Tuesday, March 23, 2010

Kimia Cinta Rumah Tangga


“Aku nikahkan Fulanah pada Fulan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan sebuah mushab dibayar tunai”

Kalimat seperti di atas tentunya tidak asing kita dengar. Mungkin, seketika membaca kalimat tersebut, terbayanglah detik-detik menegangkan dalam kehidupan. Hari ketika seseorang berada dihadapan para saksi, ada wali, mertua juga calon pasangan tercinta di sana. Penungguan yang sekian lama akhirnya datang juga. Separuh agama itupun benar-benar menjadi nyata.
Bagi wanita, akad pernikahan pada hakikatnya adalah penyerahan perwalian dari orangtua wanita kepada si pria.

Saturday, February 6, 2010

Giving Moment, Pembuka Kelimpahan

“It’s time for me to educate my family and every people.”

Tanggal boleh saja berwarna merah. Akhir pekan sah-sah saja dideklarasikan sebagai hari liburan. Ada waktunya untuk bekerja, ada saatnya untuk diri dimanja-manja. Di saat yang lain merayakankemerdekaansetelah seminggu dalampenjajahan’, dia justru menyediakan waktunya untuk orang lain. Mr. Karnadi, dia menamakan akhir pekannya, “giving moment.”
"Giving moment."

Thursday, January 7, 2010

Monday, December 21, 2009

Ideal dengan Spiritual


Wanita Termahal Maharnya
Adalah dia wanita yang paling mahal maharnya. Hampir-hampir lelaki yang berangkat melamar, pulang dengan tangan hampa. Dijawab lamaran lelaki yang datang padanya, "Sesungguhnya laki-laki sepertimu tidak pantas saya tolak lamarannya tetapi saya tidak akan kawin denganmu." Apakah lelaki yang melamar tadi bukan orang kaya? Justru dia dikenal sebagai orang yang berlimpah hartanya. Apakah lelaki yang datang melamarnya tadi seorang yang tidak berpendidikan? Justru dia dikenal sebagai seorang yang ahli memanah dan menunggang kuda. Apakah fisiknya tidak tampan? Tentulah lelaki tadi seorang yang bagus fisiknya karena yang dilamar adalah seorang janda yang menjadi pujaan para lelaki di tempatnya. Siapakah wanita itu? Dan siapa pula lelaki yang melamarnya? Lalu apa yang menjadi alasan wanita tadi menampik lamaran lelaki tersebut?
Ghumaisho’ itulah nama aslinya, tepatnya Rumaisho’ binti Milhan. Dia adalah seorang wanita dari kaum Anshor yang menerima Islam melalui dakwah Mus’ab bin Umair. Orang-orang lebih mengenal Ghumaisho’ dengan panggilan Ummu Sulaim. Dia hidup menjanda setelah ditinggal mati suaminya, Malik bin Nadhor yang masih musyrik.
Kecerdasan, kecantikan, dan kemuliaan akhlaq yang menjadikan para lelaki tertarik ingin mendekati Ummu Sulaim. ”Lagi pula, sah-sah saja karena dia seorang janda,” begitu kira-kira pikir Zaid bin Sahal atau lebih dikenal dengan sebutan Abu Tholhah. Sebagai seorang yang terpandang, berkecukupan harta, ahli bekuda dan memanah, tentulah lebih dari cukup sebagai modal lamaran. Benar saja, dengan optimisme yang tinggi akan diterima, berangkatlah Abu Tholhah menuju rumah Ummu Sulaim. Setibanya di rumah Ummu Sulaim, disampaikanlah maksud kedatangannya yaitu melamar Ummu Sulaim menjadi pendamping hidupnya.
Betapa heran Abu Tholhah mendengar jawaban dari Ummu Sulaim, ”Sesungguhnya laki-laki sepertimu tidak mungkin ditolak, hanya saja saya tidak boleh menikah dengan orang kafir.” Abu Tholhah mengira ada alasan lain, apakah perkara mahar yang kurang banyak ataukan sudah ada lelaki lain yang telah lebih dulu melamar Ummu Sulaim. "Demi Allah! Apakah yang sesungguhnya yang menghalangi engkau untuk menerima lamaranku, hai Ummu Sulaim? Apakah emas atau perak yang engkau kehendaki?" demikian tanya Abu Tholhah penuh rasa ingin tahu. “Sama sekali tidak. Bukan karena emas dan perak aku menerimamu. Demi Alloh, jika engkau mau masuk Islam maka aku rela menjadi istrimu, dan ke-Islamanmu menjadi mahar bagiku, bukan emas dan perak,” jawab tegas wanita yang juga ibunya Anas bin Malik itu.
Spiritualitas Melampaui Realitas
Abraham Maslow mungkin akan mengangguk-angguk ”aha” jika mengetahui kisah, ”Wanita Termahal Maharnya.” Dia seakan menemukan satu lagi penguatan akan adanya meta-kebutuhan dalam hierarki kebutuhan yang ia cetuskan. Ummu Sulaim menikah dengan pertimbangan spiritual bukan karena ingin kecukupan: sandang-pangan-papan (kebutuhan fisiologis), bukan pula karena ingin mendapatkan keamanan-ketenangan (kebutuhan keamanan), apalagi alasan hanya ingin mendapatkan cinta dari lawan jenis-teman hidup (kebutuhan sosial), lebih-lebih ingin mendapat pujian-penghargaan dari orang lain (kebutuhan penghargaan), tidak pula ingin mendapat kesempatan mengembangkan bakat kewanitaannya (kebutuhan aktualisasi diri).
Apakah berarti Ummu Sulaim tidak membutuhkan sekian kebutuhan tadi? Sisi kemanusiaannya mengakui bahwa dia membutuhkan sekian kebutuhan layaknya wanita lain, ”Sesungguhnya laki-laki sepertimu tidak mungkin ditolak, .....” Tetapi ada sesuatu yang lebih dari itu, kunci untuk mendapatkan sekian kebutuhan yang lain. Kunci itu ada pada kualitas spiritual, begitu kira-kira. Ketika spiritual berbicara maka bukan hierarki lagi yang bekerja. Tidak harus kemudian seseorang mencapai kebutuhan diatasnya dengan memenuhi kebutuhan di bawahnya terlebih dahulu. Mau tidak mau itulah yang menmbuat Maslow menggambar piramida hierarki kebutuhan bukan dengan puncak yang lancip tapi tumpul. Dia mengakui kerja kebutuhan spiritual (meta-kebutuhan) melebihi logikanya.
Hidupnya sederhana tetapi bahagia, disitulah salah satu tanda spiritual yang bekerja. Dalam penggalan kisah Ummu Sulaim, kita bisa temukan bahwa standar spiritual sangatlah tepat menjadi kriteria. Suatu kali Abu Tholhah sempat terlena menikmati keindahan kebun kurma luas miliknya. Burung yang menari kesana kemari dengan siulan merdu sempat membuat terlena hingga dia tertinggal sholat. Serasa sesal yang dalam ditemui Rasulullah SAW, dikatakan semua perihal terlenanya dia, dan tahukah apa yang dilakukan terhadap kebun kurma tadi? Disedekahkan kebun kurma begitu saja kepada Rasulullah untuk digunakan demi agama tanpa rasa khawatir akan kekurangan.
Spiritualitas memang bekerja melampaui realitas. Secara fisik, Abu Tholhah sudah tua dan layak meminta izin untuk tidak berjihad tetapi faktanya, masih saja dia berangkat. Wajar menurut kita seandainya dia tidak ikut berperang karena sudah berjuang sejak bersama Rasulullah dilanjutkan ketika masanya Abu Bakar lalu Umar. Nyatanya, semangat juangnya masih seperti yang dulu. Saat pemerintahan Utsman, dia berangkat berjihad mengarungi lautan dan syahid di tengah lautan dengan wajahnya tiada menampakkan duka dan kelelahan.
Selarasnya Spiritualitas dengan Humanitas
”Seorang perempuan dinikahkan karena empat perkara; hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah perempuan yang bagus agamanya, niscaya engkau akan memperoleh keberuntungan,” demikian Rasulullah menasehatkan. Sudah sewajarnya seseorang memilih pasangan dengan alasan beragam. Manusiawi sekali seseorang melandaskan pada harta, rupa juga bagus tidaknya keturunan. Orang Jawa misalnya, kriteria pasangan haruslah memiliki ’bibit,’ ’bebet,’ dan ’bobot’ yang baik. ’Bibit’ menandakan baiknya keturunan yang nampak dari rupa, penampilan, dan asal-usul. ’Bebet’ menunjukkan latar belakang keluarga. ’Bobot’ lebih pada kekayaan yang dimiliki. Masing-masing kelompok masyarakat mungkin memiliki kriteria yang lain.
Islam tidak mengingkari sisi kemanusiaan. Justru Islam memuliakan kemanusiaan dengan menempatkan dalam posisi yang semestinya. Fitrahnya manusia memilih pasangan setidaknya berdasarkan; hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Dengan agamalah semua sifat kemanusian menjadi kemuliaan. Hanya melandaskan kecantikan bisa jadi kehinaan yang didapatkan. Mendasarkan pada kelimpahan harta mungkin saja malah menjadikan sengsara, hidup diperdaya. Seorang budak perempuan hitam kulitnya, cacat tubuhnya maka dengan kuat agamanya, dialah yang lebih utama.
Keselarasan Islam dengan kemanusiaan menjadikan segalanya ditempatkan seadil-adilnya (semestinya). Datang sebagai agama penyempurna, mengembalikan kemurnian sebagaimana mestinya. Bukankah menikah adalah fitrah? Demikianlah Islam menjadikan pernikahan penuh kemulyaan. Segala yang diberikan menjadi ibadah setelah menikah. Bukankah menikah berarti melengkapi separuh agama? Islam bukan ’anti-tesis’ dari ’kemanusiaan’ jelas terlihat Rasulullah mewanti-wanti barang siapa yang tidak menikah berarti bukan umat beliau karena menikah adalah sunah beliau.
Kesempurnaan Keputusan
Sudah sewajarnya tabiat manusia ingin mendapatkan sesuatu yang sempurna dalam hidupnya termasuk pula dalam berkeluarga. Karena memang manusia berasal dari Yang Maha Sempurna dan akan kembali pada Yang Maha Sempurna. Bukankah kehidupan adalah bagian dari proses menuju ke sana? Buktinya, kita diperintahkan untuk meneladani manusia yang paling sempurna yaitu Muhammad SAW, Kekasih Allah SWT.
Keinginan boleh saja ditentukan oleh manusianya tetapi realitas yang diterima sangat variatif kemungkinannya. Mungkin ada orang yang fisiknya biasa mendapat pasangan rupawannya luar biasa begitu juga sebaliknya. Ada pula orang yang menginkan pasangan yang kaya raya, faktanya malah hidup dengan pasangan yang sederhana. Masih banyak kemungkinan yang bisa ditemukan dalam kehidupan ini. Patutlah kiranya berpegang pada prinsip bahwa ”wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji pula, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula.” *
Prinsip keselarasan senantiasa berjalan. Mungkin ada yang berharap mendapat pasangan seperti Fatimah. Bertanyalah dalam diri sendiri apakah sudah selevel Ali bin Abi Thollib. Terbayangkan pasangan seperti Aisyah tetapi kehidupannya tiada meneladani Rasulullah, tentu hil yang mustahal. Nampaknya akan lebih berpeluang jika mengharapkan keidealan dengan menjadikan diri seideal mungkin.
Lalu, akankah menemukan yang ideal seperti yang diharapkan? Entahlah, yang pasti dengan ikhtiar manusia akan dimudahkan menuju takdirnya. Lagi pula ’rasa ingin’ terkadang lebih pada bisikan nafsu bukan suara Illahi. ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” demikian Allah berfirman dalam QS Al Baqarah: 216. Meminimalkan bisikan keinginan (setan) dengan melandaskan pemilihan pada pertimbangan spiritual. Bukankah itu hikmah dianjurkannya sholat istiqarah terlebih dahulu sebelum membuat keputusan final?

Spiritual Inspirator: Pariman Siregar

Wednesday, November 25, 2009

Bacaan dan Kepribadian

(Dongeng dan Kemajuan Bangsa)
Dongeng sebelum tidur menjadi salah satu faktor penentu kemajuan suatu bangsa,” demikian kira-kira inti dari penelitian David McClelland. Dari tahun 1925-1950, dia mengumpulkan dongeng dan cerita anak mencapai 1300 . Dia kemudian menghubungkan nial-nilai yang disampaikan dalam dongeng dengan tingkat kemajuan ekonomi. Kesimpulannya, cerita-cerita yang mengandung pesan kebutuhan berprestasi (Need of Achievement) berkorelasi positif dengan kemajuan suatu bangsa.
Dalam kesempatan yang lain, McClelland juga membandingkan fenomena kemajuan yang berbeda antara Inggris dan Spanyol. Jika diamati, Inggris lebih maju dibanding Spanyol termasuk pula negara bekas jajahan Inggris. McClelland menemukan bahwa karya-karya sastra yang berkembang di Inggris ketika itu (abad 16) bernuansa kepahlawanan (Need of Achievement) sedangkan Spanyol bernuansa melankolis dan meninabobokkan rakyat.
Saya jadi ingat cerita guru ngaji saya saat menemukan hasil studi David McClelland tersebut. Beliau pernah bertutur kepada kami, para muridnya bahwa suatu kali musuh ingin melakukan penyerbuan terhadap pemerintahan Islam. Disebarlah mata-mata oleh raja guna mengetahui sudah saatnyakah pemerintahan Islam ketika itu diserbu. Sepele indikasinya, yaitu dari obrolan keseharian dan aktifitas para pemudanya.
Pada periode pertama, mata-mata yang disebarkan menemukan seorang anak yang sedang menangis. Si mata-mata merasa heran kemudian ditanyalah anak tersebut, ”Mengapa menangis?” Sambil memegang busur panahnya, anak tersebut menjawab, ”Biasanya saya anak panah saya mengenai dua sasaran, kali ini hanya kena satu sasaran.” Rupanya anak tersebut sedang berlatih memanah. Dia menangis karena merasa kecewa. Biasanya anak panahnya selalu tepat sasaran tetapi saat itu, ada satu anak panah yang meleset dari sasaran. ”Sepertinya, belum waktunya Islam diserbu,” gumam si mata-mata dalam hati.
Bagaimana dengan para pemudanya? Ketika bertemu, para pemuda saling menanyakan jumlah bacaan Al Qur’an dan Sholat malam mereka satu sama lain. ”Saya harus melaporkan kepada raja bahwa Islam masih kuat,” kesimpulan si mata-mata setelah menemukan fakta anak kecil dan perilaku para pemuda. Mata-mata musuh tersebut menganggap bahwa belum saatnya Islam diserang. Bagaimana tidak, seorang anak kecil saja merasa kecewa hanya karena anak panahnya sekali itu tidak mengenai sasaran. Apalagi para pemudanya yang memiliki keyakinan kuat. ”Nilai-nilai kepahlawanan dan keteguhan memegang prinsip agama masih kuat, sia-sia saja jika diserbu sekarang,” begitu kira-kira.
Beberapa periode selanjutnya, dikirim kembali mata-mata untuk mengatahui perkembangan situasi. Sungguh berbeda dengan periode mata-mata pertama. Para pemuda yang ditemui tidak lagi membicarakan tentang jumlah bacaan Al Qur’an termasuk sholat malam. Mereka membicarakan tentang kecantikan para gadis, merdunya suara para biduan, dan aktifitas bersifat duniawi hedonisme. Tanpa pikir panjang si mata-mata melapor pada rajanya. ”Sekarang sudah saatnya penyerbuan dilakukan,” lapor si mata-mata dengan optimisme tinggi mengalahkan kerajaan Islam waktu itu.
Kisah tentang mata-mata tersebut mengingatkan saya akan perjuangan rakyat Aceh. Saya merasa tertarik dengan kegigihan pejuang-pejuang Aceh. Betapa tidak, luarbiasa perjuangan mereka. Laki-lakinya membuat Belanda kocar-kacir, pejuang wanitanya membuat Belanda tidak berdaya. Belanda sepertinya juga sudah putus asa, waktu dan sumber daya habis hanya untuk menaklukkan daerah ’sempit.’ Sampai kemudian pendekatan kultural dilakukan.
Snock Hungronje memata-matai kehidupan penduduk Aceh. ”Jika perjuangan wilayah lain terhenti saat pemimpinnya ditangkap kenapa Aceh tidak?” pertanyaan kunci untuk meanklukkan Aceh. Dia menemukan hubungan kuat antara pemimpin dan ulama yang menjadikan perjuangan Aceh begitu kuat. Mulailah kemudian dia menggunakan politik adu-domba pemimpin dan ulama menggunakan topengnya sebagai ulama.
Secara kultural, Aceh memiliki kebiasaan yang unik dalam mendidik anak mereka. Sempat suatu kali, saya pernah berdiskusi dengan seorang teman dari Aceh. Dia menyampaikan betapa kental kisah-kisah kepahlwanan ditanamkan sejak dari kecil. Sembari mengayuh ayunan, seorang ibu bersholawatan. Seorang ayah menimang-nimang anaknya, meninabobokkan putra-putri tercinta sembari bertutur tentang kepahlawanan dan budi pekerti. Entah apakah kebiasaan seperti itu sekarang ini atau tidak, setidaknya kita memahami cerita dan dongeng-dongeng berpengaruh terhadap mentalitas dan kepribadian.
Kajian-kajian lebih dalam tentang kebudayaan dan kepribadian sebenarnya menjadi bagian dari anthropologi-psikologi. Kajian-kajian anthropologi-psikologi berkembang semenjak bangsa barat melakukan pelayaran mencari dunia baru. Bisa dikatakan awal kemunculan kajian-kajiannya bersifat pragmatis. Artinya, kajian-kajian tentang kebudayaan dan kepribadian suatu suku bangsa bertujuan sebagai jalan mencapai tujuan (imperialisme dan kolonialisme).
Setelah memahami berbagai hal tentang cerita, kepribadian, dan kemajuan bangsa maka mari kita menengok berbagai cerita yang dikonsumsi masyarakat Indonesia ini. Apa saja yang ditampilkan sinetron TV, infotainment, berbagai pemberitaan di media? Belum lagi kemajuan teknologi internet dan ponsel yang menyediakan akses 24 jam berbagai hal. Pertanyaanya;
1. Apakah nilai-nilai yang disampaikan lebih ke arah positif atau negatif?
2. Apakah dampaknya dalam kehidupan anda secara personal juga kehidupan komunal?
Mungkin saja ada yang menganggap uraian di atas hanyalah hal sepele dan tidak perlu dipermasalahkan. Saya menghormatinya dan tidak saya anggap sebagai ketidakpedulian akan fenomena sekitar. Mungkin saja memang perlu perspektif tambahan. Tulisan selanjutnya akan saya kupas tentang pengaruh cerita-cerita di masyarakat dengan kehidupan personal termasuk karir. Tinjauan anthropologi-psikologi, psikologi klinis, psikologi kepribadian, psikoterapi dst.
Mungkin saja ada yang berpegang kukuh prinsip, ”Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Kerja ketidaksadaran kolektif menjadi ketidaksadaran personal berujung pada prasangka negatif terhadap Tuhan. (Bersambung ....)

Diambil dari berbagai sumber, semoga bermanfaat.
Spiritual Inspirator: Pariman Siregar



Tuesday, November 24, 2009

Bidadari Sangat Pemalu


Dia sungguh pemalu, saat bidadari yang lain bercengkrama, dia justru menyendiri. Kulitnya hitam manis, dahinya tinggi, bagian atas matanya berwarna merah, dan bagian bawah matanya berwarna biru. Sifatnya yang pemalu berpadukan dengan taman-taman surga yang indah dan kecantikan para bidadari surga semakin membuat dia spesial. Sudah pasti dia untuk orang yang spesial pula. Siapakah bidadari itu sebenarnya? Dan siapakah yang sedang dia tunggu?
Bagian kali ini bukan maksud saya membicarakan tentang wanita terutama calon pasangan. Bagaimana memilih pasangan (cinta) sudah pernah saya sampaikan secara filosofis dalam tulisan sebelumnya, ”Cinta Sejati, Sejatinya Cinta!?” Saya termasuk orang yang memilih untuk tidak berpacaran sebelum pernikahan. Saya mempunyai alasan tersendiri tentang pilihan tadi. Mereka yang memilih untuk berpacaran pastinya juga memiliki alasan, saya menghormati itu. Dengan demikian, saya tidak ingin memperdebatkan perihal pacaran. Biarlah senior saya yang membuktikan, dengan studinya tentang perbandingan tingkat kualitas pernikahan, antara yang menikah didahului pacaran dengan pernikahan melalui perjodohan (ta’aruf). Sudah tentu kita sepakat bahwa cita-cita yang baik sudah seharusnya dibarengi dengan niat baik dan cara yang terbaik agar hasilnya terbaik pula.
Kembali kepada bidadari yang pemalu tadi. Ketika itu, Rasulullah SAW diajak berkeliling ke taman surga. Beliau merasa keheranan ketika melihat bidadari yang tampak pemalu, menyendiri saat bidadari yang lain bercengkrama. Bertanyalah beliau kepada Jibril yang menjadi guide perjalanan Mi’raj ketika itu, “Wahai Jibril, bidadari siapakah itu?” Jibril kemudian menjelaskan bahwa bidadari yang pemalu tersebut diperuntukkan untuk Umar bin Khaththab. Pesanan Umar, kira-kira begitu.
Jibril menceritakan bahwa suatu hari, Umar membayangkan tentang surga yang Rasulullah ceritakan. Terbersit dalam hati Umar bahwa dia ingin sekali seorang bidadari yang lain daripada yang lain. Bidadari yang dimaksudkan Umar adalah bidadari yang berkulit hitam manis, dahinya tinggi, bagian atas matanya berwarna merah, dan bagian bawah matanya berwarna biru. Tidak hanya sifat fisik yang digambarkan tetapi juga kepribadian si bidadari yaitu memiliki sifat sangat pemalu. “Karena sahabatmu itu selalu memenuhi kehendak Allah SWT, maka seketika itu pula, Allah SWT menjadikan seorang bidadari untuknya sesuai dengan apa yang dikehendaki hatinya,” begitu tutur Jibril pada Rasulullah SAW
Saya jadi ingat pengalaman dari seorang guru, beliau mengakui selama ini sepertinya kurang detail dalam menggambarkan tujuan. “Dapet mobil sih tetapi mobilnya jelek (tidak sebagus yang diinginkan),” begitu kira-kira kata beliau. Beliau termasuk guru yang baik dan banyak berbagi pengalaman dengan para muridnya. Suatu kali kami berdiskusi tentang pentingnya visualisasi, kejelasan impian. Beliau kemudian mengakui boleh jadi selama ini visualisasi yang beliau lakukan kurang lengkap. Sempat setelah beliau berumahtangga, bercita-cita suatu hari akan memiliki mobil. Kenyataannya sekarang memang sudah memiliki mobil tetapi sederhana sekali. Keadaanya sungguh berbeda dengan sahabat beliau satu kampus dulu yang juga sama-sama memiliki impian. Dia memiliki mobil sesuai gambaran detail yang diimpikan bahkan jumlahnya delapan.
Kejelasan impian nampaknya menentukan keberhasilan. Ada sebuah penelitian di Yale University tahun 1953 tentang kejelasan cita-cita hubungannya dengan kesuksesan di masa depan. Sejumlah mahasiswa tingkat akhir disurvei waktu itu. Dari survei yang dilakukan diketahui bahwa hanya sekitar 3% mahasiswa yang memiliki cita-cita yang jelas, mencatatnya, dan menggambarkan dalam rencana-rencana. Setelah kira-kira 20 tahun, dilihatlah kondisi keuangan dan sosial kemasyarakatan para subyek penelitian. Ternyata, mereka yang memiliki cita-cita yang jelas, tertulis, dan diikuti perencanaan-perencanaan jauh lebih berhasil daripada 97% mahasiswa yang lain. Kejelasan cita-cita, dituliskan, dan diikuti perencanaan-perencanaan menjadi kunci keberhasilan.
Tuhan tidak pernah salah dalam memberikan segala sesuatu kepada hamba-Nya. Jika pun seseorang menerima sesuatu tetapi tidak sesuai keinginan maka alangkah lebih bijak menengok ke dalam. Bisa jadi karena cita-cita belum jelas dan niat hati belum ikhlas. ”Tengoklah ke dalam sebelum bicara, singkirkan debu yang masih melekat,” begitulah bait lagunya Ebit. Kebersihan hati menentukan kemampuan visualisasi mimpi. Penyerahan diri total menentukan cita-cita berhasil atau gagal. Belajar dari kisah Umar, nyatanya Allah mengabulkan seketika itu juga bersitan hati Umar. Bidadari pemalu persis sebagaimana yang dia maksudkan. “Karena sahabatmu itu selalu memenuhi kehendak Allah SWT, maka seketika itu pula, Allah SWT menjadikan seorang bidadari untuknya sesuai dengan apa yang dikehendaki hatinya.”
Nah, mulai sekarang sudah saatnya punya kejelasan impian. Detailkan seakan benar-benar sudah menjadi kenyataan. Seperti para para sahabat yang berkobar semangat setelah membayangkan keindahan surga ditengah berkecamuknya perang. Bau harum surga sudah diciumnya, bidadari bermata jeli sudah melambaikan tangan menanti, dan nyata mereka meraih semua mimpi tadi. Buktinya, tubuh mereka berbau harum kasturi. Mulai sekarang merapatkan segala tujuan untuk penghambaan kepada Tuhan, Allah SWT.

-->
Spiritual Inspirator: Pariman Siregar
jadibijak@yahoo.com



Tuesday, November 17, 2009

Mengukir Mimpi di Gunung Fuji


(Persahabatan dan Impian)
“Akhi, masih ingat impian kita?” tanya seorang sahabat seperjuangan yang lama tidak bertemu. Sontak pikiran saya melayang saat masa-masa semester awal kuliah. ”Jangan-jangan sudah lupa, ini. Impian bersama angkatan kita, 2004?” sahut dia merangseng, tidak sabaran.
Entah kenapa pagi itu, ingin rasanya saya menelpon sahabat-sahabat dekat, Etoser Semarang. Tiga tahun mendapatkan uang saku dan pengembangan diri setiap pekannya. Tidak terasa hampir tiga tahun pula tidak bertatap muka. Kangen akan saat kebersamaan walaupun dulu sempat ada juga ego-egoan tetapi sekarang sudah berubah menjadi kenangan. Ego-egoan itu sudah menjadi garam yang menjadikan masa-masa itu kenangan yang indah untuk diceritakan.
”Saya masih ingat, dong. Janjian nge-teh kita, kan?” sahut saya sambil menunggu yang dimaksudkannya. ”Nge-teh? Kita kan pernah berkomitmen bersama bahwa kita akan bereuni di Jepang tahun 2015,” dia menjelaskan dengan sedikit mengembalikan ingatan saya. ”Iya, maksud saya, kita akan bereuni, nge-teh bersama sambil menikmati indahnya Gunung Fuji,” akhirnya tergambar jelas di kepala saya impian yang dimaksudkan.
Kami bertuju belas -- adi, nuri, dhani, dewi, fura, imron, iin, lukman, krisna, alfin, fiah, siti, umay, manto, trimo, widya, dan saya sendiri—bisa dikatakan sebagai orang-orang yang memiliki semangat melampaui keadaan kami waktu itu. Bagi kami, semangat adalah segala-galanya karena tanpa itu, kami mungkin tidak akan bisa seperti sekarang. Harapan itulah nyawa yang kami miliki, yang menjadi energi untuk menjalani hidup dan mengisinya dengan prestasi. Lihat saja mereka yang tidak memiliki harapan. Mereka memilih untuk mengakhiri kehidupan, ada yang putus harapan lalu bunuh diri pula.
”Saya suatu saat nanti akan pergi ke Jerman, ke luar negeri.” Impian itu masih tersimpan dalam buku kecil saya. Impian mestilah disampaikan pada orang lain, setidaknya akan memberikan inspirasi lebih-lebih do’a. Tuhan punya caranya sendiri untuk menghantarkan seorang hamba menuju maqomnya (impian). Tidak disangka, tidak dinyana, Nuri yang ternyata lebih dulu berangkat ke Jerman. Beberapa bulan dia berada di sana, luar biasa.
Nuri hanyalah seorang gadis yang mungkin orangtuanya saja tidak membayangkan anaknya akan pergi ke Jerman. ”Jerman itu mana juga tidak tahu.” Apa boleh buat, mau membekali anaknya harta, keseharian saja hidup sederhana. Ilmu yang tinggi, orangtua bukan lulusan perguruan tinggi. Walaupun hanya bisa mendo’akan dan memberi ridho, ternyata justru itu yang menjadi pembukan jalan. Jerman sudah dijelajahi, sekarang juga sudah bekerja di Dinas Kesehatan Pusat, Jakarta.
Lain dengan Nuri yang menyambangi Jerman, giliran Fiah yang menyusul ke Thailand. Bendera Etoser (panggilan bagi kami) sudah tertancapkan di Jerman dan Negeri Gajah Putih. Semangat-semangat pun semakin berkobar kembali. Iri, terus terang tetapi bukan pada orangnya, iri pada prestasinya. Boleh kayaknya,ya? Lupa haditsnya. Banyak jika disebutin satu-persatu prestasi masing-masing. Jika standarnya ke Luar Negeri baru dua, Nuri dan Fi’ah. ”Giliran saya yang nyusul. Minta do’anya,ya.” :-)
”Sebelum lulus mesti nulis buku,” semangat orang yang akan menyusul ke luar negeri (saya sendiri). Alhamdulillah, Allah memberikan jalan. Tanggal 18 Juli 2009, tepat seminggu setelah hari ulang tahun (walaupun saya sendiri tidak merayakan ulang tahun) dikabari dari penerbit jika naskah saya diterima. Tuhan senantiasa membuktikan Kemahabesarannya.
Bakal menjadi novel sepertinya perjalanan ketujuhbelas etoser tadi. Menikmati teh asli Jepang sambil menikmati putihnya salju yang nampak dari kejauhan. Dinginnya pagi terhangatkan oleh keceriaan anak-anak kami yang berlarian ke sana kemarin. Tiada beban, yang ada hanya kebahagiaan. Bergantian menceritakan perjalanan hidup selama ini, mengenang kembali kekonyolan saat pembinaan. Lucu sepertinya, bakal jadi bahan cerita yang dulunya telatan, suka ijin. Barangkali telatan sepintas dari luar tetapi soal impian dia yang melejit duluan. Dulu sih malu-malu tetapi saat reuni sudah memiliki perusahaan, rumah sakit, rumah terapi sendiri. Mari kita saling menjaga nyala mimpi itu sampai waktunya tiba.

-->
Ditulis di pagi yang penuh inspirasi
dengan sepenuh hati
ditemani musik relaksasi

-->
Pariman Siregar