Saturday, October 31, 2009

Belajar Menjadi Masternya Para Guru

By P-Man: Inspiring Man

-->
“Nak sekolahlah yang rajin agar kelak nanti kamu bisa menjadi guru,” itulah nasehat orangtua saya waktu saya masih duduk di sekolah dasar. Entahlah, saya sendiri juga tidak tahu apakah minat dan bakat saya memang menjadi guru. Paling tidak dengan nasehat tersebut menjadikan saya untuk terus bersemangat dalam belajar, apapun itu. Lagian, guru yang bagaimana yang dimaksudkan bapak dan ibu, saya juga belum tahu.
Seiring perjalanan hingga kuliah, barulah saya memahami bahwa guru yang dimaksud bukan hanya status tetapi juga profesi. Menjadi guru SD, SMP, SMA, dosen, pengajar adalah status tetapi berbagi dan memberi ilmu kepada orang lain adalah profesi. Guru berarti menyampaikan ilmu sekaligus memberikan keteladanan bagi orang lain dalam berbagai aspek. Dalam istilah Jawa ada peribahasa, Guru; digugu lan ditiru. Bukan hanya bisa berteori tetapi juga memberi bukti, bukan OD bahasa gaulnya (omong doang).
Semenjak kepemahaman itu, saya menjadi tambah syukur karena aktifitas yang diterjuni selama ini sudah mencakup keduanya:
  1. Saat semester awal kuliah sempat menjadi guru les private, membimbing berbagai pelajaran SMP. Berangkat sore, pulang malam dengan motor pinjaman berangkat seminggu 2 kali. Gajinya cukup untuk ganti bensin dan membeli lauk (karena dibawain beras dari rumah untuk masak sendiri). Gini-gini juga bisa masak sayur untuk diri sendiri, lho. Keringat sendiri lebih enak dibanding keringat orang lain, katanya. Setidak enak-enaknya rasa masakan sendiri habis juga, masak mau protes.
  2. Sempat menjadi guru TPQ yang mengajari anak-anak membaca Al Qur’an. Aktifitas setelah kuliah di sore hari, membimbing anak-anak yang super aktif. Maklum gurunya terbatas, satu persatu adik-adik yang masih umuran TK dan SD diminta membaca dengan disemak oleh gurunya. Bisa dibayangin, anak-anak lain pada lari kesana-kemari bahkan ada yang berkelahi. Walau masuk jurusan psikologi karena masih amatiran, berbagai teori buku juga tidak mempan.
-->
Pernah juga menjadi pengajar bimbingan kreatif anak-anak (Bikres di Asrama Etos). Membimbing 60 anak dari beberapa SD di sekitar asrama mulai keberanian bermimpi, mencoba, berekspresi untuk mengoptimalkan berbagai potensi kecerdasan yang mereka miliki.
  • Narasumber di Mutiara Pagi Tri Jaya 89,8 FM Semarang. Pengalaman yang mengesankan berbagi dengan orang lain. Berangkat setelah subuhan dengan semangat pagi untuk memberi inspirasi. Menantang dinginya pagi bahkan pernah juga melawan gerimis (padahal alergi ama gerimis) tapi semuanya bisa menjadi inspirasi. ”Menatang diri sendiri,” itulah tema terinspirasi dari pengalaman tadi. Beberapa tema lain yang sempat disampaikan; Seni Memotivasi Diri dan Orang Lain, Bijaksana Memahami Tanda dan Simbol, Kecerdasan Sosial, Rekayasa Diri dan Sosial, Mengatasi Stres dan Kecemasan, Berubah dan Menang, Mengembalikan Hubungan yang Retak, The Power of Positive Affirmation, Future Anticipation, Sukses dalam Segala Keterbatasan, Energi itu adalah Cinta, Akhirnya Cinta itupun Menyejarah dan Menjadi Peradaban, dll. Terima kasih buat mbak Indah yang membantu saya untuk berbagi dengan profesional muda Tri Jaya Semarang.
  • Direktur sekaligus trainer di Quantum Motivation Center. Bersama QMC sudah mengisi ratusan kali untuk tingkat usia SD, SMP, SMA juga. Dedikasi untuk terus berbagi dan menginspirasi terus dikembangkan salah satunya dengan menulis buku pengembangan diri yang bertemakan sukses dalam segala keterbatasan (ditunggu aja, ya).
    Insya Allah akan saya bagikan terus pada pembaca, jika ada yang mau sharing saya persilahkan kirim email. Udah tahu email saya kan? Bisa dilihat dibagian bawah posting. Nah, untuk bagian akhir dari kesempatan kali ini akan saya tampilkan pengalaman ngisi di beberapa tempat yang masih terkam dalam buku catatan saya. Saya sampaikan terima kasih atas kesempatan sharingnya.
    Jum’at, 30 Mei 2008
    ”Waktu adalah pedang,” pepatah Arab mengatakan demikian. Kesempatan yang spesial kali ini adalah berbagi dengan teman-teman di Fakultas Peternakan.
  • -->Penyampaian materi dilanjutkan sharing. Setelah berbagi dengan teman-teman di Fapet kemudian meluncur ke Bizz4Kids (Sekolah Bisnis untuk Anak dan Remaja), jadi trainer di sana. Terima kasih buat Rohis An Nahl atas kesempatan yang diberikan. Tetap semangat dalam menyebarkan kebaikan. (Beberapa aktifitas lain di bulan Mei tidak terekam dalam buku catatan).
    Sabtu, 14 Juni 2008
    ”Menjadi profesional itu sulit tetapi bukan berarti tidak mungkin,” menyemangati shabat seperjuangan di Fakultas Kesehatan Masyarakat. Emang sih, terkadang banyak pemakluman dengan berbagai kesibukan. ”Banyak amanah malah menjadi tidak amanah,” komentar negatif terhadap para pegiat organisasi di kampus. Saatnya kemudian mentransformasi menjadi mahasiswa-muslim-profesional. Tema ”Menjadi Mahasiswa Muslim Profesional” diangkat oleh temen-temen Gamais, FKM untuk menyemangati para anggotanya. Moga bertambah maju sekarang. Bagaimana perjalanannya sampai sekarang? Salam untuk temen-temen di FKM, ya.
    Jum’at, 11 Juli 2008
    BEM Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan menggagas pengembangan diri untuk para mahasiswa dengan LKMMnya. Kebagian materi pembukaan, deh. Sore hampir magrib baru naik panggung (ngisi materi maksudnya, soalnya tidak ada panggung). Diawali dengan simulasi autosugesti yang bikin pada heran. (Simulasi apaan?......Tu udah heran, kan?). Ada pokoknya. Rame, menyenangkan, dan luarbiasa pesertanya. Terima kasih buat temen-temen BEM FPIK, juga adikku tercinta yang mengantar dan bagian dokumentasi di belakang. Oh iya, bertepatan dengan hari ulang tahun saya. Alhamdulillah walaupun tidak bisa membagi kue tetapi bisa berbagi ilmu. Hadiah terindah bagi saya bisa berbagi.
    Ngomong-ngomong udah cukup siang ternyata. Mau persiapan expo di kampus Psikologi, berbagi di LKMM Pra Dasar D3 Teknik dilanjut sorenya ada meeting dengan temen-temen. Beberapa agenda yang belum tersampaikan: Ahad, 24 Agustus 2008; Kamis, 28 Agustus 2008; Ahad, 14 September 2008; Sabtu, 28 September 2008). Bulan-bulan puasa dan mendekati lebaran, sempat berbagi di SMA 1 Kebumen ditemani Belalang Tempur (motor Honda Prima tahun ‘91 tercinta…he2..).

    Hidup lebih berarti dengan berbagi dan memberi
    jadibijak@yahoo.com

    Thursday, October 29, 2009

    Merajut Mimpi di Gedong Songo

    (Outbound Keakraban Psikologi Angkatan 2007)
    (by. jadibijak@yahoo.com)
    Bagaimana mereka berbicara tentang saya? Adik-adikku tercinta, angkatan misalnya mengatakan bahwa P-Man itu; baik hati, ramah, dan banyak wawasan. Ya, masing-masing orang memiliki pendapat yang beragam selaras dengan kesan yang diterimanya selama berinteraksi. Saya belajar pada Abu Bakar ketika seseorang mengatakan perihal dirinya. ”Ya Allah, tetapkanlah kebaikan-kebaikan yang mereka katakan padaku. Jagalah anggapan mereka. Hamba berlindung dari hal-hal yang tidak baik,” begitulah kira-kira yang dikatakan Abu Bakar seraya memohon kepada Allah SWT.
    Udah sekian waktu, saya tidak ingat tepatnya kapan outbound keakraban angkatan itu dilaksanakan. Beberapa dari adik-adik ketika itu menghubungi saya dan berdiskusi tentang angkatan mereka. Dari sharing kemudian muncul ide untuk menjadikan angkatan mereka sebagai angkatan yang mantap kekompakannya. Bisa dibayanginlah, kuliah paling tidak 4 tahun, tiap hari bertemu, sama-sama datang dari jauh untuk tujuan yang sama yaitu meraih cita demi masa depan. Kenapa tidak ngompakin diri agar bisa saling sokong dalam merajut mimpi-mimpi dan asa. Begitulah kira-kira semangat yang mendorong kegiatan fun sekaligus mengakrabkan.
    Kerja layaknya detektif pun dilakukan. Sharing berbagai hal menyangkut keadaan angkatan. Dari berbagai perspektif tersebut kemudian diramu dalam bentuk outbound. Kegiatan keluar sekaligus refreshing, dipadukan dengan berbagai games, ada makan bersama, sharing, dan curhat. Gedong Songo menjadi pilihan tempat outbound. Acara dihandle saya dan beberapa teman-teman. (Pengen minta dokumentasinya, sebenarnya).
    Secara keseluruhan menyenangkan. Semoga menjadi angkatan yang kompak, menjadi kebanggaan kampus kita, dan jadi contoh yang lain. Pokoknya, 10 atau 20 tahun lagi pas ketemu, saya ingin mendengar mereka mengatakan, ”Thanks Mas P-Man, ya atas motivasinya di outbound dulu. Sekarang impian-impian kami udah terwujud, Mas.” Saya juga ikut bangga dan senang.
    Oya, thanks atas segala kesan terhadap saya. Jadi tambah amanah dari Allah SWT ini ceritanya. Bagaimana tidak, semua kesan harus dijaga baik-baik. Padahal kata orang, ”Istiqomah” itu kata mudah diucapkan tetapi cukup berat untuk dilaksanakan. Minta do'anya agar tetap istiqomah, ya. Ada yang hampir lupa, ”Kertas kesannya masih disimpenkan? Nah, itu juga amanah (setidaknya masukan juga harapan) dari temen-temen, lho.” Silahkan mewajibkan diri untuk menjaga amanah, ya.
    Beberapa kesan tentang saya, amanah ding;
    1. Baik hati, ramah, banyak wawasan, perspektif luas, nasionalis, bijaksana
    2. Berwibawa, ramah, cerdas, sholeh, tahu apa yang dimau (orang lain), semangat, murah senyum
    3. Nama kartu (pinter dan ide briliant), sabar, guruku bangetlah (aku jadi tersanjung)
    4. Pak guru, ganteng (amin, ya Rabb), asisten lovely dosen (he...he...), apikan (harus itu)
    5. Lembut (do'akan tetap lembut, ya), rajin menabung (emang alumni pramuka, kok. Ngamalin dasa darma pramuka. he..he...)
    6. Lurus banget (maksudnya alim, gitu ya), senyumnya gak kuat banget (katanya sih pedang terhunus bisa jatuh dengan senyuman yang tulus. Lagi belajar mraktekin)
    7. Terima kasih atas nasehatnya selama ini. Senior teladan. Semangat di KeSPPI (tempat penggemblengan diri selama di Psikologi, tu).
    8. Dewasa, belain kami. Thanks, ya mas. Udah bantu kami. Sukses !!! (Thanks juga buat adik-adikku tercinta, jangan sungkan untuk berdiskusi atau kontak ama aq. he..he...).
    Ditulis di kamar latai dua sembari sesekali melihat ke jendela (kebun yang hijau, sering melihat tupai di pohon pisang dekat cendela). Ditemani Ayushita yang setia melantunkan lagu ”Tuhan Beri Aku Cinta.” Jadi inget saat ngisi di Tri Jaya temanya ”Energi itu adalah Cinta,” artinya semuanya coba saya tulis dengan cinta . :-)


    ”Aku ingin bercerita tentang kenangan-kenangan ketika outboud itu.
    Entah 10 atau 20 tahun lagi saat kita bereuni.
    Tetap semangat merajut mimpi-mimpi kalian."
    P-Man: Teman saat mata kuliah Psikologi kepribadian I (mendalami je, he...he...Malu juga makanya duduknya lebih sering di belakang. Jangan bilang siapa-siapa, ya. He...he..Rahasia).


    Wednesday, October 21, 2009

    Personal Profile


    PERSONAL INFORMATION
    Full Name : Pariman
    Call Name : P-Man (Inspiring Man)
    Place, date of birth : Sragen, July 11, 1985
    Age : 24 year
    Gender : Male
    Marital Status : Single
    Nationality : Indonesian
    Religion : Moslem

    CONTACT INFORMATION

    Contact Address : Ngawen, Majenang, Sukodono, Sragen, Central Java
    E-mail Address : jadibijak@yahoo.com

    FORMAL EDUCATION

    1992 – 1998 :Elementary, SDN III Majenang
    1998 – 2001 : Junior High, SMPN 1 Sukodono
    2001 – 2004 : Senior High, SMUN I Sragen
    2004 – Now : Psychology, Diponegoro University of Semarang

    WORK EXPERIENCES


    2006-Now : Motivation & Leadership Trainer for Teenager & College Student
    2007 : Paper Presenter of The 2nd National Congress API (Islamic Psychological Association), Semarang
    2007-now : Director of Institutional Training & Motivation for Teenagers and College Students QMC (Quantum Motivation Center), Semarang
    2007-now : Coach of Scholarship College Students Beastudi Etos Dompet Dhuafa Republika, Semarang
    2008 : Trainer of Business School for Kids and Teenagers BIZZ4KIDS, Semarang
    2008 : Paper Presenter of The National Developmental Psychology Congress, Jakarta*
    2008-2009 : The Researcher Assistant of Non-Govermental Organization KRISIS (Kajian Strategis Demokrasi dan Sosial), Semarang
    2008- Now : Speaker of Motivation & Inspiration Program MUTIARA PAGI Tri Jaya 89,8 Fm, Semarang

    SHORT COURCE AND TRAINING

    2004 : Participant of Marketing Training by Indonesia Marketing Association (IMA-Undip), Semarang
    2004-2007 : Training of skill upgrading, once a week (three years program) Beastudi Etos DD Republika
    2004 : Participant of IMAMUPSI Development Training (Islamic Psychology), Semarang
    2005 : Participant of Temu Etos Nasional 2004 in Parung, Bogor (Enterpreneurship Training and Low Cost Education Workshop during one week)
    2005 : Participant of National Consensus IMAMUPSI (Moslem Student Union of Islamic Psychology), Malang
    2006 : Participant of Emotional & Spiritual Question Seminar by BEM Teknik, Undip
    2006 : Participant of Training for Trainer by Beastudi Etos, Semarang
    2006 : Participant of Training for Trainer by BEM Psikologi, Undip
    2006 : Participant of The 1st ARUPS Congress (Asean Regional Union Psychologycal Societies), Jakarta
    2006 : Participant of Green Leaf (School of Business), Semarang
    2007 : Participant of Research Training by BEM MIPA, undip
    2007 : Participant of The 2nd National Congress API (Islamic Psychological Association), Semarang
    2007 : Participant of Pelatihan Pemuda Sadar Informatika by Kementerian Pemuda & Olah Raga, Jakarta
    2008 : Participant of National Congress MITI-M (Masyarakat Ilmuan & Teknolog Indonesia) Mahasiswa, Semarang
    2008 : Participant of Training for Trainer by BIZZ4KIDS (Business School for Kids & Teenager), Semarang
    2008 : Participant of Sampoerna Best Student Visit 2008, Surabaya
    2008 : Participant of Temu Etos Nasional 2007 in Parung, Bogor
    2009 : Participant of National Congress MITI-M (Masyarakat Ilmuan & Teknolog Indonesia) Mahasiswa, Jakarta
    2009 : Participant of Regional Meeting MITI-M (Masyarakat Ilmuan & Teknolog Indonesia) Mahasiswa, Semarang

    ORGANIZATIONAL EXPERIENCES

    2004-2007 : Beastudi Etos DD Republika Receiver, Semarang Region
    2004-Now : Head of Psychology College Student 2004, Undip
    2005-2007 : Head of Student Activity Unit Group Study of Islamic Psychology KeSPPI (Kelompok Studi Pengembangan Psikologi Islami), Undip
    2007-Now : The Comitte of Student Activity Unit Group Study of Islamic Psychology KeSPPI (Kelompok Studi Pengembangan Psikologi Islami), Undip
    2007 : Head of Student Activity Unit R&B (Research & Business), UNDIP
    2007 : Head of Sragen-Regency Community College Student HMPDS (Himpunan Mahasiswa Putra Daerah Sragen) Health Devition, Sragen
    2007-Now : Head of Forum Komunikasi Alumni Pelatihan Pemuda Sadar Informatika, Kementerian Pemuda & Olah raga
    2009 : Foreign Relation of MITI-Mahasiswa (Masyarakat Ilmuan dan Teknolog Indonesia)-Mahasiswa

    SKILLS

    1. Feasibility Study:
    a. Industrial & Organizational Psychology: Assement Organizational Problem
    b. Clinical & Developmental Psychology: Assement Human Problem
    2. Desain Training Curriculum & Individual Therapy
    3. Operator of Motivation Training in door & out door

    HEALTH


    Height : 1.60 m
    Weight : 50 kg
    Have No Serious Trouble Health

    I declare the details stated to be true and complete
    Semarang, July, 15, 2009


    Pariman

    This entry was posted in

    Tuesday, September 8, 2009

    Dari Peta Menjadi Nyata

    by P-Man: Inspiring Man
    Motivator dan Penulis Buku


    Berawal dari Imajinasi
    “Hai, lihatlah ke seberang sana, kita telah menemukan India,” demikian kira-kira teriak kegirangan Columbus melihat daerah baru jauh di seberang lautan. Ekspedisinya memiliki misi menemukan daerah sumber gandum yaitu India. Bermodalkan peta dan kompas, diarunginya lautan, menantang ombak dan badai. Entah sudah sampai dimana, akhirnya mereka menemukan sebuah daerah baru. Dikirnya mereka sudah sampai di India (daerah Asia). Setelah mencermati peta yang di bawa, barulah dia sadar jika ternyata tempat tersebut bukan India tetapi sebuah tempat baru (di Benua Amerika).


    Demikian kira-kira gambaran kehidupan kita. Masing-masing orang memiliki pulau impian, tempat terindah yang diharapkan. Pulau impian tersebut tentunya harus definitif, jelas. Diperlukan Peta yang akan menuntun langkah-langkah mencapainya. Perlu kapal (sarana) mencapainya. Perlu awak kapal berupa orang-orang yang bersinergi, saling mendukung demi mencapai pulau impian.

    Ringkasnya begini, jika sekarang Anda menjadi mahasiswa:
    a. Profil diri seperti apa yang anda miliki ketika diwisuda?(akademis, sosial, keagamaan, softskill) b. Bagaimana langkah-langkah mewujudkannya?(kualitas dan kuantitas belajar, organisasi dan kegiatan yang diikuti, targetan tiap semester dan tiap harinya) c. Apa saja yang anda perlukan untuk mencapainya? d. Pola-pola atau tindakan apa yang harus anda biasakan mulai dari sekarang?(cara berpikir dan bertindak, membangun kebiasaan positif )
    Segalanya diciptakan dua kali
    “Segalanya diciptakan dua kali,” Stephen R.Covey dalam 7Habitnya. Kita adalah arsitek bagi mimpi dan cita-cita yang kita bangun. Awalnya semua dari imajinasi, bayangan, harapan kemudian diwujudkan dalam perencanaan, dilakukan secara tahapan, melakukan pembiasaan hingga akhirnya menjadi kenyataan. Sebagaimana para arsitek yang membuat blue print rumahnya dulu baru kemudian menyiapkan bahan bangunan yang dibutuhkan lalu membangunya sesuai rancangan gambar. Meraka yang tidak memiliki “peta kehidupan” atau blue print layaknya tukang bangunan yang membangun rumah tanpa sketsa dulu. Jangan salahkan orang lain jika ternyata sudah capek menumpuk bata ternyata bukan rumah yang terbentuk tetapi kandang ternak. Sungguh sedih.

    Berantakan Akibat Tanpa Perencanaan
    Apa yang akan Anda lalukan andai saja Anda sopir taxi yang bertemu dengan seorang penumpang yang meminta Anda mengantarnya. ”Mau kemana, mas?” sebagai seorang sopir biasanya menanyakan tujuan. Namun pemesan tadi ternyata tidak tahu tujuannya, “Pokoknya saya diantar.” Anda sebagai sopir tentunya juga bingung mau diantar kemana penumpang yang tujuannya tidak jelas itu. Akhirnya kepikiran, “Emang punya uang berapa, mas?” Ajak saja muter-muter sampai uangnya habis lalu suruh penumpang tadi turun, beres juga akhirnya.

    Emm...Alangkah malangnya jika Anda adalah penumpang itu. Sudah capek-capek ngeluarin tenaga, uang, ikut berbagai kegiatan tetapi karena tidak punya tujuan hidup yang jelas akhirnya hanya dapat capek. Semua pengorbanan sia-sia, tidak produktif.

    Anda adalah penumpang yang termangu-mangu di seberang jalan. Pertanyaannya; Sudah tahu jelas alamat (cita-cita) yang dituju? Jalan (tahapan) yang harus dilalui? Jangan sampai setelah lama menaiki taxi (jurusan kuliah, pekerjaan), Anda baru sadar bahwa sebenarnya Anda ingin pergi ke tempat lain (jurusan lain). Anda sekedar kuliah, kantin, kos, mall tanpa tujuan tiba-tiba nantinya baru sadar ternyata hanya ikut-ikutan. Ada sopir taxi, angkot (pergaulan, organisasi) yang iseng, muter-muter sana sini tapi tidak sampai tujuan.

    Pergaulan dan Percepatan
    ”Siapa yang bergaul dengan penjual minyak wangi, dia akan tertular wanginya. Siapa yang bergaul dengan pande besi, dia akan terkena apinya.” Demikian nasehat bijak dalam pergaulan. Ada ungkapan lain, ”Bagaimana Anda di masa depan tergantung 10 teman dekat yang Anda miliki.” Sukses atau tidak, kepribadian, karakter dst tergantung dengan siapa pergaulan yang dilakukan.

    Jika menghapkan diri menjadi public speaker tentunya bergaul dengan orang-orang ekstrovert, memilih komunitas yang bisa meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum. Di sanalah percepatan diri dilakukan. Mendekatlah pada sumbernya. Banyak bergaul, berinteraksi, berdiskusi, bekerja bersama-sama dengan berbagai hal yang mendukung tercapainya cita-cita.

    ”Ojo cedhak kebo gupak,” pepatah Jawa (jangan dekat-dekat kerbau kotor). Artinya meninggalkan pergaulan yang tidak produktif, tidak jelas juntrungannya.
    FB: Inspiring Man

    Friday, August 21, 2009

    Menabur Cinta Hakiki di Bulan Suci

    P-Man: Inspiring Man
    jadibijak@yahoo.com

    Badar dan Kemenangan Ramadhan

    “Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi, ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah untuk selamanya setelah hari ini,” demikianlah do’a yang tak henti-hentinya Rasulullah SAW panjatkan ketika pertempuran Badar semakin berkobar. Bulan Ramadhan tahun 2 hijriah pertempuran Badar terjadi. Pertempuran antara 313 atau 317 pasukan muslimin melawan mobilisasi pasukan Qurays yang mencapai 1000 orang jumlahnya. Bukan hanya kalah jumlah tetapi juga peralatan perang. Bagaimana tidak, kaum Muslimin hanya membawa 2 kuda, 70 ekor onta praktis dimana 1 onta dinaiki 2 atau 3 orang secara bergantian. Terbayangkan panasnya gurun pasir saat sebagian yang lain berjalan kaki. Pertempuran melawan pasukan Qurays yang awalnya berjumlah 1300 orang, 100 kuda, 600 baju besi, dan onta yang lebih banyak jumlahnya dari yang dimiliki pasukan Muslimin.

    Wajar saja kemudian Rasulullah pun sejak awal tak henti-hentinya memanjatkan do’a, memohon pertolongan Allah SWT, “Ya Allah, penuhilah bagiku apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya, Allah, sesungguhnya aku mengingatkan-Mu akan sumpah dan janji-Mu.” Nampaknya sebelum pertempuran fisik benar-benar dimulai, terjadi pula pertempuran do’a. Sebelum perang berkecamuk, Abu Jahl seraya berkata, ”Ya Allah, apakah kami harus memutus tali kekerabatan dan menanggung akibat yang belum kami ketahui secara pasti? Maka hancurkanlah dia pada pagi ini. Ya Allah, siapakah yang lebih Engkau cintai dan lebih Engaku ridhai di sisi-Mu, maka berilah ia kemenangan pada hari ini.”

    Kemenangan akhirnya jatuh pada pasukan Muslimin. Sebagai jawaban atas do’a Rasulullah SAW, Allah SWT menurunkan bala bantuan dengan 1000 malaikat, bertempur bersama pasukan Muslimin melawan pasukan Qurays. ”Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut” (QS Al Anfal: 9). Pada tahun 2 hijriah itu pula turun kewajiban puasa Ramadhan, membayar zakat fitrah, dan zakat-zakat yang lain untuk meringankan beban hidup orang-orang Muhajirin dan Ashar yang miskin, yang tidak memiliki bakat usaha.

    Lengkap sudah kemenangan kaum Muslimin. Setelah kemenangan Badar, mereka merayakan Idul Fitri. Sholat Id pertama dijalankan kaum Muslimin pada Syawwal 2 hijriah. Konon, Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia juga pada Bulan Ramadhan.

    Ramadhan dan Kemerdekaan Sejati


    Pastinya kita merindukan kemenangan-kemenangan sebagaimana yang kaum Muslimin rasakan. Boleh saja kita merasa iri dengan mereka. Bukankah iri dalam amal kebaikan adalah diperbolehkan? Sebagaimana para sahabat merasa iri dengan umat-umat terdahulu yang usianya panjang-panjang sehingga bisa banyak beramal kebajikan. Barulah mereka tenang ketika Rasulullah mengabarkan karunia bagi umat beliau yang disebut laylatul qadr. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Satu malam yang hanya bisa dijumpai dalam bulan Ramadhan.

    Ramadhan merupakan ”laboratorium percobaan” yang akan menguji kualitas iman seseorang untuk benar-benar layak disebut bertaqwa. Sholat tarawih pada malam harinya dilanjutkan puasa pada siang harinya. Satu bulan penuh umat muslim menjalani ”penggemblengan” baik mental (menahan diri dari nafsu) maupun fisik (menahan haus dan lapar dan segala yang membatalkan). Masa-masa awal dakwah Rasulullah, ”penggemblengan” keimanan yaitu kewajiban shalat malam (lihat QS Al Muzzamil: 1-20).

    Kemenangan spiritual, itulah kemenangan yang kita harapkan. Kemerdekaan jiwa-jiwa manusia dari segala belenggu kemunafikan. Betapa rindunya jiwa ketika bisa berucap, ”Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.” Wujud dari keteguhan keimanan Yusuf melawan rayuan wanita yang mengajaknya berbuat zina. Demikian pula keteguhan Bilal bin Rabbah ketika Umayah menyiksanya, ”Ahad...ahad...ahad.” Dia memenangkan jiwanya atas batu yang ditindihkan, terik matahari, panasnya pasir gurun, dan berbagai siksa yang orang-orang kafir timpakan.
    ”Apa yang diperbuat musuh padaku. Aku, taman dan kebunku ada dalam dadaku. Kemanapun aku pergi, ia selalu bersamaku dan tiada pernah menginggalkanku. Aku, terpenjaraku adalah khalwat. Kematianku adalah mati syahid. Terusirku adalah rekreasi.” Betapa manisnya buah keimanan. Menyemai bunga-bunga dalam taman hati, semerbak harumnya, dan tak akan mampu seorangpun untuk merebutnya. Fisik Ibnu Taimiyyah memang terpenjara tetapi imannya membumbung tinggi mencapai puncak yang hakiki. ”Kemenangan, oh kemenangan,” ada dalam jiwanya.

    Menabur Kebaikan (Cinta) di Bulan Ramadhan

    Wahai sahabatku, marilah kita berlomba-lomba membuktikan cinta pada Allah SWT dan Rasul-Nya sebagaimana Abu Bakar dan Umar. Menahan diri dari haus, lapar, dan segala nasfu rendahan demi janji setia pada Sang Kekasih. Semakin diri dalam kesusahan tetapi semakin banyak pengorbanan yang diberikan itulah Cinta. Berpuasa adalah menabur cinta. Tahukan menurut penelitian bahwa ternyata taburan cinta (puasa) meningkatkan kreatifitas, puasa itu menyehatkan dst? Tidurnya orang puasa saja dihitung persembahan cinta (ibadah) apalagi aktifitas lain yang lebih produktif.

    ”Sebagian dari kebaikan keislaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya,” demikian hadits Arba’in ke 12. Senantiasa mempersembahkan yang terbaik merupakan keharusan karena kata Ust. Hasan Al Bana, ”Kewajiban yang kita miliki jauh lebih banyak dari waktu yang kita miliki.” Senantiasa mempertimbangkan antara yang sekedar keinginan, ego pribadi dengan kebutuhan. Seorang muslim bukan hanya dituntun untuk bisa memilah antara yang produktif dan yang sia-sia. Jika antara yang baik dan yang buruk, Allah SWT sangat jelas membedakan (halal dan haram). Seorang muslim dituntut memiliki kecerdasan dalam memilih antara yang sama-sama baik termasuk jika terpaksa harus memilih antara yang sama-sama buruk.

    ”Barang siapa hari ini sama dengan hari kemarin berati dia rugi. Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin berarti dia beruntung. Barang siapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin berarti dia celaka.” Rasulullah mengingatkan kita akan konsep investasi dalam beramal. Hari ini amalnya sama dengan hari kemarin, masih dikatakan merugi apalagi jika amalan hari ini lebih buruk, celaka sudah. Proses perbaikan terus-menerus, ”Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.” Bukankah yang demikian merupakan rahasia kemajuan Jepang? Mereka menyebut perbaikan terus-menerus hingga mencapai kesempurnaan yang disebut dengan Prinsip Kaizen.

    Mari jadikan Ramadhan sebagai aktifitas menabur cinta. Berproses mencapai cinta hakiki, kesempurnaan keimanan dan ketaqwaan. Ikhlaskan niat, perbanyak kebaikan. Akhir Ramadhan Nanti Kita Jadikan Momentum Menuai Manisnya Buah dari Cinta yang Telah Ditaburkan. Allahu akbar!!! 3X
    "Kebaikan itu menyinari wajah, menyalakan cahaya hati, membuka pintu rejeki, menguatkan tubuh, dan menambah cinta dalam hati," demikian kata Ibnu Abbas r.a.
    Selamat menjalankan puasa Ramadah dan segala amalannya.
    Mohon maaf atas segala salah.
    Facebook: Inspiring Man

    Monday, July 6, 2009

    Menantang Kecerdasan Finansial Anda


    By P-Man, Undip

    “Semoga Allah memberkahi bagimu dalam keluarga dan hartamu. Lebih baik tunjukkan saja mana pasar kalian?” begitulah jawab Abdurrahman bin Auf. Saudara barunya Sa’ad bin Rabi’ Al Anshari ketika itu menawarkan kepada Abdurrahman, “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak hartanya di kalangan Anshar. Ambillah separuh hartaku itu menjadi dua. Aku mempunyai istri. Maka lihatlah mana yang engakau pilih agar aku bisa menceraikannya. Jika masa iddahnya sudah habis, maka kawinilah ia!” Mereka berdua dipersaudarakan oleh Rasulullah pada peristiwa hijrahnya kaum muslimin ke Madinah.

    Abdurrahman bin Auf sendiri adalah seorang saudagar yang lihai dalam mengelola bisnisnya. Bayangkan saja, kira-kira sebagai orang yang “terusir” dari negeri asalnya praktis tidak banyak barang yang bisa di bawa, sekedar bekal barang kali. Trust, kunci utama yang dimiliki sebagai seorang bisnisnya. Benar saja, setelah ditunjukkan sebuah pasar di Madinah, pasar Bani Qainuqa’ tak berapa lama dia sudah mendapatkan sejumlah samin dan keju.

    Pahi-pagi dia sudah berangkat ke pasar untuk berdagang. Suatu hari kemudian datanglah dia dengan wajah yang pucat menampakkan kelelahan hingga Rasulullah pun bertanya padanya, “Bagaimana keadaanmu?” Terang saja bagaimana jawab Abdurrahman, “Aku sudah menikah.” Ternyata dia sudah menikah dengan mas kawin beberapa keping emas.

    Dia tidak menjadikan keterbatasan modal sebagaimana orang-orang sekarang jika ditanya, “Kenapa hidup menganggur, tidak membuka usaha atau berbisnis?” Mereka mengatakan, “Tidak ada modal, mas.” Kredibilatas diri berupa kejujuran dan terutama keyakinan terhadap Allah yang dijadikan modal utama. Sebagaimana burung yang berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar untuk mencari makan. Di sore hari, burung itu sudah pulang dalam keadaan kenyang. Sebagaimana disampaikan dalam sebuah hadits; “Dari Umar r.a berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah memberimu rezeki sebagaimana yang diberiakn-Nya kepada burung-burung berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (H.R. Tirmidzi)

    Jika Kiyosaki menulis buku-buku kecerdasan finansial dan dia mencapai kebebasan finansial dalam usia 47 tahun maka Abdurrahman bin Auf lebih dari itu. “Seandainya saya mengangkat batu dari tempatnya niscaya saya akan menemukan harta di bawahnya,” demikian ungkap Abdurrahman. Dia lebih dari praktisi kecerdasan finansial tetapi dia adalah spiritual marketer. Motivasi dan cara-cara dalam menjalankan bisnisnya sebagai cerminan dari keyakinan dalam dirinya.

    Suatu ketika seorang sahabat menanyakan bagaimana dia bisa begitu sukses dalam menjalankan bisnisnya. Abdurrahman bin Auf menyampaikan rahasia dalam bisnisnya, “Karena saya tidak pernah menjual barang yang cacat dan saya tidak menghendaki keuntungan yang banyak, dan Allah akan memberkahi kepada orang yang dikehendaki.” Luar biasa prinsip bisnis yang digunakan Abdurrahman bin Auf. Saya sendiri pernah meprkatekkan saat pertama sekali masuk kuliah dengan berdagang buku. Saya tidak mematok harga ketika itu. Katakanlah harga dari penjual untuk 1 buku Rp. 20.000,00 dan biaya transpor kira-kira Rp. 5.000,00. Saya katakan apa adanya, saya katakan pada teman-teman yang menjadi customer saya ketika itu, “Terserah pada temen-temen mau memberi keuntungan berapa pada saya.” Dan ternyata di luar perkiraan, dalam waktu hanya 3 hari saya mengantongi uang sampai 1,5 juta.

    Jika akhir-akhir ini perusahaan-perusahaan besar mengalakkan program Customer Social Responsibillity (CSR). Program yang perusahaan sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat karena masyarakat sudah banyak memberikan keuntungan bagi perusahaan dengan menjadi customer. Olehkarena itu, sudah seharusnya perusahaan memberikan kepedualian, menyisihkan keuntungan diperuntukkan bagi masyarakat; beasiswa, desa binaan dsb. Pada dasarnya juga akan balik lagi keuntungannya pada perusahaan. Namun, semangatnya Abdurrahman bin Auf tidak untuk duniawi. Dia pernah menyerahkan separuh dari hartanya sebanyak lima ratus dinar ditambah lagi lima ratus kendaraan di jalan Allah.

    Suatu kali Abdurrahman mendengar kabar tentang dirinya di akhirat nanti dari Rasulullah melalui Aisyah, “Ingatlah! Saya pernah mendengar pernah mendengar Rasullah SAW bersabda; Saya melihat Abdurrahman bin Auf masuk syurga dengan merangkak.” Setelah mendapat keterangan dari Aisyah maka Abdurrahman bin Auf menyedekahkan tujuh ratus unta beserta seluruh apa yang ada di unta itu. “Seseungguhnya saya menyaksikan kepadamu bahwa tujuh ratus kendaraan unta beserta seluruh pelananya adalah sedekah di jalan Allah,” begitulah Abdurrahman bin Auf menanggapi kabar yang didapatkannya. Luar biasa jasa dia sehingga pantaslah Usman bin Affan sendiri yang mensholati jenazahnya.

    Email: jadibijak@yahoo.com
    FB: Inspiring Man



    Monday, June 8, 2009

    Energi Kesiapan: Rahasia Kesuksesan


    Bukannya manusia itu gagal meraih cita-cita karena nasib namun lebih karena ia tidak lebih layak dibanding yang lain. Semua orang sebenarnya mempunyai peluang sama untuk menduduki peringkat puncak namun tentunya harus berani bersaing dengan yang lain. Peringkat puncak hanya diperuntukkan bagi mereka yang benar-benar layak.
    Kelayakan lebih ditentukan oleh kesiapan ketika nantinya ia menduduki peringkat itu, kelayakan meraih kemenangan. Mereka yang juara terbukti memiliki kesiapan mental dan kesiapan usaha meraih juara. Energinya difokuskan dalam merentas jalan kemenangan dan pikirannya senantiasa berinovasi kreatif mencari jalan yang paling efektif. Mereka menyadari bahwa tidak ada jalan pintas untuk meraih kesuksesan abadi. Jalan terbaik menuju kesuksesan panjang jalannya membutuhkan proses dan kesabaran (endurance).
    Bukan kepuasan sesaat yang mereka cari karena kepuasan sejati adalah saat mereka bisa memenangkan pertarungan dengan kekerdilan dalam jiwanya, mengalahkan mental malas, dan jalan menerabas. Kemenangan terhadap kekerdilan jiwa membuka jalan lebar kemenangan dan dengan sendirinya penghalang-penghalang akan gentar menyingkir. Kesiapan, ya rahasia bagi kemenangan dan kesuksesan adalah kesiapan.
    Bagaimana seandainya ada orang yang menawari sobat untuk berangkat ke Singapura menghadiri suatu konggres di sana. Sobat datang sebagai delegasi dari organisasi atau institusi dimana sobat berada. Sobat tinggal berangkat semuanya telah diurus hanya perlengkapan pribadi dan barangkali berpamitan mohon do’a restu pada orang yang sobat cintai. Namun, waktu pemberitahuan bahwa sobat sebagai delegasi yang diminta berangkat adalah tepat satu hari sebelum pemberangkatan. Sore ini, sobat dihubungi dan besok sore harus sudah berangkat. Sobat hanya memiliki waktu sedikit untuk berfikir karena hanya 30 menit, kalau sobat tidak bisa maka akan dialihkan kepada orang lain.
    Kebanyakan orang mengalami kebimbangan ketika dihadapkan pada sebuah permasalahan yang menuntut segera diputuskan. Mereka tidak akan dengan segera mengatakan, ”Ya atau tidak” namun bertanya terlebih dahulu tentang ini, tentang itu sebagai pertimbangan mengambil pilihan.
    Beda dengan mereka yang memiliki kesiapan (sense of antisipatioan, full of planning). Mereka dengan tenang memperhatikan penjelasan yang diberikan, pikiran mereka memproses dengan cepat, kreatifitas mereka meruntuhkan kekhawatiran mencari alternatif-alternatif jalan sehingga ketika tiba, “Apakah kamu siap berangkat ?” Meraka dengan mantap mengatakan, “Ya” atau “Tidak.” Energi yang luar biasa tercermin dari jawaban yang penuh keyakinan.
    Mereka yang kalah sebelum bertanding senantiasa pintar membuat alasan-alasan, terbayang-bayang akan peristiwa mengerikan yang belum tentu akan menimpa dirinya apabila berangkat. Ketika mereka dihadapkan pada pembuatan keputusan yang segera maka yang dilakukan adalah tawar menawar, seandainya-seandainya.
    "Jadilah orang yang senantiasa siap untuk dan menjadi apapun"
    Untuk diskusi dan FB: jadibijak@yahoo.com