Sunday, September 18, 2011

"Yakinkanku Untuk Melamarmu"


Nyalakan nyali untuk menikahi”, demikian kira-kira pesan ringkas sahabatnya yang telah terlebih dahulu menikah. Dari sisi kepantasan, orang menilai sudah waktunya untuk dia menikah. Usianya tergolong matang, pekerjaan bisa dibilang mapan, pendapatan cukup untuk keseharian, dan orangtua sudah menyatakan persetujuan bahkan orangtuanya mendorong untuk mensegerakan. Namun demikian, ada hal yang menjadikan hatinya bimbang. “Aku belum yakin”, begitu katanya
“Wanita itu lebih suka realisasi daripada janji”, giliran istri sahabatnya bicara. Sepertinya memang sudah menjadi garis nasib kemanusiaan, Allah Ciptakan manusia berpasang-pasangan untuk saling melengkapi. Laki-laki dan perempuan masing-masing memiliki kekhasan yang menjadi harmoni jika disatukan. Setidaknya dalam memandang sesuatu, laki-laki lebih dominan logika sedangkan wanita lebih dominan rasa. Ada hal-hal yang terkadang lepas dari pertimbangan pikir laki-laki dan ternyata selesai dengan rasa wanita. Laki-laki memiliki mimpi, wanita yang mendorong mimpi itu menjadi terealisasi. Karena itu mungkin, wanita lebih suka realisasi daripada janji. Bagaimanapun keduanya ada untuk saling mengimbangi bukan mendominasi.

“Tapi sepertinya aku masih belum yakin”, keluhnya. Keputusan untuk menikah bagi sebagian orang bukanlah keputusan yang mudah apalagi jika banyak hal yang menjadi pertimbangannya. Mulai dari kriteria; agama, fisik, pekerjaan, karakter belum lagi pertimbangan kecocokan dengan keluarga, visi hidup, dan hal khusus lainnya. Memang tidak semua hal bisa selesai dengan menggunakan logika otak kiri, ada banyak hal, terutama kehidupan ini yang lebih menuntut seseorang menggunakan otak kanannya. Kreativitas-kreativitas, bayangan mental, dan keyakinan adanya berbagai kemungkinan juga peluang dalam kehidupan. Salah satunya adalah tentang kehidupan berumah tangga.
“Wanita itu sebenarnya menunggu dan siap kapanpun jika ada yang mengajak, asalkan memang cocok menurut kata hatinya”, istri sahabatnya berusaha meyakinkan. Seolah manusia itu memiliki radar jiwa, ketika menemukan pasangannya, ada kedamaian yang dia sendiri tidak bisa definisikan. Namun kadang radar itu terganggu oleh logika, pertimbangan-pertimbangan yang jauh dari kenyataan, kekhawatiran, dan ketakutan-ketakutan.

“Ngeper, maju-mundur saat ingin serius”, begitu yang dialami. Dan yang terjadi sebenarnya hanyalah semacam perlunya sinyal untuk menguatkan langkahnya maju. Hal ini yang kadang tidak disadari; satunya menunggu dan satunya ragu untuk maju. Satunya memerlukan keberanian untuk mengirimkan sinyal, membuka ruang peluang dan kelegaan. Satunya lagi membutuhkan keyakinan, modal utama untuk memunculkan berbagai keajaiban dalam kehidupan.
Karena itulah kita tahu mengapa Khadijah memberanikan diri menawarkan diri menjadi istri pada Muhammad SAW. Akankah keduanya menjadi suami istri sampai sekarang ketika waktu itu Khadijah tidak memberanikan diri? Karena itulah orangtua Vivi (Film Dalam Mihrab Cinta) memberanikan diri menanyakan pada Syamsul Hadi perihal anaknya. Walaupun akhirnya Syamsul Hadi menikahi Zizi tetapi awalnya kita tahu bahwa orangtua Vivi berhasil memenangkan hati Syamsul untuk lebih memilih Vivi dibanding Zizi.

“Lalu bagaimana? Yakinkanku untuk Melamarmu!”
(Terinspirasi Dari Pengalaman Nyata Seorang Teman)


Artikel Terkait:
c. Resonansi Hati
d. Ternyata Engkau Menungguku

Thursday, August 18, 2011

Pariman Siregar: Indonesia Raya, Indonesia(is)me


“Big dan great”, dua term dari bahasa Inggris yang serupa tetapi tidaklah sama. Orang yang tubuhnya kelebihan lemak dan berat badan, kira-kira lebih lebih tepat disebut big atau great? Tembok yang ada di China dan ditetapkan sebagai salah satu keajaiban dunia bernama The Big Wall atau The Great Wall? Tokoh terkenal dunia Alexander The Great kira-kira sebutannya disebabkan karena luasnya wilayah yang dikuasai atau karena kebijaksanaan yang dimiliki?

“Big”, lebih tepat digunakan untuk mengungkapkan kesan materi yang tampak sedangkan “great” lebih tepat pada immateri yang tidak kelihatan tetapi bisa dirasakan keber-ada-anya. Indonesia ini biasa disebut sebagai Negara besar. Negara dengan luas wilayah melebihi ‘negara besar’ Jepang, kekayaan alam melimpah melebihi Singapura, penduduk muslim terbanyak dunia, dan berbagai hal lainnya. Namun demikian, “Indonesia isn’t called great but still called big”. Padahal jelas bisa kita dapati dalam pembukaan UUD 1945, bangsa ini memiliki great vision dan tidak menonjolkan big nya negeri ini.
Ketika PBB masih embrio berbentuk LBB, Indonesia sudah lahir. Ketika PBB lahir 1948 dengan deklarasi hak-hak asasi manusia, Indonesia sudah terlebih dulu dengan Pembukaan UUD 1945 yang kemudian diterjemahkan dalam Batang Tubuh UUD 1945. Terhitung 3 tahun lebih awal dari deklarasi PBB. Tidak hanya hak asasi manusia tetapi bahkan bangsa pun memiliki hak asasi dan itu menjadi kalimat pertama yang ditegaskan, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa”. Setiap bangsa memiliki kemandirian menentukan arahannya, bebas dari segala bentuk intervensi, begitu kira-kira.

Jika PBB dimotori Amerika, mengatasnamakan hak asasi manusia terjun ke Libya dan berbagai Negara berkonflik lainnya, maka sudah seharusnya begitulah peran Indonesia. Konsekuensi bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa maka Indonesia memiliki dedikasi untuk menghapuskan penjajahan di atas dunia. Alasannya kenapa harus dihapuskan? “Karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”, begitulah isi paragrap awal pembukaan UUD 1945. Jelas bahwa Indonesia ada bukan sekedar menjadi big tetapi great.
Jika selama ini, Amerika dan Barat yang mengulurkan tangan memberikan bantuan pada Negara yang mengalami keterpurukan ekonomi maka sudah selayaknya Indonesia yang turun tangan pertama memberikan bantuan. Saat ada Negara lain yang terkena bencana maka Indonesialah yang pertama datang memberikan bantuan. Tentulah operasionalnya dimulai dari membangun bangsa sendiri. Indonesia for The World, itulah kira-kira semangat yang mesti berkobar dalam diri setiap warga Negara Indonesia dan pemerintah.

Sekali lagi, mind set yang selama ini terbangun lebih terkesan bahwa “Indonesia is big”. Padahal, sinyal bangsa yang mengandalkan big itu lemah sudah disampaikan Rasulullah. Beliau mengatakan bahwa suatu ketika ummat Islam (suatu bangsa) ibarat buih di lautan. Sahabat ketika itu bertanya, “Apakah jumlah kami sedikit ya Rasulullah?” Rasulullah mengatakan bahwa jumlahnya bahkan sangat banyak tetapi lemah sehingga mudah terombang ambing. Ibarat makanan yang kemudian diperebutkan musuh-musuhnya.
Dan sekarang kita bisa cermati Negara-negara yang big, memiliki cadangan minyak yang melimpah dan kekayaan alam luar biasa akhirnya pun jadi santapan Negara-negara lain yang imperialis. Runtuhnya imperium Islam juga imperium-imperium yang ada pun bisa dikatakan karena mereka bergeser dari great ke big. “Takut mati dan cinta dunia”, itu bahasa Rasulullah yang menjadikan ummat Islam kondisinya seperti buih di lautan. Hanya berpikir pragmatis, kebutuhan sesaat tanpa visi yang agung. Mari kita cermati diri kita sendiri, siapapun kita ini, pelajarkah? Politisikah? Pedagangkah? Pengajarkah? Apapun pekerjaan dan status kita. “Big or great?”

Untuk KONSULTASI, TRAINING, SEMINAR, BEDAH BUKU, dan HAL TERKAIT PENGEMBANGAN SDM silahkan kontak ke HP atau inbox ke FB Inspiring Man. Download Ebook GRATIS Pariman SIregar: "HIPNOTIS CINTA".

Wednesday, August 17, 2011

Tuhan, Pilihkan Takdir Terbaik-Mu


“Zizi, dia memang baik, cantik, tapi apa aku ini pantas menjadi anggota keluarga dari Kyai Miftah. Rasanya, banyak pemuda yang lebih layak untuk meminang Zizi. Apa aku ini ndak lebih baik menikah dengan yang pasti-pasti saja?”, begitulah sebagian dialog Film Dalam Mihrab Cinta. Kebimbangan Syamsul Hadi untuk menentukan pilihan pendamping hidup. Kedua orangtua Silvi (gadis cantik yang pernah dicopetnya hingga menghantarkan dirinya kembali menjadi orang baik) datang menawarkan Silvi untuk dinikahi Syamsul. Sementara dirinya sendiri ada perasaan cinta pada Zizi, anak Kyai Miftah yang sempat ditolongnya di kereta saat berangkat ngaji ke Kediri. Ibu Syamsul sendiri juga lebih condong pada Zizi. Apa yang dilakukan Syamsul untuk menentukan pilihannya? Dan bagaimana akhir cerita Dalam Mihrab Cinta?

Saya pikir semua pembaca sudah mengetahui bagaimana cerita dan ending dari film tersebut. Singkat cerita, atas saran ibunya, Syamsul shalat istiqarah mengharap pentunjuk dan memohon agar Allah pilihkan yang terbaik baginya. Pilihan jatuh pada Silvi. Dilamarlah Silvi dan berbagai persiapan menjelang pernikahan pun dilakukan; pemilihan baju penganten, undangan, dan penentuan hari pernikahan. Sebagaimana kita tahu bersama kemudian pernikahan dengan Silvi tidak jadi berlangsung karena Silvi meninggal dalam kecelakaan saat mengantarkan undangan pada familinya di Bogor. Ending dari Dalam Mihrab Cinta, Syamsul menikahi Zizi.
Kebimbangan dalam menentukan pilihan pasangan hidup! Saya tidak tahu apakah hampir semua orang mengalami hal tersebut ataukah hanya terjadi dalam film-film saja. Sepertinya memang sudah menjadi “begitu adanya” ketika seseorang dihadapkan pada situasi yang mengandung konsekuensi serius, dia mengalami kebimbangan. Fase dimana seseorang terselimuti berbagai pertimbangan atas konsekuensi dari pilihan yang akan dia ambil. Rasa harap atas pilihan yang diambil berakibat kebaikan dan rasa takut akan kemungkinan yang tidak mengenakkan di kemudian harinya.

Dalam situasi yang demikian, seseorang membutuhkan orang lain untuk sekedar menggambarkan situasi (pilihan dan konsekuensi) yang mungkin akan terjadi hingga memberikan penguatan positif (dukungan) pilihan yang dianggapnya terbaik. Situasi yang menyadarkan manusia akan kelemahan dirinya dalam menyibakkan kabut dihadapan. Dia merasa butuh kekuatan yang Maha Sempurna, tempatnya berpasrah diri, menyerahkan keputusan terbaik, dan persangkaan terbaiknya pada Allah SWT. Mempercayakan “logika langit” atas berbagai keputusan yang terjadi. Dan sebagaimana kita ketahui, saat seseorang dalam keadaan yang demikian “keajaiban” Allah SWT yang berjalan. Unik, elegan, dan sangat ajaib. Barangkali itulah sebagian makna QS Ath Thalaaq : 2-3, “…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…”.
“…Tapi apa aku ini pantas... Rasanya, banyak … yang lebih layak …” Sungguh menarik mencermati kata-kata Syamsul. Walaupun ada rasa suka dan ingin dalam dirinya tetapi dia juga menyadari akan kemungkinan ada orang yang lebih layak dibanding dirinya untuk mendampingi Zizi.

Tidak sedikit mereka yang menjalani proses saling mengenal (ta’aruf) melalui guru-guru (murabbi, murabbiyah) mereka tetapi tidak kunjung menemukan pilihan yang dianggapnya terbaik. Semoga hal tersebut bukan dikarenakan mereka over esteem. Menganggap dirinya “lebih” lalu menampik nama-nama yang diajukan karena anggapan nama tersebut tidak cukup layak mendampingi dirinya. Rasa memiliki visi yang menjulang tinggi sedangkan orang yang diajukan dianggapnya tidak cukup mampu untuk bersama-sama mewujudkan visi tersebut. Usia diri yang lebih muda dan beranggapan lebih layak mendapatkan yang lebih muda dst. Berbagai persepsi akan diri sendiri dan orang lain di sekitarnya yang berkesimpulan bahwa dirinya merasa bisa mendapat hal “lebih”. Bukan sebagai perwujudan kepercayaan diri tetapi rasa sombong yang berkamuflase dengan berbagai rasionalisasi. Kalimat reflektif yang perlu rasanya direnungkan, “Tapi apakah aku ini pantas? Rasanya ada banyak yang lebih layak mendampinginya”.
“Apa aku ini ndak lebih baik menikah dengan yang pasti-pasti saja?”, pikir Syamsul. Kehidupan ini memang sarat dengan rahasia dan sudah menjadi tabiat manusia lebih condong pada yang pasti-pasti saja. Suatu sebab yang melahirkan akibat, itulah yang manusia anggap sebagai kepastian dalam hidup. Karena itulah manusia mencoba untuk “memastikan” akibat yang diinginkan dengan membuat sebab-sebab. Namun demikian, ada dari mereka yang lupa bahwa takdir Allah SWT lah yang menjadi sebuah kepastian bukan sebab-sebab yang mereka buat. Berapa banyak mereka yang “mengatur-atur”, membuat “prediksi-prediksi”, seolah apa yang dilakukan sebagai sebuah kepastian justru malah mempersulit diri mereka sendiri bahkan ada orang lain yang terkena dampaknya. ‘Ijtihat itu ada peran rasionalitas tetapi tidak sampai meninggalkan pengakuan bahwa Kuasa Allah di atas segalanya.

"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”, QS Al Furqaan: 54.
(Bersambung)
Untuk KONSULTASI, TRAINING, SEMINAR, BEDAH BUKU, dan HAL TERKAIT PENGEMBANGAN SDM silahkan kontak ke HP atau inbox ke FB Inspiring Man. Download Ebook GRATIS Pariman SIregar: "HIPNOTIS CINTA".

Sunday, July 31, 2011

Kampus Kehidupan (University of Life)


Sudah berbulan-bulan sepertinya saya tidak menulis artikel di website pribadi www.parimansiregar.blogspot.com dan menyapa sahabat-sahabat melalui note FB Inspiring Man. Saya akui, menulis tidak sekedar merangkai huruf menjadi kata lalu melanjutkan menjadi kalimat kemudian disusun menjadi paragraph-paragrap. Seorang penulis itu ibarat lebah yang menyerap sari-sari bunga dari berbagai tempat terbaik, menyimpannya lalu menjadi madu yang menyegarkan, manis, kaya energi, dan memiliki khasiyat penyembuhan. Sekian bulan itulah saya belajar menjadi lebah untuk bisa mempersembahkan madu terbaik. Mulai dari Jogja dengan pertemuan penulis Pro U Media se-Indonesia berlanjut belajar langsung dari kehidupan dan penyegaran dengan membaca berbagai refrensi juga mengujinya dengan share di berbagai seminar, diskusi, training, dan outbound.
Dalam moment berlimpah kebahagiaan di bulan Juli ini (ulang tahun, wisuda, berbagai share dalam training dst) dan akan semakin banyak lagi di bulan berikutnya, semoga tulisan ini bisa menjadi madu bagi sahabat-sahabat semua. Hasil penyelaman ke dalam berbagai mata air refrensi dan pengalaman. “Kampus Kehidupan”, itulah judul yang saya berikan.

Walaupun seseorang tidak pernah registrasi tetapi bagaimanapun dia tetap terdaftar dalam apa yang saya sebut, “Kampus Kehidupan”. Setiap orang menjadi mahasiswa dalam kampus tersebut. Sebagaimana kampus yang kita ketahui, dalam kampus kehidupan, seseorang akan menempuhi jumlah SKS dengan beragam ‘mata kuliah’. Dalam kesempatan tertentu, seseorang yang belum berhasil dalam ‘mata kuliah’ maka akan mengulangnya kemudian.
Seseorang memang tidak pernah akan berhenti dalam pembelajaran di kampus kehidupan. Pada awalnya dulu, seseorang belajar akan keberanian bermimpi, menuliskan, dan mengemukakan impian-impian. Setelah dia melakukannya, berlanjutlah dia belajar akan bekerja keras (saya lebih memilih dengan istilah “mengoptimalkan potensi yang dimiliki”) untuk mewujudkan apa yang telah menjadi impiannya. Apakah berhenti sampai di situ saja? Ternyata tidak. Ada saat-saat ketika seseorang bekerja, dia dihadapkan pada godaan ingin cepat menuai impian yang telah ditanam. Selain itu, dalam perjalanan terkadang ada hal-hal lebih menarik yang seolah menjanjikan. Dalam tahapan inilah, seseorang pada dasarnya sedang mengambil ‘mata kuliah komitmen’. Daya tahan seseorang untuk terus melakukan kerja-kerja mencapai apa yang telah ditetapkan di awal.

Perjalanan pembelajaran terus berlanjut bahkan tidak berhenti walaupun seseorang sudah mencapai dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Ketika seseorang berada dalam puncak pencapaian, di sanalah dia belajar akan ‘mata kuliah rendah hati’, tidak menyombongkan diri, dan tetap memandang sebelah mata pada orang lain. Berapa banyak orang yang bisa melampaui ‘mata kuliah rendah hati’?
Mereka yang telah mencapai prestasi puncak dikatakan telah meraih sukses pribadi. Dan ternyata, sukses pribadi saja tidaklah cukup, berlanjut tahapan proses berikutnya yaitu sukses publik. Pembelajaran pun bertambah, seseorang akan belajar perihal berbagi dan memberi. Berapa banyak mereka yang lulus dalam ‘mata kuliah berbagi’? Belum lagi ketika ada ‘mata kuliah ketulusan’, sudah bisa berbagi dan sudah terbiasa member maka belajarlah dia akan keikhlasan dst.

Yakinlah, hidup akan penuh keoptimisan ketika seseorang memiliki kaca mata pembejaran dalam memandang berbagai hal di tengah roda kehidupan yang seolah berputar makin cepat ini. Belajar arti keberanian bertindak saat diri baru mencetuskan ide tetapi ternyata sudah ada orang lain di belahan dunia sana yang sudah sekian langkah mewujudkan. Belajar akan arti berguru ketika mendapati deretan keberhasilan teman sedangkan dirinya masih termangu dalam impian. Toh, mereka juga sebenarnya belum berhenti belajar. Mereka yang dipandang sudah memiliki usaha mapan, tanyalah pastinya ada saja ternyata yang dia keluhakan. Mereka yang dikira bergaji tinggi, tanyalah sepertinya kebutuhannya juga banyak sekali. Mereka yang sudah berkeluarga duluan, sepertinya sudah enak dan aman, yakinlah mereka tidak lepas juga dari pembelajaran. Hanya saja ‘mata kuliahnya’ lain. Ada yang mengambil lebih awal, ada yang mengambil kemudian, hal yang wajar. Sesuatu yang bisa ditoleransi pula ketika seseorang melakukan kesalahan. Namanya juga sedang pembelajaran.
Kira-kira ‘mata kuliah’ apa yang sedang anda ambil? Sukses aja pokoknya! Untuk KONSULTASI, TRAINING, SEMINAR, BEDAH BUKU, dan HAL TERKAIT PENGEMBANGAN SDM silahkan kontak ke HP atau inbox ke FB Inspiring Man.

Wednesday, June 8, 2011

Thursday, May 26, 2011

APA RAHASIA SUKSES, “Dari Terbatas Jadi TERATAS?”


MERAH yang BERGAIRAH! MERAH cerminan KEBERANIAN! MERAH, itulah darah yang mengalir menghidupi setiap bagian tubuh! Karena itulah cover MASTER from minder berwarna MERAH. Melihat covernya sudah merasakan GAIRAH, BERANI HIDUP MENDOBRAK keminderan. Anda akan teringat buku MASTER from minder setiap kali melihat warna MERAH. Buku yang membuat anda BERSEMANGAT! Warna MERAH dalam setiap paragraf selanjutnya akan mengingatkan diri anda yang bersemangat
“Tidakkah menakjubkan jika mendapati orang-orang yang awalnya biasa-biasa saja tetapi kemudian menjadi orang luar biasa?” Mereka yang terhimpit dalam kondisi sulit kemudian BANGKIT MELEJIT! Keadaan awalnya serba terbatas kemudian menjadi TERATAS! Orang yang culun, ragu, minder lalu bangkit menjadi guru, MASTER kesuksesan.
Saat anda mulai membaca tulisan berikut, anda akan merasakan perasaan luar biasa dan anda ingin mengikutinya. Semua orang tahu penemu spektakuler lampu pijar, dialah Thomas Alfa Edison. Kemungkinan besar anda juga tahu bahwa saat kecil dia dianggap sebagai anak yang tidak berbakat dan tidak pandai matematika. Bahkan dia dikembalikan ke orangtuanya karena tidak bisa mengikuti pelajaran sekolah. Saat dia sudah besar, munculah ide gilanya ingin menemukan lampu pijar. Bagaimana tidak gila? Dia mati-matian memperjuangkan ide yang pada saat itu tidak mudah dicapai, mustahil. Berapa kali dia gagal? Sepuluh kali? Seratus? Seribu? Berapapun itu dan bagaimanapun orang mengatainya gagal, dia mengatakan bahwa dirinya bukan gagal tetapi justru dia berhasil menemukan ratusan bahkan ribuan bahan yang tidak efektif untuk lampu pijar. Dan akhirnya kita patut berterima kasih atas hasil karyanya; dunia kita jadi terang benderang, membaca buku, menonton TV, aktifitas kantor, dan berbagai kegiatan di malam hari bisa kita lakukan. “Dari kondisi sulit, dia MELEJIT!” Dialah salah satu MASTER kesuksesan.
Cobalah amati lingkungan sekeliling anda, maka anda akan menemukan mereka yang terhimpit dalam situasi yang sulit, terbatas, ragu untuk maju, dan keminderan. Coba bayangkan apa yang terjadi di masa depan. Merekalah yang nantinya menjadi penerus-penerus bangsa ini. Merekalah harapan utama orangtua untuk meraih hidup lebih baik. Betapa cerahnya masa depan dengan kebahagiaan ketika mereka bangkit dari kondisi keterbatasan. Keterbatasan ekonomi, rasa tidak percaya diri akan potensi, minder untuk bermimpi, dan berbagai hambatan lainnya. Betapa nanti akan bisa kita lihat mereka menjadi orang-orang sukses, berjas kantor tetapi tetap tahu andap asor (sopan santun), bermobil mewah lagi banyak sedekah, seorang pejabat tetapi tetap merakyat. Suatu saat nanti akan terdengar kabar bahagia perihal perjuangan mereka berhasil meraih cita-cita. Rasa bangga bagi sekolah, guru-guru, orangtua, teman dan siapa saja yang pernah menyumbangkan semangat bagi mereka.
Bayangkan kira-kira bagaimana guru, orangtua, teman, saudara mendapati orang hebat seperti Habibie. Ingat Presiden kita, Bapak BJ Habibie? Orang sempat meremehkan hasil karyanya tetapi banyak orang tahu bahwa dialah orang hebat di negeri ini yang bisa membuat pesawat terbang. Melalui IPTN, Indonesia berhasil menerbangkan pesawat pertamanya buatan Indonesia sendiri yaitu N-250 Gatotkaca. Bayangkan saja, seorang anak yang ditinggal ayahnya pada usia 14 tahun tetap tegar dan bersemangat. Ibunya senantisa memotivasinya untuk memiliki cita-cita yang tinggi, bekerja keras, dan tetap baik dalam agamanya. Rudi, begitu panggilan akrabnya kemudian melanjutkan ke ITB lalu mendapatkan beasiswa kuliah di Jerman. Nilai-nilainya luar biasa; 9,5 (cum laude) untuk jenjang diplomatnya dan summa cum laude untuk jenjang doktornya. Puncak karir beliau menjadi orang nomer 1 Indonesia dan di Jeman beliau menjadi warga kehormatan. Bagaimana guru Habibie bangga dengan muridnya tersebut.

Anda tentu akan merasa sangat bahagia bisa membantu mereka yang terbatas menjadi teratas karena saya sendiri telah membuktikannya dengan buku saya, MASTER from minder. Ada perasaan gembira ketika mendapati sms dari para pembaca yang begitu antusias untuk bangkit dari keminderan. Mereka begitu bersemangat seolah mendapatkan air segar di tengah kehausan karena terik matahari siang. Ada semacam kilatan di pikirannya bagaikan cahaya terang dalam kegelapan malam. Jalannya jadi semakin kelihatan. Ada pula seorang ibu dengan suaminya yang dalam salah satu acara bedah buku MASTER from minder sampai mengusulkan, “Usul mas, materi bukunya dibuat training atau workshop”. Dia datang sekeluarga dengan suaminya. Hebat lagi, peserta dari Lampung datang untuk menghadiri bedah buku MASTER from minder di Ponorogo.
”Bagus, buku MASTER from minder bagus bagi banyak orang!” Ya, meskipun saya menjelaskan buku MASTER from minder bagus bagi pelajar, mahasiwa, guru, dosen, tidak tergantung jenis kelamin dan status, mereka takkan mengundang saya menjadi pembicara sekarang juga atau mengubungi saya untuk meminta mengisi bedah buku melalui jadibijak@yahoo.com kecuali tersedia bonus yang menggerakkan mereka.
Itulah sebabnya dalam acara MASTER from minder, saya memberikan lebih dari harga tiket acara itu sendiri. Bonus, waktu 60 menit setelah acara untuk sharing dan konsultasi. Dan itulah yang membuat acara MASTER from minder ramai dengan peserta dan antusias penyelenggaranya. Ditambah lagi dengan suplemen setelah acara yang bisa didapatkan kapanpun melalui website pribadi saya www.parimansiregar.blogspot.com dan FB Inspiring Man, bisa berdiskusi melalui chat box.
Saya terkesan dengan semangat pengunjung di website pribadi saya www.parimansiregar.blogspot.com. Mereka meminta saya untuk mengisi seminar, training, bedah buku, dan berbagai acara pengembangan diri untuk mendapatkan pengalaman saya menjadi HRD selama 3,5 tahun lebih di Beastudi Etos Semarang juga pengalaman menjadi nara sumber Mutiara Pagi di Tri Jaya FM Semarang. Pengalaman yang akan berguna bagi para peserta dan siapapun yang senang jika dirinya berhasil. “Mereka hebat, mengirimkan kabar kesuksesannya beberapa waktu kemudian setelah membaca atau mengikuti bedah buku MASTER from minder”. Anda akan tertarik mengikuti trainingnya dan semakin merasa anda percaya diri meraih impian yang anda inginkan. Kuat "Menapaki Hidup, Menggapai Kesuksesan", sebagaimana kesan Koordinator Forum Indonesia, Hendra Sugiantoro dalam kompasiana.com. Anda lebih BERSEMANGAT sekarang untuk sukses!

Wednesday, May 18, 2011

"APA JADINYA"! : Power From Inner (Part 2)


Mulailah dengan “APA JADINYA” bukan “Apa Adanya”, ungkapan yang belakangan familiar dalam beragam materi saya di note, blog, status FB, dan sharing bersama para peserta di forum-forum. Hal sederhana tetapi saya meyakini memiliki dampak yang luar biasa. Virus semangat yang ingin agar semua orang mendapatinya. Semangat melakukan perubahan dari dalam guna melampaui realitas yang ada, “Get your power from your inner”.
Mungkin ada orang-orang yang merasa lahir dengan orangtua yang salah, jenis kelamin yang tidak diinginkan, kondisi keluarga yang apa adanya, dan beragam realitas yang dijadikan sumber ketidaknyamanan. Pengandaian-pengandaian lahir sebagai anak presiden, orang kaya raya, berpostur ideal, dan beragam pengandaian sebagai bentuk penolakan. Belum lagi stempel dari lingkungan yang seolah lekat di jidat, anak tukang bakso, bertubuh pendek, suara cempreng dst.
Realitas-realitas dalam kehidupan yang bagi sebagian orang terkadang dijadikan pemicu permasalahan. Hal yang tidak esensi sekali tetapi seolah ditempatkan sebagai penentu hidup dan mati. Tentulah kita pernah tahu, ada seorang anak yang bunuh diri hanya gara-gara teman-temannya mengejek dia anak tukang bakso. Ada juga mereka yang menjadi pemalu gara-gara dikatakan suaranya cempreng dst.
Sepertinya ada benarnya, “Bukan senjata biologi, bukan pula senjata pemusnah massal yang mematikan tetapi kata-kata negatif”. Hanya dengan kata-kata bisa mendorong orang membunuh dirinya sendiri, masa depannya, masa depan orang lain bahkan membunuh banyak orang. Tepat sekali Rasulullah berpesan, “Berkata baiklah atau diam”. Setiap kata yang keluar haruslah baik karena walaupun hanya kata-kata tetapi bisa membekas selamanya. Semoga kita senantiasa dituntun berkata baik dan menyejukkan.
Masa lalu, itulah realitas, fakta yang tidak mungkin bisa diubah. Masa depan adalah ruang kemungkinan, dimana setiap orang diberi kesempatan yang sama untuk menjadi “apa jadinya”. Lahir dari keluarga tidak melimpah harta adalah fakta tetapi jika mati dalam kondisi menderita karena melarat, itu namanya celaka. Senantiasa ada kemungkinan untuk kebaikan-kebaikan. “Just open your mind, open your heart, and open your hands”, kata-kata mutiara saya yang jadi favorit ketika mengisi training.
Pertama sekali seseorang perlu menyediakan ruang dalam mind (pikirannya) akan adanya hal baru, terbuka heartnya akan kenyataan, dan terbuka tangan (open hands) untuk melakukan perubahan (perbaikan, kerjasama dst). Sekian tahun saya telah membawakan berbagai materi pengembangan diri dan ternyata perubahan mendasar untuk waktu yang lama dimulai dari mind. Sisi diri terdalam seseorang yang harus diubah dimana hal tersebut erat sekali dengan apa yang dia percayai dalam hidup ini (bukan perihal agama). Mereka yang lama berada dan terkondisikan dengan penderitaan mungkin saja meyakini kehidupan ini sebagai penderitaan. Padahal banyak juga hal yang membahagiakan bukan? Ada juga orang yang sekian kali menjalin hubungan, dia seorang wanita tetapi gagal di tengah jalan. Dia katakana bahwa semua laki-laki itu buaya, benarkah demikian? Bapaknya buayakah? Saudaranya buayakah? Penjual cilok keliling buaya juga berarti? Tentulah tidak demikian tetap masih ada ruang kebaikan.
Tebuka hati terkait dengan emosi. Ada perasaan tertentu yang melekat dari peristiwa memang. Sering tentunya mendengar lagu tertentu kemudian teringat sebuah peristiwa dan merasakan perasaan yang berbeda? Melebarkan ruang “apa jadinya” berarti melepaskan emosi-emosi yang tidak menyenangkan lalu menggantinya dengan kebahagiaan-kebahagiaan. Sugesti diri, orang katakan. Apapun istilahnya tetapi emosi itu menular dan menarik emosi yang serupa. Nonton film menyedihkan, ikut merasa terharu, menitihkan air mata. Ada opera di TV, penontonya tertawa, kitanya ikut tertawa. Jangan-jangan tertawanya kita bukan karena tayangannya yang lucu tetapi karena penonton di TV yang sudah dikondisikan pada tertawa, kita secara tidak sadar ikut tertawa? Karena itu, sebelum kebahagiaan benar-benar datang dalam kenyataan, hadirkanlah rasa bahagia dalam hati.
Berikutnya, open your hands, keterbukaan tangan untuk bekerjasama, bersinergi dengan orang lain. Kesempatan terkadang berasal dari teman. Ada orang yang mendapat pekerjaan bagus karena diberitahu informasinya oleh teman tersebut. Rejeki, kesempatan bahkan sampai jodoh pun bisa berasal dari sini. Orangnya terkenal baik, terbuka, komunikatif, dan menyenangkan dalam pergaulan karena itulah dipercayakan orang terbaik yang dia kenal padanya. Ada yang mengalami demikian? Setidaknya berharap demikian? Just open your mind, your heart, and your hands.
Selamat berkarya! Selamat menjadi luar biasa! Selamat berbahagia!

By Pariman Siregar (Penulis Buku MASTER from minder)
http://parimansiregar.blogspot.com/
http://www.quantummotivasi.com/

*) Jika anda merasa tertarik dengan isinya dan ingin menyebarkan ke banyak orang, silahkan cantumkan sumbernya atau link tulisan ini.
**) Ada kesan positif perihal isinya? Pengalaman? Inspirasi? Silahkan sampaikan di kolom comment. Komentar yang terpilih akan disebutkan namanya dalam posting note-note saya berikutnya.
***) Tertarik untuk sharing? Mengundang jadi pembicara seminar, training workshop? Kemungkinan kerja bareng misalnya menulis dll? Silahkan cukup mudah, sampaikan ke inbox FB.