Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Saturday, April 29, 2017

Smart Parenting di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta

Parenting atau pengasuhan merupakan tugas bersama antara ayah dan ibu. Parent(ing) – Orangtua (ayah dan ibu), bukan fathering (ayah saja) atau mothering (ibu saja). Namun demikian, konstruksi budaya dalam kehidupan bermasyarakat seolah memberikan tanggung jawab mengasuh dan mendidik anak lebih banyak pada para ibu. Ayah seolah (boleh) lepas tangan karena fokus dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan materi bagi keluarga. Padahal, materi hanya bagian kecil dari tanggung jawab yang harus dipenuhi.

Banyak penelitian yang membuktikan bahwa ayah memiliki peran besar bagi perkembangan anak, baik aspek kognitif, afektif, motorik, dan sosial. Ada peran-peran tertentu yang tidak bisa digantikan dan bersifat melengkapi antara ayah dengan ibu. Peran penting pengasuhan bagi perkembangan anak utamanya pada awal masa anak-anak. Ada usia-usia yang disebut golden age, yaitu usia 6 tahun pertama. Pada usia tersebut, perkembangan otak (memori) berlangsung sangat cepat sehingga stimulasi yang tepat akan bermanfaat besar bagi perkembangan anak. Kenyataannya, tidak banyak orangtua tahu hal tersebut dan memahami apa yang seharusnya dilakukan, lebih-lebih “ibu-ibu muda” atau “ayah-ayah muda”. (Sampai saya membuat halaman "Psikologi Menjawab")


Orangtua dengan anak pertama umumnya belum lama dalam membangun rumah tangga. Kondisi ekonomi belum stabil, pekerjaan belum mapan, rumah ada yang masih ngontrak atau ikut orangtua, dan situasi penyesuaian lainnya. Keadaan tersebut bagi sebagian orang tentulah menyita sebagian besar waktu sehingga perhatian pada anak kurang. Bahkan, ada situasi pekerjaan yang membuat para ayah seolah tidak punya pilihan waktu untuk banyak berinteraksi dengan anak karena tempat kerja yang jauh. Tentunya tidak ada cara lain kecuali mengoptimalkan waktu yang ada ketika bersama keluarga secara kualitas. Quality time selain terus berusaha menambah quantity time.

Masa-masa 6 tahun pertama adalah masa-masa dalam menanamkan kesan pada anak. Bagaimana kesan anak terhadap ayah dan ibunya, rekaman kuatnya ada pada 6 tahun pertama. Pada usia 6 bulan, ada sudah memiliki rekaman kuat tentang wajah orang-orang terdekatnya. Rekaman tersebut menjadi frame kedekatan hubungan. Olehkarena itu, sungguh disayangkan jika anak lebih banyak memiliki rekaman ingatan orang lain dibandingkan dengan orangtuanya sendiri. Ingatan tersebut terus berkembang dan anak mulai mengidentifikasi mana orang dekatnya dan mana orang yang asing bagi dirinya. Usia 9 bulan, anak sudah memahami hal tersebut sehingga jika ada orang asing, dia bisa saja menangis karena beranggapan orang asing itu mengancam (menakutkan).


Lagi-lagi waktu-waktu berharga dengan anak itu justru pada awal masa perkembangannya. Waktu yang demikian itu berjalan sangat cepat terutama jika sibuk bekerja, anak beranjak besar dan lingkaran interaksi anak sudah harus meluas, yaitu banyak berinteraksi dengan teman sebaya juga guru mereka di sekolah. Bagaimana anak menghadapi lingkaran interaksi itu ditentukan oleh pengalaman interakasi bersama orang-orang dekatnya. Penelitian menunjukkan bahwa hubungan yang baik antara ayah dan anak menjadi dasar baginya dalam membangun hubungan pada masa perkembangan selanjutnya. Remaja-remaja yang bermasalah ketika dirunut akar penyebabnya karena permasalahan dalam keluarga berupa tidak harmonisnya hubungan ayah dan anak. Sungguh saat berharga untuk anak itu jangan sampai berlalu begitu saja. Saya menyebut jadi orangtua itu haruslah memiliki bekal smart parenting. Itulah tema materi yang saya bawakan untuk kajian parenting di Samben Library, Bantul (24 April 2017).

“Smart” yang diterjemahkan sebagai cerdas. Orang yang smart/cerdas adalah orang yang selalu bisa beradaptasi dengan lingkungan (Colvin, Ahli Psikologi). Orang yang paling smart/cerdas adalah orang yang 1) banyak mengingat kematian dan 2) paling bagus persiapannya menghadapi kematian (Rasulullah SAW). “Parenting” yang biasa dikenal dengan pengasuhan merupakan segala aktifitas (orangtua) yang memiliki tujuan agar anak berkembang secara optimal dan bisa menjalani kehidupan dengan baik (Hoghughi, 2004). Jadi parenting yang smart itu sebagaimana tidak hanya berorientasi dunia tetapi juga akhirat; bukan hanya perkembangan potensi anak tetapi juga keterampilan anak dalam menghadapi kehidupan (life skills) dan akhlaq anak; serta berorientasi pada kebutuhan anak di masa depan. “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena zamanmu dengan zamannya tidaklah sama”, demikian pesan sahabat Ali bin Abi Thalib.

Sebagai orangtua yang smart tentunya harus memiliki bekal berupa pengetahuan dan keterampilan dalam ilmu pengasuhan dan ilmu agama. Ada banyak pengajaran yang bisa diambil dalam Al Qur’an dan Hadist yang bisa menginspirasi dalam mendidik anak. Untuk menguatkan itu, ada banyak penelitian dalam ilmu psikologi terutama tema pengasuhan yang bisa menjadi ilmu dalam mendidik anak. Pada akhirnya, orangtua dengan smart parenting menyadari bahwa menjadi orangtua adalah terus senantiasa belajar. (Pariman, M.Psi, Psikolog)

Monday, July 25, 2016

Jodoh Bisa Ketemu Dimana Aja

“Wah, sudah punya calon apa belum?”, tanya seorang ibu di sebelahnya.
“Belum, Bu”, jawabnya polos.
“Kalau mau, saya kenalkan dengan guru les anak saya. Baru lulus. Anaknya cantik dan baik lho”, lanjut ibu itu.
Dialog pun mengalir begitu saja antara si pemuda dan si ibu, seolah di dalam satu travel itu hanya mereka berdua. Maklum, si ibu memang teman dekat dari ibunya si pemuda. Saya sendiri dan penumpang lainnya, menjadi penikmat.
Dalam hati, saya berkata, “Memang ya, kalau jodoh itu bisa ketemunya dimana aja dengan berbagai cara yang terkadang tidak disangka-sangkakan”. Hal penting dalam menjemput jodoh adalah memastikan caranya, jalannya, prosesnya, langkah-langkahnya jangan sampai melanggar kaidah agama. Tegas agama mewanti-wanti dengan perintah agar tidak mendekati zina. Berdua-duaan, berpegangan, bersentuhan sebelum resmi menjadi pasangan suami istri adalah jalan yang terlalu beresiko dan lebih dekat zina. Setan berusaha menggoda nafsu manusia dari berbagai arah. Karena itu, keinginan untuk menjemput jodoh jangan sampai menerabas rambu-rambu dari yang sudah digariskan Allah SWT. Ingat, jodoh bisa datang darimana saja.


Sahabat saya menemukan jodohnya melalui sosial media facebook. Awalnya tidak saling kenal kemudian berkomunikasi, ada kecocokan lalu diatur waktu untuk ketemuan, dan singkat kisah lamaran. Nikah. Lain teman saya, lain paman saya yang ketemu jodohnya karena dikenalkan oleh temannya. Ada kecocokan lalu diatur pertemuan dan tidak butuh waktu lama untuk lamaran. Nikah. Jodoh memang sudah diatur walaupun dia yang sukanya ngatur-ngatur belum tentu jadi jodoh.
Ada kalanya, manusia diuji dengan belum segera dipertemukan dengan jodohnya. Patutlah menengok kembali doa yang selam ini dipanjatkan. Tidak sedikit segala yang dihadapi oleh seseorang dikarenakan permintaannya sendiri pada Allah SWT. Ada prinsip yang seharusnya dipahami ketika seseorang berdoa memohon kesabaran, maka Allah SWT hadirkan cobaan dan permasalahan dalam kehidupannya. Kenapa demikian? Cobaan dan permasalahan itu Allah SWT hadirkan untuk melatihnya agar menjadi orang yang sabar. Karena itu, ptutlah direnungkan bagi seseorang yang hidupnya banyak sekali cobaan dan permasalahan. Apa doa yang selama ini dipanjatkan?
Semoga kita senantiasa diberkahi, diberikan ilham untuk memohon yang terbaik, dan dihindarkan dari permohonan yang penuh kesiasa-siaan. Salam bahagia. 

Wednesday, July 20, 2016

Begitulah Pesan Istriku Padaku

“Sayang, banyak beramal ya”, demikian pesan istri saya diikuti dengan doa-doa baik setelah pesan tersebut. Pesan tersebut yang begitu saja muncul dalam pikiran saya ketika saya jumpai seorang kakek duduk menunggu barang jualannya di dekat kampus. Saya lihat ada dua keranjang yang pastinya berisi barang dagangannya. Sebuah pikulan tersandar di dekatnya. Saya penasaran bagaimana dia bisa sampai di kampus. Si kakek kemudian menceritakan perjalannnya. Yang jelas, jarak tempat tinggalnya jauh dan sampai di tempat yang saya temui dia naik bus trans jogja.



“Inilah saatnya saya beramal”, demikian ucap saya dalam hati. Saya meniatkan beramal bukan dengan memberikan sejumlah uang tetapi dengan membeli barang daganganya. Saya bertanya tentang harga barang dagangnnya. Tanpa tawar-menawar, saya membayar sebagaimana harga yang dia sebutkan. Saya akui harganya memang jauh dari harga biasanya. Rentang harga tidak biasa itulah yang saya anggap sebagai kesempatan beramal.
Saya menaruh hormat dan segan bagi seseorang yang tampaknya tidak mampu tetapi memilih untuk bekerja (baik berjualan atau usaha lainnya) dibandingkan dengan mereka yang meminta-minta sedekah dari rumah ke rumah. Seperti kata pepatah, “Tangan di atas yang memberi lebih baik daripada tangan di bawah yang meminta”. Beramal walaupun besar tetapi istiqomah lebih baik dibanding banyak tetapi hanya banyak tetapi hanya sekali.
Sebenarnya, kita tidak akan kekurangan ide untuk berbuat baik. Tersenyum kepada orang lain saja dihitung sedekah. Sedekah yang murah tanpa mengeluarkan uang tetapi tidak jarang orang mengabaikannya, yaitu memberikan senyuman yang tulus. Menyingkirkan duri dari jalan dihitung juga sebagai kebaikan, bahkan perwujudan keimanan. Saya teringat, makna penting hadits tentang menyingkirkan duri dari pinggir jalan ketika saya mengalami kecelakaan sekian waktu lalu di Pemalang. Sebabnya sepele, ada balok kayu ukuran 50 cm melintang di jalan dan saya tidak bisa menghindarinya. Andai jalan itu bebas dari balok, tentulah akan kecil kemungkinan terjadi kecelakaan. Setelah saya cerita penyebab kecelakaan yang saya alami pada rekan saya seorang dokter dari Jepara, beliau ternyata juga pernah mengalami kecelakaan di jalan gara-gara ada lubang tergenang air yang tidak dia sadari dan tidak bisa dihindari sehingga jatuh. Lengannya terkena besi sebesar jari. Besi itu ada di jalan. Andai ada orang yang menyingkirkan besi tersebut sebelumnya tentulah kecil kemungkinan ada teman saya terkena besi. Hal baik yang seolah tampak sederhana tetapi bisa menjadi sebuah amal kebaikan dan dampak dari amal baik itu dirasakan banyak orang.
Sudah selayaknya kita berlomba-lomba dalam beramal kebaikan. “Ojo prei dadi wong apik”, jangan bernah berhenti menjadi orang baik. Jadilah orang baik dimanapun berada, kapanpun, pada siapapun, seberapapun kebaikan yang dilakukan, dan apapun kebaikan yang dilakukan.

*) Pariman Siregar (Seorang suami yang mencintai istrinya & Seorang ayah yang menyayangi anak-anaknya)

Tuesday, July 12, 2016

Ingatlah, Allah SWT Tidak Pernah Meninggalkan Kita

“Alih-alih meratapi tangan kiri saya yang harus digendong, inilah saatnya saya menguatkan otot-otot tangan kanan saya”, begitulah ucap saya dalam hati.
Tepat seminggu sebelum bulan Ramadhan, saya kecelakaan di Comal, Pemalang. Tengah malam, saya berangkat dari Pemalang setelah selesai koordinasi sebuah kegiatan. Dengan sepeda motor, saya pulang ke Pekalongan. Walaupun sebenarnya, seorang teman sudah menawarkan untuk menginap, entah mengapa saat itu saya tetap ‘kuekueh’ untuk pulang ke rumah.
Saat di perjalanan, ada perasaan yang tidak enak, seolah-olah saya sudah ‘diberitahu’ akan mengalami kecelakaan. Sesampainya di Kecamatan Comal, di jalan rasa kira-kira 7 meter di depan, saya melihat balok kayu panjang kira-kira 50 cm melintang di jalan. Sayangnya, saya tidak bisa menghindari sehingga ban depan motor saya menabrak balok kayu tersebut, tubuh saya terpelanting, berguling sedangkan motor saya jatuh dan terdorong sekitar 7 meter. Saya mengalami kecelakaan.
Bahu kiri saya cidera, lecet di lutut kiri, siku kiri dan kanan. Motor yang saya naiki ban depan kempes, pelek bengkok masuk ke dalam, dan body motor tergores aspal. Helm yang saya pakai tergores aspal. Alhamdulillah saya selamat. Saya merasa, Allah SWT masih menyayangi saya dengan menghindarkan dari maut. Dalam keadaan tersebut, saya menepi di emperan bengkel sedangkan motor dan tas yang saya bawa diselamatkan oleh dua penjual nasi goreng yang mangkal di dekat lokasi saya kecelakaan. Syukur Alhamdulillah, Allah SWT hadirkan para penolong yang baik hati.


Dalam keadaan mencoba menyadari kondisi tubuh, pikiran saya membawa saya pada dosa-dosa yang pernah saya perbuat. Lisan saya terus beristighfar dan hati saya melantunkan doa. Ingatlah saya akan orang-orang terdekat, istri dan anak serta orangtua (yang selama ini) kurang saya beri perhatian. Seakan Allah SWT ingin mengingatkan saya agar memberikan waktu lebih berkualitas pada keluarga. Seakan Allah SWT mengingatkan saya bahwa Ramadhan sudah dekat tetapi seakan saya masih disibukkan dengan urusan lain. Dalam hati saya berjanji akan lebih baik lagi; lebih sayang pada istri, mendidik anak dengan baik, melakukan kebaikan lebih banyak, dan meminimalkan dosa. Setidaknya, itulah komitmen dalam hati. Entah bagaimana rencana-rencana dan targetan yang sudah saya susun sebelumnya; jadwal berbagi inspirasi, riset, menulis buku, dan janjian denga sahabat-sahabat saya. Hanya kepasrahan penuh persangkaan baik denga doa yang bisa saya lakukan.
Alhamdulillah keluarga dan teman-teman memberikan support penuh dalam pengobatan dan pemulihan. Walaupun pada awalnya, ada rasa kecewa karena membatalkan kegiatan mengisi di luar kota dan sejumlah agenda lainnya, berikut-berikutnya saya bisa menerima semua dengan senang hati. Alih-alih saya fokus pada rasa sakit, meluangkan waktu untuk hal positif adalah pilihan terbaik. Kebahagiaan yang tidak kalah bermakna adalah saya bisa menjalani puasa dengan tuntas mengingat sebelumnya ada kekhawatiran pengobatan akan mengharuskan saya tidak berpuasa. Kekhawatiran itu, alhamdulillah tidak terbukti.
Kita tidak harus meratapi keadaan, senantiasa ada pilihan baik untuk setiap aktifitas kita. Daripada saya mengeluhkan keadaan, saya manfaatkan waktu untuk mengisi bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya terutama tilawah. Jalan-jalan dengan sepeda motor yang sebelumnya bukan aktifitas yang berarti menjadi sangat bermakna bagi saya. Sungguh bisa memboncengkan anak istri dan mengajak mereka jalan-jalan itu sebuah kenikmatan. Entah apakah ada benarnya ungkapan, “Adakalanya, seseorang menyadari sesuatu itu sangat berarti baginya ketika sesuatu itu tida ada di sisinya”. Kebersamaan dengan keluarga ternyata tidak hanya secara quantity time tetapi juga quality time. Itulah sebenarnya makna kebersamaan. Saya juga manfaatkan untuk ‘menjajal’ jualan di bukalapak dan jualan dengan media sosial. Alhamdulillah hasilnya tidak mengecewakan, setidaknya 1000K uang yang saya pegang dari jualan.
Cukuplah jadi pengingat firman Allah SWT dalam QS Alam Nasyrah ayat 5-6, “Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Allah SWT ulang dua kali yang menunjukkan penegasan agar manusia memperoleh penguatan keyakinan dalam hatinya ketika hatinya sedang dilanda kekhawatiran atas keadaan yang dialami. Jagalah Allah SWT, niscaya Allah SWT akan menjaga kita. Semoga kita menjadi manusia yang selalu dalam kebaikan. Aamiin. 

Wednesday, December 3, 2014

Bahagia Menjadi Orangtua

“Putriku, biarkan kami belajar nak”, ucap saya saat putri kami yang baru berusia hitungan hari itu menangis.
“Kami orang tua baru yang perlu belajar banyak”, lanjut saya sambil membenahi popoknya yang basah karena kena pipis.
Menjadi orang tua adalah kesempatan yang luas untuk belajar banyak hal bagi kami dan bagi siapapun. Dalam setiap momen berinteraksi dengan anak, ada hal-hal yang sama sekali baru, alias tidak ditemukan di buku. Saat itulah, kami belajar untuk merasakan, mendengar, dan melihat dengan hati kami. Kasih sayang yang tulus merupakan respon yang bisa menjadikan kami selalu bisa tersenyum.
Kami terkadang mentertawakan diri kami sendiri atas reaksi kami karena sempat saling menyalahkan jika tidak segera merespon putri kami yang terlihat merengek. Padahal, kami sebenarnya sejenak merasakan kebingungan untuk memberikan respon yang tepat. Pada saat itulah, kami menyadari bahwa yang belajar sebenarnya bukan hanya kami tetapi putri kami juga. Kami belajar memberikan respon yang membuatnya merasa aman dan dia juga belajar untuk memberi tahu kami jika dia sedang membutuhkan rasa aman dari kami.
“Sayang, kamu aman, ayah ada di dekatmu”, ucap saya sembari menggenggam jari-jemari putri kami saat dia menangis.
“Ayah dan bunda ada di sini, kami semua sayang sama kamu”, lanjut saya.

Saat terlihat dia merasa tidak nyaman dengan sebuah keadaan, kami menggenggam jari-jemarinya. Tampak putri kami merasa tenang dan nyaman. Kami hanya tahu bahwa masa-masa awal adalah masa pembentukan basic trust. Jika basic trust terbangun dengan baik, maka itu menjadi modalnya mengenal dunia yang lebih luas. Rasa aman yang menjadikannya percaya diri untuk mengeksplorasi lingkungan dan mengembangkan potensi-potensi yang ada pada dirinya. Pantaslah jika menjadi orangtua merupakan peak experiences bagi sebagian orang. Ada banyak hal membahagiakan bagi mereka yang menjalaninya peran barunya sebagai anugerah dari Allah SWT. Setidaknya, itulah sebagian kecil pengalaman kami.

(Pariman & Rizka, Ayah-Bundanya Syira)

Saturday, August 9, 2014

Pendidikan Anak Sejak Dalam Kandungan

Menjadi orangtua dari anak yang sholih/sholiha dan menyenangkan merupakan sebuah anugerah yang luar biasa. Allah SWT mempercayakan bayi yang lahir dengan fitrahnya dan segala potensinya pada para orangtua. Arah perkembangan fitrah apakah pada kebaikan atau pada kejahatan dipengaruhi oleh orangtua. Dalam ilmu biologi dikenal bahwa setiap bayi lahir dengan potensi genetik yang diturunkan dari kedua orangtuanya. Potensi genetik akan aktif dan aktual ditentukan oleh lingkungannya. Tentu kita juga mengenal istilah ada faktor genetis, bawaan, dan lingkungan. Faktor genetis terkait kombinasi kromosom dari orangtua, faktor lingkungan dipahami sebagai lingkungan dimana individu berinteraksi (keluarga, teman, sekolah, masyarakat), dan faktor bawaan mengarah pada keadaan selama dalam kandungan. Dengan memahami hal demikian, saat-saat anak masih dalam kandungan merupakan saat yang penting juga untuk diperhatikan.
Masyarakat kita dengan kearifan lokalnya memberikan perhatian penting masa kehamilan melalui “pranata sosial” yang turun temurun. Ada kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan pada usia tertentu saat kehamilan. Ada pula pantangan-pantangan yang dipesankan bagi para ibu hamil untuk tidak boleh dilakukan. Istilah yang umum digunakan seperti “pamali, saru” dsb. Pamali jika seorang wanita membunuh binatang, ada juga pesan pada suami agar mengabulkan permintaan istrinya yang sedang hamil jika ngidam. Dalam tinjauan ilmiah, emosi seorang ibu turut berpengaruh terhadap janin yang di kandungnya. Ibu dan janin terhubung oleh plasenta, aliran darah dan hormone serta sari makanan tersalurkan pada janin dari ibu. Emosi baik positif maupun negatif akan mempengaruhi hormon yang diproduksi tubuh ibu dan selanjutnya tersalurkan juga pada janin. Dengan demikian, penting peranan suami memberikan support bagi istri. Maha Besar Allah SWT yang juga menambahkan kasih sayang dan cinta seorang suami pada istrinya saat istrinya hamil. Maha Besar Allah SWT yang menganugerahkan sesuatu yang tidak diberikan pada laki-laki, dua diantaranya adalah mengandung dan melahirkan.
Ada sebuah penelitian yang menarik tentang hal yang bisa dilakukan saat kehamilan. Penelitiannya melibatkan sejumlah ibu. Mereka diminta untuk memperdengarkan kisah dengan tape recorder pada janin selama sekian waktu. Saat sudah lahir para ibu diminta untuk memutarakan kembali kisah tersebut. Para bayi menunjukkan ketertarikan dan seolah-oleh mereka tidak asing dengan atas kisah yang diperdengarkan saat dalam kandungan dan tidak memberikan perhatian saat diputarkan kisah yang lain. Hal tersebut bisa dijelaskan bahwa fungsi pendengaran seseorang sudah aktif sejak dalam kandungan. Perkembangan otak berupa jaringan-jaringan neuron juga terjadi dengan adanya stimulasi yang diterima dari luar. Di dalam Al Qur’an, kita mendapati keterangan bahwa Allah SWT menciptakan pendengaran, penglihatan, dan hati. Allah SWT sebutkan pendengaran sebelum penglihatan yang menunjukkan adanya hikmah bahwa fungsi pendengaran telah aktif terlebih dahulu sebelum penglihatan. Hal tersebut sekaligus menjadi dasar argumentasi bahwa stimulasi sudah bisa diberikan sejak anak dalam kandungan.
Aktifitas-aktifitas dalam memberikan stimulasi bisa dilakukan secara bersama-sama ayah dan ibu. Seorang ayah membacakan cerita atau bertilawah sedangkan ibu menyimak sembari mengelus perutnya untuk berkomunikasi dengan anak yang ada dalam kandungan. Mengajak berkomunikasi dalam bentuk menyapa, mengajak bicara pada janin akan mendekatkan ikatan emosional pada ayah dan ibu. Dalam ilmu psikologi, ada istilah kelekatan yang menjadi hal penting dalam menentukan perkembangan anak (kecerdasan, rasa aman, prestasi, kemampuan sosial dst).
Semoga kita menjadi orangtua yang dikaruniai anugerah anak-anak yang sholih/sholihah, menjadi penyenang batin kita, dan menjadi orangtua yang bijaksana. Aamiin.

(Pariman Siregar) 

Tuesday, July 15, 2014

Mendidik Sejak Dini

Kesadaran akan pentingnya mendidik anak sejak dini sudah lama disadari oleh masyarakat Indonesia. Hal ini bisa diketahui dari adanya pesan-pesan bijak yang tesirat dalam pepatah dan budaya masyarakat. Ada pepatah mengatakan, “Belajar saat usia muda bagaikan mengukir di atas batu sedangkan belajar di hari tua bagaikan mengukir di atas air”. Belajar semuda mungkin, ilmu yang didapatkan akan kuat lekat dalam ingatan. Kalau sudah terlalu tua usia, umumnya mengalami kesulitan dalam mengingat.
Pepatah tersebut berangkat dari kearifan masyarakat. Dalam kajian psikologi dan perkembangan, selanjutnya diketahui bahwa otak mengalami pertumbuhan pesat dalam membangun sambungan-sambungan neuron pada usia 6 tahun pertama. Pada saat tersebut, stimulasi yang diberikan akan mudah ditangkap dan diserap oleh otak. Itu artinya, waktu-waktu yang sangat penting bagi pembelajaran. Kita tentu pernah menyaksikan acara di TV berupa ajang menemukan bakat dan kontes kemampuan anak. Ada anak-anak yang sudah hafal Al Qur’an pada usia dini. Para orangtua dengan pengetahuannya akan potensi anak memanfaatkan “golden age” untuk mengajarkan anak-anak tentang menghafal Al Qur’an. Tentu kita juga pernah menyaksikan, ada anak-anak yang memiliki kemampuan dalam menyanyi maupun bermain musik. Kuncinya ada pada stimulasi yang diberikan kepada anak sejak dini. Sebagai orangtua, perlu kiranya untuk belajar banyak tentang perkembangan anak dan cara memberikan stimulasi sebaik mungkin.
Kajian yang dilakukan Anne Martina dan Rebecca  M.  Ryan dari Columbia  University bersama dengan Jeanne Brooks-Gunna dari Georgetown  University Amerika Serikat menunjukan bahwa dukungan yang diberikan ibu sejak dini berperan besar dalam pembentukan minat dan ketekunan anak. Minat dan ketekunan menjadi hal yang penting dalam menentukan kemampuan akademik anak. Perlu kiranya dipahami para orangtua untuk bisa membangun minat dan melatih ketekunan sejak dini. Usia 1-3 tahun sudah bisa dilakukan untuk membangun minat anak.
Dalam kearifan khasanah tradisi di Jawa misalnya, para orangtua sejak dini sudah mencoba untuk mengenali minat anak. Seorang anak laki-laki raja, saat sudah bisa merangkak, maka orangtua meletakkan senjata dan buku di depan anak tersebut. Apa yang dipilih anak diyakini akan menjadi minatnya. Jika senjata yang dipilih, itu artinya ketika besar akan menjadi seorang satria atau panglima perang. Jika buku yang dipilih, itu menandakan bakatnya adalah mendalami ilmu, jadi ulama atau cendikiawan. Cara sederhana yang pernah ada tersebut, kini sudah berkembang seiring kemajuan ilmu pengetahuan. Ada tes minat dan bakat atau biasa dikenal umum sebagai tes psikologi.
Tes psikologi pada dasarnya merupakan sampel dari perilaku yang diyakini menggambarkan bagian keseluruhan dari diri seseorang baik potensi maupun kepribadiannya. Sejauhmana orangtua perlu untuk mengetahu bakat dan potensi anak dengan memberikan tes psikologi? Hal tersebut masih ada perbedaan pendapat. Kita tentu masih ingat ada yang setuju dan ada yang tidak setuju saat tes psikologi digunakan dalam seleksi masuk TK/SD? Masing-masing memiliki argumentasi dan dasar. Karena itulah, menjadi orangtua yang mengajari anak beragam hal dituntut juga untuk belajar meningkatkan ilmunya. Bukan hanya meminta anak untuk belajar tetapi belajar agar menjadi orangtua yang baik juga menjadi hal penting. Orangtua berperan dalam memberikan dukungan terbaik, membersamai anak, dan menjadikan momen bersama anak sebagai kebahagiaan.
Kajian yang saya lakukan terhadap para ayah pada tahun 2013 diketahui bahwa para ayah memiliki pengalaman puncak bersama dengan anak. Pengalaman tersebut merupakan pengalaman bermakna, membahagiakan, dan memberikan perubahan bagi seorang ayah. Momen-momen membahagiakan bagi para ayah sejak mendapati kabar bahwa istrinya hamil, membersamai istri saat kehamilan, membersamai istri saat persalinan, membersamai anak saat bermain, mengikuti perkembangan anak dari tahun ke tahun sampai pada menyaksikan momen membanggakan berupa anak yang meraih prestasi dan anak menikah. Hal ini menunjukkan bahwa parenting bukan hanya bermanfaat bagi anak tetapi bagi orangtua sendiri.

Semoga kita menjadi orangtua yang bijaksana dan membawa keberkahan bagi anak-anak. Aamiin.

(Pariman Siregar)

Friday, April 11, 2014

#Romantis


Mungkin istrimu tidak pandai menjahit, tapi dia pandai menambal kekurangan-kekuranganmu, itulah #Romantis
Mungkin istrimu tidak pandai memasak, tapi dia selalu bisa mengolah segala rasa sehingga membuatmu bahagia dan damai, itulah #Romantis
Bisa jadi suamimu bukan direktor sebuah perusahaan, tapi dia bisa memimpin keluargamu secara adil dan bijaksana, itulah #Romantis.
Bisa jadi suamimu tidah ahli membangun rumah, tapi dia selalu menjadikan rumah tanggamu bahagia dan damai, itulah #Romantis
Pilihlah pasangan hidupmu yang baik agamanya. Dia akan selalu berusaha membahagiakanmu. Jika tidak bisa membahagiakanmu, setidaknya dia tidak akan menyakitimu.
#Romantis itu, ketika seorang suami menjadi imam dalam sholat malam dan istrinya menjadi makmum di belakangnya. Saat suami sampai pada membaca, “….Ghairil  maghdhuu bi ‘alyhim waladhaalliyn”. Istri menjawab lembut, “Aamiin”
#Romantis itu, ketika seorang istri meraih tangan suaminya setelah selesai sholat berjamaah lalu disalami dan dikecupi tangan suaminya lembut mesra. Suami membalasnya dengan kecupan di dahi istrinya sembari mengucap syukur dan doa untuk kebaikan rumah tangganya.
Bersamalah dalam ketaatan kepadaNya. Kemudahan dalam hidup dan kebahagiaan, Tuhan hadirkan pada mereka yang selalu menjaga ketaatan. Jika Tuhan sudah berkehendak kebaikan, siapa lagi yang bisa menghalanginya?
#Romantis itu tidak selalu perihal makan sepiring berdua. Hal terpenting adalah selalu bersama menikmati segala rasa dalam kehidupan ini bersama-sama.
#Romantis itu tidak selalu perihal pasangan yang sempurna. Hal terpenting adalah selalu bisa saling melengkapi, menyempurnakan, menghebatkan, mendamaikan, membahagiakan, dan mensejahterakan.

Thursday, September 26, 2013

Psikologi Kakak dan Adik



Dalam banyak kesempatan, seseorang lebih menganggap orang lain lebih bahagai dari dirinya. Sebagai kesempatan berharapdan berandai-andai dirinya menjadi orang lain. Padahal, jika benar-benar mencermati, hidup yang paling menyenangkan adalah menjalani hidupnya sendiri.

Seorang kakak merasa bahwa dirinya dibebani tanggung jawab yang lebih dari kedua orangtuanya. Dia diharuskan menjadi orang yang berhasil oleh orangtuanyaakarena nantinya diharapkan menjadi contoh bagi adik-adiknya. Berbagai fasilitas diberikan termasuk juga kasih sayang.

Seorang adik memang bukan nomer satu. Orangtua berpesan agar dia menjadi anak yang baik sebagaimana kakaknya. Berbagai usaha sudah dilakukan tetapi tidak juga dipandang orangtua sebagai keberhasilan. Selalu saja kakaknya menjadi tolok ukur. Sering adanya dibanding-bandingkan. Bertindak ini dan itu seolah tidak dipandang benar oleh orangtua, serba salah adanya.

Serba ribet menjadi kakak, tidak bebas dalam menentukan keputusan. Setiap pilihan-pilihan mesti dipertimbangkan karena akand ijadikan landasan bagi adik-adiknya. Sederet tanggung jawab sudah menanti ketika sudah menjadi orang yang berhasil. Tanggung jawab terhadap orangtua,adik-adiknya, dan kebanggaan yang selama ini dielu-elukan oleh orangtuanya. Hidupnya seolah tidak memiliki banyak pilihan kebebasan.

Jadi adik itu serba menunggu, menanti, kakak yang lahir duluan, semuanya jadi seolah serba duluan. Orangtua seolah tidak mencintainya sebagaimana kakaknya. Lihat saja, foto yang terpasang di ruangtamu jauh lebih banyak kakaknya dibandingkan dirinya. Sebuah kenyataan. Fakta yang tidak bisa lagi dielakkan.

Itulah sekilas pengalaman ketika bertemu klien-klien ketika praktek kerja profesi psikologi. Pembelajaran kehidupan yang layak diambil siapapun sehingga bisa makin bijaksana dalam kehidupan. Kepemahamanakan psikologis anak-anak pertama, kedua, dst lalu menjadikannya sebagai pengetahuan untuk pengasuhan terbaik bagi anak. Bagaimana sebaiknya? Anda yang lebih tahu.

@inspirasisegar
Motivator dan Penulis Buku