Tuesday, November 15, 2011

Indonesia: Union Empires (Persatuan Imperium-Imperium)

“Indonesia, apa yang kira-kira bisa anda banggakan darinya?”
Sejenak kita merenungkan jawaban yang tepat dari pertanyaan tersebut. Pertanyaan sederhana tetapi sepertinya cukup sulit untuk menjawabnya. “Iya, apa yang bisa dibanggakan dari Indonesia?” Saya yakin tetap ada sisi kebanggaan berupa keberhasilan yang juga dunia mengakuinya. Namun demikian, kalau dihitung-hitung banyak juga borok yang tidak mengenakkan untuk diceritakan. “Tersenyum”, itulah jawaban diplomatis dan cukup aman yang bisa diberikan. Membiarkan orang lain memaknainya sendiri. Andai tidak sesuai dengan kenyataan, toh mereka yang menginterpretasi senyum itu yang salah, bukan yang memberi senyum kan? Diplomatis.
China, Negara dengan penduduk terbesar dunia itu memiliki kebanggaan terhadap budaya yang dimiliki, begitu juga dengan Jepang. Red Cliff I dan Red Cliff II. Saya percaya banyak masyarakat Indonesia penggemar film kolosal yang mengetahuinya bahkan mungkin menontonnya lebih dari sekali. Saya tidak akan membahas isi film itu di sini, rasanya cukup banyak temen-teman penggemar film yang telah mengupasnya di web site pribadi mereka dan lebih tahu dari saya termasuk film-film kolosal China lainnya.
Yang jelas, jika kita cermati film-film kolosal China, seolah mereka ingin menampilkan betapa sudah sepantasnya mereka disebut besar sebagaimana sekarang. Setting dinasti yang pernah berkuasa yang kental akan pelajaran, filosofi, dan nilai-nilai yang bisa diambil, hidup dalam jiwa mereka sekaligus menjadi semangat yang menghantarkan mereka sampai sekarang. Pantas juga dalam sebuah kesempatan Rasulullah mengatakan, “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”. Nasehat yang terkadang jadi gelitikan, saking tidak bersegera berangkat ke China, orang China yang datang ke Indonesia.
Pernah seorang teman berkunjunga ke temannya, keturunan China. Dilihat di rumahnya beragam boneka-boneka kecil dan ornamen-ornamen yang menggambarkan China. Hal yang menarik ketika dia menjelaskan bahwa ternyata itu adalah tokoh-tokoh besar dinasti yang pernah ada di China. Ornamen-ornamen yang menggambarkan karya-karya yang dibuat nenek moyang mereka. Mungkin itu pula yang menjadi penyemangat bagi mereka dan penguat kepercayaan diri bahwa dimanapun mereka berada maka sukses adalah miliki mereka. Bagaimana dengan isi kamar anak negeri ini? Apa yang menghiasainya?
Indonesia sendiri tidaklah kurang alasan untuk dibanggakan sebenarnya. Sejarah membuktikan bahwa di negeri ini banyak sekali imperium yang pernah ada. Mulai dari imperium pertama yaitu Kutai berlanjut Sriwijaya kemudian Majapahit hingga imperium Kesultanan Islam dari Samudra Pasai hingga Mataram. Entah apakah selama ini lebih diajarkan sebagai rangkaian kejadian, diminta menghafal tahun-tahunnya ataukah sudah sampai pada pembelajaran nilai, heroism, dan patriotism.
Sriwijaya (671M-1183M), imperium dengan armada maritim yang diakui kekuatannya. Sebuah kekaisaran di daerah Sumatera yang pernah berjaya di Nusantara ini. Luas kekuasaannya bahkan mencapai wilayah Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Sriwijaya menjadi salah satu pusat perdagangan dunia ketika itu. Kira-kira pada abad 7 M, seorang tokoh China, I Tsing pun mendalami agama di Sriwijaya. Berdasarkan catatan perjalanannyalah kemudian sejarah Sriwijaya lebih lengkap diketahui. Jika sekarang ini pusat perdagangan adalah Singapura, dulu begitulah peran Sriwijaya.
Sejarah juga mencatat ketika pusat pemerintahan Sriwijaya beralih ke Jawa, Borobudur berhasil diselesaikan. Bangunan yang pernah ditetapkan sebagai salah satu 7 keajaiban dunia. Kalau boleh dibilang, itulah karya besar nenek moyang negeri ini yang disejajarkan dengan karya Kekaisaran di China yaitu Tembok Besar China juga Piramid di Mesir, Tajmahal di India, Ka’bah di Makkah, Menara Condong di Itali, Menara Eifl di Paris. Masih tidak percaya dirikah untuk mengatakan diri sebagai bagian dari Indonesia?
Berlanjut, biarlah Sriwijaya terkenang sesuai makna namanya dari Bahasa Sansekerta, sri berarti "bercahaya" dan wijaya berarti "kemenangan”. Imperium yang kejayaannya terabadikan dalam sejarah, aura keberadaannya masih dirasakan. Kita berlanjut ke imperium Majapahit (1293 M – 1500 M) yang kekuasaannya jauh lebih besar lagi. Kejayaan Majapahit terjadi saat pemerintahan Hayam Wuruk dengan patihnya yang terkenal dengan Sumpah Palapanya yaitu Patih Gajah Mada. Wilayah kekuasaan Majapahit membentang dari Sumatra, semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan sebagian kepulauan Filipina.
Di belahan dunia yang lain, seabad sebelum Gajah Mada lahir, sekitar tahun 1162-1167 M lahirlah seorang Temüjin yang bertekad menyatukan Mongolia. Dialah yang orang kenal dengan gelarnya yaitu Jenghis Khan. Pendiri kekaisaran Mongolia, pemilik wilayah kekuasaan terluas yang pernah ada. Serbuannya terhadap imeperium Islam justru melahirkan imperium-imperium Islam lainnya karena keturunannya malah memeluk Islam. India, Pakistan, Bangladesh, Afganistan adalah sebagian wilayah kekuasaanya. Tidak heran mereka yang memiliki nama dengan akhiran “Khan”, bisa dipastikan beragam Islam. Ingat film “My Name is Khan”?
Di Mongolia ada Temujin (Jenghis Khan) yang bersemangat menyatukan Mongolia, di nusantara ada Gajah Mada yang juga bertekad menyatukan Nusantara. Dia bertekat menyatukan imperium-imperium di jazirah Nusantara ini. Lain masa memang mereka berdua tetapi semangatnya nampak serupa walaupun keduanya tidak bisa disamakan pencapaiannya. Hal yang pasti adalah imperium yang pernah ada di nusantara ini tidak mau takhluk di bawah imperium Mongolia. Bahkan, tercatat dalam sejarah bahwa utusan Kubilai Khan (cucu Jengis Khan, penerus takhta Mongolia), Meng Chi yang datang ke Singhasari untuk minta upeti ditolak dan dipermalukan oleh Kertanegara, penguasa Singhasari saat itu. Ekspedisi perang yang dikirim ke Jawa untuk menakhlukkan kerajaan yang ada sekaligus membalas perlakuan Singhasari pun harus menelan pil pahit kekalahan.
Interaksi antar imperium di luar nusantara pun sudah terjalin dengan baik sejak zaman dahulu. Interaksi imperium Sriwijaya dengan Dinasti Umaiyah misalnya. Tercatat dua kali Raja Sriwijaya berinteraksi melalui surat dengan imperium Islam di Timur Tengah itu. Surat pertama dikirim kepada Muawiyah I sedangkan surat kedua ditujukan kepada Umar bin Abdul Aziz. Pada surat yang kedua tersebut, Raja Sriwijaya mengirimkan sejumlah hadiah dan meminta untuk mengutus seorang da’i ke Sriwijaya untuk mengajarkan Islam. Sepertinya raja Sriwijaya tertarik memeluk Islam.
Dua imperium besar yang saling berinteraksi. Keduanya sama-sama dikenal masyur karena membawa kemamuran bagi rakyatnya walaupun memang kebesaran Umar bin Abdul Aziz lebih banyak dikenal. Imperium yang masyur karena menumbangkan dua imperium tersebesar sekaligus yaitu Romawi dan Persia. Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai penguasa yang dalam masa pemerintahan singkat, hanya 2,5 tahun mampu memakmurkan rakyatnya. Penguasa imperium besar yang tetap sederhana penampilannya, dekat dengan rakyatnya, tiada harta yang diwariskan pada anak-anaknya. Kita tahu betul bahwa dalam masa pemerintahannya, di Afrika tidak ada rakyat yang miskin sampai-sampai tidak ada lagi rakyat yang mau menerima zakat (mustahik) karena mereka semua pembayar zakat (muzzaki). Sementara itu, imperium Sriwijaya juga merupakan imperium besar dengan kemakmuran dari perdagangan, cukai, dan pelabuhan.
Tidak bisa dipungkiri bahwa nusantara ini, Indonesia boleh dibilang merupakan persatuan imperium yang telah ada. Imperium-imperium yang telah menorehkan sejarah dan berbagai peninggalan istimewa. Belum lagi ketika membahas imperium Islam yang hingga kini bisa didapati berbagai peninggalan kebudayaan, adat istiadat yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Indonesia. Berapa saja masjid yang ada di nusantara ini?
Pariman Siregar; Penulis Buku MASTER from minder, motivator, trainer, konsultan SDM, psikoterapis, pemilik impian Inspiring The World). Silahkan kontak untuk sharing dan pemintaan training pengembangan SDM. Email: parimansiregar@gmail.com Twitter: @inspirasisegar FB: Inspiring Man.

Sunday, November 13, 2011

Mind Management: Optimisme yang Menyembuhkan


Adalah Angela seorang penderita kanker yang mengalami kesembuhan dan kemudian dia menuliskan pengalamannya dalam buku The Heroic Path. Dua kejadian menyesakkan hari itu pastilah diingat betul oleh Angela. Dia didiagnosis menderita kanker dan dia kehilangan hak mengasuh anak-anaknya. Seolah langit runtuh, tiada harapan, seolah ingin memilih mati saja. Namun apa daya, dia hanya bisa mengadu dan pasrah pada Tuhan yang diyakininya.

Seraya tidak ada lagi pilihan rasa atas kehidupan yang dialaminya, pahit dan getir tiada rasa manis walau sedikit. Dia mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri sembari menunggu jadwal bedah pengangkatan kankernya. Mulailah Angela menyelami sisi terdalam jiwanya, menemukan arti kehidupan, kasih ayang, dan kesehatan. Kesadaran bahwa ternyata banyak hal yang selayaknya disyukuri bermunculan. “Bukankah kehidupan ini sendiri adalah karunia”, bisik batinnya.
Hari-hari yang biasanya terasa sepi diisinya dengan bersepeda, berelaksasi, dan membayangkan dirinya yang segar bugar, sehat, dan bersemangat. Jika selama ini, dia lebih banyak memberikan kesempatan ketakutan, ketidakberdayaan, dan kekhawatiran maka mulai saat itu dia mencoba memberikan perhatian pada sisi spirit dalam dirinya. Sumber illahiah yang selama ini tertutupi oleh situasi dan keadaan. Keberanian, optimisme, dan keceriaan ditumbuhsuburkan dalam jiwanya.

Dia mencoba untuk memenangkan dirinya sendiri atas fakta yang dialami. Selama tiga minggu sebelum pembedahan, dia ‘bertarung’ dengan sel-sel kanker dengan membayangkan tentara kekebalan tubuh yang mengalahkan sel-sel kanker. Setiap hari dilakukannya, setiap ada bisikan melemahkan, dibesarkan optimismenya melebih sisi kelemahan itu. Hingga sampailah waktu untuk pengangkatan kanker. Dan betapa keajaiban terjadi, dokter yang memeriksanya menyatakan bahwa tidak ada kanker dalam tubuh Angela. "Kanker itu telah hilang!"
Pahit hari-hari yang dirasakan mulai berganti rasa manis mandu yang melegakan. Kebahagiaan pun berdatangan lebih banyak dari yang dia perkirakan. Hak mengasuh anak pun kembali padanya, dia bisa membuka bisnis baru, menjadi seorang terapis, dan menulis buku sebagai wujud semangatnya ingin berbagi pada banyak orang. Dia ingin menyampaikan pada dunia bahwa kehidupan ini berlimpah pilihan. Perlu kemampuan untuk memilih memang. Kemampuan yang muncul ketika seseorang mulai memandang diri penuh kasih dan menerima semuanya sebagai tahapan peningkatan kapasitas diri.

Demikian tadi kisah yang saya ceritakan ulang dari buku inspiratif “Chicken Soup for the Surviving Soul : 101 Healing Stories About Those Who Have Survived Cancer”. Sebuah buku yang saya dapatkan dari orang yang sangat antusias dalam berdiskusi, menulis paper, dan mengikuti banyak pelatihan. Kehadiran buku tersebut merupakan sebuah keajaiban tersendiri bagi saya. Saya sedang menguji sebuah teknik psikoterapi untuk membantupenanganan depresi penyakit kanker. Harapan besar seorang yang mendalami psikologi di Universitas Diponegoro, Semarang.
“Saya akan tetap tersenyum, saya tidak akan membiarkan apa yang saya alami mentertawakan saya”, begitu kata seorang yang pernah saya temui. Ada kekuatan hebat melebihi realitas terpancar dari dirinya. Itulah yang menjadikan dia tetap kuat dan menjadikan siapapun yang mendapati kata-katanya tergetar batinnya. Mereka yang sehat dengan badan yang kekar terkadang lemah hanya dihadapkan pada hal yang sepele. Ketakutan-ketakutan dalam bayangan mentalnya yang belum tentu terjadi dalam realitas.

Saya jadi ingat kata-kata seorang trainer hebat, Reza M. Syarif. Dalam salah satu acara yang dibawakannya, beliau pernah menyampaikan bahwa kita membutuhkan mind management disamping management-management yang lainnya. Semua pastinya familiar dengan apaq yang disampaikan Rasulullah SAW bahwa Allah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Senantiasa berprasangka baik adalah sebagian dari keimanan karena iman bukan hanya sekedar percaya tetapi juga persangkaan baik terhadap segala yang menimpanya.
“Aku berada dalam sangkaan hamba-Ku tentang Aku, dan Aku bersama-nya ketika ia menyebut Aku. Bila ia menyebut Aku dalam dirinya, Aku menyebut dia dalam Diri-Ku. Bila ia menyebut Aku dalam khalayak, Aku menyebut dia dalam khalayak yang lebih baik dari itu. Bila ia mendekat kepada-Ku satu jengkal, Aku mendekat kepadanya satu hasta. Bila ia mendekat kepada-Ku satu hasta, Aku mendekat kepadanya satu depa. Bila ia datang kepada-Ku berjalan kaki, Aku datang kepadanya berlari-lari”. (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ibn Majah, At-Tirmidzi, Ibn Hanbal).
Semoga kita senantiasa didekatkan Allah SWT dengan kesyukuran, kebahagiaan , kelapangan bukan karena penderitaan dan kesempitan. Ketulusan hati dan keringanan tangan untuk berbagi dengan banyak orang. Hidup ini lebih bermakna ketika seseorang menyadari keberadaannya bukanlah untuk dirinya sendiri tetapi juga bagi orang lain. Mereka barangkali keluarga, teman, kerabat bahkan mungkin calon pasangan hidup yang masih Tuhan rahasiakan. Bukan semata-mata untuk mengejar kepuasan diri sendiri ternyata ketika seseorang melakukan hal lebih tetapi karena Tuhan telah menciptakan orang-orang spesial untuk dirinya. Masihkah tidak bersemangat dalam kesendirian ketika mengetahui demikian? Masihkah meragukan Kasih Sayang Tuhan merata bagi hamba-Nya?

Ditulis oleh Pariman Siregar (Penulis Buku MASTER from minder, motivator, trainer, terapis, dan pemilik cita-cita “Inspiring The World”)
Bagi yang ingin berdiskusi atau mengundang untuk training, bedah buku, konsultasi bisa melalui email parimansiregar@gmail.com; FB Inspiring Man; Twitter @inspirasisegar. Salam bahagia! Salam MASTER!

Saturday, October 29, 2011

Manage Your Life Mind Set


Dalam kesempatan kali ini, saya ingin berbagi kepada sahabat master semua terkait mindset. Apakah mindset? Seberapa penting kupasan tentang mindset ini harus diketahui sahabat master semua? Apa saja dampak mindset dalam kehidupan seseorang? Dan tentunya, bagaimana mengarahkan mindset untuk menghadirkan berbagai impian dalam kehidupan? Hal yang menarik tentunya. Dan makin menarik lagi seiring kupasan paragraf demi paragraf berikut.

Saya awali dengan bertanya pada sahabat master semua, “Kalimat apa yang menjadi motto atau favorit dalam menjalani kehidupan?” Cobalah untuk mengingat-ingat kembali. Hal yang mudah tentunya karena rata-rata orang memiliki kalimat kesukaan yang dijadikan penyemangat dalam kehidupannya. “Hidup adalah perjuangan”, begitu kata seseorang. “Fight, fall down, get up!”, ada juga yang memiliki semangat itu. “No time too sleep”, barangkali saja. Mungkin cocok dengan ungkapan ini, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; Bersakit dahulu, senang kemudia”.
Apapun kalimat yang sahabat master ungkapkan, semuanya sah-sah saja. Setiap orang memang memiliki cara dan keyakinan yang dipegang untuk memandang kehidupan. Hal yang perlu dipahami ialah perihal pengaruh dari keyakinan yang dipegang tersebut.

Dalam sebuah sesi pelatihan yang saya bawakan kala itu, ada seorang peserta bertanya. “Mas, saya ini seperti tidak memiliki waktu istirahat”, demikian kira-kira keluhnya. “Satu masalah selesai, datang masalah berikutnya, dan begitu berulang”, lanjut dia. Dia merasa tidak menikmati, situasi yang dialami membuatnya lelah, dan dia ingin sekali lepas dari situasi yang demikian. Bagaimana solusinya? Adakah yang mengalami hal serupa?
“Baiklah, bolehkah saya tahu apa yang menjadi motto hidup anda?”, tanggapan saya atas ceritanya yang cukup panjang itu. “No time to sleep”, demikian jawabnya singkat.

Kalimat berulang yang dihayati dan dijadikan pegangan bagi seseorang, bekerja layaknya do’a. Dan sebagaimana kita pahami bahwa Tuhan Maha Pengabul do’a. Ada yang dikabulkan sesuai permohonan seketika, ada yang dalam bentu lain, dan ada yang ditunda waktunya (sampai di akhirat). Secara tidak disadari, kalimat-kalimat favorit seseorang menjadi do’a yang senantiasa dia lantunkan. Sudahkah yang diinginkan sesuai dengan kalimat permintaan?
“No time to sleep”, sebuah do’a yang dikabulkan dengan hadirnya banyak masalah dan tugas yang menuntut dia untuk segera menyelesaikan. Saking banyaknya, menjadikannya seolah tidak memiliki waktu untuk tidur. Kebutuhan akan istirahat jadi tidak terpenuhi secara optimal. (Semoga segera selesai permasalahan dia)

Lalu bagaimana dengan kalimat, “Hidup adalah perjuangan”? Bisa diperkirakan yang hadir dalam kehidupan seseorang tersebut adalah tantangan-tantangan yang menjadikan dia terpacu untuk berjuang. Kehidupan yang seolah dihadapkan pada penyelesaian masalah dengan usaha sekuat tenanganya.
“Fight, fall down, get up!” Tentu sahabat master bisa memperkirakan apa yang dihadapi oleh seseorang dengan keyakinan tersebut. “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; Bersakit dahulu, senang kemudia”, adakah yang masih menjadikannya pegangan setelah mengetahui perkiraan yang akan dihadapi?

Pernahkan berdo’a agar mohon diberikan “kesabaran”? Apakah yang sahabat master terima? Tentulah bukan seketika menjadi orang yang sabar. Kesabaran itu hasil sebuah proses bukan? Karena itulah yang hadir dalam kehidupan seseorang tersebut adalah ujian-ujian untuk menguatkan otot-otot sabar dalam batinnya. “Manusia meminta, Allah SWT menganugerahi sarana,” itulah kata kuncinya.
Ingatkan saat memohon agar dilimpahkan banyak rejeki? Bukan uang yang datang begitu saja tetapi berbagai bentuk tawaran yang berdatangan. Tawaran bisnis, pekerjaan, kerjasama, amal dst. Kesempatan yang membuka jalan banyak rejeki. Pertanyaannya, saat berbagai peluang datang, apa tanggapan sahabat master semua? Menolak atau menyambut dengan bahagia? Bagaimana mau banyak rejeki kalau saat datang tidak tahu, kalau pas datang malah ditolak?

Sampai di sini, mudah-mudahan walaupun belum begitu mendalam, sudah terjawab secara tidak langsung beberapa poin bahasan. Arti mindset, urgensi memahaminya, dan dampak mindset dalam kehidupan seseorang. Berikutnya bagaimana mengarahkan mindset untuk mendukung pencapaian impian?
Mengarahkan mindset untuk mendukung pencapaian impian. Sungguh hal yang makin menarik untuk dikupas. Cara kerja yang sederhana sebenarnya yaitu dengan mengganti saklar pikiran dan emosi negatif menjadi saklar pikiran dan emosi positif. “Not only positive thinking but also positive feeling”, itulah yang dimaksud mind set positif.

Tantangannya bukan pada berpikir positif tetapi pada merasai positif. Berapa banyak telah berpikir positif tetapi tetap saja tidak banyak perubahan positif? Berapa kali telah mencoba berpikir positif tetapi ternyata dugaan negatif dalam hati malah yang menjadi kenyataan? Berapa banyak uang yang telah digunakan untuk mengikuti beragam seminar dan training, meningkat pengetahuannya tetapi tetap saja terkungkung dalam permasalahan yang serupa? Akal memang bisa diakali tetapi hati tidak bisa dibohongi. Pikiran bisa dimanipulasi sedangkan perasaan haruslah dibersihkan.
Source of problems came from the depth memories. Bagaimana bisa berpikir dan merasai demikian, itulah sumber permasalahan yang perlu ditemukan. Bukan hanya sekedar tahu kemudian jadi pemakluman tetapi tahu dan melakukan perubahan. Untuk menyusuri jalan gelap ke sana itulah diperlukan seorang pemandu yang membantu membawa penerangan dan menunjukkan jalan. Berapa banyak orang mencoba pergi sendiri tetapi kemudian justru semakin tersesat dalam ketidakjelasan? “Saya juga tidak tahu mengapa saya melakukan hal demikian, seperti ada dorongan dan saya tidak bisa mengendalikannya”, begitulah keluh mereka yang mengalaminya. Saran saya bila ada sahabat master yang menemukan orang-orang tersebut adalah mempertemukannya dengan orang yang ahli psikologi. Bukan hanya memahami ilmu psikologi tetapi punya pengalaman menangani. Mereka yang memiliki tendensi ingin berbagi.

Senantiasa berusaha untuk berpikir positif dan merasai positif adalah hal sederhana yang bisa dilakukan untuk mengarahkan mind set positif. Butuh waktu memang untuk benar-benar menjadikan semuanya positif. Good luck!
Pada tulisan berikutnya (Insya Allah) akan dikupas terkait rejeki dan mind set. Banyak ingin saya ungkapkan sebenarnya; terkait jodoh, keberuntungan, kesehatan, dan berbagai aspek lainnya. Semoga bisa memenuhi harapan tersebut. Keinginan saya adalah bisa share langsung dengan sahabat master semua baik sesi khusus coaching personal maupun training semisal Inspiring Answer The Master” yang direncanakan pada bulan November 2011. Silahkan kontak melalui hand phone, Fb (Inspiring Man), twitter (@inspirasisegar) saat membutuhkan. Thanks! “Not only motivation but also WISDOM”

(Pariman Siregar; Penulis Buku “MASTER from minder”, terapis, trainer, dan blogger)

Tuesday, October 11, 2011

Banyolan Inspiratif (Tentang Negara)


Pastinya kalangan intelek pada tahu kabar perihal perombakan kabinet di pemerintahan negeri ini. Berapa kali saja berita di televisi menyorotinya? Wah-wah, pastinya para tokoh politik pada deg-degan, lebih-lebih menteri yang disinggung-singgung bakal dicopot. Jadi ikut deg-degan saya, jangan-jangan presiden nunjuk saya jadi salah satu menterinya. (Haha, kayak ndak ada yang lain aja!). Lagian, belum tentu juga, saya mau diangkat jadi menteri. (Pede banget). Belajar dari Abdullah bin Umar, anak khalifah Islam yang dengannya islam tersebar luas sampai Afrika, dia menolak ketika orang-orang ingin mengangkatnya menjadi khalifah. Ditolak tawaran menjadi khalifah. Bukan cuma sekali tetapi berulang kali. Bahkan walaupun usia beliau sudah 70 tahun, tetap saja orang-orang berharap (setengah memaksa justru) agar beliau mau menjadi khalifah, ditolak juga. Diangkat Abdullah bin Umar menjadi hakim oleh Khalifah Utsman, lagi-lagi ditolak. Wah-wah, orang yang satu ini benar-benar merdeka hidupnya.

Di zaman sekarang, fenomenanya justru, banyak orang yang merapat pada penguasa. Sudah bisa diperkiraan maksud mereka melakukan itu. Dari yang memberikan ucapan selamat, kunjungan khusus, ada juga yang terang-terangan minta bagian. “Dulu saya ikut mendukung bapak, lo”, begitulah. Jadi ingat nasehat seorang sahabat, Muadz bin Jabal yang terkenal dengan kecerdikannya berpikir. Nasehat ketika dia dengan bighal kecil dan pakaian lusuhnya berangkat menuju kota dimana dia diangkat khalifah Umar menjadi Hakim. “Jauhilah pintu-pintu para penguasa”, begitu nasehatnya. Pintu-pintu yang menurut pandangan Muadz jadi sumber fitnah. Fitnah? Apalagi itu? Ya, iyalah, ingat kasus pembesar KPK yang berkunjung (diundang atau menyengaja mampir) ke salah seorang petinggi partai penguasa. Keseret-seret kasus juga dia. Semoga selesai dengan baik.
Oya, hasil survey menunjukkan bahwa tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan menurun. (Entah, menurun atau merosot atau anjlok?) Jangan-jangan bukan hanya tingkat kepuasan tetapi juga tingkat kepopuleran. Kalah populer itu para elit dengan hadirnya Ayu Ting-Ting bareng ama lagu “Alamat Palsu”nya. Dimunculkan isu agar mereka juga banyak diberitakan, biar lebih kembali populer. (Biarkan orang lain menikmati hasil kerja kerasnya ya, ndak perlu syirik). Kalau itu tujuannya, masyarakat negeri ini tambah satu lagi acara selain “infotainment”, yaitu “politikotainment”. Istilah apalagi itu? Saya yakin tidak untuk itu tujuannya.

(Dari tadi membahas politik, pemerintaha, Negara, tidak ada yang lain?) Tidak ingin ikut-ikutan meributkan pemerintahan sebenarnya sih. Tahulah, bapak tani yang nyangkul, tiap hari pergi ke sawah, toh tetep aja besoknya nyangkul. Mas-mas tukang bengkel, tetep saja kalau tidak mbengkel, tidak dapat pemasukan. Sederhananya, mau ngomongin atau tidak, sama saja, tetep saja rakyat kecil. Kalau tidak bekerja, ya jangan berharap bisa mencukupi kebutuhan.
(Jangan pesimis gitu mas, kalau ada keluhan, disampaikan saja ke wakil rakyat, biar ditampung!). Hah, muat itu tampungannya? Belum juga bekerja, sudah minta ini, itu, gedungnya kurang fasilitasnya, tidak layak, dan seabreg. (Namanya juga wakil rakyat, perlu fasilitas untuk menunjang kerjanya sebagai wakil rakyat). Perihal ide dan keluhan, sampaikanlah pada wakil rakyat. Saking baiknya, rakyat ingin juga makan enak, kaya, bahagia, karena sudah ada wakil rakyat, makan enak, kaya, dan bahagianya juga diwakilkan. (Siapa suruh mau diwakili). Makanya pada tidak puas diwakili, berbagai cara termasuk manipulasi ijasah untuk mendaftar jadi wakil rakyat. Sebegitu menggiurkankah kedudukan sebagai wakil rakyat?

Umar bin Abdul Aziz, saat tahu dirinya yang dipilih menjadi pengganti menduduki jabatan khalifah, justru dia menolak dan mengundurkan diri. Karena rakyat memaksa, akhirnya dia terima jabatan itu. Bukannya tambah gemuk setelah menjadi khalifah, justru makin kurus saja. Rumahnya sederhana, gajinya tidak pernah diambil, dan dia tidak mewarisi banyak harta pada anak-anaknya. Pemerintahan yang tidak sampai 3 tahun mampu membawa kemakmuran. Nah, kalau di negeri ini, butuh berapa tahun untuk menjadi makmur? Butuh berapa jilid kira-kira?
Memang tidak mudah menjadi pejabat, menjadi orang yang memegang amanah mengurus berbagai keperluan rakyat. Dipilihkan memang untuk mengurus urusan rakyat? Bukan untuk kekuasaan dan perebutan. Negara ini milik banyak orang bukan hanya beberapa keluarga. (Seolah-olah perebutan kekuasaan antar keluarga saja). Negara ini milik kita, rakyat! (Kewajiban apa yang belum dilakukan terhadap Negara; pajak listrik pada sudah membayar?) Masih sering mati juga? (Sudah menjadi warga Negara yang taat membayar pajakkan?) Masih banyak jalan yang rusak? Kekurangan air? Kekurangan makanan? Entah dikemanakan itu uangnya, salah alokasi mungkin atau karena ternyata “alamatnya palsu”? (Ada-ada aja).

(Ngirit dong! Hidup harus efisien!) Masak porsi makan dikurangi padahal tuntutan kerja semakin meningkat. Masak diminta ngirit bahan bakar sedangkan tuntutan produksi semakin naik. Sepertinya pikiran ngirit harus sudah diganti dengan ide berinovasi menghasilkan bahan-bahan alternatif. Oya, zaman sekarang masih mengandalkan pajak sepertinya juga sudah harus mulai diinovasi. Di zaman serba canggih sekarang ini, kemajuan teknologi internet dalam genggaman tangan, batas Negara dan waktu nyaris tidak ada lagi. Kira-kira bisakah Negara mengawasi berapa transaksi lewat internet yang terjadi? Sistem canggih yang menjadikan para pelakunya lolos dari penarikan pajak. Wajar kalau Eropa goyang ekonominya, bisa dipahami kalau Amerika mulai mengusap keringat di dahinya, banyak hal yang diluar kendali Negara. Kasus terbaru perihal ‘pencurian’ pulsa saja ternyata kompleks urusannya.
Semakin ke sini, kapital sepertinya akan kalah dengan komunal. Penguasa akan kalah dengan rakyatnya. Cina membuktikan ekonominya makin menanjak di saat Amerika menurun. Banyak penduduk menjadikan murah tenaga kerja sehingga banyak berproduksi. Dibanjirilah Amerika, Eropa, dan termasuk kita dengan produk murah dari Cina. (Jadi ingat pepatah, banyak anak, banyak rejeki). Kenapa ada pembatasan kelahiran? Slogan yang pernah saya lihat, “Dua anak lebih baik”. Namanya juga iklan layanan masyarakat, salah satu cara sosialisasinya dengan dipasang di tempat umum. Tetep aja yang memiliki anak lebih dari satu. Bisa dipahami, kadang keluarga sudah memiliki dua anak (laki-laki atau perempuan semua), ingin nambah lagi berharap seorang anak (perempuan atau laki-laki), lengkap ada laki-laki dan perempuan. Selain itu, namanya orang membaca kadang juga salah, apalagi sekilas. Wong petinggi MPR saja ada yang salah baca dalam pidatonya tetap bisa dipahami apalagi rakyat kecil. “Dua anak lebih baik”, bisa terbaca “Dua anak/ lebih baik” bisa juga terbaca “Dua anak lebih/ baik”. (Haha, ada-ada saja)

Entahlah, jadi kemana-mana. Pokonya sebagai pemuda harapan pemudi juga pemudi harapan pemuda. (Maksudnya generasi muda harapan bangsa). Tetap bersemangat, Bekerja untuk Indonesia. Good luck!

(Inspiring Man)

Sunday, September 18, 2011

"Yakinkanku Untuk Melamarmu"


Nyalakan nyali untuk menikahi”, demikian kira-kira pesan ringkas sahabatnya yang telah terlebih dahulu menikah. Dari sisi kepantasan, orang menilai sudah waktunya untuk dia menikah. Usianya tergolong matang, pekerjaan bisa dibilang mapan, pendapatan cukup untuk keseharian, dan orangtua sudah menyatakan persetujuan bahkan orangtuanya mendorong untuk mensegerakan. Namun demikian, ada hal yang menjadikan hatinya bimbang. “Aku belum yakin”, begitu katanya
“Wanita itu lebih suka realisasi daripada janji”, giliran istri sahabatnya bicara. Sepertinya memang sudah menjadi garis nasib kemanusiaan, Allah Ciptakan manusia berpasang-pasangan untuk saling melengkapi. Laki-laki dan perempuan masing-masing memiliki kekhasan yang menjadi harmoni jika disatukan. Setidaknya dalam memandang sesuatu, laki-laki lebih dominan logika sedangkan wanita lebih dominan rasa. Ada hal-hal yang terkadang lepas dari pertimbangan pikir laki-laki dan ternyata selesai dengan rasa wanita. Laki-laki memiliki mimpi, wanita yang mendorong mimpi itu menjadi terealisasi. Karena itu mungkin, wanita lebih suka realisasi daripada janji. Bagaimanapun keduanya ada untuk saling mengimbangi bukan mendominasi.

“Tapi sepertinya aku masih belum yakin”, keluhnya. Keputusan untuk menikah bagi sebagian orang bukanlah keputusan yang mudah apalagi jika banyak hal yang menjadi pertimbangannya. Mulai dari kriteria; agama, fisik, pekerjaan, karakter belum lagi pertimbangan kecocokan dengan keluarga, visi hidup, dan hal khusus lainnya. Memang tidak semua hal bisa selesai dengan menggunakan logika otak kiri, ada banyak hal, terutama kehidupan ini yang lebih menuntut seseorang menggunakan otak kanannya. Kreativitas-kreativitas, bayangan mental, dan keyakinan adanya berbagai kemungkinan juga peluang dalam kehidupan. Salah satunya adalah tentang kehidupan berumah tangga.
“Wanita itu sebenarnya menunggu dan siap kapanpun jika ada yang mengajak, asalkan memang cocok menurut kata hatinya”, istri sahabatnya berusaha meyakinkan. Seolah manusia itu memiliki radar jiwa, ketika menemukan pasangannya, ada kedamaian yang dia sendiri tidak bisa definisikan. Namun kadang radar itu terganggu oleh logika, pertimbangan-pertimbangan yang jauh dari kenyataan, kekhawatiran, dan ketakutan-ketakutan.

“Ngeper, maju-mundur saat ingin serius”, begitu yang dialami. Dan yang terjadi sebenarnya hanyalah semacam perlunya sinyal untuk menguatkan langkahnya maju. Hal ini yang kadang tidak disadari; satunya menunggu dan satunya ragu untuk maju. Satunya memerlukan keberanian untuk mengirimkan sinyal, membuka ruang peluang dan kelegaan. Satunya lagi membutuhkan keyakinan, modal utama untuk memunculkan berbagai keajaiban dalam kehidupan.
Karena itulah kita tahu mengapa Khadijah memberanikan diri menawarkan diri menjadi istri pada Muhammad SAW. Akankah keduanya menjadi suami istri sampai sekarang ketika waktu itu Khadijah tidak memberanikan diri? Karena itulah orangtua Vivi (Film Dalam Mihrab Cinta) memberanikan diri menanyakan pada Syamsul Hadi perihal anaknya. Walaupun akhirnya Syamsul Hadi menikahi Zizi tetapi awalnya kita tahu bahwa orangtua Vivi berhasil memenangkan hati Syamsul untuk lebih memilih Vivi dibanding Zizi.

“Lalu bagaimana? Yakinkanku untuk Melamarmu!”
(Terinspirasi Dari Pengalaman Nyata Seorang Teman)


Artikel Terkait:
c. Resonansi Hati
d. Ternyata Engkau Menungguku

Thursday, August 18, 2011

Pariman Siregar: Indonesia Raya, Indonesia(is)me


Big dan great”, dua term dari bahasa Inggris yang serupa tetapi tidaklah sama. Orang yang tubuhnya kelebihan lemak dan berat badan, kira-kira lebih lebih tepat disebut big atau great? Tembok yang ada di China dan ditetapkan sebagai salah satu keajaiban dunia bernama The Big Wall atau The Great Wall? Tokoh terkenal dunia Alexander The Great kira-kira sebutannya disebabkan karena luasnya wilayah yang dikuasai atau karena kebijaksanaan yang dimiliki?

“Big”, lebih tepat digunakan untuk mengungkapkan kesan materi yang tampak sedangkan “great” lebih tepat pada immateri yang tidak kelihatan tetapi bisa dirasakan keber-ada-anya. Indonesia ini biasa disebut sebagai Negara besar. Negara dengan luas wilayah melebihi ‘negara besar’ Jepang, kekayaan alam melimpah melebihi Singapura, penduduk muslim terbanyak dunia, dan berbagai hal lainnya. Namun demikian, “Indonesia isn’t called great but still called big”. Padahal jelas bisa kita dapati dalam pembukaan UUD 1945, bangsa ini memiliki great vision dan tidak menonjolkan big nya negeri ini.
Ketika PBB masih embrio berbentuk LBB, Indonesia sudah lahir. Ketika PBB lahir 1948 dengan deklarasi hak-hak asasi manusia, Indonesia sudah terlebih dulu dengan Pembukaan UUD 1945 yang kemudian diterjemahkan dalam Batang Tubuh UUD 1945. Terhitung 3 tahun lebih awal dari deklarasi PBB. Tidak hanya hak asasi manusia tetapi bahkan bangsa pun memiliki hak asasi dan itu menjadi kalimat pertama yang ditegaskan, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa”. Setiap bangsa memiliki kemandirian menentukan arahannya, bebas dari segala bentuk intervensi, begitu kira-kira.

Jika PBB dimotori Amerika, mengatasnamakan hak asasi manusia terjun ke Libya dan berbagai Negara berkonflik lainnya, maka sudah seharusnya begitulah peran Indonesia. Konsekuensi bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa maka Indonesia memiliki dedikasi untuk menghapuskan penjajahan di atas dunia. Alasannya kenapa harus dihapuskan? “Karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”, begitulah isi paragrap awal pembukaan UUD 1945. Jelas bahwa Indonesia ada bukan sekedar menjadi big tetapi great.
Jika selama ini, Amerika dan Barat yang mengulurkan tangan memberikan bantuan pada Negara yang mengalami keterpurukan ekonomi maka sudah selayaknya Indonesia yang turun tangan pertama memberikan bantuan. Saat ada Negara lain yang terkena bencana maka Indonesialah yang pertama datang memberikan bantuan. Tentulah operasionalnya dimulai dari membangun bangsa sendiri. Indonesia for The World, itulah kira-kira semangat yang mesti berkobar dalam diri setiap warga Negara Indonesia dan pemerintah.

Sekali lagi, mind set yang selama ini terbangun lebih terkesan bahwa “Indonesia is big”. Padahal, sinyal bangsa yang mengandalkan big itu lemah sudah disampaikan Rasulullah. Beliau mengatakan bahwa suatu ketika ummat Islam (suatu bangsa) ibarat buih di lautan. Sahabat ketika itu bertanya, “Apakah jumlah kami sedikit ya Rasulullah?” Rasulullah mengatakan bahwa jumlahnya bahkan sangat banyak tetapi lemah sehingga mudah terombang ambing. Ibarat makanan yang kemudian diperebutkan musuh-musuhnya.
Dan sekarang kita bisa cermati Negara-negara yang big, memiliki cadangan minyak yang melimpah dan kekayaan alam luar biasa akhirnya pun jadi santapan Negara-negara lain yang imperialis. Runtuhnya imperium Islam juga imperium-imperium yang ada pun bisa dikatakan karena mereka bergeser dari great ke big. “Takut mati dan cinta dunia”, itu bahasa Rasulullah yang menjadikan ummat Islam kondisinya seperti buih di lautan. Hanya berpikir pragmatis, kebutuhan sesaat tanpa visi yang agung. Mari kita cermati diri kita sendiri, siapapun kita ini, pelajarkah? Politisikah? Pedagangkah? Pengajarkah? Apapun pekerjaan dan status kita. “Big or great?”

Untuk KONSULTASI, TRAINING, SEMINAR, BEDAH BUKU, dan HAL TERKAIT PENGEMBANGAN SDM silahkan kontak ke HP atau inbox ke FB Inspiring Man. Download Ebook GRATIS Pariman SIregar: "HIPNOTIS CINTA".

Wednesday, August 17, 2011

Tuhan, Pilihkan Takdir Terbaik-Mu


“Zizi, dia memang baik, cantik, tapi apa aku ini pantas menjadi anggota keluarga dari Kyai Miftah. Rasanya, banyak pemuda yang lebih layak untuk meminang Zizi. Apa aku ini ndak lebih baik menikah dengan yang pasti-pasti saja?”, begitulah sebagian dialog Film Dalam Mihrab Cinta. Kebimbangan Syamsul Hadi untuk menentukan pilihan pendamping hidup. Kedua orangtua Silvi (gadis cantik yang pernah dicopetnya hingga menghantarkan dirinya kembali menjadi orang baik) datang menawarkan Silvi untuk dinikahi Syamsul. Sementara dirinya sendiri ada perasaan cinta pada Zizi, anak Kyai Miftah yang sempat ditolongnya di kereta saat berangkat ngaji ke Kediri. Ibu Syamsul sendiri juga lebih condong pada Zizi. Apa yang dilakukan Syamsul untuk menentukan pilihannya? Dan bagaimana akhir cerita Dalam Mihrab Cinta?

Saya pikir semua pembaca sudah mengetahui bagaimana cerita dan ending dari film tersebut. Singkat cerita, atas saran ibunya, Syamsul shalat istiqarah mengharap pentunjuk dan memohon agar Allah pilihkan yang terbaik baginya. Pilihan jatuh pada Silvi. Dilamarlah Silvi dan berbagai persiapan menjelang pernikahan pun dilakukan; pemilihan baju penganten, undangan, dan penentuan hari pernikahan. Sebagaimana kita tahu bersama kemudian pernikahan dengan Silvi tidak jadi berlangsung karena Silvi meninggal dalam kecelakaan saat mengantarkan undangan pada familinya di Bogor. Ending dari Dalam Mihrab Cinta, Syamsul menikahi Zizi.
Kebimbangan dalam menentukan pilihan pasangan hidup! Saya tidak tahu apakah hampir semua orang mengalami hal tersebut ataukah hanya terjadi dalam film-film saja. Sepertinya memang sudah menjadi “begitu adanya” ketika seseorang dihadapkan pada situasi yang mengandung konsekuensi serius, dia mengalami kebimbangan. Fase dimana seseorang terselimuti berbagai pertimbangan atas konsekuensi dari pilihan yang akan dia ambil. Rasa harap atas pilihan yang diambil berakibat kebaikan dan rasa takut akan kemungkinan yang tidak mengenakkan di kemudian harinya.

Dalam situasi yang demikian, seseorang membutuhkan orang lain untuk sekedar menggambarkan situasi (pilihan dan konsekuensi) yang mungkin akan terjadi hingga memberikan penguatan positif (dukungan) pilihan yang dianggapnya terbaik. Situasi yang menyadarkan manusia akan kelemahan dirinya dalam menyibakkan kabut dihadapan. Dia merasa butuh kekuatan yang Maha Sempurna, tempatnya berpasrah diri, menyerahkan keputusan terbaik, dan persangkaan terbaiknya pada Allah SWT. Mempercayakan “logika langit” atas berbagai keputusan yang terjadi. Dan sebagaimana kita ketahui, saat seseorang dalam keadaan yang demikian “keajaiban” Allah SWT yang berjalan. Unik, elegan, dan sangat ajaib. Barangkali itulah sebagian makna QS Ath Thalaaq : 2-3, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…”.
…Tapi apa aku ini pantas... Rasanya, banyak … yang lebih layak …” Sungguh menarik mencermati kata-kata Syamsul. Walaupun ada rasa suka dan ingin dalam dirinya tetapi dia juga menyadari akan kemungkinan ada orang yang lebih layak dibanding dirinya untuk mendampingi Zizi.

Tidak sedikit mereka yang menjalani proses saling mengenal (ta’aruf) melalui guru-guru (murabbi, murabbiyah) mereka tetapi tidak kunjung menemukan pilihan yang dianggapnya terbaik. Semoga hal tersebut bukan dikarenakan mereka over esteem. Menganggap dirinya “lebih” lalu menampik nama-nama yang diajukan karena anggapan nama tersebut tidak cukup layak mendampingi dirinya. Rasa memiliki visi yang menjulang tinggi sedangkan orang yang diajukan dianggapnya tidak cukup mampu untuk bersama-sama mewujudkan visi tersebut. Usia diri yang lebih muda dan beranggapan lebih layak mendapatkan yang lebih muda dst. Berbagai persepsi akan diri sendiri dan orang lain di sekitarnya yang berkesimpulan bahwa dirinya merasa bisa mendapat hal “lebih”. Bukan sebagai perwujudan kepercayaan diri tetapi rasa sombong yang berkamuflase dengan berbagai rasionalisasi. Kalimat reflektif yang perlu rasanya direnungkan, “Tapi apakah aku ini pantas? Rasanya ada banyak yang lebih layak mendampinginya”.
Apa aku ini ndak lebih baik menikah dengan yang pasti-pasti saja?”, pikir Syamsul. Kehidupan ini memang sarat dengan rahasia dan sudah menjadi tabiat manusia lebih condong pada yang pasti-pasti saja. Suatu sebab yang melahirkan akibat, itulah yang manusia anggap sebagai kepastian dalam hidup. Karena itulah manusia mencoba untuk “memastikan” akibat yang diinginkan dengan membuat sebab-sebab. Namun demikian, ada dari mereka yang lupa bahwa takdir Allah SWT lah yang menjadi sebuah kepastian bukan sebab-sebab yang mereka buat. Berapa banyak mereka yang “mengatur-atur”, membuat “prediksi-prediksi”, seolah apa yang dilakukan sebagai sebuah kepastian justru malah mempersulit diri mereka sendiri bahkan ada orang lain yang terkena dampaknya. ‘Ijtihat itu ada peran rasionalitas tetapi tidak sampai meninggalkan pengakuan bahwa Kuasa Allah di atas segalanya.

"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”, QS Al Furqaan: 54.
(Bersambung)
Untuk KONSULTASI, TRAINING, SEMINAR, BEDAH BUKU, dan HAL TERKAIT PENGEMBANGAN SDM silahkan kontak ke HP atau inbox ke FB Inspiring Man. Download Ebook GRATIS Pariman SIregar: "HIPNOTIS CINTA".