kami”, kalimat sederhana yang sarat makna keluar dari ucapan Hajar. Begitulah semestinya, seorang isteri memahami segala yang diterima berasal dari Allah SWT. Saat keadaan keluarga dalam kurva bawah, saat itulah dia memahami bahwa suaminya butuh dukungan dan dikuatkan. Tidak membrondongnya dengan pertanyaan, tuntutan, apalagi merendahkan. Dia akan mengatakan, “Tenang suamiku, badai pasti berlalu, kita lalui bersama, Allah SWT bersama kita”.

Bila Kau Menjadi Isteriku Nanti!

"Sekilas Tentang Inspiring Man"

Penulis buku inspiratif MASTER from minder”. Buku yang menginspirasi ribuan orang di Indonesia untuk bangkit dari kegagalan dan optimis dari keadaan terbatas menjadi teratas dalam kesuksesan.
Founder lembaga pengembangan SDM Quantum Motivation Center Indonesia” sekaligus motivator yang telah membawakan hampir seribu sesi pengembangan diri baik sekolah, universitas maupun perusahaan sejak tahun 2007. Beberapa diantara yang telah diisi; STAIN Surakarta, IPB, Unnes, Unissula, Undip, UIN Jogjakarta, Unnesa, UNS, UMS, Yarsis, dan juga banyak SMA/SMK di Jawa Tengah.

Seorang mentor, alumni Fakultas Psikologi Undip,  pendiri forum bulanan Mind Freedom dan Mind Happiness untuk memberikan bantuan dalam penyelesaian hambatan-hambatan psikologis dan peningkatan optimalisasi potensi diri.

Berpengalaman menjadi nara sumber acara motivasi “Mutiara Pagi” di radio Tri Jaya 89,8 FM Semarang dan “Muda Bertaqwa” di RRI Pro2 95,3 FM Semarang, Bintang Tamu “Remaja Inspiratif” TVKU Semarang 2012.

Follow Twitter @inspirasisegar dan add Fb Inspiring Man
This entry was posted in

4 comments:

  1. Kak, izin share yah. :-)
    Matur suwun, .

    ReplyDelete
  2. Ria Silakan dishare.
    Sonik : Mantab menulis inspirasi. :)
    An Maharani Bluepen : Terima kasih. Hehe.

    ReplyDelete