Saturday, May 27, 2017
Sunday, April 30, 2017
Outbound dan Pelatihan di Kebun Teh Pagilaran
Hampir
setiap instansi memiliki security. Security
menempati posisi penting yang bertanggung jawab terkait keamanan. Tanggung jawab
tersebut mengharuskan pribadi yang kuat dan tegas. Di sisi lain, pada instansi
tertentu security “memiliki” peran
layaknya front liner yang
mengharuskannya bersikap ramah dan banyak senyum. Utamanya pada instansi yang
bergerak dalam pelayanan publik. “Kesan terhadap
security seolah saat pelatihan lebih banyak diajarkan tentang ketegasan (‘keras’)
tetapi saya di sini ternyata ditugasi untuk melayani yang mengharuskan banyak
senyum dan ramah”, demikian salah satu kesan dari seorang security di suatu instansi.
Tepatnya, 8
Oktober 2016 lalu saya kebagian untuk menyampaikan materi pada security Universitas Pekalongan.
Tempatnya di kebun teh Pagilaran. Pagilaran merupakan bagian dari wilayah
Kabupaten Batang. Perjalanan sekitar 45 menit dari pusat kota kea rah selatan.
Banyak orang memilih untuk ke Pagilaran guna menikmati udara segar dan hamparan
hijau kebun teh di sana. Perkebunan teh yang sudah ada sejak zaman penjajahan kolonial
Belanda. Pohon tehnya ada yang sudah berumur seratus tahun lebih.
Pagilaran
menawarkan kesejukan dan kesegaran udara, sangat cocok untuk refreshing. Ada banyak penginapan dan
rumah yang bisa disewa untuk keluarga. Cukup murah, rumah dengan 3 kamar tidur
lengkap dengan dapur dan kamar mandi hanya kisaran 1 juta sehari semalam. Tersedia
aula untuk acara gathering atau training yang juga bisa disewa.
Pagilaran
bisa jadi salah satu alternatif untuk kegiatan pelatihan atau gathering. Hal tersebut sepertinya yang
menjadikan alasan Alumni Fakultas Hukum Unissula Angkatan 80/81 memilih
Pagilaran sebagai salah satu tempat untuk reunian pada 26 Maret 2017 lalu. “Reunian kali ini seru, paling seru
dibandingkan sebelum-sebelumnya”, itulah salah satu kesan dari peserta. Kemasan
acara yang menarik yang memberikan kesan tak terlupakan merupakan hal penting
dalam acara reuni. Rektor Universitas Pekalongan merupakan ketua dari acara
reuni tersebut dan berperan besar dalam kesuksesan acara.
Salah satu
sesi acara yang menarik adalah outbound. Rangkaian permainan yang menjadikan
semuanya bisa terlibat, aktif, dan tentunya ada nilai edukatif di dalamnya. Pilihan
tempat permainan bisa di luar atau area terbuka sembari menikmati pemandangan
sekitar dan udara yang segar. Bisa juga tempat permainan di dalam ruangan
terkhusus ketika cuaca sedang hujan sehingga tidak memungkinkan diadakan di
luar. Tentunya jenis permainan akan disesuaikan sehingga tetap mengena di hati
peserta. Itulah yang kami usahakan, saya bersama rekan, seorang psikolog
pendidikan Aji Cokro D. M.Psi, Psikolog. Pada akhirnya, sebagai diberi
kepercayaan fasilitator belajar banyak hal dan harus siap membuat keputusan
yang sigap di lapangan. (Pariman, M.Psi, Psikolog)
Saturday, April 29, 2017
Smart Parenting di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
Parenting atau
pengasuhan merupakan tugas bersama antara ayah dan ibu. Parent(ing) – Orangtua (ayah dan ibu), bukan fathering (ayah saja) atau mothering
(ibu saja). Namun demikian, konstruksi budaya dalam kehidupan bermasyarakat
seolah memberikan tanggung jawab mengasuh dan mendidik anak lebih banyak pada
para ibu. Ayah seolah (boleh) lepas tangan karena fokus dalam mencari nafkah
untuk memenuhi kebutuhan materi bagi keluarga. Padahal, materi hanya bagian
kecil dari tanggung jawab yang harus dipenuhi.
Banyak
penelitian yang membuktikan bahwa ayah memiliki peran besar bagi perkembangan
anak, baik aspek kognitif, afektif, motorik, dan sosial. Ada peran-peran
tertentu yang tidak bisa digantikan dan bersifat melengkapi antara ayah dengan
ibu. Peran penting pengasuhan bagi perkembangan anak utamanya pada awal masa
anak-anak. Ada usia-usia yang disebut golden
age, yaitu usia 6 tahun pertama. Pada usia tersebut, perkembangan otak
(memori) berlangsung sangat cepat sehingga stimulasi yang tepat akan bermanfaat
besar bagi perkembangan anak. Kenyataannya, tidak banyak orangtua tahu hal
tersebut dan memahami apa yang seharusnya dilakukan, lebih-lebih “ibu-ibu muda” atau “ayah-ayah muda”. (Sampai saya membuat halaman "Psikologi Menjawab")
Orangtua
dengan anak pertama umumnya belum lama dalam membangun rumah tangga. Kondisi
ekonomi belum stabil, pekerjaan belum mapan, rumah ada yang masih ngontrak atau
ikut orangtua, dan situasi penyesuaian lainnya. Keadaan tersebut bagi sebagian
orang tentulah menyita sebagian besar waktu sehingga perhatian pada anak
kurang. Bahkan, ada situasi pekerjaan yang membuat para ayah seolah tidak punya
pilihan waktu untuk banyak berinteraksi dengan anak karena tempat kerja yang
jauh. Tentunya tidak ada cara lain kecuali mengoptimalkan waktu yang ada ketika
bersama keluarga secara kualitas. Quality
time selain terus berusaha menambah quantity
time.
Masa-masa
6 tahun pertama adalah masa-masa dalam menanamkan kesan pada anak. Bagaimana
kesan anak terhadap ayah dan ibunya, rekaman kuatnya ada pada 6 tahun pertama. Pada
usia 6 bulan, ada sudah memiliki rekaman kuat tentang wajah orang-orang
terdekatnya. Rekaman tersebut menjadi frame
kedekatan hubungan. Olehkarena itu, sungguh disayangkan jika anak lebih
banyak memiliki rekaman ingatan orang lain dibandingkan dengan orangtuanya
sendiri. Ingatan tersebut terus berkembang dan anak mulai mengidentifikasi mana
orang dekatnya dan mana orang yang asing bagi dirinya. Usia 9 bulan, anak sudah
memahami hal tersebut sehingga jika ada orang asing, dia bisa saja menangis
karena beranggapan orang asing itu mengancam (menakutkan).
Lagi-lagi
waktu-waktu berharga dengan anak itu justru pada awal masa perkembangannya. Waktu
yang demikian itu berjalan sangat cepat terutama jika sibuk bekerja, anak beranjak
besar dan lingkaran interaksi anak sudah harus meluas, yaitu banyak
berinteraksi dengan teman sebaya juga guru mereka di sekolah. Bagaimana anak
menghadapi lingkaran interaksi itu ditentukan oleh pengalaman interakasi
bersama orang-orang dekatnya. Penelitian menunjukkan bahwa hubungan yang baik
antara ayah dan anak menjadi dasar baginya dalam membangun hubungan pada masa
perkembangan selanjutnya. Remaja-remaja yang bermasalah ketika dirunut akar
penyebabnya karena permasalahan dalam keluarga berupa tidak harmonisnya
hubungan ayah dan anak. Sungguh saat berharga untuk anak itu jangan sampai
berlalu begitu saja. Saya menyebut jadi orangtua itu haruslah memiliki bekal smart parenting. Itulah tema materi yang
saya bawakan untuk kajian parenting di Samben
Library, Bantul (24 April 2017).
“Smart” yang
diterjemahkan sebagai cerdas. Orang yang smart/cerdas adalah orang yang selalu
bisa beradaptasi dengan lingkungan (Colvin, Ahli Psikologi). Orang yang paling
smart/cerdas adalah orang yang 1) banyak mengingat kematian dan 2) paling bagus
persiapannya menghadapi kematian (Rasulullah SAW). “Parenting” yang biasa dikenal dengan pengasuhan merupakan segala
aktifitas (orangtua) yang memiliki tujuan agar anak berkembang secara optimal
dan bisa menjalani kehidupan dengan baik (Hoghughi, 2004). Jadi parenting yang smart itu sebagaimana tidak hanya berorientasi dunia tetapi juga
akhirat; bukan hanya perkembangan potensi anak tetapi juga keterampilan anak
dalam menghadapi kehidupan (life skills)
dan akhlaq anak; serta berorientasi pada kebutuhan anak di masa depan. “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan
zamannya, karena zamanmu dengan zamannya tidaklah sama”, demikian pesan
sahabat Ali bin Abi Thalib.
Sebagai
orangtua yang smart tentunya harus
memiliki bekal berupa pengetahuan dan keterampilan dalam ilmu pengasuhan dan
ilmu agama. Ada banyak pengajaran yang bisa diambil dalam Al Qur’an dan Hadist
yang bisa menginspirasi dalam mendidik anak. Untuk menguatkan itu, ada banyak
penelitian dalam ilmu psikologi terutama tema pengasuhan yang bisa menjadi ilmu
dalam mendidik anak. Pada akhirnya, orangtua dengan smart parenting menyadari bahwa menjadi orangtua adalah terus
senantiasa belajar. (Pariman, M.Psi,
Psikolog)
Friday, August 5, 2016
Outbound Sekaligus Refreshing di Guci, Tegal
Rutinitas
kerja dengan berbagai tumpukan banyak agenda memang membawa dampak kepenatan
dalam pikiran. Kebuntuan ide dan penurunan semangat menjadi permasalahan yang
biasa muncul secara individual jika tidak diimbangi dengan rehat yang cukup. Namun
demikian, adakalanya ketika seseorang memilih rehat sejenak dari pekerjaan
justru terasa berat untuk memulai kembali bekerja. Kegiatan yang memiliki nilai
edukatif mendukung pekerjaan sekaligus memiliki nuansa refreshing seperti outbound berlokasi
di tempat wisata menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan.
(Mumpung pesertanya masih pada sarapan, photo dulu ^_^)
Senin-Selasa,
1-2 Agustus 2016 lalu saya dan tim diminta untuk memfasilitasi sesi indoor sekaligus outdoor STIE Muhammadiyah Pekalongan. Bukan hanya motivasi yang
diharapkan kembali menyala-nyala dari acara tersebut tetapi juga kinerja yang
melejit guna mencapai targetan-targetan. Kegiatan yang menantang sekaligus
menyenangkan bagi kami sebagai fasilitator. Menantang dalam artian memacu
ide-ide kreatif sehingga acara menarik, ada nilai edukatif sekaligus memuaskan.
Menyenangkan saat mengamati setiap perubahan positif tahapan demi tahapan dari
setiap peserta. Tentunya semakin menyenangkan ketika sekian waktu kemudian
mendapati kabar dampak positif terhadap motivasi dan kinerja dari outbound sekaligus refreshing yang pelaksanaannya di Guci, Bumijawa, Tegal.
Untuk
memastikan tercapainya tujuan dari outbound,
sudah menjadi kebiasaan kami melakukan assessement
dengan bertemu langsung pihak-pihak yang berkepentingan. Utamanya untuk
mengetahui keluhan-keluhan yang ada selama ini dan harapan-harapan dari outbound. Berbagai informasi yang
didapatkan tersebut kemudian digunakan sebagai dasar membuat materi dan
mendesain penyajian materi. Sedikit pengantar kemudian diikuti games atau role play menjadi pilihan yang menarik.
(Siap aksi ^_^)
Games dan role
play memiliki banyak kelebihan. Para peserta umumnya sangat antusias ketika
mereka tidak hanya duduk, diam menyimak pemaparan materi. Pikiran, emosi, dan energi
fisik peserta perlu dialirkan. Dengan demikian, bukan hanya aspek kognitif yang
terlibat tetapi afektif juga psikomotorik. Dalam bahasa pembelajaran ada
istilah yang disebut experiential learning.
Seluruh proses yang dialami oleh peserta bisa diolah menjadi sebuah
pembelajaran.
Oya, pilihan
tempat semisal Guci juga menjadi aspek yang umumnya jadi daya tarik para
peserta. Selain mendapatkan pencerahan dari materi, peserta bisa refreshing. Panorama alam yang indah,
udara yang segar, air panas yang memiliki efek teraupetik tersendiri. Ketegangan-ketegangan
yang mengganggu bisa teratasi dengan pemilihan tempat yang menarik. Dari semua
itu, pencerahan, semangat, dan tentunya kinerja yang meningkat tetaplah menjadi
poin penting yang diharapkan dari acara outbound
sekaligus refreshing.
Monday, July 25, 2016
Jodoh Bisa Ketemu Dimana Aja
“Wah, sudah punya calon apa belum?”, tanya seorang ibu di sebelahnya.
“Belum, Bu”, jawabnya polos.
“Kalau mau, saya kenalkan dengan guru les anak saya. Baru lulus. Anaknya cantik dan baik lho”, lanjut ibu itu.
Dialog pun mengalir begitu saja antara si pemuda dan si ibu, seolah di dalam satu travel itu hanya mereka berdua. Maklum, si ibu memang teman dekat dari ibunya si pemuda. Saya sendiri dan penumpang lainnya, menjadi penikmat.
Dalam hati, saya berkata, “Memang ya, kalau jodoh itu bisa ketemunya dimana aja dengan berbagai cara yang terkadang tidak disangka-sangkakan”. Hal penting dalam menjemput jodoh adalah memastikan caranya, jalannya, prosesnya, langkah-langkahnya jangan sampai melanggar kaidah agama. Tegas agama mewanti-wanti dengan perintah agar tidak mendekati zina. Berdua-duaan, berpegangan, bersentuhan sebelum resmi menjadi pasangan suami istri adalah jalan yang terlalu beresiko dan lebih dekat zina. Setan berusaha menggoda nafsu manusia dari berbagai arah. Karena itu, keinginan untuk menjemput jodoh jangan sampai menerabas rambu-rambu dari yang sudah digariskan Allah SWT. Ingat, jodoh bisa datang darimana saja.
Sahabat saya menemukan jodohnya melalui sosial media facebook. Awalnya tidak saling kenal kemudian berkomunikasi, ada kecocokan lalu diatur waktu untuk ketemuan, dan singkat kisah lamaran. Nikah. Lain teman saya, lain paman saya yang ketemu jodohnya karena dikenalkan oleh temannya. Ada kecocokan lalu diatur pertemuan dan tidak butuh waktu lama untuk lamaran. Nikah. Jodoh memang sudah diatur walaupun dia yang sukanya ngatur-ngatur belum tentu jadi jodoh.
Ada kalanya, manusia diuji dengan belum segera dipertemukan dengan jodohnya. Patutlah menengok kembali doa yang selam ini dipanjatkan. Tidak sedikit segala yang dihadapi oleh seseorang dikarenakan permintaannya sendiri pada Allah SWT. Ada prinsip yang seharusnya dipahami ketika seseorang berdoa memohon kesabaran, maka Allah SWT hadirkan cobaan dan permasalahan dalam kehidupannya. Kenapa demikian? Cobaan dan permasalahan itu Allah SWT hadirkan untuk melatihnya agar menjadi orang yang sabar. Karena itu, ptutlah direnungkan bagi seseorang yang hidupnya banyak sekali cobaan dan permasalahan. Apa doa yang selama ini dipanjatkan?
Semoga kita senantiasa diberkahi, diberikan ilham untuk memohon yang terbaik, dan dihindarkan dari permohonan yang penuh kesiasa-siaan. Salam bahagia.
Saturday, July 23, 2016
Games Pokemon dan Generasi Virtual
“Cucu saya itu rebutan HP sama
adiknya, hanya untuk main gamess”, tutur nenek yang duduk di jajaran kursi
sebelah saya. “Kalau disuruh untuk
belajar, malah tidak mau”, lanjutnya lagi. Itulah realitas yang ada di
masyarakat perihal boomingnya gamess Pokemon. Pemberitaan di media massa
banyak pula kita temui perihal dampak positif dan juga dampak negatif dari games tersebut.
Hebohnya kemunculan games Pokemon
juga memunculkan berbagai macam parodi. Ada yang menghibur dan membuat kita
tersenyum; ada pula yang tersimpan nilai edukasi di dalamnya. Sejumlah parodi games Pokemon antara lain; Pakenom (bapak muda; suami muda), Mbokenom (mbok enom; istri muda), Pokokmen (harus ya harus), Pekokmen (kurang sehat akal), Pakaiiman (gunakan iman). Parodi
tersebut ditulis dengan gaya font huruf
sebagaimana Pokemon.
Games Pokemon
menjadi buat bibir tidak lepas dari dampak kemajuan teknologi internet. Orang
yang sebenarnya tidak memiliki hobi main games
sekalipun bisa tahu tentang hebohnya games
tersebut. Saya sendiri sebenarnya juga tidak telalu ngeh dengan games Pokemon
walaupun di beranda facebook saya ada
yang update status isinya tentang games Pokemon.
Di grup WA saya juga ramai tentang keberadaan games Pokemon. Tetap saya belum paham. Saya pahamnya, Pokemon
adalah film anak-anak jaman dulu. Saya kira muncul aplikasi semacam WA yang
bernama Pokemon. Ehh…tahunya itu adalah games
yang dirancang berdasarkan film Pokemon.
Era seperti sekarang ini, games
yang dimainkan secara online atau
menggunakan gadget memang sudah
menjadi hal yang umum. Karena itulah, era sebagaimana sekarang disebut sebagai
era virtual. Kemajuan teknologi internet memunculkan banyak kreatifitas dan
kemanfaatan. Di sisi lain, ada banyak tantangan dan dampak negatif yang perlu
diwaspadai. Fenomena yang terjadi, tidak sedikit orangtua dari anak yang sudah mengenalkan
anak tentang gadget sejak dini tetapi tidak diimbangi dengan
kepemahaman yang baik.
Puspitarani dan Pariman (2013) menyebutkan bahwa pada dasarnya orangtua
dengan frame tradisional melihat games sebagai ancaman atau kegiatan yang
membuang waktu sedangkan anak-anak yang bermain games merasa belajar banyak hal dari bermain games. Anak-anak memiliki pemahaman akan perbedaan antara dunia
virtual dalam games dengan dunia
nyata. Kepemahaman anak akan perbedaan dunia virtual dalam games dengan dunia nyata itulah yang perlu mendapat perhatian
penting orangtua dalam mengedukasi anak. Games
seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai media simulasi, pelatihan tentang banyak
hal di dunia realita secara realatif lebih aman dan cenderung lebih efektif.
*) Pariman Siregar, suka menulis
Thursday, July 21, 2016
Ingin Mengubah Keadaan Tapi Belum Berhasil? Pahami Kunci Ini
Memang begitulah, manusia berinteraksi dengan beragam hal. Setiap
kita berhadapan individu-individu lain dengan berbagai karakternya. Setiap kita
berada di lingkungan dengan segala macam tabiatnya. Jelas semua hal tersebut
menjadi bagian dari lingkaran kesadaran setiap individu. Saat sediri sekalipun,
pikiran dan perasaan manusia tidak bisa lepas dari segala macam di luar
dirinya. Mulai dari yang paling dekat, yaitu memikirkan dan merasakan keadaan
dirinya sendiri sampai lingkungan nan jauh berupa alam semesta yang luasnya tak
terkira. Karena itulah, ada istilah lingkaran kepedulian. Segala macam hal yang
seseorang peduli (hanya sebatas tahu dan membicarakan) tetapi tidak bisa
berbuat banyak karena di luar kendalinya. Karakter orang lain yang (kebetulan)
tidak menyenangkan, polah tingkah pejabat yang membuat gemas dengan
kebijakannya yang tidak memihak, dan beragam berita di televisi yang membuat
kita hanya bisa menghela nafas. Paling-paling meluapkan perasaan tidak nyaman
di media sosial. Semua itu disebut lingkaran kepedulian. Semua ada dalam ruang
pikiran dan perasaan kita tetapi tidak tersentuh oleh kuasa tindakan kita.
Istilah lingkaran kepedulian dikemukan oleh Covey dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective People.
Seorang individu tidak akan menjadi Highly
Effective People jika lebih banyak fokus pada lingkaran kepedulian.
Waktunya akan banyak tersita tanpa ada pencapaian yang positif. Untuk menjadi Highly Effective People, seseorang
disarankan untuk lebih fokus pada apa yang disebut Covey sebagai "Lingkaran Pengaruh", yaitu
segala hal yang bisa dikendalikan atau dalam kuasa dirinya sendiri. Orang itu
tidak hanya bisa memikirkan dan merasakan tetapi juga bisa melakukan tindakan
nyata. Dengan seseorang memahami posisi dirinya atas suatu hal dengan peta
lingkaran kepedulian dan lingkaran pengaruh akan menjadikan lebih efektif dalam
menyikapi keadaan.
Istilah “lingkaran kepedulian” dan “lingkaran pengaruh”
mengingatkan saya pada kaidah ketika dihadapkan dengan kemungkaran. Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang
siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya
dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan
apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah
iman.’.”(HR. Muslim). Hadist tersebut mendorong setiap muslim untuk
memiliki kepedulian untuk mengubah kemungkaran, yaitu dengan tangannya (jika dia
mampu), dengan lisannya (jika tidak mampu dengan tangannya), dan dengan hatinya
(jika tidak mampu baik dengan tangan maupun lisan). Cara yang terakhir ini
dikategorikan selemah-lemahnya iman. Siapa yang ingin dirinya hanya dalam
selemah-lemahnya iman? Mendapati hadist tersebut sudah selayaknya sebagai umat
muslim mendorong diri agar memiliki tangan (kuasa) yang bisa mengubah
kemungkaran karena itulah sarana yang lebih efektif untuk mengubah kemungkaran.
Semangat untuk mengubah sesuatu
yang besar dan berdampak luas tidak seharusnya melupakan tahapan-tahapan
tertata dengan rapi. Sebuah inspirasi menarik yang tentu sudah umum kita dengan
tentang seseorang yang saat mudanya sangat ingin mengubah dunia tetapi ternyata
dia tidak mampu. Dia kemudian menurunkan targetannya, yaitu ingin mengubah
negaranya tetapi ternyata tidak mampu juga. Lalu dia menurunkan lagi
targetannya, yaitu mengubah kotanya tetapi ternyata tidak mampu. Seiring
berjalannya waktu dia terpikirkan untuk memulainya dari mengubah keluarganya
terlebih dahulu tetapi itupun teryata tidak bisa dia lakukan. Tersadarlah dia bahwa
semestinya dia memulai tahapan perubahan dimulai dari dirinya sendiri. Kalau Aa
Gym, “Mulai dari yang kecil-kecil, mulai
dari diri sendiri, mulai dari sekarang”.
Resep kesuksesan Umar bin Abdul
Aziz dalam waktu pemerintahan yang singkat tetapi mampu membawa kemakmuran
rakyat tidak lain adalah melakukan perubahan dari lingkaran pengaruhnya mulai
dari yang kecil. Perubahan dari diri sendiri, keluarga, kerabat sampailah
kemudian lingkungan pemerintahannya. Dalam istilah sekarang dikenal dengan
istilah reformasi. Dengan demikian, reformasi birokasi saja tidaklah efektif
ketika tidak dimulai dari individu-individu di dalamnya secara pribadi,
keluarga, dan kerabatnya. Jika kita pelajari Shirah Nabawiyah akan kita temukan
tahapan dakwah Rasulullah dimulai dari lingkungan terkecilnya dahulu; istri,
kerabat, sahabat barulah kaumnya lalu wilayah yang lebih luas. Ada pula proses
‘kaderisasi’ sehingga ketika Rasulullah SAW wafat, dakwah Islam terus berlanjut
hingga sampai kepada kita. Jadi, untuk melakukan perubahan selain diperlukan
tahapan-tahapan juga diperlukan kaderisasi, yaitu orang-orang yang diwarisi
ilmu dan semangat untuk meneruskan perubahan. Jika negeri ini belum mencapai
cita-citanya, patut untuk direnungkan, apa yang sudah diwariskan kepada anak
cucu? Sudahkah ada kaderisasi untuk menyiapkan pemimpin-pemimpin terbaik di
negeri ini? Siapa yang akan melakukan?
Bersambung ….
*) Pariman Siregar (Sukan menulis dan membawakan pelatihan tentang pengembangan diri)
Wednesday, July 20, 2016
Begitulah Pesan Istriku Padaku
“Sayang, banyak beramal ya”, demikian
pesan istri saya diikuti dengan doa-doa baik setelah pesan tersebut. Pesan tersebut
yang begitu saja muncul dalam pikiran saya ketika saya jumpai seorang kakek
duduk menunggu barang jualannya di dekat kampus. Saya lihat ada dua keranjang
yang pastinya berisi barang dagangannya. Sebuah pikulan tersandar di dekatnya. Saya
penasaran bagaimana dia bisa sampai di kampus. Si kakek kemudian menceritakan
perjalannnya. Yang jelas, jarak tempat tinggalnya jauh dan sampai di tempat
yang saya temui dia naik bus trans jogja.
“Inilah saatnya saya beramal”, demikian
ucap saya dalam hati. Saya meniatkan beramal bukan dengan memberikan sejumlah
uang tetapi dengan membeli barang daganganya. Saya bertanya tentang harga
barang dagangnnya. Tanpa tawar-menawar, saya membayar sebagaimana harga yang
dia sebutkan. Saya akui harganya memang jauh dari harga biasanya. Rentang harga
tidak biasa itulah yang saya anggap sebagai kesempatan beramal.
Saya menaruh hormat dan segan bagi seseorang yang tampaknya tidak
mampu tetapi memilih untuk bekerja (baik berjualan atau usaha lainnya)
dibandingkan dengan mereka yang meminta-minta sedekah dari rumah ke rumah. Seperti
kata pepatah, “Tangan di atas yang
memberi lebih baik daripada tangan di bawah yang meminta”. Beramal walaupun
besar tetapi istiqomah lebih baik dibanding banyak tetapi hanya banyak tetapi
hanya sekali.
Sebenarnya, kita tidak akan kekurangan ide untuk berbuat baik.
Tersenyum kepada orang lain saja dihitung sedekah. Sedekah yang murah tanpa
mengeluarkan uang tetapi tidak jarang orang mengabaikannya, yaitu memberikan
senyuman yang tulus. Menyingkirkan duri dari jalan dihitung juga sebagai
kebaikan, bahkan perwujudan keimanan. Saya teringat, makna penting hadits
tentang menyingkirkan duri dari pinggir jalan ketika saya mengalami kecelakaan
sekian waktu lalu di Pemalang. Sebabnya sepele, ada balok kayu ukuran 50 cm
melintang di jalan dan saya tidak bisa menghindarinya. Andai jalan itu bebas
dari balok, tentulah akan kecil kemungkinan terjadi kecelakaan. Setelah saya
cerita penyebab kecelakaan yang saya alami pada rekan saya seorang dokter dari
Jepara, beliau ternyata juga pernah mengalami kecelakaan di jalan gara-gara ada
lubang tergenang air yang tidak dia sadari dan tidak bisa dihindari sehingga
jatuh. Lengannya terkena besi sebesar jari. Besi itu ada di jalan. Andai ada
orang yang menyingkirkan besi tersebut sebelumnya tentulah kecil kemungkinan
ada teman saya terkena besi. Hal baik yang seolah tampak sederhana tetapi bisa
menjadi sebuah amal kebaikan dan dampak dari amal baik itu dirasakan banyak
orang.
Sudah selayaknya kita berlomba-lomba dalam beramal kebaikan. “Ojo prei dadi wong apik”, jangan bernah
berhenti menjadi orang baik. Jadilah orang baik dimanapun berada, kapanpun,
pada siapapun, seberapapun kebaikan yang dilakukan, dan apapun kebaikan yang
dilakukan.
*) Pariman Siregar (Seorang suami yang mencintai istrinya & Seorang ayah yang menyayangi anak-anaknya)
Sunday, July 17, 2016
Nyala Satu, Tumbuh Seribu (Inspirasi)
“Nyala Satu, Tumbuh Seribu”, itulah buku
karya Martonis Tony. Patut saya berterima kasih pada beliau karena buku
tersebut menginspirasi saya untuk menulis. Selepas membaca buku tersebut,
proyek menulis buku pun saya mulai. Alhamdulillah sekian bulan kemudian
terbitlah buku pertama saya berjudul “MASTER
from minder: Menjadi sukses dengan kemampuan terbatas” oleh Pro You.
Setiap orang
memiliki titik ledaknya sendiri. Potensi dalam diri yang membutuhkan sentuhan sehingga
potensi tersebut muncul menjadi tindakan dan karya. Selain sentuhan, butuh
momentum, saat ketika potensi tersebut membuncah mengalir tak terbendung
sehingga membentuk aliran deras karya-karya hebat. Sentuhan itu bisa datang
darimana saja, seperti Ibnu Hajar yang seolah sekian lama tersumbat potensinya
kemudian sumbatan itu terlepas ketika mendapati batu berlubang yang setelah dia
periksa ternyata karena tetesan air terus menerus. “Jika batu yang keras saja bisa berlubang karena tetesan air terus
menerus, maka potensi akal manusia bisa dikembangkan dengan usaha terus menerus”,
begitu kira-kira sentuhan titik ledak potensi beliau hingga beliau mengasilkan
karya fenomenal, yaitu kitab Fathul Bari. Kitab yang diakui banyak ulama
sebagai kitab dengan penjelasan paling detail dari kitab shahih imam Bukhari.
Ibnu Hajar
Al ‘Asqalani dengan karya-karya tentu saja memberikan inspirasi bagi banyak
orang. Kita akui, ilmu yang beliau tuturkan melalui kitab yang beliau tulis
memudahkan kita dalam mempelajari ajaran agama. Sebuah karya yang mengalirkan
amal jariyah tersebab orang yang membacanya terinspirasi untuk berbuat
kebaikan. Dengan demikian, sebuah inspirasi bagi kita agar menjadikan diri
sebagai inspirasi orang lain dalam berbuat kebaikan, baik tutur kata, laku, dan
segala amalan kita. Mereka yang menjadikan orang lain berbuat keburukan tentunya
juga memperoleh dosa atas keburukan yang orang tersebut lakukan. Semoga kita
selalu dalam kebaikan dan menjadi inspirator kebaikan.
Wednesday, July 13, 2016
Passion ‘Bukan’ Poison
“Suratno”, namanya,
seorang sahabat saya sedari SMA. Dia menyebut dirinya sebagai seorang petani.
Tampak tidak ada rasa rendah diri sama sekali menyebut kan profesinya tersebut dan
sudah seharus memang begitu. Tidak ada kasta antara profesi satu dengan profesi
lainnya sehingga tidak perlu ada orang yang merasa lebih hebat atas suatu
pekerjaan dibandingkan pekerjaan tertentu. Tidak perlu ada yang merasa wow atas profesi yang dijalani karena
merasa profesinya ditempatkan masyarakat dalam posisi yang disegani. Hal penting
yang perlu dipegang adalah apapun profesi yang seseorang jalani, haruslah profesi
yang halal.
Jika kita pelajari sejarah dan kitab suci, kita bisa temukan ada
nabi yang berprofesi sebagai peternak dan petani (Nabi Ayub), menteri keuangan
(Nabi Yusuf), ahli medi (Nabi Isa), pejabat negara (Nabi Sulaiman, Nabi Daud)
bahkan Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul adalah seorang
penggembala kemudian seorang pedagang atau pebisnis. Apapun profesi yang
dijalan selayaknya bisa memberikan kontribusi kebaikan bagi sebuah masyarakat
atau ummat. Dalam filosifi Jawa ada istilah memayuhayuning bawono secara ringkas berarti turut memperindah keindahan dunia. Itulah
yang sepertinya dilakoni sahabat saya.
Profesi petani yang dijalani bukan semata-mata sebagai jalan
mendapatkan penghasilan tetapi juga membina masyarakat. Ada sejumlah petani di
kampunya yang dia dampingi dalam menanam melon dan bawang merah. Tidak aneh
jika profesi yang ditekuninya memberikan banyak keuntungan, selain penghasilan
juga persaudaraan. Nampaknya, saya menemukan apa yang disebut pekerjaan passion atas apa yang dilakoni sahabat
saya tersebut. Passion yang umum
diartikan sebagai sesuatu yang tidak pernah bosan untuk terus menjalaninya,
siap mengusahakan yang tebaik bahkan sampai berkorban, tidak lagi memikirkan
untung rugi, dan ketika sudah melakukan bisa menikmatinya. Sama seperti ketika
saya berbagi inspirasi baik secara live
(sebagai motivator) dan melalui tulisan (sebagai seorang penulis). Rasa senang
dan sangat menikmati sekali dalam dua aktifitas tersebut.
Dengan demikian, patut untuk setiap pribadi menemukan passion masing-masing. Selain itu,
tentulah selayaknya passion itu
membawa kemanfaatan bagi diri sendiri
dan orang lain. Ingat passion bukan poison (racun).
Tuesday, July 12, 2016
Ingatlah, Allah SWT Tidak Pernah Meninggalkan Kita
“Alih-alih meratapi tangan
kiri saya yang harus digendong, inilah saatnya saya menguatkan otot-otot tangan
kanan saya”, begitulah ucap saya dalam hati.
Tepat seminggu sebelum bulan Ramadhan, saya kecelakaan di Comal,
Pemalang. Tengah malam, saya berangkat dari Pemalang setelah selesai koordinasi
sebuah kegiatan. Dengan sepeda motor, saya pulang ke Pekalongan. Walaupun
sebenarnya, seorang teman sudah menawarkan untuk menginap, entah mengapa saat
itu saya tetap ‘kuekueh’ untuk pulang
ke rumah.
Saat di perjalanan, ada perasaan yang tidak enak, seolah-olah saya
sudah ‘diberitahu’ akan mengalami kecelakaan. Sesampainya di Kecamatan Comal,
di jalan rasa kira-kira 7 meter di depan, saya melihat balok kayu panjang
kira-kira 50 cm melintang di jalan. Sayangnya, saya tidak bisa menghindari
sehingga ban depan motor saya menabrak balok kayu tersebut, tubuh saya
terpelanting, berguling sedangkan motor saya jatuh dan terdorong sekitar 7
meter. Saya mengalami kecelakaan.
Bahu kiri saya cidera, lecet di lutut kiri, siku kiri dan kanan.
Motor yang saya naiki ban depan kempes,
pelek bengkok masuk ke dalam, dan body motor tergores aspal. Helm yang saya
pakai tergores aspal. Alhamdulillah saya selamat. Saya merasa, Allah SWT masih
menyayangi saya dengan menghindarkan dari maut. Dalam keadaan tersebut, saya
menepi di emperan bengkel sedangkan motor dan tas yang saya bawa diselamatkan
oleh dua penjual nasi goreng yang mangkal di dekat lokasi saya kecelakaan.
Syukur Alhamdulillah, Allah SWT hadirkan para penolong yang baik hati.
Dalam keadaan mencoba menyadari kondisi tubuh, pikiran saya
membawa saya pada dosa-dosa yang pernah saya perbuat. Lisan saya terus
beristighfar dan hati saya melantunkan doa. Ingatlah saya akan orang-orang
terdekat, istri dan anak serta orangtua (yang selama ini) kurang saya beri
perhatian. Seakan Allah SWT ingin mengingatkan saya agar memberikan waktu lebih
berkualitas pada keluarga. Seakan Allah SWT mengingatkan saya bahwa Ramadhan
sudah dekat tetapi seakan saya masih disibukkan dengan urusan lain. Dalam hati
saya berjanji akan lebih baik lagi; lebih sayang pada istri, mendidik anak
dengan baik, melakukan kebaikan lebih banyak, dan meminimalkan dosa.
Setidaknya, itulah komitmen dalam hati. Entah bagaimana rencana-rencana dan
targetan yang sudah saya susun sebelumnya; jadwal berbagi inspirasi, riset,
menulis buku, dan janjian denga sahabat-sahabat saya. Hanya kepasrahan penuh
persangkaan baik denga doa yang bisa saya lakukan.
Alhamdulillah keluarga dan teman-teman memberikan support penuh dalam pengobatan dan
pemulihan. Walaupun pada awalnya, ada rasa kecewa karena membatalkan kegiatan
mengisi di luar kota dan sejumlah agenda lainnya, berikut-berikutnya saya bisa menerima
semua dengan senang hati. Alih-alih saya fokus pada rasa sakit, meluangkan
waktu untuk hal positif adalah pilihan terbaik. Kebahagiaan yang tidak kalah
bermakna adalah saya bisa menjalani puasa dengan tuntas mengingat sebelumnya ada
kekhawatiran pengobatan akan mengharuskan saya tidak berpuasa. Kekhawatiran
itu, alhamdulillah tidak terbukti.
Kita tidak harus meratapi keadaan, senantiasa ada pilihan baik untuk
setiap aktifitas kita. Daripada saya mengeluhkan keadaan, saya manfaatkan waktu
untuk mengisi bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya terutama tilawah.
Jalan-jalan dengan sepeda motor yang sebelumnya bukan aktifitas yang berarti
menjadi sangat bermakna bagi saya. Sungguh bisa memboncengkan anak istri dan
mengajak mereka jalan-jalan itu sebuah kenikmatan. Entah apakah ada benarnya
ungkapan, “Adakalanya, seseorang
menyadari sesuatu itu sangat berarti baginya ketika sesuatu itu tida ada di
sisinya”. Kebersamaan dengan keluarga ternyata tidak hanya secara quantity time tetapi juga quality time. Itulah sebenarnya makna
kebersamaan. Saya juga manfaatkan untuk ‘menjajal’ jualan di bukalapak dan
jualan dengan media sosial. Alhamdulillah hasilnya tidak mengecewakan,
setidaknya 1000K uang yang saya pegang dari jualan.
Cukuplah jadi pengingat firman Allah SWT dalam QS Alam Nasyrah
ayat 5-6, “Karena
sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan”. Allah SWT ulang dua
kali yang menunjukkan penegasan agar manusia memperoleh penguatan keyakinan
dalam hatinya ketika hatinya sedang dilanda kekhawatiran atas keadaan yang
dialami. Jagalah Allah SWT, niscaya Allah SWT akan menjaga kita. Semoga kita
menjadi manusia yang selalu dalam kebaikan. Aamiin.
Tuesday, December 15, 2015
Berbagi Inspirasi dengan Calon Guru PGSD Unnes Di Kota Tegal
“Guru: ‘digugu lan ditiru’
(dipatuhi dan diteladani”. Ungkapan yang ‘keroto boso’ tersebut
menggambarkan bahwa seorang guru sudah selayaknya menjadi sumber keteladanan.
Dengan kata lain, seorang guru dituntut tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan
tetapi juga memiliki karakter yang mulia. Keteladanan dalam penguasaan ilmu pengetahuan
dan karakter sudah selayaknya disandang sebagai seorang pendidik. Hal tersebut
selaras dengan UU No. 20 Tentang Sisdiknas bahwa
pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. Jelas peranan besar seorang guru dalam
pembanguna SDM bagi bangsa dan secara khusus bagi masa depan anak didik.
Tepatnya Sabtu, 12 Desember 2015 saya didaulat berbagi inspirasi
untuk para calon guru di kampus PGSD Unnes yang berlokasi di Kota Tegal. Tema
besar yang diusung adalah bahwa guru tidak harus PNS. Sebuah tema yang memberikan
pencerahan bahwa status pekerjaan (negeri atau swasta) bukanlah penghalang bagi
seorang guru untuk mengabdikan ilmunya. Untuk berbagi inspirasi kepada banyak
orang, seorang guru tidak perlu harus terbatasi dengan ruangan kelas dan jumlah
siswa.
Norma Pujiastuti, pembicara pertama sebelum saya yang merupakan alumni
PGSD Unnes menuturkan pengalamannya selama mengikuti program SM-3T. Sebuah Program Pengabdian
Sarjana Pendidikan untuk berpartisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan
di daerah 3T (tedepan, terpencil, terluar) selama satu tahun yang kemudian
dilanjutkan dengan Program Pendidikan Profesi Guru. Tentulah mengajar di
daerah 3T sangat jauh dari ideal. Selain terbatasnya saran dan prasarana,
seorang guru juga dituntut untuk bisa survival. Namun, hal tersebut tidak harus
dipandang sebagai masalah oleh seorang Norma dan para guru lainnya tetapi
justru dipandang sebagai challenge yang mengaktifkan seluruh potensi
diri dan kreatifitas. Situasi yang sulit, dia jadikan momentum untuk
melejit.
Pada sesi berikutnya, giliran saya berbagi inspirasi dengan tagline “Guru
inspiratif: Sukses dan Menyukseskan”. Menjadi seorang guru adalah peran mulia
yang diberikan Allah SWT. Saya sendiri sejak kecil didorong untuk memiliki
cita-cita menjadi seorang guru. Lahir di keluarga dengan pendidikan tidak
memadai karena keterbatasan ekonomi. Walaupun ibu saya cukup pandai ketika
sekolah dasar tetapi tidak melanjutkan ke jenjang SMP. Lebih-lebih lagi ayah
saya, tidak pernah sama sekali mengenyam pendidikan, SD sekalipun. Andalannya ketika
diminta tanda tangan adalah mengajukan jempolnya (cap jempol). Salutnya untuk
kedua orangtua saya adalah senantiasa menanamkan keberania untuk bermimpi.
Impian jadi guru masih melekat dalam ingatan saya. Seiring bertambahnya
usia dan pengalaman, makna tentang “guru” terus berkembang. Dulu yang terbayang
saat sekolah SD adalah guru SD, lalu saat sekolah SMP adalah guru SMP, saat sekolah SMA adalah guru
SMA, saat kuliah pun berganti bahwa guru itu sama juga dengan dosen. Ketika selama
ini saya menulis buku, mengisi acara motivasi di radio, diundang untuk membahas
tema pengembangan diri di TV, menulis pendapat di Koran juga website pribadi
serta menghadiri undangan sekolah, kampus, karangtarunan dst untuk berbagi
inspirasi. Pemahaman saya tentang guru berkembang menjadi “orang yang
senantiasa berbagi inspirasi”. Menjadi seorang guru itu memang menyenangkan.
Salah satu kebahagiaan seorang ‘guru’ adalah mendapati dirinya berhasil
dan tambah bahagia lagi ketika mendapati muridnya berhasil. Bagi saya pribadi, saya
bisa merasakan bahagianya mendapati adik-adik yang dulu saya dampingi Beastudi
Etos sudah menjadi orang yang sukses. Jafar Arifin, alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat penerima Beastudi Etos salah satunya. Impian untuk kuliah dan pergi ke luar negeri sudah tercapai dan kini meniti karir di sebuah perusaan terkenal di Indonesia. Sebuah doa mengalir, semoga segala
ikhtiar yang dulu saya lakukan bisa menjadi amal baik bagi saya. Di sinilah,
landasan dasar menjadi seorang guru adalah keikhlasan. Persis sebagaimana pesan
dari seorang peserta “achievement motivation training”.
Di bagian akhir tulisan ini, saya sampaikan terima kasih banyak pada
panitia atas kesempatan yang dipercayakan untuk berbagi inspirasi. Sharing
is caring. Salam bahagia, berkah, berkelimpahan. (Pariman, S.Psi)
Saturday, September 5, 2015
Belajar Dari Anak-anak
“Orangtua belajar
dari anak-anak, senior belajar pada yunior, guru belajar dari (mantan) muridnya
sendiri”. Rasa-rasanya hal tersebut tidaklah perlu dianggap
aneh. Wisdom tersebut sudah disadari
betul sebagaimana dalam pepatah Jawa, “Kebo
nyusu gudel”. Pada masanya, orang akan memahami bahwa kehidupan ini adalah
pembelajaran dan setiap orang yang kita dipertemukan oleh Allah SWT adalah guru
yang mengajarkan sesuatu.
Saya sendiri yang melabeli diri sebagai seorang
motivator harus mengakui justru saya belajar banyak dari semangatnya anak-anak.
Cobalah perhatikan anak-anak yang sedang belajar tengkurap, belajar merangkak,
belajar duduk, belajar berdiri, belajar berjalan, belajar berlari, dan
seterusnya. Setiap kali bangun tidur, anak-anak menampakkan keceriaan. Sekali
atau dua kali pernah tentunya dalam proses belajar mereka jatuh tetapi mereka
berlatih kembali seolah menunjukkan pantang untuk menyerah. Dari hari ke hari,
anak-anak bertumbuh dan selalu kita bisa menemukan aksi pintarnya. Saya harus
akui, saya berguru perihal motivasi dari anak-anak. Jika saya mengajarkan
sesuatu, sekarang saya lebih senang dipanggil educator, hanya sekedar mengedukasi, memberi tahu, berbagi
informasi, dan saya sendiri masih perlu banyak belajar.
Dari anak-anak kita belajar bahwa sebenarnya setiap
orang lahir dibekali dengan jiwa-jiwa penuh semangat dan daya tahan atas
kegagalan. Pada ujungnya, setiap kegagalan adalah langkah semakin memperpendek
jarak menuju keberhasilan. Selama masih ada daya tahan untuk terus mencoba dan
menjalani dengan keceriaan, semakin dekat menuju keberhasilan. Namun, tidak
sedikit orang yang ‘lupa’ bahwa mereka pernah menjadi orang yang pantang
menyerah, bersemangat, berkemauan kuat, dan menjalani segala hal penuh
keceriaan.
Pertambahan usia bagi sebagian besar orang semakin
menguatkan daya pikirnya, semua serba dipikir, dilogika, dinalar, padahal pemikiran
seseorang ditentukan pengetahuan yang dimiliki. Ada banyak orang yang tidak
bersemangat menjalani sesuatu karena merasa tidak mampu duluan. Perlu
dicermati, bisa jadi keterbatasan pengetahuan permasalahannya. Permasalahan dan
solusi itu beragam jenisnya. Ada permasalahan yang selesai dengan pengetahuan
(semakin tahu), ada yang selesai dengan omongan, ada yang selesai dengan tindakan,
ada pula yang selesai dengan berpasrah pada Allah SWT. Seseorang butuh keceriaan dan pantang
menyerah, sesuatu yang ada dalam dirinya tetapi mungkin sudah terlalu lama
dilupakan.
Selamat belajar. ^_^
Wednesday, September 2, 2015
Fasilitator Soft Skill Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru UGM 2015
Bagi
mahasiswa baru, masa awal memasuki perkuliahan merupakan waktu yang krusial. Berada
di lingkungan yang baru tentulah menuntut penyesuaian diri dalam berbagai
aspek, baik pertemanan, akademis, dan kebiasaan keseharian. Keberhasilan dalam
penyesuain diri tersebut akan membuat seseorang merasa nyaman dan percaya diri.
Dua hal yang menjadi modal baik untuk keberhasilan dalam perkuliahan. Karena
itulah, banyak kampus mengadakan serangkaian acara khusus bagi para mahasiswa
baru sebelum perkuliahan di mulai. Salah satu kampus yang member perhatian
besar dalam penyambutan mahasiswa baru adalah Univeristas Gadjah Mada dengan
nama kegiatannya “Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru”.
Saya sendiri
kebetulan terlibat dalam “Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru” sebagai
fasilitator (trainer) untuk kegiatan softskill.
Tidak dipungkiri bahwa softskill memiliki
peranan penting bagi keberhasilan seseorang. Dalam sesi softskill para mahasiswa baru dipandu untuk lebih mengenal dirinya
sendiri (potensi diri, cita-cita dsb), bisa membangun komunikasi dan relasi,
beradaptasi di lingkungan yang baru, membangun kerjasama, mengelola stress,
mengasah jiwa kewirausahaan dan jiwa kepemimpinan. Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru (PPSMB) ditutup di halaman gedung Graha Sabha Pramana (GSP) yang diikuti 9.500 mahasiswa baru. Mereka bersama-sama membentuk formasi logo ASEAN berukuran besar.
Sumber foto: Kompas.com
Kegiatan yang
tujuannya untuk membekali para mahasiswa baru agar sukses di kampus perlu digalakkan.
Di pundak para pemuda-pemudi merekalah masa depan bangsa Indonesia berkembang.
Semoga dengan semangat dan keseriusan anak muda bangsa ini, Indonesia akan berjaya
di masa mendatang.
Video PPSMB (softskill)
Subscribe to:
Posts (Atom)

























