Tuesday, October 11, 2011

Banyolan Inspiratif (Tentang Negara)


Pastinya kalangan intelek pada tahu kabar perihal perombakan kabinet di pemerintahan negeri ini. Berapa kali saja berita di televisi menyorotinya? Wah-wah, pastinya para tokoh politik pada deg-degan, lebih-lebih menteri yang disinggung-singgung bakal dicopot. Jadi ikut deg-degan saya, jangan-jangan presiden nunjuk saya jadi salah satu menterinya. (Haha, kayak ndak ada yang lain aja!). Lagian, belum tentu juga, saya mau diangkat jadi menteri. (Pede banget). Belajar dari Abdullah bin Umar, anak khalifah Islam yang dengannya islam tersebar luas sampai Afrika, dia menolak ketika orang-orang ingin mengangkatnya menjadi khalifah. Ditolak tawaran menjadi khalifah. Bukan cuma sekali tetapi berulang kali. Bahkan walaupun usia beliau sudah 70 tahun, tetap saja orang-orang berharap (setengah memaksa justru) agar beliau mau menjadi khalifah, ditolak juga. Diangkat Abdullah bin Umar menjadi hakim oleh Khalifah Utsman, lagi-lagi ditolak. Wah-wah, orang yang satu ini benar-benar merdeka hidupnya.

Di zaman sekarang, fenomenanya justru, banyak orang yang merapat pada penguasa. Sudah bisa diperkiraan maksud mereka melakukan itu. Dari yang memberikan ucapan selamat, kunjungan khusus, ada juga yang terang-terangan minta bagian. “Dulu saya ikut mendukung bapak, lo”, begitulah. Jadi ingat nasehat seorang sahabat, Muadz bin Jabal yang terkenal dengan kecerdikannya berpikir. Nasehat ketika dia dengan bighal kecil dan pakaian lusuhnya berangkat menuju kota dimana dia diangkat khalifah Umar menjadi Hakim. “Jauhilah pintu-pintu para penguasa”, begitu nasehatnya. Pintu-pintu yang menurut pandangan Muadz jadi sumber fitnah. Fitnah? Apalagi itu? Ya, iyalah, ingat kasus pembesar KPK yang berkunjung (diundang atau menyengaja mampir) ke salah seorang petinggi partai penguasa. Keseret-seret kasus juga dia. Semoga selesai dengan baik.
Oya, hasil survey menunjukkan bahwa tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan menurun. (Entah, menurun atau merosot atau anjlok?) Jangan-jangan bukan hanya tingkat kepuasan tetapi juga tingkat kepopuleran. Kalah populer itu para elit dengan hadirnya Ayu Ting-Ting bareng ama lagu “Alamat Palsu”nya. Dimunculkan isu agar mereka juga banyak diberitakan, biar lebih kembali populer. (Biarkan orang lain menikmati hasil kerja kerasnya ya, ndak perlu syirik). Kalau itu tujuannya, masyarakat negeri ini tambah satu lagi acara selain “infotainment”, yaitu “politikotainment”. Istilah apalagi itu? Saya yakin tidak untuk itu tujuannya.

(Dari tadi membahas politik, pemerintaha, Negara, tidak ada yang lain?) Tidak ingin ikut-ikutan meributkan pemerintahan sebenarnya sih. Tahulah, bapak tani yang nyangkul, tiap hari pergi ke sawah, toh tetep aja besoknya nyangkul. Mas-mas tukang bengkel, tetep saja kalau tidak mbengkel, tidak dapat pemasukan. Sederhananya, mau ngomongin atau tidak, sama saja, tetep saja rakyat kecil. Kalau tidak bekerja, ya jangan berharap bisa mencukupi kebutuhan.
(Jangan pesimis gitu mas, kalau ada keluhan, disampaikan saja ke wakil rakyat, biar ditampung!). Hah, muat itu tampungannya? Belum juga bekerja, sudah minta ini, itu, gedungnya kurang fasilitasnya, tidak layak, dan seabreg. (Namanya juga wakil rakyat, perlu fasilitas untuk menunjang kerjanya sebagai wakil rakyat). Perihal ide dan keluhan, sampaikanlah pada wakil rakyat. Saking baiknya, rakyat ingin juga makan enak, kaya, bahagia, karena sudah ada wakil rakyat, makan enak, kaya, dan bahagianya juga diwakilkan. (Siapa suruh mau diwakili). Makanya pada tidak puas diwakili, berbagai cara termasuk manipulasi ijasah untuk mendaftar jadi wakil rakyat. Sebegitu menggiurkankah kedudukan sebagai wakil rakyat?

Umar bin Abdul Aziz, saat tahu dirinya yang dipilih menjadi pengganti menduduki jabatan khalifah, justru dia menolak dan mengundurkan diri. Karena rakyat memaksa, akhirnya dia terima jabatan itu. Bukannya tambah gemuk setelah menjadi khalifah, justru makin kurus saja. Rumahnya sederhana, gajinya tidak pernah diambil, dan dia tidak mewarisi banyak harta pada anak-anaknya. Pemerintahan yang tidak sampai 3 tahun mampu membawa kemakmuran. Nah, kalau di negeri ini, butuh berapa tahun untuk menjadi makmur? Butuh berapa jilid kira-kira?
Memang tidak mudah menjadi pejabat, menjadi orang yang memegang amanah mengurus berbagai keperluan rakyat. Dipilihkan memang untuk mengurus urusan rakyat? Bukan untuk kekuasaan dan perebutan. Negara ini milik banyak orang bukan hanya beberapa keluarga. (Seolah-olah perebutan kekuasaan antar keluarga saja). Negara ini milik kita, rakyat! (Kewajiban apa yang belum dilakukan terhadap Negara; pajak listrik pada sudah membayar?) Masih sering mati juga? (Sudah menjadi warga Negara yang taat membayar pajakkan?) Masih banyak jalan yang rusak? Kekurangan air? Kekurangan makanan? Entah dikemanakan itu uangnya, salah alokasi mungkin atau karena ternyata “alamatnya palsu”? (Ada-ada aja).

(Ngirit dong! Hidup harus efisien!) Masak porsi makan dikurangi padahal tuntutan kerja semakin meningkat. Masak diminta ngirit bahan bakar sedangkan tuntutan produksi semakin naik. Sepertinya pikiran ngirit harus sudah diganti dengan ide berinovasi menghasilkan bahan-bahan alternatif. Oya, zaman sekarang masih mengandalkan pajak sepertinya juga sudah harus mulai diinovasi. Di zaman serba canggih sekarang ini, kemajuan teknologi internet dalam genggaman tangan, batas Negara dan waktu nyaris tidak ada lagi. Kira-kira bisakah Negara mengawasi berapa transaksi lewat internet yang terjadi? Sistem canggih yang menjadikan para pelakunya lolos dari penarikan pajak. Wajar kalau Eropa goyang ekonominya, bisa dipahami kalau Amerika mulai mengusap keringat di dahinya, banyak hal yang diluar kendali Negara. Kasus terbaru perihal ‘pencurian’ pulsa saja ternyata kompleks urusannya.
Semakin ke sini, kapital sepertinya akan kalah dengan komunal. Penguasa akan kalah dengan rakyatnya. Cina membuktikan ekonominya makin menanjak di saat Amerika menurun. Banyak penduduk menjadikan murah tenaga kerja sehingga banyak berproduksi. Dibanjirilah Amerika, Eropa, dan termasuk kita dengan produk murah dari Cina. (Jadi ingat pepatah, banyak anak, banyak rejeki). Kenapa ada pembatasan kelahiran? Slogan yang pernah saya lihat, “Dua anak lebih baik”. Namanya juga iklan layanan masyarakat, salah satu cara sosialisasinya dengan dipasang di tempat umum. Tetep aja yang memiliki anak lebih dari satu. Bisa dipahami, kadang keluarga sudah memiliki dua anak (laki-laki atau perempuan semua), ingin nambah lagi berharap seorang anak (perempuan atau laki-laki), lengkap ada laki-laki dan perempuan. Selain itu, namanya orang membaca kadang juga salah, apalagi sekilas. Wong petinggi MPR saja ada yang salah baca dalam pidatonya tetap bisa dipahami apalagi rakyat kecil. “Dua anak lebih baik”, bisa terbaca “Dua anak/ lebih baik” bisa juga terbaca “Dua anak lebih/ baik”. (Haha, ada-ada saja)

Entahlah, jadi kemana-mana. Pokonya sebagai pemuda harapan pemudi juga pemudi harapan pemuda. (Maksudnya generasi muda harapan bangsa). Tetap bersemangat, Bekerja untuk Indonesia. Good luck!

(Inspiring Man)

0 komentar:

Post a Comment