Friday, February 22, 2013

Mintalah Aku Dalam Doamu


“Mintalah aku dengan serius kepada Allah”, demikian kata bidadari jelita itu pada si pemuda. “Demi Allah, aku juga memintamu dengan serius kepada Allah”, lanjutnya. Keduanya berjarak sangat jauh, mereka tidak tahu kapan akan bertemu dan bersatu, yang jelas keduanya saling merindu.

Dengan setia dan sabar, bidadari jelita menanti si pemuda. Dalam penantian itu, dia berdoa, “Ya Allah, bantulah dia dalam agama-Mu dan jadikanlah dia taat kepada-Mu”. Di belahan dunia yang lain, si pemuda semakin tekun ibadahnya. Dalam sebuah perjalanan sampai-sampai si pemuda menggunakan waktu istirahatnya untuk sholat. Kala teman seperjalanannya makan, si pemuda memilih berpuasa.

Teman seperjalanannya pun merasa heran. Dengan rasa penasaran, bertanyalah dia pada si pemuda akan alasan semua yang dilakukannya. Si pemuda kemudian menceritakan apa yang dialaminya. Suatu ketika si pemuda bermimpi melihat istana surga dan di dalam surga itu si pemuda melihat bidadari jelita. Berkatalah bidadari pada si pemuda, “Mintalah aku dengan serius kepada Allah. Demi Allah, aku juga memintamu dengan serius kepada Allah”. Kisah tersebut saya nukilkan dari Tamasya ke Surga karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah.

Di dunia ini, segalanya Allah SWT ciptakan berpasang-pasangan. Ada terang, ada gelap; ada siang, ada malam; ada laki-laki, ada perempuan dst. Laki-laki dan perempuan nampak berlainan, gelap dan terang seolah nampak bertentangan tetapi jika dipahami lebih lanjut, ada keduanya ternyata saling melengkapi dan menyempurnakan. Apa jadinya dunia ini jika isinya laki-laki semua atau perempuan semua? Alangkah repotnya jika dunia ini isinya malam semua, tiada siangnya? Adakah waktu istirahat jika dunia ini isinya siang semua, tiada malamnya?

Allah SWT ciptakan berpasang-pasangan untuk saling menyempurnakan. Karena itulah mengapa bersatunya antara laki-laki dan perempuan melalui pernikahan dikatakan sebagai menggenapkan. Separuh agamanya digenapkan.

Setiap diri dilahirkan dengan jodohnya masing-masing sebagaimana Adam berpasangan dengan Hawa. Keduanya diciptakan tidak bersamaan. Mula keduanya tinggal di surga kemudian Allah SWT turunkan ke dunia. Keduanya diturunkan tidak pada tempat yang sama. Adam di belahan bumi yang satu, Hawa berada di belahan bumi yang lainnya. Dalam perjalanan menemukan Hawa, ada terus bermunajat dan meningkatkan taqwa kepada Allah SWT. Demikian pula Hawa, dia juga banyak-banyak berdoa, memohon ampunan, dan terus meningkatkan taqwa. Sampailah kemudian mereka Allah SWT pertemukan dalam momentum yang membahagiakan.

Jodoh seseorang tidak ada yang tahu kecuali Allah SWT. Barulah setelah takdir terjadi, manusia mengetahui. Ada yang mendapatkan pasangan hidup seumuran, ada pula yang beda umurnya. Tidak ada yang salah dengan selisih usia karena Allah SWT menurunkan keduanya ke dunia pada waktu yang berbeda. Ada yang duluan, ada yang kemudian. Ada yang mendapatkan pasangan satu kampung, ada pula yang beda negara. Tidak ada yang salah dengan tempat karena Allah SWT menurunkan keduanya ke dunia tidak pada tempat yang sama. Asam di laut, garam di laut, keduanya akan bertemu juga di periuk. Jika memang sudah jodoh, pasti akan bertemu dan bersatu.

Setiap kita sudah selayaknya yakin bahwa setiap orang yang lahir ke dunia Tuhan bersamai pula dengan jodohnya. Tuhan ciptakan Adam, Dia ciptakan pula Hawa sebagai pasangan hidupnya. Lagipula, Allah SWT berfirman bahwa Dia ciptakan segala yang ada di dunia ini berpasang-pasangan. Sebuah jaminan kepastian bahwa setiap orang memiliki pasangan. Perihal jodoh bagi seseorang, Allah SWT memang merahasiakan siapa yang menjadi jodohnya? Bukankahada banyak hal yang lebih menarik dalam kehidupan ini ketika rahasia (secret)? Produk yang ada embel-embel “secret” kenyataannya laris manis.

Adam dan Hawa diturunkan ke dunia pada tempat yang berbeda, mengalami waktu yang tidak sama, dan tumbuh pada lingkungan yang tidak serupa. Keduanya mengalami kerinduan tetapi tidak pernah berputus asa akan adanya perjumpaan. “Saling mendoakan”, itu barangkali cara keduanya mengobati kerinduan. Pada tempat yang berbeda, keduanya sama-sama belajar memaknai arti cinta yang sesungguhnya. Waktu yang nantinya mempertemukan.

Dalam keterpisahan, Adam dan Hawa menyemai bibit cinta yang Allah SWT letakkan dalam jiwa keduanya. Keimanan yang menjadikan akar cinta menghujam dalam sampai ke surga. Kerinduan menjadi air segar yang menjadikan cinta tetap tumbuh dan bersemi dalam jiwa. Ketaqwaan menjadikan batang cinta tumbuh membesar dan menjulang tinggi menyentuh langit. Kesabaran menjadikan buah dari cinta benar-benar masak dan manis rasanya. Mereka paham bahwa tugas di dunia ini adalah mengambil cinta dari langit lalu menaburkannya pada seluruh penjuru bumi. Bertemulah mereka setelah memahami tugas mulia tadi.


Yogyakarta,  Februari 2013


Pariman Siregar

Saturday, January 26, 2013

Berani Bermimpi [2] : Menjadi Penulis


“Nak, Bapak tidak bisanya menyekolahkan, carilah bekal hidupmu sendiri”, demikian kira-kira pesan Bapak saya. Beliau tidak berkesempatan sekolah sehingga tidak bisa membaca dan menulis. Ibu saya lulusan Sekolah Dasar, beliau yang membimbing saya belajar saat kecil. Mereka berdua berharap, anak-anaknya berpendidikan tinggi karena mereka sadar bahwa dulunya mereka tidak berkesempatan sekolah. Keterbatasan ekonomi yang menjadi alasannya. Dengan semangat itulah, saya dan dua adik saya berkomitmen untuk sekolah setinggi-tingginya.

Jika direnung-renungkan, perjuangan kedua orangtua saya begitu hebatnya. Entah kapan saya bisa membalasanya walaupun mereka tentu tidak begitu mengharapkan hal itu. Lahirlah semua tekad untuk memberikan sesuatu yang membahagiakan bagi mereka. Setidaknya mengabadikan nama mereka sebagai inspirator yang menghantarkan saya sampai sedemikian sekarang. “Sebelum lulus S1, saya ingin menerbitkan buku”, begitulah semangat itu. Saya ingin menuliskan nama kedua orangtua saya, mengucapkan terima kasih, dan banyak orang yang akan membaca serta terinspirasi buku tersebut.

Di penghujung kuliah, terbitlah buku pertama MASTER from MINDER. Sebuah buku yang saya dedikasikan sebagai wujud kepedulian untuk membantu orang lain dengan meyakinkan bahwa mereka memiliki potensi yang luar biasa; potensi yang jauh melebihi apa yang dipikirkannya. Kumpulan dari berbagai pengalaman yang pernah saya dapatkan. Saripati inspirasi ketika menjadi trainer di sekolah bisnis untuk anak dan remaja BIZZ4KIDS Semarang, pengalaman menjadi trainer motivasi dan pengembangan diri bersama teman-teman di Quantum Motivation Center (QMC), pertanyaan-pertanyaan selama mengisi “Mutiara Pagi” Tri Jaya 89,8 FM Semarang, ide-ide selama menangani pembinaan SDM di Beastudi Etos Semarang, dan berbagai pengalaman lainnya. Semua ide, inspirasi, dan pengalaman tersebut kemudian saya padukan dengan berbagai pandangan dari al Qur’an, hadis, psikologi konseling, psikoterapi serta kehidupan para sahabat dan para tokoh.

Saya mencoba menguatkan kepercayaan diri dan meyakinkan kemampuan untuk menantang segala keterbatasan. “Jika oranglain bisa, anda tentu lebih bisa,” itulah harapanya. “Awalnya menjadi murid yang baik dari kegagalan dengan banyak belajar darinya berikutnya menjadi guru kesuksesan yang mengajarkannya pada banyak orang.“ Berikut saya merangkai bab demi bab dalam MASTER from MINDER:

Master 1. Pilih Sukses atau Gagal?
Master 2. Menantang Penderitaan, Meraih Kebahagiaan
Master 3. Menantang Segala Keterbatasan
Master 4. The Secret of Succes
Master 5. Para Inspirator
Master 6. Transformasi Diri.

Mengutip komentar Solikhin Abu Izzudin, Motivator dan Penulis Buku Best Seller ZERO to HERO, “Terbatas bisa teratas? Yakinlah ANDA BISA! Jadikan keterbatasan sebagai spirit untuk melejit, berkelit di saat sulit.” Mulai sekarang tidak ada lagi minder, yang ada adalah para MASTER. Dengan buku tersebut saya berkeliling untuk berbagi inspirasi, menguatkan mimpi, dan memenangkan banyak hati.

Setelah berhasil meraih gelas Sarjana Psikologi, kini saya mengambil S2 untuk Profesi Psikolog Klinis di UGM. Ada impian juga menuliskan beberapa buku sembari kuliah. Salah satu bukunya adalah untuk mahar pernikahan saya. Buku yang saya persembahan spesial untuk seseorang yang spesial. Pada bagian persembahan akan saya tulis nama wanita spesial itu. Hanya begitu mungkin cara saya mengabadikan namanya dan mengabadikan cinta saya. “Masa lalumu adalah milikmu, masa laluku adalah milikku tetapi masa depan adalah milik kita”, mengutip kalimat dari Pak Habibie saat melamar Bu Ainun.

Semoga setiap orang yang membacanya menguatkan cinta kami. Masih panjang cerita yang nantinya saya harapkan dalam kehidupan ini. Tentunya, saya tidak akan menuliskan sendiri. “Setiap orang yang hadir dalam kehidupan kita membantu menuliskan kisah kehidupan kita”, saya percaya demikian.

[*] Berani Bermimpi [1] : Kuliah S1

[*] Berani Bermimpi [3] : Kuliah S2

www.parimansiregar.blogspot
FB: Inspiring Man
Email: pariman@mail.ugm.ac.id
Hp: 085 226 992 485
PIN: 321358C0

This entry was posted in

Monday, January 7, 2013

Berani Bermimpi [1] : Kuliah


“Terbatas bisa teratas? Yakinlah ANDA BISA! Jadikan keterbatasan sebagai spirit untuk melejit, berkelit di saat sulit, Pariman Siregar ini buktinya. Mengamalkan ilmunya untuk meluarbiasakan dirinya, MASTER from MINDER,” demikian Solikhin Abu Izzudin, Motivator dan Penulis Buku Best Seller ZERO to HERO dalam Cover belakang Buku MASTER from minder.

Saya masih ingat betul pertanyaan retoris ibu saya di penghujung kelas 3 SMA, “Nak, kamu jadi mau melanjutkan kuliah? Bapakmu tidak punya uang yang cukup.” Sebuah pertanyaan yang sebenarnya ingin mengukur sejauhmana tekad saya dalam mewujudkan cita-cita untuk kuliah. Jawaban dari pertanyaan ibu saya sekaligus sebagai penguatan atas kepercayaan diri beliau dalam memampukan diri membiayai kuliah saya. 

“Insya Allah, saya akan melanjutkan kuliah. Soal biaya, saya yakin ada jalannya.” demikian jawaban saya ketika itu. “Baiklah kalau begitu, ibu hanya bisa mendo’akan, semoga engkau diberi kemudahan,” balas beliau menguatkan keyakinan saya pastinya. Sekian tahun sudah berlalu. Sungguh menarik ketika pulang ke rumah. Rasa syukur itulah yang kami rasakan. Saat mengenang dialog-dialog saya dan ibu saya di penghujung SMA itu. Dulu sepertinya tidak mungkin terjadi tetapi sekarang semuanya telah terlampaui. Ada saja jalan saat kesulitan datang. Ada saja kemudahan ketika ada keyakinan ke-Maha Besar-an Tuhan, Allah SWT. 

“Semarang, Universitas Diponegoro dimanakah letaknya?” Saya, Yayan Satya Wardhana, dan temen saya Eko Saputro sama-sama pertama kalinya ke Semarang. Kami belum pernah datang ke sana apalagi naik bus sendiri. Berbekal secarik kertas rute perjalanan, kami berangkat bersama. “Terminal Banyumanik,” nama yang paling familiar di kepala saya. Alhamdulillah, kami sampai tujuan tanpa halangan bahkan mendapat banyak kenalan dan tempat penginapan. (Terima kasih temen-temen Rohis: Mas Agus Sugito, Mas Aris dan Pak Faris dkk). 

“Biaya kuliah, sumbangan akademik, buku-buku, biaya kontrakan lalu dari mana saya dapatkan?” Kepalang basah, semua sudah terlanjur, tidak ada gunanya mundur. Jalan satu-satunya adalah kuatkan tekad dan keyakinan, pasrahkan pada Tuhan. Benar saja, saya tidak mengira menjadi bagian dari kafilah mahasiswa penerima Beastudi Etos Semarang. Salah seorang dari sekian ribu penerima beastudi etoser di 11 PTN Indonesia ini. Tempat dimana saya mendapatkan pembinaan diri setiap pekan sekali selama tiga tahun. Bersama dengan teman-teman etoser, kami dibiayai kuliahnya, mendapatkan bimbingan setiap harinya, dan banyak hal yang kami dapatkan. (Terima kasih Pak Effendi Nugroho dan keluarga, terima kasih Beastudi Etos).

Sekarang, malu rasanya jika do’anya masih ‘minta-minta’ karena banyak kenikmatan yang telah dilimpahkan oleh-Nya. Saya teringat, awalnya bukan apa-apa tetapi banyak hal-hal dulu tidak mungkin sekarang semuanya begitu nyata. Berbagai pengalaman yang dulunya tidak mengenakkan ternyata sekarang asyik untuk diceritakan. Semuanya ternyata adalah proses pendewasaan yang diberikan Tuhan bagi seorang minder agar suatu saat menjadi MASTER. Mungkin anda adalah salah satu dari seorang yang berproses menjadi seorang MASTER itu. Mari kita berbagi dan saling menguatkan diri bahwa semuanya layak untuk menjadi sukses sekalipun kemampuannya terbatas. SALAM MASTER!!

www.parimansiregar.blogspot
FB: Inspiring Man
Email: pariman@mail.ugm.ac.id
Hp: 085 226 992 485
PIN: 321358C0

This entry was posted in

Saturday, November 24, 2012

Nasehat Cinta Asmaradana


“Gegarane wong akrami, dudu bandha, dudu rupa, among ati pawitane”, itulah sedikit kutipan dari tembang asmaradana. Dalam sastra Jawa dikenal tembang-tembang macapat yang salah satunya dikenal dengan asmaradana. Melalui tembang-tembang macapat, orang-orang Jawa menyampaikan nasehat kepada anak-anaknya. Asamaradana salah satunya. Tembang tersebut berisi gambaran tentang fase dimana seseorang mengalami jatuh cinta atau kasamaran.
MELAYANI PERMINTAAN untuk acara TRAINING PENGEMBANGAN DIRI, motivasi, BEDAH BUKU, & seminar. Hub.085 737 578 678 (Pimen)

“Gegarane wong akrami, dudu bandha, dudu rupa, among ati pawitane” memberikan pesan kepada siapa saja yang ingin membangun rumah tangga bahwa rumah tangga haruslah dibangun dengan landasan yang kuat. Landasan orang berumah tangga bukanlah karena harta dan rupa tetapi semata-mata bermula dari hati. Apakah yang dimaksud bermula dari hati? Berumah tangga haruslah diawali dengan niat yang lurus dan cinta yang tulus. Dengan kedua hal tersebut rumah tangga dibangun mencapai sakinah mawadah warahmah.


Mengapa harus bermula dari hati? Dalam konsepsi Jawa ada sebutan yang unik untuk pasangan hidup yaitu garwa (sigaraning nyowo) atau belahan jiwa. Dalam Bahasa Indonesia kita mengenal dengan istilah pasangan hidup sebagai “jantung hati” sedangkan anak yang lahir dari sebuah rumah tangga disebut “buah hati”. Demikian indahnya bermula dari hati (cinta). Cinta ranahnya dalam emosi bukan kognisi. Cinta letaknya bukan di kepala tetapi ada dalam dada. Cinta itu perihal rasa bukan logika. Cinta adalah getaran jiwa karenanya bergetarlah dada saat mengalaminya. Getaran cinta akan ditangkap oleh pemilik getaran yang sama. Jadilah keduanya beresonansi, saling mengerti, saling memahami, bukan lagi kata-kata untuk berkomunikasi. Dalam diam sekalipun, mereka saling memahami.
  
Silakan dishare note ini. ^_^


Seorang penulis, motivator, trainer yang sedang mendalami psikologi dan bercita-cita menjadi suami juga ayah yang menginspirasi dengan cinta.


Kontak Untuk Permintaan Mengisi Training, Workshop, dan Seminar Pengembangan Diri
www.parimansiregar.blogspot

FB: Inspiring Man

Email: pariman@mail.ugm.ac.id

Hp: 085 226 992 485

PIN: 321358C0

Wednesday, October 10, 2012

Beringin dan Semangka


Seorang laki-laki duduk terdiam di bawah pohon beringin. Perlahan, dia merebahkan badannya. Udara siang yang panas dan semilirnya angin membuatnya terasa begitu nyaman. Pandangan matanya menerawang ke atas menerobos rimbunnya dedaunan. Tersentaklah kemudian. 

“Tuhan tidak adil”, begitu ucapnya. 

Dilihat buah beringin yang kecil-kecil padahal pohon beringin besar-besar. Benar-benar tidak adil karena ada pohon yang kecil tetapi buahnya besar. Tanaman melon pohonya kecil, buahnya besar, adilkah? Kalau buah semangka yang sebesar kepala tetapi pohonnya hanya sebesar kelingking, apa itu adil? 

“Ah, Tuhan benar-benar tidak adil”, gerutunya.

“Plug”, tiba-tiba. “Apa ini?”, terhenyak kaget sambil mengusap hidupnya. 

Ternyata ada buah beringin masak yang jatuh tepat di hidung lelaki itu. Seketika dia memohon ampun, berulang kali sembari bersyukur. 

“Untungnya buah beringin kecil sehingga hidung saya selamat”, ucapnya. 

“Coba kalau buah pohon beringin sebesar buah semangka, bukan hanya hidung tetapi kepala saya bisa benjut kejatuhan buahnya”, sesal, geli, dan syukur bercampur. 

“Sekarang saya baru tahu dan yakin bahwa Tuhan itu adil dan benar-benar adil”, dengan yakin dia berkata. 

Pariman SIregar

Clinical Psychology of Gadjah Mada University

Monday, September 10, 2012

Unfinished Bussiness: Berdamai dengan Diri Sendiri


Pernahkah merasa sangat ingin melakukan sesuatu dan paham betul bahwa sesuatu itu baik tetapi entah kenapa seolah berat untuk melaksanakannya? Mungkin pula sudah sekian kali mencoba membangun hubungan tetapi sekian kali juga hubungan tersebut berakhir tidak menyenangkan? Entah berapa banyak mencoba membuka usaha, sekian banyak pula menghadapi kegagalan? Antara orang yang satu dengan yang lain mungkin memiliki hal yang berbeda tetapi polanya serupa. Ada semacam penghambat dari dalam diri yang disadari keberadaannya menghambat tetapi belum juga mendapatkan penyelesaian. Saya menyebutnya, “Unfinished Bussiness”.
 
Beban masa lalu yang belum terselesaikan, terbawa ke masa sekarang, dan mengakibatkan hambatan dalam pencapaian. Ibaratkan kerjaan kantor yang setiap belum selesai kemudian dimasukkan dalam tas kerja, makin hari kian bertambah, dan semakin berat pula membawanya. Mau tidak mau, setiap pekerjaan yang belum selesai mesti dikerjakan. Jika tidak bisa diselesaikan sendiri bisa meminta bantuan pada orang lain. 

Secara psikologis, beban yang mengganggu bisa dibilang adalah beban emosional. Isi dari perasaan tidak menyenangkan dari pengalaman-pengalaman dari masa lalu yang belum sempat tersolusikan. Perasaan kegagalan, rasa tidak berdaya, kecil hati, perasaan tidak mampu, dan berbagai hal yang terakumulasi dari pengalaman tidak menyenangkan yang berulang. Sungguh pastinya hal demikian tidaklah nyaman. Tentu setiap orang ingin merdeka dari penjajahan masalah yang mengganggu pikiran. 

Sebuah ilustrasi seorang yang sudah lama membuka usaha tetapi belum juga mendapati kesuksesannya. Dari tahu ketahun begitu-begitu saja, mengalami stagnasi, bahkan karena belum juga menikmati hasil memuaskan, kinerjanya semakin mengalami penurunan. Orang tersebut membawa masalah yang dihadapi pada seseorang untuk mendapatkan solusi. Dari diskusi yang mendalam, didapati bahwa secara konsep diri, dia merasa dirinya kecil, tidak layak, minder, dan merasa terpinggirkan. Memang sejak kecil apapun prestasi dan usaha yang dilakukan, tidak ada apresiasi dari lingkungan yang diterimanya. Lebih-lebih lagi latar belakang orangtua yang sibuk karena pekerjaan, tidak banyak memberinya waktu dalam dukungan ketika menghadapi kesulitan. Apa-apa dipendam sendiri, apa-apa disimpan dalam perasaan, dan hapir-hampir jarang terlihat senyum dari wajahnya. “Unfinished Bussiness” yang perlu segera untuk diatasi. 

Tidak semua permasalahan sebenarnya harus diselesaikan. Berapa banyak kejadian di masa lalu yang seseorang anggap sebagai masalah kala itu tetapi selesai begitu saja tanpa pernah seseorang tadi menyelesaikannya? Hal yang perlu dipahami bahwa masalah yang hadir datang sebagai guru tempat seseorang belajar akan arti kehidupan. Dengan demikian, bisa dipahami jika seseorang tidak lulus belajar dari guru tersebut, seseorang tadi bertemu guru lain dengan materi yang serupa. “Remidi”, begitu istilah anak sekolahan. Selain itu, masalah terkadang hadir seolah hanyalah sebagai tamu. Sebagaimana tamu, wajib bagi tuan rumah untuk melayani dengan baik. Setelah dilayani, tamu tersebut akan pergi sendiri pada waktunya. Dan perlu juga dipahami, sebaik apapun tamu, ada saatnya pamitan (pergi), biarkanlah tamu tersebut berpamitan dan dilepas dengan senang. Masalah yang mengganggu perasaan ibarat tamu yang disekap dalam rumah dan tamu tersebut kemudian ‘mengamuk’ isi rumah. Rumah itu sendiri adalah fisik seseorang. Bisa dipahami, mereka yang menyimpan lama beban pikiran dan perasaan akhirnya berdampak pada fisiknya. Semoga segera lega melepaskan beban dalam dirinya dan merasakan kemerdekaan untuk bahagia.

Dalam banyak kesempatan, ada problem kehidupan yang sebenarnya hadir hanya untuk diakui bahwa problem itu ada. Ibaratkan anak kecil yang mencari perhatian seorang bapak sehabis bapaknya pulang dari kantor. Lelah memang yang dirasakan bapak tersebut seharian bekerja tetapi namanya anak kecil, tetap meminta perhatian. Lalu bagaimana menghadapi situasi demikian? Sederhana sebenarnya ternyata, temanilah anak kecil tersebut, bermainlah. Dia hanya meminta untuk diperhatikan, dianggap ada, dan tidak ingin diabaikan. Setelah itu, paling tidaklah lama, si anak akan tenang sendiri. Begitu ilustrasinya.

Penulis buku inspiratif MASTER from minder”. Buku yang menginspirasi ribuan orang di Indonesia untuk bangkit dari kegagalan dan optimis dari keadaan terbatas menjadi teratas dalam kesuksesan. Menyukai berbagi inspirasi melalui tulisan, buku, radio, telivisi, dan langsung dengan mengisi training juga sharing. Sekarang sedang mendalami Profesi Psikolog Klinis di Universitas Gadjah Mada. FB Inspiring Man, twitter @inspirasisegar.

Wednesday, August 29, 2012

Berjodoh Pada Waktunya


Jodoh itu ibaratkan bayangan. Saat engkau kejar-kejar justru dia itu menjauh. Saat engkau diam, dia juga diam. Lalu bagaimana agar dia mendekat? Sederhana ternyata, yaitu engkau mendekat pada sumber cahaya, dia akan mendekatinya juga. Sumber dari segala sumber cahaya itu adalah Allah SWT.

Ada banyak orang yang telah lama membina hubungan dan berencana untuk melanjutkan pada jenjang pernikahan tetapi akhirnya berujung pada keterpisahan. Tidak sedikir mereka yang berusaha menemukan jodohnya kesana-kemari tetapi justru bersatu dengan orang yang telah lama dekat dalam hidupnya (sahabat lamanya). Ada banyak juga orang yang baru berkenalan, merasa cocok kemudian melanjutkan pada jenjang pernikahan dan dikarunia berlimpah kebahagiaan.

Jodoh memang menjadi rahasia abadi dalam kehidupan sebagaimana kematian, rejeki, dan takdir seseorang. Semua sudah Allah SWT tetapkan sebagai ujian keimanan. Bagian dari cara Tuhan agar manusia sadar bahwa apa-apa yang manusia dapatkan bukan semata-mata hasil dari usahanya tetapi segala yang terjadi atas seijin Illahi. Selain itu, manusia pastinya juga sadar bahwa sebaik-baik perencanaan adalah perencanaan Tuhan. Manusia memiliki keinginan tetapi Allah SWT yang paling tahu yang manusia butuhkan. Semuanya menjadi bagian dari cara Tuhan untuk mendidik seseorang, mempersiapkanya sebelum mendapatakan apa-apa yang manusia butuhkan. Allah SWT tahu bahwa manusia tidak menyukai teori berbasa-basi karena itulah Allah SWT langsung menurunkan takdir, peristiwa yang manusia harus alami, belajar dengan melakoni. 

Rasulullah mengajarkan untuk menyegerakan tetapi bukan berarti keterpaksaan dan keterburuan. Tidak akan baik hasilnya segala yang dilakukan dengan paksaan dan tanpa perhitungan. Semua perlu direncanakan, disiapkan, diikhtiarkan, dan dipasrahkan pada Kebesaran Tuhan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”, pesan dalam QS Alam Nasyrah ayat 7. Ada fase perencanaan, persiapan, dan aksi pelaksanaan. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”, pesan ayat berikutnya dimana manusia diminta untuk berdoa dan berpasrah akan hasil yang terbaik dari Allah SWT. Biarlah Allah SWT mengatur yang terbaik bagi manusia setelah manusia melakukan ikhtiar terbaiknya. 

Segala sesuatu ada waktunya sebagaimana bayi yang lahir. Tidaklah perlu ‘dipaksa’ keluar kalau belum waktunya lahir. Pastinya tidak akan baik bagi si bayi nantinya. Lihat saja bayi yang lahir belu waktunya, perkembangannya seolah lambat dan mengalami hambatan. Tentunya tidak baik juga ketika waktunya sudah tiba tetapi ditunda-tunda lahirnya. Selain kasihan pada si ibu juga kasih pada bayinya. Lebih payah lagi kalau pemercepatan dan penunda-nundaan karena alasan yang kurang rasional. Entah itu demi tanggal yang dianggapnya cantik atau adanya kerpecayaan tertentu yang lebih menggambarkan kelemahan keyakinan. Dalam jodoh bisa saja pemercepatannya karena kecelakaan sebelum pernikahan (kita berlindung dari hal demikian) atau alasan lain yang bukan tuntunan agama. Penunda-nundaan karena alasan ingin sukses kariri dulu, mandiri, pekerjaan mapan, penghasilan berlimpah dsb yang tidak berlandaskan kepemahaman agama yang baik tentunya akan menghambat dirinya sendiri nantinya.

Untuk mendapatkan cinta, mendekat pada Yang Maha Pemilik Cinta. Untuk berlimpah harta, mendekat pada Yang Maha Kaya, pemilik bumi langit dan seisinya. Dekatkanlah pada sumber dari segela sumber cahaya, maka jadilah diri terang segala-galanya (@inspirasisegar)