Tuesday, November 17, 2009

Mengukir Mimpi di Gunung Fuji


(Persahabatan dan Impian)
“Akhi, masih ingat impian kita?” tanya seorang sahabat seperjuangan yang lama tidak bertemu. Sontak pikiran saya melayang saat masa-masa semester awal kuliah. ”Jangan-jangan sudah lupa, ini. Impian bersama angkatan kita, 2004?” sahut dia merangseng, tidak sabaran.
Entah kenapa pagi itu, ingin rasanya saya menelpon sahabat-sahabat dekat, Etoser Semarang. Tiga tahun mendapatkan uang saku dan pengembangan diri setiap pekannya. Tidak terasa hampir tiga tahun pula tidak bertatap muka. Kangen akan saat kebersamaan walaupun dulu sempat ada juga ego-egoan tetapi sekarang sudah berubah menjadi kenangan. Ego-egoan itu sudah menjadi garam yang menjadikan masa-masa itu kenangan yang indah untuk diceritakan.
”Saya masih ingat, dong. Janjian nge-teh kita, kan?” sahut saya sambil menunggu yang dimaksudkannya. ”Nge-teh? Kita kan pernah berkomitmen bersama bahwa kita akan bereuni di Jepang tahun 2015,” dia menjelaskan dengan sedikit mengembalikan ingatan saya. ”Iya, maksud saya, kita akan bereuni, nge-teh bersama sambil menikmati indahnya Gunung Fuji,” akhirnya tergambar jelas di kepala saya impian yang dimaksudkan.
Kami bertuju belas -- adi, nuri, dhani, dewi, fura, imron, iin, lukman, krisna, alfin, fiah, siti, umay, manto, trimo, widya, dan saya sendiri—bisa dikatakan sebagai orang-orang yang memiliki semangat melampaui keadaan kami waktu itu. Bagi kami, semangat adalah segala-galanya karena tanpa itu, kami mungkin tidak akan bisa seperti sekarang. Harapan itulah nyawa yang kami miliki, yang menjadi energi untuk menjalani hidup dan mengisinya dengan prestasi. Lihat saja mereka yang tidak memiliki harapan. Mereka memilih untuk mengakhiri kehidupan, ada yang putus harapan lalu bunuh diri pula.
”Saya suatu saat nanti akan pergi ke Jerman, ke luar negeri.” Impian itu masih tersimpan dalam buku kecil saya. Impian mestilah disampaikan pada orang lain, setidaknya akan memberikan inspirasi lebih-lebih do’a. Tuhan punya caranya sendiri untuk menghantarkan seorang hamba menuju maqomnya (impian). Tidak disangka, tidak dinyana, Nuri yang ternyata lebih dulu berangkat ke Jerman. Beberapa bulan dia berada di sana, luar biasa.
Nuri hanyalah seorang gadis yang mungkin orangtuanya saja tidak membayangkan anaknya akan pergi ke Jerman. ”Jerman itu mana juga tidak tahu.” Apa boleh buat, mau membekali anaknya harta, keseharian saja hidup sederhana. Ilmu yang tinggi, orangtua bukan lulusan perguruan tinggi. Walaupun hanya bisa mendo’akan dan memberi ridho, ternyata justru itu yang menjadi pembukan jalan. Jerman sudah dijelajahi, sekarang juga sudah bekerja di Dinas Kesehatan Pusat, Jakarta.
Lain dengan Nuri yang menyambangi Jerman, giliran Fiah yang menyusul ke Thailand. Bendera Etoser (panggilan bagi kami) sudah tertancapkan di Jerman dan Negeri Gajah Putih. Semangat-semangat pun semakin berkobar kembali. Iri, terus terang tetapi bukan pada orangnya, iri pada prestasinya. Boleh kayaknya,ya? Lupa haditsnya. Banyak jika disebutin satu-persatu prestasi masing-masing. Jika standarnya ke Luar Negeri baru dua, Nuri dan Fi’ah. ”Giliran saya yang nyusul. Minta do’anya,ya.” :-)
”Sebelum lulus mesti nulis buku,” semangat orang yang akan menyusul ke luar negeri (saya sendiri). Alhamdulillah, Allah memberikan jalan. Tanggal 18 Juli 2009, tepat seminggu setelah hari ulang tahun (walaupun saya sendiri tidak merayakan ulang tahun) dikabari dari penerbit jika naskah saya diterima. Tuhan senantiasa membuktikan Kemahabesarannya.
Bakal menjadi novel sepertinya perjalanan ketujuhbelas etoser tadi. Menikmati teh asli Jepang sambil menikmati putihnya salju yang nampak dari kejauhan. Dinginnya pagi terhangatkan oleh keceriaan anak-anak kami yang berlarian ke sana kemarin. Tiada beban, yang ada hanya kebahagiaan. Bergantian menceritakan perjalanan hidup selama ini, mengenang kembali kekonyolan saat pembinaan. Lucu sepertinya, bakal jadi bahan cerita yang dulunya telatan, suka ijin. Barangkali telatan sepintas dari luar tetapi soal impian dia yang melejit duluan. Dulu sih malu-malu tetapi saat reuni sudah memiliki perusahaan, rumah sakit, rumah terapi sendiri. Mari kita saling menjaga nyala mimpi itu sampai waktunya tiba.

-->
Ditulis di pagi yang penuh inspirasi
dengan sepenuh hati
ditemani musik relaksasi

-->
Pariman Siregar



Menantang Diri Sendiri


(Jalan Inspirasi)
“Selamat siang bapak-ibu, mas-mas, mbak-mbak. Lebaran sebentar lagi datang. Saya menawarkan kartu ucapan lebaran. Bisa dilihat dulu bapak-ibu, mas-mas, mbak-mbak. Cukup hanya Rp 5.000,00.”
Masih segar diingatakan saya rangkaian kata tersebut. Seorang penjual dalam sesaknya bus antar kota. Dia berdiri dibagian tengah, menawarkan kartu ucapan lebaran. Ditenteng kartu ucapan tersebut, melangkah menghampiri satu-persatu para penumpang yang nampak acuh begitu saja. Pemandangan yang seperti itu saya pikir bukan hal aneh di terminal dan bus-bus ekonomi tiap sudut negeri ini. Namun, tahukah anda siapakah kira-kira penjual kartu lebaran itu? Dan apa pula maksud dia melakukan hal tersebut?
Lho tau siapa dia?(baca: pake gaya Jakarta). Tidak lain dia adalah gua sendiri. ”Konyol banget, ya?” Padahal waktu itu masih imut-imutnya jadi mahasiswa, gengsi gitu, lo! Itu mah belon seberapa. Gua pernah ngebet pengen ikut seminar tapi pas banget lagi bokek waktu itu. ”Apa yang dilakuin coba?” Simple aja sih, datengin panitia bilang lagi tidak punya uang, bayarnya belakangan. “Lho kalo jadi panitianya mungkin gemes nemuin peserta kayak gitu?” Kalo ada panitia yang gemes karena perilaku gua, gua anggep penggemar baru. Ha...ha...
Udah pada ndak sabar dibolehin atau diusir? Alhamdulillah, lancar. Temen baik soalnya yang jadi panitia. Kalo dia mbaca posting ini pasti inget (thanks friend, ya!). Ya mau gimana lagi kantong lagi tipis, uang cuma cukup transport. Seminarnya infak Rp 15.000,00. Kenapa gua sebut infak? Gua kan belon setor uang tapi selama seminar udah dapet materi, snack, makan siang, plus dapet doorprize, plus-plus yang lain. Kalo diitung-itung yang didapetin lebih dari yang akan dibayar. Mantab, dah. Ada yang mau sharing pengalaman gila melebihi gua? (Tulis aja di bagian komentar, ya!).
Sayang banget kalo aktifitas lho lurus-lurus aja, maksud gua; tidak ada tantangannya. Tantangan yang positif pastinya. Gua ngerasa semua hal tadi ngelatih mentalitas. Ngamen juga pernah, tapi jangan terburu-buru memberi kesaksian pernah ketemu di bus apalagi di perempatan lampu merah. Soalnya udah lama gua pensiun, cuma tes mental sekali aja, tidak dijadikan profesi. He..he...Main gitar ndak bisa, nyanyi apalagi. Walo pernah dishut bersama temen-teman saat pembuatan album SMA.
Sekarang lebih serius dah, capek pula aku ini make gaya Jakarta (baca: pake logat orang Medan). Tahun 1990-an, Havard University mengungkapkan hasil penelitian tentang penentu sukses tidaknya seseorang. Dari hasil penelitian diketahui bahwa 15% kesuksesan ditentukan oleh keahlian teknis, sedangkan 85% lainnya ditentukan oleh sikap mental. Sikap mental yang dimaksud antara lain; kepercayaan diri, cara berpikir, endurance, keberanian, dan leadership.
Berbagai diskusi dan penelitian tentang faktor penentu keberhasilan melamar pekerjaan, menempatkan soft skill sebagai faktor penentu yang tidak bisa diremehkan. Penelitian gabungan Depnaker dan JICA (Japan International Cooperation Agency) tahun 1996 mengidentifikasi faktor-faktor penentu penerimaan dalam proses rekruitmen karyawan. Dari hasil penelitian diketahui, sumbangan unsur pengetahuan hanyalah 23% dalam menentukan diterimanya lamaran pekerjaan. Faktor terbesar yang menentukan adalah sikap (kepribadian) sebesar 38%. Pengalaman kerja, mutu sekolah (PT), rekomendasi dari pihak sekolah (PT) masing-masing; 27%, 10%, dan 2%.
Kajian Tempo yang dipaparkan tahun 2007 melengkapi faktor lain yang menentukan diterimanya dalam dunia kerja. Selain IPK (pengetahuan), pengalaman kerja, nama besar perguruan tinggi, pengalaman kerja, dan rekomendasi, ada 4 faktor lain yang menentukan. Empat faktor tersebut adalah kemampuan Bahasa Inggris, kesesuaian jurusan dan bidang pekerjaan, kemampuan aplikasi komputer, dan pengalaman organisasi.
Jadi jangan berharap bisa mengandalkan hanya kemampuan akademik saja untuk melamar pekerjaan. Faktor kepribadian berupa kepercayaan diri dan keberanian berkomunikasi juga turut menentukan. Soft skill lain yang perlu diperhatikan adalah; kemampuan beradaptasi, leadership, problem solving, dan team work. “Kampus hanya menyumbangkan 30% skill yang diperlukan dunia kerja, sedangkan 70% berupa soft skill diperoleh dari aktifitas non akademi,” demikian kira-kira pesan Rektor Undip dalam pelantikan lembaga kemahasiswaan Undip tahun 2008.
Soft skill terutama mentalitas tidak didapatkan sepenuhnya dari kuliah. Ada mata kuliah psikologi kepribadian (bagi yang ngambil jurusan psikologi) tetapi tidak lebih hanyalah mempelajari pandangan-pandangan berbagai tokoh. Analisis-analisis yang dilakukan pun obyeknya banyak pada orang lain bukan pada diri sendiri. Nilai psikologi kepribadian bisa saja A tetapi apakah kepribadian dirinya otomatis A?
Sesekali barangkali perlu untuk menantang diri sendiri. “Kekonyolan” yang sebenarnya memaksa kita untuk menggunakan segala potensi yang selama ini tidur. Pengalaman menawarkan kartu lebaran di bus, ikut seminar bermodal semangat dan nekat setidaknya banyak meningkatkan kepercayaan diri. Dalam istilah keren NLP disebut jangkar. Saat menghadapi peristiwa yang menyulitkan, pengalaman-pengalaman tadi digunakan sebagai pemicu keberanian menghadapi peristiwa tersebut. “Saya jualan di bus aja berani, masak kayak gini aja tidak berani,” kira-kira begitu saat termangu menghadapi hal baru.
Selamat menantang diri sendiri, jangan hanya menikmati alur ceritanya. Sepertinya akan lebih bermanfaat jika setelah membaca artikel ini kemudian membuat program tantangan untuk diri sendiri. Boleh memulai dari hal kecil; bagi yang takut berbicara di depan umum, coba untuk aktif bertanya saat kuliah. Anda yang lebih paham potensi diri yang masih perlu untuk ditingkatkan. Selamat menikmati program “Menantang diri sendiri”-nya. Boleh juga nyumbangin ide, sharing berupa artikel untuk diposting diblog ini,kok. Kirim ke email aja, OK!. Mantab, dah!
Inspirator Sukses: Pariman Siregar
jadibijak@yahoo.com

Wednesday, November 4, 2009

DARE TO DREAMS


Manusia tidak akan lebih dari apa yang diimpikannya,” pesan mutiara yang tersimpan kuat dalam ingatan saya. Setelah direnung-renungkan benar adanya memang. Apa yang didapatkan seseorang adalah apa yang diimpikan (bisa juga lebih kecil dari impian) tetapi jarang kemungkinan mendapatkan yang lebih besar dari impiannya. Dalam mimpi saja dia tidak punya, apalagi dalam dunia nyata.
Memiliki impian ternyata membutuhkan keberanian. Walaupun bermimpi itu gratis tetapi banyak yang kesulitan menyebutkan impiannya. Pernah dalam suatu training, saya katakan kepada para peserta, “Seandainya Tuhan mengabulkan segala permintaan (impian), apa saja yang akan anda minta?” Saya berharap sekali mereka akan menuliskan berlembar-lembar keinginannya. Saya tegaskan seraya membangun kepercayaan diri untuk bermimpi, ”Sebanyak-banyaknya, terserah ingin menuliskan berapa.” Saya cermati ternyata banyak yang nampak kebingungan, impian apa yang akan dituliskan. Lebih terkejut lagi saat saya periksa ternyata ada peserta yang hanya menuliskan satu, ”Bahagia dunia akhirat.”
Setiap orang memang bebas memimpikan isi kehidupannya. Saya menghargai betul impian, ”Bahagia dunia akhirat.” Saya juga merindukan kebahagiaan tidak hanya di dunia tetapi juga akhirat, agama saya mengajarkan cita-cita yang demikian. Namun, saya berpikir daripada menjadi orang miskin yang bahagia, saya lebih memilih menjadi orang kaya raya yang super bahagia. Jangan salahkan Tuhan jika anda diberikan kebahagiaan tetapi dalam kemiskinan, bisa jadi karena kesalahan anda sendiri. Tuhan tidak pernah salah, Dia Maha Besar juga Maha Adil. Jika anda menyesali keadaan kemiskinan tadi, tengoklah do’a yang anda ucapkan setiap hari, seberapa definitif yang anda minta.
Mungkin ada yang akan berkata, ”Tuhankan Maha Tahu, saya tidak minta pun Dia sudah tahu.” Saya sepakat dengan kata-kata tersebut. Kejelasan impian pada dasarnya akan penting bagi pemilik mimpi itu sendiri. Bagaimana akan tahu
-->jalur kendaraan yang akan anda naiki jika kota yang akan dituju saja tidak jelas alamatnya? Bagaimana menentukan bahan-bahan yang akan disiapkan jika jenis masakan dan rasa masakan belum ditentukan?
Ada penelitian yang menari di Yale University tahun 1953 tentang kejelasan cita-cita dan keberhasilan di masa depan. Para mahasiswa tingkat akhir diteliti tentang kejelasan cita-cita mereka, apakah mereka menuliskan dan membuat tahapan-tahapan pencapaian sejelas mungkin. Ternyata hanya 3% dari para mahasiswa tersebut yang memilikinya. Sisanya, 97% beragam; ada yang tidak jelas cita-cita dan tahapannya, ada yang tidak punya bahkan alias mengalir saja dst. Dua puluh tahun kemudian dilakukan survei terhadap para mahasiswa tadi. Hasilnya, mereka yang memiliki kejelasan cita-cita dan tahapan tertulis (3%) secara finansial dan sosial lebih berhasil dibanding 97% mahasiswa lainnya.
Saya jadi berpikir, mengapa orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin tertinggal saja. Bisa jadi penyebabnya karena perbedaan keberanian membuat impian. Orang-orang berduit tidak sulit merealisasikan kenyataan, mereka juga tidak pelit (takut) membangun impian. Dengan demikian, anak-anak mereka hidup semakin kaya dari orangtuanya. Mereka yang berasal dari latar belakang biasa, saat mengatakan keinginan seketika orang-orang di sekitar (termasuk orangtua) menakut-nakuti, “Jangan mimpi tinggi-tinggi, sakit jika jatuh nanti.” Beragam cara ’dikerahkan’ lingkungan untuk ’menghalangi’ terwujudnya keinginan anak-anak dhuafa. Bagi saya sendiri, saya akan mengobarkan dalam jiwa-jiwa para dhuafa untuk bermimpi setinggi-tingginya. ”Ada keyakinan ada jalan,” itu prinsipnya. Dare to dreams.
Saya yakin ketika anda membaca impian-impian berikut maka jantung anda akan bergetar. Betapa tidak, mereka adalah orang-orang yang diberikan ujian lebih dari Tuhan agar nantinya menjadi orang-orang besar. Mereka sudah dilatih menjadi orang berkekurangan agar kelak ketika sukses menjadi orang yang besar hati dalam memberi. Tuhan mengajarkan pada mereka untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki dengan berbagai tantangan yang selama ini dihadapi. Saya yakin kelak mereka akan menjadi kran yang akan mengalirkan oase kesuksesan tidak hanya untuk diri sendiri tetapi bagi semua orang. Saya optimis dengan
-->semangat yang dimiliki dan backing Super Power (Tuhan) semua impian akan menjadi kenyataan dan segala kelelahan akan menjadi kenangan.
Semoga impian berikut memberikan semangat bagi anda untuk berani bermimpi, melipatgandakan semangat perjuangan, dan menguatkan komitmen untuk berbagi juga memberi. Anda akan melihat mereka menjadi bintang 5, 10, 20 tahun yang akan datang. Nama-nama mereka akan dituliskan dalam sejarah dan hati orang-orang.
-->
  1. Eka Hadi Purwanto
Punya komputer canggih & laptop (maksimal tahun ke 3), punya mobil untuk bapak & ibu, jadi atlet internasional, punya CBR, ngasih Tiger buat adek, buat studio musik untuk adek, bangun rumah makan untuk ibu, bangun rumah cerdas, bangun madrasah, punya perpustakaan sendiri, bertamasya ke TMII sekeluaraga, nginep di hotel berbintang, ngebayarin rumah dari perbaikan, jalan-jalan ke bali & keliling Indonesia, sekolah di luar negeri (Jepang atau Australia), pergi haji sekeluarga, ngembangin potensi adik di bidang yang disukai, punya tempat latihan silat, punya motor & mobil sport, jadi konsultan, bangun RS untuk istri (istrinya dokter), tidak akan ada anak putus sekolah di Bedulan, buat peternakan untuk bapak, ........
  1. Suswati
Jadi orang sukses, mawapres tahun 2011, buat PKM, lolos PIMNAS, jadi orang kaya, IPK cum laude, lulus dalam waktu 3,5 tahun, kerja di Deptan, punya laptop (semester 4), punya motor (semester 6), punya mobil (tahun 2017), S2 & S3 ke Jepang (beasiswa), naik haji bersama keluarga, buat rumah untuk kedua orangtua, sekolahkan adik ke FK UI, menyumbangkan Rp 10.000.00/bln ke panti asuhan (dhuafa), menyumbangkan uang 20.000.000/bln pada keluarga, membangun desa, memajukan karangtaruna, memajukan desa, membuat kampung cerdas di desa, membuat pondok pesantren, mawapres nasional, ketua departemen di BEM, penghasilan 50 jt/bln, keliling dunia, hafal surat Ash Shaff, hafal hadits arbain, menikah dengan hafidz, punya usaha peternakan di desa, juara English Dbate Competition, .........
  1. Sri Anani
Lulus dengan IPK > 3,60 (tahun 2011), menjadi PNS di Jakarta (tahun 2010), duta Indonesia di WHO (tahun 2011), S2 di Jerman (tahun 2015), menyelam di laut, mendaki Gunung Fuji bersama keluarga dan suami, Direktur Perusahaan Perusahaan atau Rumah Sakit, menguliahkan adik-adikku, menaikkan haji kedua orangtua, mendirikan rumah sakit (yang terjangkau) di Cirebon, pergi ke Sumatera, Kalimantan, Papua, Sulawesi, dan Bali, beli laptop, beli motor, mempunyai mobil sendiri, mendirikan pondok pesantren di Cirebon, menjelajahi negara-negara Eropa (Denmark), membuat resep masakan, menjadi trainer profesional, mendirikan rumah makan di Tarunta Cirebon, mawapres, .....
  1. Yayi Sonia
Rangkuman impian (sudah ditaruh di dreams book); muzaki, lulus S1 terbaik 3,8 tahun cumlaude (IPK 3,8), pergi ke Jepang menikmati musim salju, memiliki PT Shonia Bhakti Farm, melanjutkan S2 & S3, menjadi direktur perusahaan.
  1. Nur ’aini Farida
Pergi ke Jogyakarta, keliling Jakarta dan Bogor, berkumpul dengan keluarga dan teman-teman di rumah, semakin amanah dalam menjalankan tugas-tugas (baik etos, akademik, dan organisasi), IPK 3,51 (cumlaude), bertemu kakak, keluarga, dan teman di Jakarta, bisa membiayai SPP sendiri (semester 3), membuka bisnis di Semarang (Cafe Jamu Sehat ala Perawat Profesional), beli baju klinik dari uang sendiri, Juara 1 PKM dikti tingkat nasional, juara 1 tingkat internasional karya tulis ilmiah, mengajari adik cara sholat, menjadikan adik rajin belajar, mendapat uang 1M, membahagiakan keluarga, hafal Juz 30 .... Not only be good people but the best people.
  1. Nur Khayati
Lulus kuliah 3,5 tahun (tahun 2011) dengan IPK 3,6, artikel terbit di Kompas juga Suara Merdeka, S2 di Asutralia atau Denmark (yahun 2014), lolos PKM, jadi mawapres, hafal juz 30, jalan-jalan ke Jakarta bersama ibu dan adik, naik haji bersma orangtua, hafal hadist arba’in, menjadi PNS di Depkes, menjadi penyuluh kesehatan di WHO, beliin baju ibu waktu lebaran, beliin kado adik pas milad, jadi kadep PSDM 2010 BEM FKM, menjadi lebih sabar, memiliki usaha telur asin, membiayai kuliah adik, mendirikan rumah sehat, punya laptop (tahun 2010), punya motor (tahun 2010), lolos PIMNAS (tahun 2010), lancar berbahsa Inggris, mengikuti tahsin,
  1. Yulia Ulfa
IPK cumlaude, menjadi orang yang kreatif dan berguna, lulus S1 (dalam waktu 3,5 tahun dan cumlaude), S2 ke luar negeri, tinggal di luar negeri (punya rumah pribadi), sholat di masjid kubah emas, keliling Indonesia, berkunjung ke laut-laut di seluruh nusantara, menyelam dan menikmati keindahan pulau Wakatobi, pergi haji bersama orangtua, punya mobil sendiri, punya banyak uang dan menyantuni para dhuafa, punya rumah yang memiliki kolam renang dan dekat dengan masjid besar, mengkuliahkan adik-adik, nilai TOEFL 550, mandiri di semester 3 (penghasilan 300.000/bln), punya perusahaan produk rumput laut, menjadi hafidzah, mendapat beasiswa ke Jepang, istiqomah dalam komitmen dan ibadah, menjadi orang yang antisipatif .....
  1. Intan Antartika T.R
Bisa bangun malam rutin, daya tahan stres tinggi, punya banyak teman (jaringan), IPK cumlaude, mengikuti workcamp, pergi ke Jepang, membahagiakan orangtua, membiayai kuliah adik, bekerja di RS atau puskesmas, menjadi kepala Rumah sakit (RSUD, RS Provinsi), kepala depkes provinsi juga RI, memiliki (apotek, rumah terapi, restoran organik, butik, depot roti delicious), direktur rumah sakit Asy Syifa (RS sendiri), menyantuni para dhuafa ......
  1. Latifatun Nuriyah
Hafal surat Ash Shaff, lulus S1 3,5 tahun, lolos PKM, jadi asisten dosen, kadep KP BEM Fakultas, kadep KP BEM KM Undip, naik haji bersama keluarga, kuliah di S2 di Jepang (bidang sains), kuliah S3 di Havard (bidang ekonomi), memiliki perusahaan pengolahan hasil ternak, punya peternakan, punya yayasan panti asuhan, memberi beasisiwa bagi dhuafa, mendirikan RSCM, jadi profesor dan scientist sekaligus pengusaha, pergi ke (Australia, Selandia Baru, Inggris juga Belanda), pergi ke Iran melihat pengayaan nuklir, menjadi ketua yayasan wanita, membuat penelitian tentang biogas, menonton piala dunia, bertemu Ahmaddinejad, pergi ke Mesir melihat Spink dan Mummi, sekolah di Cairo University mendalami ekonomi syari’ah, memiliki keluarga sakina, menjadi dosen, memiliki rumah idaman, memiliki restoran (dipersembahkan untuk ibu), memiliki mobil BMW juga Honda Civic, memiliki perusahaan sendiri (menjadi direktris), memiliki perpustakaan pribadi, punya laptop, pergi ke kutub utara melihat aurora, mendapat nobel bidang sains, menonton pertandingan batminton di Istora Bung Karno, bisa bahasa Inggris dan Jepang ......
  1. Fajri Achmad
Mendapat IP 4, lulus cumlaude, S2 di Swiss, memiliki usaha pribadi, menjadi manager perusahaan, naik haji bersama orangtua, membangun panti asuhan, mendirikan sekolah gratis anak dhuafa, punya rumah sendiri, membelikan rumah untuk orangtua,menjadi seorang tokoh (ustadz juga motivator), menemukan formula pakan ternak, berkeliling Indonesia, mengibarkan bendera merah putih di dasar Laut Jawa, berkeliling Eropa (dunia), menjadi seorang guru (ngaji, pengajar), menjadi pembicara di sebuah seminar, berjabat tangan dengan presiden, berprestasi dalam bidang sains (nasional juga internasional), menjadi donatur, memiliki mobil peribadi, menginjakkan kaki di Benua Antartika, naik pesawat ke luar angkasa .......
  1. Inshani Utami
Punya rumah mewah, punya mobil Honda Jazz juga Honda CR-V, S2 ke Jepang, naik haji bersama orangtua, memiliki usaha kos-kosan, keliling dunia dengan keluarga, punya pesawat terbang pribadi, punya komputer dan laptop, bertemu dengan pembalap-pembalap moto GP, IPK 3,75 saat lulus, menjadi mawapres tingkat nasional, lulus 3 tahun 6 bulan, menjadi muslimah teladan, lulusan terbaik Undip, juara Pimnas, pergi keliling Indonesia dengan keluarga, punya Hp canggih, punya motor (Mio, honda beat, supra x), punya perkebunan, suami dokter, punya vila di puncak Bogor dan TW, punya swalayan besar, bekerja di total/petronas, penghasilan 20jt/bln, S3 ke Jerman, punya restoran makanan khas Jawa di negara-negara besar (Eropa, Amerika, dan Asia), menyekolahkan adik ke Gontor (2010), mengkuliahkan adik setinggi-tingginya, untuk ibu; membelikan mesin jahit (35), membelikan mesin obras (30), membelikan mesin bordir (25); punya anak kembar laki-laki dan perempuan, punya butik di (SGM, Matahari, SQ, dan pusat pelanja lainnya), punya komputer (di akhir semester 3), bayar SPP sendiri (mulai semester 3), memiliki penghasilan sendiri (mulai semester 3, rp 500rb/bln), bertemu pemain bola luar negeri di London, punya pabrik farmasi, ......
  1. Roikhatus S
Bekerja di pertamina, lulus dengan IPK cumlaude dan cepat, mendapat beasiswa S2 di luar negeri, naik haji bersama keluarga, menjadikan adik-adik sebagai orang berhasil, menjadi teladan untuk adik-adik, menciptakan suasana islami di rumah, menjadi pribadi yang cekatan (tidak mudah putus asa), memiliki relasi yang banyak, lolos PIMNAS, membeli laptop sendiri, memberikan kios untuk orangtua, memberikan modal usaha orangtua, mengobatkan orangtua ke tempat spesialis, .....
  1. Titin Andiatina
IPK > 3,64, punya pekerjaan sambilan di semester 3 (penghasilan 100rb/bln), penghasilan semester V 300rb/bln, menabung minimal 1jt/semester, lulus 3 tahun 8 bulan, kerja di perusahaan pakan ternak, S2 di IPB, naik haji bersama orangtua, membuka usaha peternakan di desa, jadi pegawai di deptan dan memperjuangkan berdirinya dinas peternakan, jadi kepala di dinas peternakan, keliling dunia saat usia 47 tahun, beretemu dengan Ahmadinejad.
  1. Ahmad Mufarihin
Magang di 100 farm terkenal di Indonesia, beternak ayam layer (broiler dan lele), membuat farm unggas sendiri, berbisnis ternak, menulis buku, memiliki jaringan yang luas, lolos PKM, membuat 99 proposal dikti selama kuliah, memiliki websites sediri, mahir bahasa Inggris TOEFL 550, menjadi ketua Rohis, menjadi kadep riset BEM, mengikuti UKM jurnalistik, lulus maksimal 4 tahun (cumlaude), menghajikan keluarga, aqiqah 1 keluarga, menjadi kyai pesantren dan pengarang kitab,memiliki kamera digital (laptop dan motor sendiri), menghibahkan bangunan untuk ETOS, menuliskan sejuta mimpi (inspirasi) dalam bentuk excel beserta tahapannya, ....
  1. Asri Wijayanti
Pribadi yang sholekhah, pementor dan murabbiyah sejati, menghajikan orangtua, hafidzah, lulus cumlaude (tahun 2012), menjadi mawapres, S2 ke Jepang, S3 ke Arab Saudi atau Amerika, go PIMNAS 2010, mendapat beasiswa ke luar negeri, memiliki (home care, yayasan sendiri, perkebunan teh, rumah makan), menjadi pengusaha sukses, memiliki penghasilan 50 jt/bln, memiliki (mobil pribadi, rumah dikelilingi pohon, taman yang ramai dikunjungi orang), menjadi muzakki, mendirikan beastudi ”Muthmainah”, menemukan metode pengobatan yang efektif, membiayai sekolah adik, travelling ke Eropa atau Amerika Sleatan, menjdai dosen ITB, keliling Indonesia, haji bersama suami, pendiri rumah inovatif, menjadi motivator, menjadi public speaker, menjadi trainer akhwat, kuliah dengan biaya sendiri, menjadi pribadi yang menyenangkan (problem solver masalah orang lain), orang yang senantiasa bersemangat (fokus dan banyak memberi manfaat), ....

Impian-impian mereka ibaratkan nyala lilin yang akan senantiasa menyala, menerangi setiap relung pelosok negeri ini, di masa depan nanti. Saya yakin untuk mewujudkannya butuh energi yang besar, sudah menjadi kodrat alam; makin tinggi pohon makin besar pula angin yang menerpanya. Namun, seiring perjalanan, optimisme akan semakin mengembang. Bukankah jika kita tengok biografinya orang-orang besar, mereka pastilah melalui tahapan perjuangan bahkan keterpurukan (kegagalan). Luarbiasanya ternyata, kegagalan dan perjuangan akan menjadi kisah menarik untuk dikenang dan diceritakan.
Saya sendiri tidak akan membiarkan ada orang yang mencuri mimpi-mimpi mereka. Para pencuri yang dengan tanpa tanggung jawab melemahkan semangat, ”Kamu tidak akan bisa mencapainya.” Saya akan katakan kepada para pencuri itu, ”Kita tunggu waktu, biarkan dia yang membuktikan.” Orang boleh berkata apapun tentang kita tetapi cukuplah pohon mangga menjadi pelajarannya. ”Orang melemparinya dengan batu, dia memberikan buahnya untukmu.” Saat orang merendahkan kita, saat itu kita merasa teraniaya. Bukankah itu waktu yang tepat untuk berdo’a? Tidak perlu sakit hati dicaci, suatu saat dia akan kita beri bukti.
Mari saling menyemangati wahai saudaraku, kita akan reunikan 5,10, atau 20 tahun lagi bahkan di surga nanti. Kita akan bercerita tentang mimpi dan perjuangan ini. ”Jadikan kelelahan suatu saat menjadi hal menarik untuk di kenangkan.”
Suatu sore di pertengahan Juni 2009
Saat berbagi dengan para penerima Beastudi Etos Semarang
(Beastudi Etos: Beasiswa untuk para dhuafa berprestasi di PTN)



Saturday, October 31, 2009

Belajar Menjadi Masternya Para Guru

By P-Man: Inspiring Man

-->
Nak sekolahlah yang rajin agar kelak nanti kamu bisa menjadi guru,” itulah nasehat orangtua saya waktu saya masih duduk di sekolah dasar. Entahlah, saya sendiri juga tidak tahu apakah minat dan bakat saya memang menjadi guru. Paling tidak dengan nasehat tersebut menjadikan saya untuk terus bersemangat dalam belajar, apapun itu. Lagian, guru yang bagaimana yang dimaksudkan bapak dan ibu, saya juga belum tahu.
Seiring perjalanan hingga kuliah, barulah saya memahami bahwa guru yang dimaksud bukan hanya status tetapi juga profesi. Menjadi guru SD, SMP, SMA, dosen, pengajar adalah status tetapi berbagi dan memberi ilmu kepada orang lain adalah profesi. Guru berarti menyampaikan ilmu sekaligus memberikan keteladanan bagi orang lain dalam berbagai aspek. Dalam istilah Jawa ada peribahasa, Guru; digugu lan ditiru. Bukan hanya bisa berteori tetapi juga memberi bukti, bukan OD bahasa gaulnya (omong doang).
Semenjak kepemahaman itu, saya menjadi tambah syukur karena aktifitas yang diterjuni selama ini sudah mencakup keduanya:
  1. Saat semester awal kuliah sempat menjadi guru les private, membimbing berbagai pelajaran SMP. Berangkat sore, pulang malam dengan motor pinjaman berangkat seminggu 2 kali. Gajinya cukup untuk ganti bensin dan membeli lauk (karena dibawain beras dari rumah untuk masak sendiri). Gini-gini juga bisa masak sayur untuk diri sendiri, lho. Keringat sendiri lebih enak dibanding keringat orang lain, katanya. Setidak enak-enaknya rasa masakan sendiri habis juga, masak mau protes.
  2. Sempat menjadi guru TPQ yang mengajari anak-anak membaca Al Qur’an. Aktifitas setelah kuliah di sore hari, membimbing anak-anak yang super aktif. Maklum gurunya terbatas, satu persatu adik-adik yang masih umuran TK dan SD diminta membaca dengan disemak oleh gurunya. Bisa dibayangin, anak-anak lain pada lari kesana-kemari bahkan ada yang berkelahi. Walau masuk jurusan psikologi karena masih amatiran, berbagai teori buku juga tidak mempan.
-->
Pernah juga menjadi pengajar bimbingan kreatif anak-anak (Bikres di Asrama Etos). Membimbing 60 anak dari beberapa SD di sekitar asrama mulai keberanian bermimpi, mencoba, berekspresi untuk mengoptimalkan berbagai potensi kecerdasan yang mereka miliki.
  • Narasumber di Mutiara Pagi Tri Jaya 89,8 FM Semarang. Pengalaman yang mengesankan berbagi dengan orang lain. Berangkat setelah subuhan dengan semangat pagi untuk memberi inspirasi. Menantang dinginya pagi bahkan pernah juga melawan gerimis (padahal alergi ama gerimis) tapi semuanya bisa menjadi inspirasi. ”Menatang diri sendiri,” itulah tema terinspirasi dari pengalaman tadi. Beberapa tema lain yang sempat disampaikan; Seni Memotivasi Diri dan Orang Lain, Bijaksana Memahami Tanda dan Simbol, Kecerdasan Sosial, Rekayasa Diri dan Sosial, Mengatasi Stres dan Kecemasan, Berubah dan Menang, Mengembalikan Hubungan yang Retak, The Power of Positive Affirmation, Future Anticipation, Sukses dalam Segala Keterbatasan, Energi itu adalah Cinta, Akhirnya Cinta itupun Menyejarah dan Menjadi Peradaban, dll. Terima kasih buat mbak Indah yang membantu saya untuk berbagi dengan profesional muda Tri Jaya Semarang.
  • Direktur sekaligus trainer di Quantum Motivation Center. Bersama QMC sudah mengisi ratusan kali untuk tingkat usia SD, SMP, SMA juga. Dedikasi untuk terus berbagi dan menginspirasi terus dikembangkan salah satunya dengan menulis buku pengembangan diri yang bertemakan sukses dalam segala keterbatasan (ditunggu aja, ya).
    Insya Allah akan saya bagikan terus pada pembaca, jika ada yang mau sharing saya persilahkan kirim email. Udah tahu email saya kan? Bisa dilihat dibagian bawah posting. Nah, untuk bagian akhir dari kesempatan kali ini akan saya tampilkan pengalaman ngisi di beberapa tempat yang masih terkam dalam buku catatan saya. Saya sampaikan terima kasih atas kesempatan sharingnya.
    Jum’at, 30 Mei 2008
    Waktu adalah pedang,” pepatah Arab mengatakan demikian. Kesempatan yang spesial kali ini adalah berbagi dengan teman-teman di Fakultas Peternakan.
  • -->Penyampaian materi dilanjutkan sharing. Setelah berbagi dengan teman-teman di Fapet kemudian meluncur ke Bizz4Kids (Sekolah Bisnis untuk Anak dan Remaja), jadi trainer di sana. Terima kasih buat Rohis An Nahl atas kesempatan yang diberikan. Tetap semangat dalam menyebarkan kebaikan. (Beberapa aktifitas lain di bulan Mei tidak terekam dalam buku catatan).
    Sabtu, 14 Juni 2008
    Menjadi profesional itu sulit tetapi bukan berarti tidak mungkin,” menyemangati shabat seperjuangan di Fakultas Kesehatan Masyarakat. Emang sih, terkadang banyak pemakluman dengan berbagai kesibukan. ”Banyak amanah malah menjadi tidak amanah,” komentar negatif terhadap para pegiat organisasi di kampus. Saatnya kemudian mentransformasi menjadi mahasiswa-muslim-profesional. Tema ”Menjadi Mahasiswa Muslim Profesional” diangkat oleh temen-temen Gamais, FKM untuk menyemangati para anggotanya. Moga bertambah maju sekarang. Bagaimana perjalanannya sampai sekarang? Salam untuk temen-temen di FKM, ya.
    Jum’at, 11 Juli 2008
    BEM Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan menggagas pengembangan diri untuk para mahasiswa dengan LKMMnya. Kebagian materi pembukaan, deh. Sore hampir magrib baru naik panggung (ngisi materi maksudnya, soalnya tidak ada panggung). Diawali dengan simulasi autosugesti yang bikin pada heran. (Simulasi apaan?......Tu udah heran, kan?). Ada pokoknya. Rame, menyenangkan, dan luarbiasa pesertanya. Terima kasih buat temen-temen BEM FPIK, juga adikku tercinta yang mengantar dan bagian dokumentasi di belakang. Oh iya, bertepatan dengan hari ulang tahun saya. Alhamdulillah walaupun tidak bisa membagi kue tetapi bisa berbagi ilmu. Hadiah terindah bagi saya bisa berbagi.
    Ngomong-ngomong udah cukup siang ternyata. Mau persiapan expo di kampus Psikologi, berbagi di LKMM Pra Dasar D3 Teknik dilanjut sorenya ada meeting dengan temen-temen. Beberapa agenda yang belum tersampaikan: Ahad, 24 Agustus 2008; Kamis, 28 Agustus 2008; Ahad, 14 September 2008; Sabtu, 28 September 2008). Bulan-bulan puasa dan mendekati lebaran, sempat berbagi di SMA 1 Kebumen ditemani Belalang Tempur (motor Honda Prima tahun ‘91 tercinta…he2..).

    Hidup lebih berarti dengan berbagi dan memberi
    jadibijak@yahoo.com

    Thursday, October 29, 2009

    Merajut Mimpi di Gedong Songo

    (Outbound Keakraban Psikologi Angkatan 2007)
    (by. jadibijak@yahoo.com)
    Bagaimana mereka berbicara tentang saya? Adik-adikku tercinta, angkatan misalnya mengatakan bahwa P-Man itu; baik hati, ramah, dan banyak wawasan. Ya, masing-masing orang memiliki pendapat yang beragam selaras dengan kesan yang diterimanya selama berinteraksi. Saya belajar pada Abu Bakar ketika seseorang mengatakan perihal dirinya. ”Ya Allah, tetapkanlah kebaikan-kebaikan yang mereka katakan padaku. Jagalah anggapan mereka. Hamba berlindung dari hal-hal yang tidak baik,” begitulah kira-kira yang dikatakan Abu Bakar seraya memohon kepada Allah SWT.
    Udah sekian waktu, saya tidak ingat tepatnya kapan outbound keakraban angkatan itu dilaksanakan. Beberapa dari adik-adik ketika itu menghubungi saya dan berdiskusi tentang angkatan mereka. Dari sharing kemudian muncul ide untuk menjadikan angkatan mereka sebagai angkatan yang mantap kekompakannya. Bisa dibayanginlah, kuliah paling tidak 4 tahun, tiap hari bertemu, sama-sama datang dari jauh untuk tujuan yang sama yaitu meraih cita demi masa depan. Kenapa tidak ngompakin diri agar bisa saling sokong dalam merajut mimpi-mimpi dan asa. Begitulah kira-kira semangat yang mendorong kegiatan fun sekaligus mengakrabkan.
    Kerja layaknya detektif pun dilakukan. Sharing berbagai hal menyangkut keadaan angkatan. Dari berbagai perspektif tersebut kemudian diramu dalam bentuk outbound. Kegiatan keluar sekaligus refreshing, dipadukan dengan berbagai games, ada makan bersama, sharing, dan curhat. Gedong Songo menjadi pilihan tempat outbound. Acara dihandle saya dan beberapa teman-teman. (Pengen minta dokumentasinya, sebenarnya).
    Secara keseluruhan menyenangkan. Semoga menjadi angkatan yang kompak, menjadi kebanggaan kampus kita, dan jadi contoh yang lain. Pokoknya, 10 atau 20 tahun lagi pas ketemu, saya ingin mendengar mereka mengatakan, ”Thanks Mas P-Man, ya atas motivasinya di outbound dulu. Sekarang impian-impian kami udah terwujud, Mas.” Saya juga ikut bangga dan senang.
    Oya, thanks atas segala kesan terhadap saya. Jadi tambah amanah dari Allah SWT ini ceritanya. Bagaimana tidak, semua kesan harus dijaga baik-baik. Padahal kata orang, ”Istiqomah” itu kata mudah diucapkan tetapi cukup berat untuk dilaksanakan. Minta do'anya agar tetap istiqomah, ya. Ada yang hampir lupa, ”Kertas kesannya masih disimpenkan? Nah, itu juga amanah (setidaknya masukan juga harapan) dari temen-temen, lho.” Silahkan mewajibkan diri untuk menjaga amanah, ya.
    Beberapa kesan tentang saya, amanah ding;
    1. Baik hati, ramah, banyak wawasan, perspektif luas, nasionalis, bijaksana
    2. Berwibawa, ramah, cerdas, sholeh, tahu apa yang dimau (orang lain), semangat, murah senyum
    3. Nama kartu (pinter dan ide briliant), sabar, guruku bangetlah (aku jadi tersanjung)
    4. Pak guru, ganteng (amin, ya Rabb), asisten lovely dosen (he...he...), apikan (harus itu)
    5. Lembut (do'akan tetap lembut, ya), rajin menabung (emang alumni pramuka, kok. Ngamalin dasa darma pramuka. he..he...)
    6. Lurus banget (maksudnya alim, gitu ya), senyumnya gak kuat banget (katanya sih pedang terhunus bisa jatuh dengan senyuman yang tulus. Lagi belajar mraktekin)
    7. Terima kasih atas nasehatnya selama ini. Senior teladan. Semangat di KeSPPI (tempat penggemblengan diri selama di Psikologi, tu).
    8. Dewasa, belain kami. Thanks, ya mas. Udah bantu kami. Sukses !!! (Thanks juga buat adik-adikku tercinta, jangan sungkan untuk berdiskusi atau kontak ama aq. he..he...).
    Ditulis di kamar latai dua sembari sesekali melihat ke jendela (kebun yang hijau, sering melihat tupai di pohon pisang dekat cendela). Ditemani Ayushita yang setia melantunkan lagu ”Tuhan Beri Aku Cinta.” Jadi inget saat ngisi di Tri Jaya temanya ”Energi itu adalah Cinta,” artinya semuanya coba saya tulis dengan cinta . :-)


    Aku ingin bercerita tentang kenangan-kenangan ketika outboud itu.
    Entah 10 atau 20 tahun lagi saat kita bereuni.
    Tetap semangat merajut mimpi-mimpi kalian."
    P-Man: Teman saat mata kuliah Psikologi kepribadian I (mendalami je, he...he...Malu juga makanya duduknya lebih sering di belakang. Jangan bilang siapa-siapa, ya. He...he..Rahasia).


    Wednesday, October 21, 2009

    Personal Profile


    PERSONAL INFORMATION
    Full Name : Pariman
    Call Name : P-Man (Inspiring Man)
    Place, date of birth : Sragen, July 11, 1985
    Age : 24 year
    Gender : Male
    Marital Status : Single
    Nationality : Indonesian
    Religion : Moslem

    CONTACT INFORMATION

    Contact Address : Ngawen, Majenang, Sukodono, Sragen, Central Java
    E-mail Address : jadibijak@yahoo.com

    FORMAL EDUCATION

    1992 – 1998 :Elementary, SDN III Majenang
    1998 – 2001 : Junior High, SMPN 1 Sukodono
    2001 – 2004 : Senior High, SMUN I Sragen
    2004 – Now : Psychology, Diponegoro University of Semarang

    WORK EXPERIENCES


    2006-Now : Motivation & Leadership Trainer for Teenager & College Student
    2007 : Paper Presenter of The 2nd National Congress API (Islamic Psychological Association), Semarang
    2007-now : Director of Institutional Training & Motivation for Teenagers and College Students QMC (Quantum Motivation Center), Semarang
    2007-now : Coach of Scholarship College Students Beastudi Etos Dompet Dhuafa Republika, Semarang
    2008 : Trainer of Business School for Kids and Teenagers BIZZ4KIDS, Semarang
    2008 : Paper Presenter of The National Developmental Psychology Congress, Jakarta*
    2008-2009 : The Researcher Assistant of Non-Govermental Organization KRISIS (Kajian Strategis Demokrasi dan Sosial), Semarang
    2008- Now : Speaker of Motivation & Inspiration Program MUTIARA PAGI Tri Jaya 89,8 Fm, Semarang

    SHORT COURCE AND TRAINING

    2004 : Participant of Marketing Training by Indonesia Marketing Association (IMA-Undip), Semarang
    2004-2007 : Training of skill upgrading, once a week (three years program) Beastudi Etos DD Republika
    2004 : Participant of IMAMUPSI Development Training (Islamic Psychology), Semarang
    2005 : Participant of Temu Etos Nasional 2004 in Parung, Bogor (Enterpreneurship Training and Low Cost Education Workshop during one week)
    2005 : Participant of National Consensus IMAMUPSI (Moslem Student Union of Islamic Psychology), Malang
    2006 : Participant of Emotional & Spiritual Question Seminar by BEM Teknik, Undip
    2006 : Participant of Training for Trainer by Beastudi Etos, Semarang
    2006 : Participant of Training for Trainer by BEM Psikologi, Undip
    2006 : Participant of The 1st ARUPS Congress (Asean Regional Union Psychologycal Societies), Jakarta
    2006 : Participant of Green Leaf (School of Business), Semarang
    2007 : Participant of Research Training by BEM MIPA, undip
    2007 : Participant of The 2nd National Congress API (Islamic Psychological Association), Semarang
    2007 : Participant of Pelatihan Pemuda Sadar Informatika by Kementerian Pemuda & Olah Raga, Jakarta
    2008 : Participant of National Congress MITI-M (Masyarakat Ilmuan & Teknolog Indonesia) Mahasiswa, Semarang
    2008 : Participant of Training for Trainer by BIZZ4KIDS (Business School for Kids & Teenager), Semarang
    2008 : Participant of Sampoerna Best Student Visit 2008, Surabaya
    2008 : Participant of Temu Etos Nasional 2007 in Parung, Bogor
    2009 : Participant of National Congress MITI-M (Masyarakat Ilmuan & Teknolog Indonesia) Mahasiswa, Jakarta
    2009 : Participant of Regional Meeting MITI-M (Masyarakat Ilmuan & Teknolog Indonesia) Mahasiswa, Semarang

    ORGANIZATIONAL EXPERIENCES

    2004-2007 : Beastudi Etos DD Republika Receiver, Semarang Region
    2004-Now : Head of Psychology College Student 2004, Undip
    2005-2007 : Head of Student Activity Unit Group Study of Islamic Psychology KeSPPI (Kelompok Studi Pengembangan Psikologi Islami), Undip
    2007-Now : The Comitte of Student Activity Unit Group Study of Islamic Psychology KeSPPI (Kelompok Studi Pengembangan Psikologi Islami), Undip
    2007 : Head of Student Activity Unit R&B (Research & Business), UNDIP
    2007 : Head of Sragen-Regency Community College Student HMPDS (Himpunan Mahasiswa Putra Daerah Sragen) Health Devition, Sragen
    2007-Now : Head of Forum Komunikasi Alumni Pelatihan Pemuda Sadar Informatika, Kementerian Pemuda & Olah raga
    2009 : Foreign Relation of MITI-Mahasiswa (Masyarakat Ilmuan dan Teknolog Indonesia)-Mahasiswa

    SKILLS

    1. Feasibility Study:
    a. Industrial & Organizational Psychology: Assement Organizational Problem
    b. Clinical & Developmental Psychology: Assement Human Problem
    2. Desain Training Curriculum & Individual Therapy
    3. Operator of Motivation Training in door & out door

    HEALTH


    Height : 1.60 m
    Weight : 50 kg
    Have No Serious Trouble Health

    I declare the details stated to be true and complete
    Semarang, July, 15, 2009


    Pariman

    This entry was posted in

    Tuesday, September 8, 2009

    Dari Peta Menjadi Nyata

    by P-Man: Inspiring Man
    Motivator dan Penulis Buku


    Berawal dari Imajinasi
    Hai, lihatlah ke seberang sana, kita telah menemukan India,” demikian kira-kira teriak kegirangan Columbus melihat daerah baru jauh di seberang lautan. Ekspedisinya memiliki misi menemukan daerah sumber gandum yaitu India. Bermodalkan peta dan kompas, diarunginya lautan, menantang ombak dan badai. Entah sudah sampai dimana, akhirnya mereka menemukan sebuah daerah baru. Dikirnya mereka sudah sampai di India (daerah Asia). Setelah mencermati peta yang di bawa, barulah dia sadar jika ternyata tempat tersebut bukan India tetapi sebuah tempat baru (di Benua Amerika).


    Demikian kira-kira gambaran kehidupan kita. Masing-masing orang memiliki pulau impian, tempat terindah yang diharapkan. Pulau impian tersebut tentunya harus definitif, jelas. Diperlukan Peta yang akan menuntun langkah-langkah mencapainya. Perlu kapal (sarana) mencapainya. Perlu awak kapal berupa orang-orang yang bersinergi, saling mendukung demi mencapai pulau impian.

    Ringkasnya begini, jika sekarang Anda menjadi mahasiswa:
    a. Profil diri seperti apa yang anda miliki ketika diwisuda?(akademis, sosial, keagamaan, softskill) b. Bagaimana langkah-langkah mewujudkannya?(kualitas dan kuantitas belajar, organisasi dan kegiatan yang diikuti, targetan tiap semester dan tiap harinya) c. Apa saja yang anda perlukan untuk mencapainya? d. Pola-pola atau tindakan apa yang harus anda biasakan mulai dari sekarang?(cara berpikir dan bertindak, membangun kebiasaan positif )
    Segalanya diciptakan dua kali
    Segalanya diciptakan dua kali,” Stephen R.Covey dalam 7Habitnya. Kita adalah arsitek bagi mimpi dan cita-cita yang kita bangun. Awalnya semua dari imajinasi, bayangan, harapan kemudian diwujudkan dalam perencanaan, dilakukan secara tahapan, melakukan pembiasaan hingga akhirnya menjadi kenyataan. Sebagaimana para arsitek yang membuat blue print rumahnya dulu baru kemudian menyiapkan bahan bangunan yang dibutuhkan lalu membangunya sesuai rancangan gambar. Meraka yang tidak memiliki “peta kehidupan” atau blue print layaknya tukang bangunan yang membangun rumah tanpa sketsa dulu. Jangan salahkan orang lain jika ternyata sudah capek menumpuk bata ternyata bukan rumah yang terbentuk tetapi kandang ternak. Sungguh sedih.

    Berantakan Akibat Tanpa Perencanaan
    Apa yang akan Anda lalukan andai saja Anda sopir taxi yang bertemu dengan seorang penumpang yang meminta Anda mengantarnya. ”Mau kemana, mas?” sebagai seorang sopir biasanya menanyakan tujuan. Namun pemesan tadi ternyata tidak tahu tujuannya, “Pokoknya saya diantar.” Anda sebagai sopir tentunya juga bingung mau diantar kemana penumpang yang tujuannya tidak jelas itu. Akhirnya kepikiran, “Emang punya uang berapa, mas?” Ajak saja muter-muter sampai uangnya habis lalu suruh penumpang tadi turun, beres juga akhirnya.

    Emm...Alangkah malangnya jika Anda adalah penumpang itu. Sudah capek-capek ngeluarin tenaga, uang, ikut berbagai kegiatan tetapi karena tidak punya tujuan hidup yang jelas akhirnya hanya dapat capek. Semua pengorbanan sia-sia, tidak produktif.

    Anda adalah penumpang yang termangu-mangu di seberang jalan. Pertanyaannya; Sudah tahu jelas alamat (cita-cita) yang dituju? Jalan (tahapan) yang harus dilalui? Jangan sampai setelah lama menaiki taxi (jurusan kuliah, pekerjaan), Anda baru sadar bahwa sebenarnya Anda ingin pergi ke tempat lain (jurusan lain). Anda sekedar kuliah, kantin, kos, mall tanpa tujuan tiba-tiba nantinya baru sadar ternyata hanya ikut-ikutan. Ada sopir taxi, angkot (pergaulan, organisasi) yang iseng, muter-muter sana sini tapi tidak sampai tujuan.

    Pergaulan dan Percepatan
    Siapa yang bergaul dengan penjual minyak wangi, dia akan tertular wanginya. Siapa yang bergaul dengan pande besi, dia akan terkena apinya.” Demikian nasehat bijak dalam pergaulan. Ada ungkapan lain, ”Bagaimana Anda di masa depan tergantung 10 teman dekat yang Anda miliki.” Sukses atau tidak, kepribadian, karakter dst tergantung dengan siapa pergaulan yang dilakukan.

    Jika menghapkan diri menjadi public speaker tentunya bergaul dengan orang-orang ekstrovert, memilih komunitas yang bisa meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum. Di sanalah percepatan diri dilakukan. Mendekatlah pada sumbernya. Banyak bergaul, berinteraksi, berdiskusi, bekerja bersama-sama dengan berbagai hal yang mendukung tercapainya cita-cita.

    ”Ojo cedhak kebo gupak,” pepatah Jawa (jangan dekat-dekat kerbau kotor). Artinya meninggalkan pergaulan yang tidak produktif, tidak jelas juntrungannya.
    FB: Inspiring Man