Wednesday, May 29, 2013

Love Beyond: Cinta yang Menyempurna


“Ambilah cinta dari langit lalu terbarkan dan tumbuh-suburkanlah di bumi hingga berbuah kasih sayang yang manis dan ketentraman bagi seluruh makhluk”

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan ungkapan tersebut. Cinta yang bersumber pada Sang Maha Pemilik Cinta dan bermuara pula sebagai bagian dari pengabdian di bumi terhadapNya. Cinta bukan hanya menyatukan dua hati yang saling mencintai tetapi menyatukan dua keluarga bahkan dua masyarakat dengan latar belakang berbeda. Di atas cinta terhadap manusia, ada cinta pada Allah SWT dan Rasulullah yang harus kita tempatkan paling atas dalam meletakkan cinta.

“Cinta” bagi sebagian orang mungkin dikatakan sebagai kata benda tetapi bagi sebagian yang lain bisa jadi dianggap sebagai kata kerja. “Cinta” sebagai kata benda ketika cinta ditempatkan oleh kepala dalam ranah perbincangan. “Cinta” adalah kata kerja saat kita benar-benar bisa merasakannya. Jika cinta sebagai kata kerja, maka kala cinta mulai terasa hampa, saat itulah alasan yang tepat untuk kembali mencintai, menumbuhkan cinta dalam hati.

Dalam bagian awal, cinta mungkin membutuhkan alasan untuk mencintai. Namun demikian, pada kesempatan berikutnya, justru cinta yang memberikan banyak alasan bagi bagi banyak hal dalam kehidupan. Alasan untuk apa? Alasan untuk tetap bertahan kala muncul rasa bosan, alasan untuk berani kala rasa takut menghampiri, alasan untuk tetap kuat dan hebat. Cinta adalah energi yang menggerakkan untuk aktif melakukan kerja-kerja perhatian. Cinta itu menjadikan lebih perhatian dan peka akan segala hal yang terkait dengan yang dicintainya.

Semua orang ingin diperhatikan dan cinta memberikan energi untuk bisa memberikan perhatian lebih bagi yang dicintainya. Apa-apa yang dilakukan dengan cinta lebih indah dan ringan dirasa. Cinta yang mulia antara dua manusia ada dalam rumah tangga melalui pernikahan. Janji suci yang Allah SWT sebutkan layaknya janji tauhid padaNya. “Mitsaqan ghalizhan”, istilah yang tidak pernah dipakai dalam Al Qur’an kecuali untuk tiga peristiwa. Satu untuk perjanjian akad nikah dan dua untuk perjanjian tauhid. 

Pernikahan lebih dari sekedar pelegalan cinta, penghalalan berbuat hubungan seksual atau kontrak antara dua orang yang sama-sama suka untuk hidup bersama. Lain dan sungguh tidak bisa disama persiskan. Jika kontrak, maka kala sudah tidak suka, masing-masing bisa mengajukan peninjauan kembali kontrak bahkan pemutusan kontrak. Perceraian memang halal adanya tetapi Allah SWT benci itu. “Sesuatu yang halal tetapi paling dibenci Allah adalah perceraian”, demikian Rasulullah SAW bersabda. 

Islam menjadikan cinta antara laki-laki dan perempuan pada kedudukan yang lebih mulia. Fitrah manusia dalam hatinya ada rasa ingin terhadap lawan jenis dan merasa bahagia dengan saling memiliki. Ikatan cinta pernikahan dalam Islam, lebih dari budaya atau kebiasaan yang dikembangkan suatu masyarakat untuk meneruskan keturunan. Menikah adalah sunah Rasulullah SAW, siapapun yang tidak mengikuti sunah beliau, bukan termasuk golongan beliau. 

Menikah sebagai sunah bukan sekedar keputusan membinan hubungan dengan lawan jenis untuk berkeluarga. Jika hanya itu, budaya-budaya dalam masyarakat sudah melakukannya. Agama-agama lain juga mengajarkannya. Lalu apa yang dimaksud sunah Rasulullah SAW? 

Menikah dalam Islam adalah bagian dari penerapan ajaran agama, bukan sekedar budaya atau kecenderungan manusiawi. Karena itulah, Rasulullah SAW mengatakan bahwa menikah adalah separuh agama. Menikah menjadi bagian dari aspek agama. Oleh sebab itu, niat menikah adalah untuk ibadah, memilih pendamping hidup diutamakan karena agamanya yang baik, proses berupa akad nikah mengikuti syariat, membangun keluarga sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW termasuk mendidik anak, dan segala yang ada dalam rumah tangga. 

Dalam ilmu perilaku, spiritual atau agama dipandang sebagai satu dari aspek dalam diri manusia. Aspek-aspek yang lain berupa fisik/bilogis, psikologis/mental, dan sosial. Orang yang dikatakan sehat ketika keempat dimensi tersebut sehat. Namun demikian, dalam Islam, aspek agama merupakan inti dalam diri manusia. Orang yang dikatakan sehat adalah mereka yang sehat secara agama. Karena kehidupan dipandang sebagai ibadah dan menjalankan amanah dari Allah SWT. Dalam hal ini, cinta yang dilandasi karena ibadah. Cinta yang melampaui cinta,  beyond the love atau love beyond. Cinta yang mengatasi segalanya baik berupa fisik, rupa, materi, dan segala yang tampak lainnya. 

“Semoga Allah Mengumpulkan Yang Berserakan Dari Keduanya, Memberkati Mereka Berdua Dan Kiranya Allah Meningkatkan Kualitas Keturunan Mereka, Menjadikan Pembuka Pintu Rahmat, Sumber Ilmu Dan Nikmat Serta Rasa Aman Bagi Umat“, demikian doa Rasulullah saat pernikahan putrid beliau, Fatimah dengan Ali Bin Abi Thalib.

Penulis yang sedang mengambil
profesi psikolog klinis
FB: Inspiring Man
PIN: 321358C0

Saturday, March 30, 2013

Bahagia Aku Membersamaimu


“Aku tidak menjanjikan bahwa kita akan selalu dalam bahagia kala bersama”, kataku padanya.
“Aku hanya bisa memastikan bahwa aku akan selalu membersamaimu dalam suka maupun tidak bahagia”, lanjutku.

Insan yang hatinya sedang diliputi cinta pastinya sangat ingin memberikan yang terbaik buat yang dicintainya. Dalam hal ini, dia memahami bahwa mencintai berarti memberi yang terbaik bagi yang dicintai. Sebuah kebahagiaan kala bisa memberi yang terbaik bagi orang yang dicintai. Sebuah kesedihan, (pastinya) kala mendapati orang yang dicintai membutuhkan bantuan tetapi tidak bisa banyak memberikan. Cinta mengajarkan kita semua akan arti memahami, merasai, dan memberi. 

Rasa cinta dan realitas dunia pada kenyataannya sedikit berbeda. Keinginan cinta ingin selalu bahagia tetapi realitas dunia mengakui bahwa ada bahagia dan ada tidak bahagia. Lagi pula, tidak semua yang terjadi dalam kehidupan ini berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Ada banyak hal yang berjalan dan justru menjadi indah pada akhirnya karena tidak sesuai apa yang sudah manusia rencanakan. Manusia memang memiliki perencanaan tetapi sebaik-baik perencanaan adalah milik Allah SWT. Dalam hal ini, kita belajar bahwa tidak selamanya kita bisa memastikan selalu dalam kebahagiaan. Namun demikian, bukan berarti cinta menyerah begitu saja. Cinta memastikan dirinya senantiasa membersamai yang dicinta saat dalam ketidakbahagiaan. 

Para pemilik cinta pastinya tidak akan lari hanya karena sedikit ada ketidakbahagiaan menyapa. Bagi mereka, momen demikian adalah kesempatan untuk membuktikan ketulusan cintanya. Kesempatan untuk menunjukkan kreatifitasnya dalam mengatasi keadaan. Cinta tidak akan pernah kehilangan cara untuk mencari solusi penyelesaian. Kala logika mengalami kebuntuan menemukan penyelesaian, dalam banyak hal ketulusan cinta tampil mengatasi keadaan. Kita belajar dari cinta tentang kreatifitas dan kepahlawanan. 

Walau cinta tampil mengatasi keadaan, cinta tidak ingin disanjung dan diagungkan. Sanjungan hanya akan mengurangi nilai ketulusan yang diberikan. Lagi-lagi cinta mengajarkan kita akan arti kebersahajaan. Bukan apa yang tampak yang sebenarnya dicinta tetapi apa yang tersembunyi dalam hati yang saling berkomunikasi. Rupa bisa berubah seiring usia bertambah tetapi cinta akan terus menyejarah dan mengabadi seiring saling memahami. 

Sudah jadi bahagiaku selalu membersamaimu”, tutupku dengan senyum kedamaian. 


Friday, February 22, 2013

Mintalah Aku Dalam Doamu


“Mintalah aku dengan serius kepada Allah”, demikian kata bidadari jelita itu pada si pemuda. “Demi Allah, aku juga memintamu dengan serius kepada Allah”, lanjutnya. Keduanya berjarak sangat jauh, mereka tidak tahu kapan akan bertemu dan bersatu, yang jelas keduanya saling merindu.

Dengan setia dan sabar, bidadari jelita menanti si pemuda. Dalam penantian itu, dia berdoa, “Ya Allah, bantulah dia dalam agama-Mu dan jadikanlah dia taat kepada-Mu”. Di belahan dunia yang lain, si pemuda semakin tekun ibadahnya. Dalam sebuah perjalanan sampai-sampai si pemuda menggunakan waktu istirahatnya untuk sholat. Kala teman seperjalanannya makan, si pemuda memilih berpuasa.

Teman seperjalanannya pun merasa heran. Dengan rasa penasaran, bertanyalah dia pada si pemuda akan alasan semua yang dilakukannya. Si pemuda kemudian menceritakan apa yang dialaminya. Suatu ketika si pemuda bermimpi melihat istana surga dan di dalam surga itu si pemuda melihat bidadari jelita. Berkatalah bidadari pada si pemuda, “Mintalah aku dengan serius kepada Allah. Demi Allah, aku juga memintamu dengan serius kepada Allah”. Kisah tersebut saya nukilkan dari Tamasya ke Surga karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah.

Di dunia ini, segalanya Allah SWT ciptakan berpasang-pasangan. Ada terang, ada gelap; ada siang, ada malam; ada laki-laki, ada perempuan dst. Laki-laki dan perempuan nampak berlainan, gelap dan terang seolah nampak bertentangan tetapi jika dipahami lebih lanjut, ada keduanya ternyata saling melengkapi dan menyempurnakan. Apa jadinya dunia ini jika isinya laki-laki semua atau perempuan semua? Alangkah repotnya jika dunia ini isinya malam semua, tiada siangnya? Adakah waktu istirahat jika dunia ini isinya siang semua, tiada malamnya?

Allah SWT ciptakan berpasang-pasangan untuk saling menyempurnakan. Karena itulah mengapa bersatunya antara laki-laki dan perempuan melalui pernikahan dikatakan sebagai menggenapkan. Separuh agamanya digenapkan.

Setiap diri dilahirkan dengan jodohnya masing-masing sebagaimana Adam berpasangan dengan Hawa. Keduanya diciptakan tidak bersamaan. Mula keduanya tinggal di surga kemudian Allah SWT turunkan ke dunia. Keduanya diturunkan tidak pada tempat yang sama. Adam di belahan bumi yang satu, Hawa berada di belahan bumi yang lainnya. Dalam perjalanan menemukan Hawa, ada terus bermunajat dan meningkatkan taqwa kepada Allah SWT. Demikian pula Hawa, dia juga banyak-banyak berdoa, memohon ampunan, dan terus meningkatkan taqwa. Sampailah kemudian mereka Allah SWT pertemukan dalam momentum yang membahagiakan.

Jodoh seseorang tidak ada yang tahu kecuali Allah SWT. Barulah setelah takdir terjadi, manusia mengetahui. Ada yang mendapatkan pasangan hidup seumuran, ada pula yang beda umurnya. Tidak ada yang salah dengan selisih usia karena Allah SWT menurunkan keduanya ke dunia pada waktu yang berbeda. Ada yang duluan, ada yang kemudian. Ada yang mendapatkan pasangan satu kampung, ada pula yang beda negara. Tidak ada yang salah dengan tempat karena Allah SWT menurunkan keduanya ke dunia tidak pada tempat yang sama. Asam di laut, garam di laut, keduanya akan bertemu juga di periuk. Jika memang sudah jodoh, pasti akan bertemu dan bersatu.

Setiap kita sudah selayaknya yakin bahwa setiap orang yang lahir ke dunia Tuhan bersamai pula dengan jodohnya. Tuhan ciptakan Adam, Dia ciptakan pula Hawa sebagai pasangan hidupnya. Lagipula, Allah SWT berfirman bahwa Dia ciptakan segala yang ada di dunia ini berpasang-pasangan. Sebuah jaminan kepastian bahwa setiap orang memiliki pasangan. Perihal jodoh bagi seseorang, Allah SWT memang merahasiakan siapa yang menjadi jodohnya? Bukankahada banyak hal yang lebih menarik dalam kehidupan ini ketika rahasia (secret)? Produk yang ada embel-embel “secret” kenyataannya laris manis.

Adam dan Hawa diturunkan ke dunia pada tempat yang berbeda, mengalami waktu yang tidak sama, dan tumbuh pada lingkungan yang tidak serupa. Keduanya mengalami kerinduan tetapi tidak pernah berputus asa akan adanya perjumpaan. “Saling mendoakan”, itu barangkali cara keduanya mengobati kerinduan. Pada tempat yang berbeda, keduanya sama-sama belajar memaknai arti cinta yang sesungguhnya. Waktu yang nantinya mempertemukan.

Dalam keterpisahan, Adam dan Hawa menyemai bibit cinta yang Allah SWT letakkan dalam jiwa keduanya. Keimanan yang menjadikan akar cinta menghujam dalam sampai ke surga. Kerinduan menjadi air segar yang menjadikan cinta tetap tumbuh dan bersemi dalam jiwa. Ketaqwaan menjadikan batang cinta tumbuh membesar dan menjulang tinggi menyentuh langit. Kesabaran menjadikan buah dari cinta benar-benar masak dan manis rasanya. Mereka paham bahwa tugas di dunia ini adalah mengambil cinta dari langit lalu menaburkannya pada seluruh penjuru bumi. Bertemulah mereka setelah memahami tugas mulia tadi.


Yogyakarta,  Februari 2013


Pariman Siregar

Saturday, January 26, 2013

Berani Bermimpi [2] : Menjadi Penulis


“Nak, Bapak tidak bisanya menyekolahkan, carilah bekal hidupmu sendiri”, demikian kira-kira pesan Bapak saya. Beliau tidak berkesempatan sekolah sehingga tidak bisa membaca dan menulis. Ibu saya lulusan Sekolah Dasar, beliau yang membimbing saya belajar saat kecil. Mereka berdua berharap, anak-anaknya berpendidikan tinggi karena mereka sadar bahwa dulunya mereka tidak berkesempatan sekolah. Keterbatasan ekonomi yang menjadi alasannya. Dengan semangat itulah, saya dan dua adik saya berkomitmen untuk sekolah setinggi-tingginya.

Jika direnung-renungkan, perjuangan kedua orangtua saya begitu hebatnya. Entah kapan saya bisa membalasanya walaupun mereka tentu tidak begitu mengharapkan hal itu. Lahirlah semua tekad untuk memberikan sesuatu yang membahagiakan bagi mereka. Setidaknya mengabadikan nama mereka sebagai inspirator yang menghantarkan saya sampai sedemikian sekarang. “Sebelum lulus S1, saya ingin menerbitkan buku”, begitulah semangat itu. Saya ingin menuliskan nama kedua orangtua saya, mengucapkan terima kasih, dan banyak orang yang akan membaca serta terinspirasi buku tersebut.

Di penghujung kuliah, terbitlah buku pertama MASTER from MINDER. Sebuah buku yang saya dedikasikan sebagai wujud kepedulian untuk membantu orang lain dengan meyakinkan bahwa mereka memiliki potensi yang luar biasa; potensi yang jauh melebihi apa yang dipikirkannya. Kumpulan dari berbagai pengalaman yang pernah saya dapatkan. Saripati inspirasi ketika menjadi trainer di sekolah bisnis untuk anak dan remaja BIZZ4KIDS Semarang, pengalaman menjadi trainer motivasi dan pengembangan diri bersama teman-teman di Quantum Motivation Center (QMC), pertanyaan-pertanyaan selama mengisi “Mutiara Pagi” Tri Jaya 89,8 FM Semarang, ide-ide selama menangani pembinaan SDM di Beastudi Etos Semarang, dan berbagai pengalaman lainnya. Semua ide, inspirasi, dan pengalaman tersebut kemudian saya padukan dengan berbagai pandangan dari al Qur’an, hadis, psikologi konseling, psikoterapi serta kehidupan para sahabat dan para tokoh.

Saya mencoba menguatkan kepercayaan diri dan meyakinkan kemampuan untuk menantang segala keterbatasan. “Jika oranglain bisa, anda tentu lebih bisa,” itulah harapanya. “Awalnya menjadi murid yang baik dari kegagalan dengan banyak belajar darinya berikutnya menjadi guru kesuksesan yang mengajarkannya pada banyak orang.“ Berikut saya merangkai bab demi bab dalam MASTER from MINDER:

Master 1. Pilih Sukses atau Gagal?
Master 2. Menantang Penderitaan, Meraih Kebahagiaan
Master 3. Menantang Segala Keterbatasan
Master 4. The Secret of Succes
Master 5. Para Inspirator
Master 6. Transformasi Diri.

Mengutip komentar Solikhin Abu Izzudin, Motivator dan Penulis Buku Best Seller ZERO to HERO, “Terbatas bisa teratas? Yakinlah ANDA BISA! Jadikan keterbatasan sebagai spirit untuk melejit, berkelit di saat sulit.” Mulai sekarang tidak ada lagi minder, yang ada adalah para MASTER. Dengan buku tersebut saya berkeliling untuk berbagi inspirasi, menguatkan mimpi, dan memenangkan banyak hati.

Setelah berhasil meraih gelas Sarjana Psikologi, kini saya mengambil S2 untuk Profesi Psikolog Klinis di UGM. Ada impian juga menuliskan beberapa buku sembari kuliah. Salah satu bukunya adalah untuk mahar pernikahan saya. Buku yang saya persembahan spesial untuk seseorang yang spesial. Pada bagian persembahan akan saya tulis nama wanita spesial itu. Hanya begitu mungkin cara saya mengabadikan namanya dan mengabadikan cinta saya. “Masa lalumu adalah milikmu, masa laluku adalah milikku tetapi masa depan adalah milik kita”, mengutip kalimat dari Pak Habibie saat melamar Bu Ainun.

Semoga setiap orang yang membacanya menguatkan cinta kami. Masih panjang cerita yang nantinya saya harapkan dalam kehidupan ini. Tentunya, saya tidak akan menuliskan sendiri. “Setiap orang yang hadir dalam kehidupan kita membantu menuliskan kisah kehidupan kita”, saya percaya demikian.

[*] Berani Bermimpi [1] : Kuliah S1

[*] Berani Bermimpi [3] : Kuliah S2

www.parimansiregar.blogspot
FB: Inspiring Man
Email: pariman@mail.ugm.ac.id
Hp: 085 226 992 485
PIN: 321358C0

This entry was posted in

Monday, January 7, 2013

Berani Bermimpi [1] : Kuliah


“Terbatas bisa teratas? Yakinlah ANDA BISA! Jadikan keterbatasan sebagai spirit untuk melejit, berkelit di saat sulit, Pariman Siregar ini buktinya. Mengamalkan ilmunya untuk meluarbiasakan dirinya, MASTER from MINDER,” demikian Solikhin Abu Izzudin, Motivator dan Penulis Buku Best Seller ZERO to HERO dalam Cover belakang Buku MASTER from minder.

Saya masih ingat betul pertanyaan retoris ibu saya di penghujung kelas 3 SMA, “Nak, kamu jadi mau melanjutkan kuliah? Bapakmu tidak punya uang yang cukup.” Sebuah pertanyaan yang sebenarnya ingin mengukur sejauhmana tekad saya dalam mewujudkan cita-cita untuk kuliah. Jawaban dari pertanyaan ibu saya sekaligus sebagai penguatan atas kepercayaan diri beliau dalam memampukan diri membiayai kuliah saya. 

“Insya Allah, saya akan melanjutkan kuliah. Soal biaya, saya yakin ada jalannya.” demikian jawaban saya ketika itu. “Baiklah kalau begitu, ibu hanya bisa mendo’akan, semoga engkau diberi kemudahan,” balas beliau menguatkan keyakinan saya pastinya. Sekian tahun sudah berlalu. Sungguh menarik ketika pulang ke rumah. Rasa syukur itulah yang kami rasakan. Saat mengenang dialog-dialog saya dan ibu saya di penghujung SMA itu. Dulu sepertinya tidak mungkin terjadi tetapi sekarang semuanya telah terlampaui. Ada saja jalan saat kesulitan datang. Ada saja kemudahan ketika ada keyakinan ke-Maha Besar-an Tuhan, Allah SWT. 

“Semarang, Universitas Diponegoro dimanakah letaknya?” Saya, Yayan Satya Wardhana, dan temen saya Eko Saputro sama-sama pertama kalinya ke Semarang. Kami belum pernah datang ke sana apalagi naik bus sendiri. Berbekal secarik kertas rute perjalanan, kami berangkat bersama. “Terminal Banyumanik,” nama yang paling familiar di kepala saya. Alhamdulillah, kami sampai tujuan tanpa halangan bahkan mendapat banyak kenalan dan tempat penginapan. (Terima kasih temen-temen Rohis: Mas Agus Sugito, Mas Aris dan Pak Faris dkk). 

“Biaya kuliah, sumbangan akademik, buku-buku, biaya kontrakan lalu dari mana saya dapatkan?” Kepalang basah, semua sudah terlanjur, tidak ada gunanya mundur. Jalan satu-satunya adalah kuatkan tekad dan keyakinan, pasrahkan pada Tuhan. Benar saja, saya tidak mengira menjadi bagian dari kafilah mahasiswa penerima Beastudi Etos Semarang. Salah seorang dari sekian ribu penerima beastudi etoser di 11 PTN Indonesia ini. Tempat dimana saya mendapatkan pembinaan diri setiap pekan sekali selama tiga tahun. Bersama dengan teman-teman etoser, kami dibiayai kuliahnya, mendapatkan bimbingan setiap harinya, dan banyak hal yang kami dapatkan. (Terima kasih Pak Effendi Nugroho dan keluarga, terima kasih Beastudi Etos).

Sekarang, malu rasanya jika do’anya masih ‘minta-minta’ karena banyak kenikmatan yang telah dilimpahkan oleh-Nya. Saya teringat, awalnya bukan apa-apa tetapi banyak hal-hal dulu tidak mungkin sekarang semuanya begitu nyata. Berbagai pengalaman yang dulunya tidak mengenakkan ternyata sekarang asyik untuk diceritakan. Semuanya ternyata adalah proses pendewasaan yang diberikan Tuhan bagi seorang minder agar suatu saat menjadi MASTER. Mungkin anda adalah salah satu dari seorang yang berproses menjadi seorang MASTER itu. Mari kita berbagi dan saling menguatkan diri bahwa semuanya layak untuk menjadi sukses sekalipun kemampuannya terbatas. SALAM MASTER!!

www.parimansiregar.blogspot
FB: Inspiring Man
Email: pariman@mail.ugm.ac.id
Hp: 085 226 992 485
PIN: 321358C0

This entry was posted in

Saturday, November 24, 2012

Nasehat Cinta Asmaradana


“Gegarane wong akrami, dudu bandha, dudu rupa, among ati pawitane”, itulah sedikit kutipan dari tembang asmaradana. Dalam sastra Jawa dikenal tembang-tembang macapat yang salah satunya dikenal dengan asmaradana. Melalui tembang-tembang macapat, orang-orang Jawa menyampaikan nasehat kepada anak-anaknya. Asamaradana salah satunya. Tembang tersebut berisi gambaran tentang fase dimana seseorang mengalami jatuh cinta atau kasamaran.
MELAYANI PERMINTAAN untuk acara TRAINING PENGEMBANGAN DIRI, motivasi, BEDAH BUKU, & seminar. Hub.085 737 578 678 (Pimen)

“Gegarane wong akrami, dudu bandha, dudu rupa, among ati pawitane” memberikan pesan kepada siapa saja yang ingin membangun rumah tangga bahwa rumah tangga haruslah dibangun dengan landasan yang kuat. Landasan orang berumah tangga bukanlah karena harta dan rupa tetapi semata-mata bermula dari hati. Apakah yang dimaksud bermula dari hati? Berumah tangga haruslah diawali dengan niat yang lurus dan cinta yang tulus. Dengan kedua hal tersebut rumah tangga dibangun mencapai sakinah mawadah warahmah.


Mengapa harus bermula dari hati? Dalam konsepsi Jawa ada sebutan yang unik untuk pasangan hidup yaitu garwa (sigaraning nyowo) atau belahan jiwa. Dalam Bahasa Indonesia kita mengenal dengan istilah pasangan hidup sebagai “jantung hati” sedangkan anak yang lahir dari sebuah rumah tangga disebut “buah hati”. Demikian indahnya bermula dari hati (cinta). Cinta ranahnya dalam emosi bukan kognisi. Cinta letaknya bukan di kepala tetapi ada dalam dada. Cinta itu perihal rasa bukan logika. Cinta adalah getaran jiwa karenanya bergetarlah dada saat mengalaminya. Getaran cinta akan ditangkap oleh pemilik getaran yang sama. Jadilah keduanya beresonansi, saling mengerti, saling memahami, bukan lagi kata-kata untuk berkomunikasi. Dalam diam sekalipun, mereka saling memahami.
  
Silakan dishare note ini. ^_^


Seorang penulis, motivator, trainer yang sedang mendalami psikologi dan bercita-cita menjadi suami juga ayah yang menginspirasi dengan cinta.


Kontak Untuk Permintaan Mengisi Training, Workshop, dan Seminar Pengembangan Diri
www.parimansiregar.blogspot

FB: Inspiring Man

Email: pariman@mail.ugm.ac.id

Hp: 085 226 992 485

PIN: 321358C0

Wednesday, October 10, 2012

Beringin dan Semangka


Seorang laki-laki duduk terdiam di bawah pohon beringin. Perlahan, dia merebahkan badannya. Udara siang yang panas dan semilirnya angin membuatnya terasa begitu nyaman. Pandangan matanya menerawang ke atas menerobos rimbunnya dedaunan. Tersentaklah kemudian. 

“Tuhan tidak adil”, begitu ucapnya. 

Dilihat buah beringin yang kecil-kecil padahal pohon beringin besar-besar. Benar-benar tidak adil karena ada pohon yang kecil tetapi buahnya besar. Tanaman melon pohonya kecil, buahnya besar, adilkah? Kalau buah semangka yang sebesar kepala tetapi pohonnya hanya sebesar kelingking, apa itu adil? 

“Ah, Tuhan benar-benar tidak adil”, gerutunya.

“Plug”, tiba-tiba. “Apa ini?”, terhenyak kaget sambil mengusap hidupnya. 

Ternyata ada buah beringin masak yang jatuh tepat di hidung lelaki itu. Seketika dia memohon ampun, berulang kali sembari bersyukur. 

“Untungnya buah beringin kecil sehingga hidung saya selamat”, ucapnya. 

“Coba kalau buah pohon beringin sebesar buah semangka, bukan hanya hidung tetapi kepala saya bisa benjut kejatuhan buahnya”, sesal, geli, dan syukur bercampur. 

“Sekarang saya baru tahu dan yakin bahwa Tuhan itu adil dan benar-benar adil”, dengan yakin dia berkata. 

Pariman SIregar

Clinical Psychology of Gadjah Mada University