Saturday, August 23, 2008

Sensitifitas Terhadap Makna dan Simbol


-->
Masing-masing orang mempunyai cara yang khas dalam mengkspresikan batinnya, mengekspresikan apa yang dimauinya dari orang lain. Cara berkomunikasi verbal dan non verbal tidak sama atara daerah satu dengan yang lain. Solo terkenal dengan tutur katanya yang lemah lembut, jawa timuran dengan nada bicara yang tinggi, atau teman-teman Kebumen dan sekitarnya yang termasyur dengan logat ngapaknya. Semua tadi memberikan kekhasan cara menyampaikan bagi masing-masing daerah, tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk.
Beda cara menyampaikan terkadang menjadikan beda dalam tanggapan. Orang jawa khususnya Jawa Tengah ada yang menganggap kurang asertif, tidak bicara apa adanya. ”Mari mampir mas. Makan dulu.” Kemudian dijawab, ”Terima kasih saya sudah makan, lain kali saja.” Padahal belum makan tetapi menolak tawaran yang diberikan. Hal yang demikian tidak bisa dikatakan bohong dan dianggap bersalah.
Orang dewasa, anak-anak, semua orang mengekspresikan dirinya namun dengan cara yang tidak sama. Bayi menangis sebagai ungkapan bahwa dia membutuhkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Seandainya sudah bisa bicara barangkali yang mencoba untuk diminta adalah air susu karena kehausan, meminta untuk ditemani karena takut sendirian, atau menolak digendong karena tidak menyukai orang yang menggendongnya. Semakin dewasa semakin bermacam cara mengekspresikan dirinya.
Sayangnya, tidak semua ekspresi itu dimengerti oleh orang lain dan tidak semua ekspresi mendapat tanggapan sesuai yang diharapkan. Pernah suatu ketika dalam perjalanan pulang dari Jakarta ke Semarang dengan kereta, saya bertemu dengan seorang remaja putri yang masih duduk di SMA. Kebetulan waktu itu duduk dalam satu deretan kursi sehingga kami bisa ngobrol selama perjalanan.
Dia pergi ke Jakarta tanpa sepengetahuan orangtuanya dan sudah ada satu minggu di sana. Padahal sudah mulai hari aktif sekolah namun yang terjadi malah memutuskan untuk tidak masuk sekolah dan pergi ke rumah pamanya di Jakarta. Kenapa bisa demikian berani pergi ke Jakarta sendirian? Singkat cerita, orangtuanya termasuk orang yang sibuk dengan pekerjaan. Setiap harinya pulang sudah cukup larut dan pagi-pagi benar sudah harus berangkat bekerja. Jarang orangtua berinteraksi dengan remaja putri tadi, ketika pulang putrinya sudah tidur, tidak sempat makan malam bersama. Sama halnya ketika pagi hari, sudah berangkat tidak sempat sarapan pagi bersama. Hampir-hampir setiap hari demikian, di sisi lain aktifitas keseharian remaja tadi sekolah, belajar, nonton televisi, sedikit bergaul dengan temannya sehingga mengalami kejenuhan dan memutuskan untuk pergi ke Jakarta.
Seorang remaja yang secara alamiah dihadapkan pada krisis identitas diri. Siapa sejatinya saya? Dalam proses penemuan dirinya itulah dibutuhkan orang-orang yang bisa membimbing dan mengarahkan. Orangtua yang diharapkan bisa memberikannya ternyata disibukkan oleh pekerjaan. Kesibukan yang memang harus diakui untuk kebahagian anaknya juga namun bagi seorang remaja, perhatian dan bimbingan untuk menemukan dirinya jauh lebih berharga dibanding yang lain.
Seandainya diverbalisasikan barangkali yang mencoba disampaikan adalah keluhan, nada protes dari seorang anak kepada orangtuanya karena selama ini merasa kurang mendapat perhatian. ”Ayah-Bunda, Nanda tidak butuh uang. Nanda butuh perhatian dari Ayah-Bunda. Nanda merindukan makan malam, sarapan pagi, dan berlibur bersama Ayah-Bunda.” Kalau orangtua tidak memahami kepergian itu sebagai ungkapan anak membutuhkan kasih sayang maka boleh jadi yang muncul bisa berupa tanggapan yang salah. Menganggap anak bandel, tidak menurut dengan orangtua, pergi dari rumah tanpa bicara terlebih dulu.
Tidak akan terjadi masalah ketika orangtua dengan bijaksana dan penuh empati menanggapinya, ”Ayah-Bunda memang disibukkan dengan pekerjaan. Nanda, maafkan Ayah-Bunda, ya. Nanda sampaikan saja apa yang Nanda rasakan, Ayah-Bunda berjanji akan mendengarkannya dengan baik. Ayah-Bunda memang salah.” Kemudian dengan lembut orangtua membuat anak tenang dengan mengatakan, ”Ayah-Bunda akan menyediakan waktu untuk Nanda, biarlah urusan pekerjaan diurus oleh teman-teman Ayah-Bunda. Kita akan berlibur.”
Kehidupan keluarga yang begitu dirindukan oleh remaja manapun. Orangtua yang senantiasa memberikan bimbingan bagi anak untuk menemukan jati dirinya, keterbukaan dalam komunikasi, empati, dan saling menghormati masing-masing.

Tuesday, August 12, 2008

CINTA SEJATI, SEJATINYA CINTA !?

by Filsuf Cinta

Engkau tidak akan pernah bisa memahami seperti apa itu Cinta sebelum Engkau mengalaminya sendiri. Cinta bukanlah dipahami dengan apa yang ada di kepala tetapi dengan apa yang ada di dalam dada karena Cinta tidak terletak di ranah kognisi tetapi pada ranah afeksi. Ya, afeksi. Janganlah heran jika Engkau menemui orang yang sedang dilanda Cinta memandang obyek yang dicinta itu penuh dengan keindahan. Jangan heran ketika Engkau menemui orang yang dilanda Cinta senantiasa bahagia untuk bertemu dengan yang dicinta. Cinta menjadikan yang sebenarnya ’tidak begitu’ menjadi ’sangat begitu’. Tidak begitu cantik menjadi tampak yang tercantik. Tidak begitu ganteng menjadi sangat ganteng.

Cinta menghendaki penyatuan subyek yang mengalami cinta dengan obyek cintanya. Hingga akan terasa begitu menyakitkan ketika terhalangi. Hanya orang yang pernah mengalami cintalah yang akan memahami betapa begitu lamanya menunggu, betapa bahagia ketika bertemu.

Cinta adalah ruh, ya ruh yang akan menggerakkan siapapun yang dilanda cinta untuk bergerak. Ruh yang akan mencari materi Cinta. Cinta menjadikan tidak sekedar ada tetapi mengada. Becoming berarti bergerak, bergerak berarti berubah. Bukanlah dia Cinta kalau tidak menjadikan ia berubah. Bukanlah Cinta kalau tidak menjadikan ia bergerak. Gerak, beraksi sehingga tidak aneh ketika seseorang yang sedang jatuh cinta rela berkorban demi yang ia cintai. Itulah bukti sebuah cinta. Kelembaman pun berlaku bagi orang yang jatuh Cinta. Ketika dia bergerak dengan Cintanya maka akan bergerak terus. Ketika sekali saja dia terluka dengan Cintanya maka begitu sulit untuk menggerakkan dia kembali.

Engkau perlu memahami, membedakan apakah itu cinta atau kah nafsu. Jangan sampai Cinta terhianati oleh nafsu yang mengatasnamakan Cinta. Cinta sejati adalah memberi, memahami, dan merasai. Cinta sejati bukanlah menuntut, meminta, dan meng-aku. Engkau ingat rumus Cinta antara dua anak manusia ? Bukanlah 1+1=2 tetapi 1+1=1. Kenapa demikian ? Cinta menuntut penyatuan dengan obyek yang dicintai. Bukanlah saling mengalahkan tetapi merasai, menghilangkan ke aku-an masing-masing. Itulah logika cinta ( 1 – ½ ) + ( 1 – ½ ) = 1. Hanya Allah labuhan Cinta hakiki, hanya Allah hakekat sebuah Cinta sejati, dan sejatinya Cinta.


Friday, August 8, 2008

Sang Penakluk

Ada rimba raya yang menghadang manusia-manusia yang mendeklarasikan hidupnya untuk menjadi pengukir prasasti. Rimba itu hampir-hampir belum ada jalannya. Olehkarena itu, perlu dirintis sedikit demi sedikit, bertahap sebagaimana tahapan yang manusia lalui sampai menjadi seperti sekarang (janin, bayi, anak-anak, dewasa, tua).
Taruhlah tujuan sudah ditetapkan, maka tahapan selanjutnya adalah membangun jalan-jalan menuju ke sana. Langkah-langkah kecil tetapi terarah dan terencana dengan baik. Tidak perlu buru-buru dalam menilai tingkat keberhasilannya. Banyak yang pesimis dan mandeg karena terlalu dini memutuskan gagal. Ada juga yang terlena karena mengira sudah sampai puncak pendakian kesuksesan.
Perlu diingat bahwa success is journey. Artinya langkah-langkah kecil entah sukses atau gagal merupakan bunga-bunga yang semakin memperindah perjalanan kesuksesan itu. Kegagalan ataupun kesuksesan kecil itu bisa dikatakan menjadi syarat wajib yang harus dilalui setiap orang. Hanya yang menjadi penentu adalah sejauhmana keyakinan dan daya tahan mereka. Ibaratkan seseorang membeli bensin di POM Bensin dan dia sedang mengantri. Pada gilirannya pastilah dia akan mendapatkan. Namun, apabila dia tidak sabar, boleh jadi dia pergi sebelum mendapat bensin.
Kenapa ibaratkan mengantri? Ya, mengantri. Yakinkah bahwa Tuhan menciptakan dunia seisinya diperuntukkan bagi manusia? Kalau luasnya lautan itu adalah berbagai kesuksesan yang bisa diraih manusia, maka tergantung seberapa banyak yang manusia usahakan untuk mengambil airnya. Ada manusia yang mengambil dengan sendok tetapi mau mengisi ember (pengemis dan sejenisnya). Berapa lama yang dia butuhkan? Ada juga manusia dengan mendayakan berbagai potensinya menciptakan alat dulu, pompa air (para pengusaha). Dia menggunakannya untuk mengambil air di laut. Berapa banyak yang bisa dia ambil?
Ingatlah semua usaha itu memerlukan fokus. Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “Kalau anda memanen padi dan bertemu belut, maka ambilah belum itu. Namun jangan anda lupakan padinya.” Ada hal-hal kecil yang menjadi godaan ketika seseorang menempuh usaha dalam mewujudkan apa yang dicita-citakannya. Hal-hal sepele itu jangan sampai mengalihkan fokus perhatian pada tujuan utama yang ingin diraih.
Ada banyak cara dan jalan untuk sampai pada dermaga cita-cita. Kadang-kadang kegagalan lebih karena jalan atau cara yang tidak pas. Kalaulah kesuksesan itu masih digembok dan ditutup rapat, maka bukalah terlebih dulu dengan kunci yang pas. Setelah itu, doronglah pintu itu.
Gembok itu berupa sikap mental yang tidak mengarah pada kesuksesan (malas, suka menunda, tidak terencana). Sedangkan pintu itu berupa usaha seseorang dalam meraihnya. Bukalah sikap mental yang membelenggu diri anda. Jadikanlah lebih terang dan dekat lagi cita-cita yang anda ingin raih dengan usaha yang sebanding. Buka dulu gemboknya, hancurkan.

Sunday, August 3, 2008

Bulan Agustus


-->
Nasehat Bagi Pemimpin

Wahai pemimpin ...........
Ketahuilah ketika memimpin dengan harapan mendapatkan kebanggaan, maka kehancuran yang akan engkau dapatkan.
Ketahuilah ketika memimpin dengan harapan mendapatkan sanjungan, maka kekecewaan yang akan engkau rasakan.

Kebanggaan hanyalah fatamorgana,
masalah merasa (GR : Gedhe rumangsa)
Sanjungan hanyalah bibir polesan,
bukan nurani yang disuarakan

Jadilah pemimpin yang berwibawa
Visinya menyapa seluruh dunia, melintasi generasi manusia dan tak lekang oleh masa
Jadilah pemimpin yang dicinta, bukan disembah-sembah dan dikultuskan
Namun, senantiasa dirindukan ketika tiada keberadaan, ditanyakan ketika tidak kelihatan
Jasadnya memang telah kembali menjadi asalnya
Namun, semangat perjuangannya senantiasa hadir dalam setiap jiwa

Sulit barangkali, jika engkau merasa sendiri
Namun, yakinlah Tuhan senantiasa menyertai
Keikhlasan modal utama kepemimpinan
Kesabaran modal utama untuk bertahan dalam berbuat kebaikan

Sadarilah, orang-orang yang kalian pimpin bukanlah orang-orang yang sempurna
Tidak ada salah sama sekali
Mereka manusia biasa yang mempunyai kesibukan dan peran
Mereka juga kuliah, anak kos, berperan sebagai teman dan sebagai anak dari orang tua yang begitu mereka cinta
Namun, yakinlah bahwa mereka tetap berusaha melakukan yang terbaik dan senantiasa optimis


Nasehat Bagi Yang Dipimpin

Sadarilah wahai saudaraku bahwa pemimpin kalian ini bukanlah Muhammad SAW yang begitu cinta akan yang dipimpinnya hingga detik-detik kehidupannya masih menyebut, “Ummati.....ummati.....ummati. Umatku....ummatku.....ummatku ( 3X )

Sadarilah wahai saudaraku bahwa pemimpin kalian ini bukanlah Abu Bakar Asy Syidiq yang begitu besar pengorbanannya hingga mensedekahkan seluruh harta untuk sebuah keyakinan
Sadarilah wahai saudaraku bahwa pemimpin kalian bukanlah Umar bin Khatab yang begitu tinggi komitmennya untuk yang dipimpin hingga Beliau berkata, “Kalau saya tidur di siang hari berarti saya mengabaikan hak-hak rakyat, kalau saya tidur di malam hari berarti saya mengabaikan hak saya untuk beribadah kepada Allah SWT”

Sadarilah pemimpin kalian bukanlah Utsman, Ali, atau bahkan pemimpin-pemimpin besar dunia lainnya
Tetapi yakinlah bahwa mereka pemimpin kalian adalah orang-orang yang berusaha memegang prinsip dan berusaha membuktikan kredibilitasnya

Namun, ingatlah saudaraku pemimpin adalah cerminan siapa yang dipimpin
Mereka yang memilih dengan hati nurani melahirkan kemimpinan yang berhati nurani.
Mereka yang memilih dengan emosi melahirkan kepemimpinan yang emosi
Engkau bisa membayangkan ?

Yakinilah bahwa mereka pemimpin kalian adalah orang-orang yang berusaha meneladani pemimpin-pemimpin besar dunia.
Berusaha mempunyai kredibilitas tinggi dan menjunjung amanah


Thursday, January 31, 2008

Caraku Memilih Cinta, Caraku Mencintaimu

by Pariman, Psikologi Undip

Artikel ini aku tulis sebagai wujud perhatianku terhadap seorang sahabat yang bercurhat padaku. Sahabat itu merasakan perasaan yang berbeda seiring semester kuliah yang semakin atas kepada seseorang di kampusnya. Apakah yang sahabat tadi rasakan benar-benar cinta? Sudah berapa jauh kesiapan cinta menuju ikatan yang lebih serius (pernikahan)? Benarkan si dia pilihan yang tepat?
Ketertarikan terhadap lawan jenis itu wajarkan. Apalagi kalau kesan pertama begitu menyenangkan. Pasti nantinya akan menjadi “kenangan” yang senantiasa dirindukan. Pengan deh ngulangi lagi suatu perjumpaan.Kapan ya?
Mulai deh yang namanya deg-degan bila bertemu, dimanapun, kapanpun dia senantiasa menyisip dalam benak pikiran (halusinasi kali, ya ?) Cara ”kreatif” pun mulai dijalankan, SMS sekedar bertanya tentang kabar atau janjian ingin ketemu.
Setiap manusia tentunya butuh kasih sayang, cinta dan perhatian, dikasihi, dan disayangi. Manusia butuh orang lain untuk dicintai dan disayangi. Wajar, kalau hakekat cinta adalah keinginan untuk senantiasa dekat dan bersatu dengan obyek cintanya. Keinginan merupakan dimensi psikologis seseorang.
Dalam cinta itu butuh rasa dan interaksi. Olehkarena itu, cinta merupakan kesatuan subyek dan obyek cinta. Cinta pun mempunyai logika sendiri. Logika cinta bukanlah 1+1=2 namun 1+1=1. Secara fisik, dalam rumah tangga keluarga (cinta) memang ada suami dan istri, ada dua cinta yang bertemu kemudian melebur menjadi satu dalam bahtera rumah tangga cinta. Masing-masing mengurangi setengah egonya.
Cinta pun mempunyai intuisi sendiri seakan dia mampu mengetahui obyek terbaiknya. Firasat dan kepekaan tanpa sebuah latihan. Ngerti sak durunge winarah. Bisa menebak terjadinya sesuatu sebelum yang sebenarnya terjadi. Punya alasan yang tidak mudah untuk diungkapkan, rasa itu datang begitu saja. Namun, perlu diingat kalau alasan dan ketepatan alasan mencintai menentukan kelangsungan perjalanan cinta.
Kedewasaan itu memang membawa serta peran yang akan dijalankan. Tua itu pasti namun dewasa adalah sebuah pilihan. Dewasa, berkeluarga, menjadi suami bagi yang laki-laki dan menjadi istri bagi wanita. Ada peran-peran yang harus dijalankan di masyarakat. Seorang wanita nantinya akan dipanggil bukan dengan nama dia yang sekarang tetapi nama suaminya. Kesejatian cinta dipersatukan oleh pernikahan dan kekeluargaan. Ada yang begitu unik dalam perkawinan. Perkawinan bukan hanya persatuan dua insan yang saling mencinta namun persatuan dua keluarga, keluarga besar bahkan dua masyarakat (desa atau kota).
Jauhnya jarak fisik dengan orangtua ternyata secara tidak disadari membawa seseorang menemukan pengganti kasih sayang ketika di rumah. Awalnya sekedar teman kemudian menemukan kecocokan dan menjadi pasangan mengarungi kehidupan.
My friend. Kaum wanita itu unik. Cara berpikir mereka dalam menentukan kelayakan seorang pasangan.”Siapa diantara lelaki yang kutemui ini yang layak menjadi suamiku.” Mereka menguji dengan pertanyaan, ”Siapa yang kira-kira bisa memberikan yang terbaik untuk hidupku dan anak-anakku nantinya?” Mereka membutuhkan seseorang dengan profil yang ideal, pasti masa depannya, pun mereka (kaum wanita) membutuhkan jaminan dalam bentuk ikatan. Resmi tentunya. Bukan sekedar teman tapi mesra (TTM) namun pernikahan. Jaminan untuk diri dan anaknya kemudian.
Kaum pria pun unik. Mereka senantiasa memasang radarnya, mengerahkan semua indera untuk mendeteksi, ”Siapa wanita yang setia menemaniku mengarungi kehidupan dalam kesenangan maupun kesengsaraan?” Mereka menyadari kalau tanggung jawab sebagai seorang suami itu besar. Tanggung jawab kepemimpinan ada dipundaknya olehkarena itu yang mereka butuhkan adalah teman sejati dalam hidup ini dan nanti (di surga).
Sebagai sahabat Saya ingin menyampaikan pesan yang penting untuk sahabat. Masing-masing orang memang mempunyai cara yang berbeda dalam menentukan pilihan pasangannya. Biasanya tergantung orientasi hidup setiap orang. Mereka yang berorientasi keridho’an Allah swt menetapkan orientasi dan tujuan hidupnya untuk Islam (beribadah dan berdakwah untuk mendapat ridhonya). Semua tadi mengandung konsekuensi terhadap pasangan yang dipilih untuk mengarungi samudera kehidupan. Kesamaan orientasi membawaserta dua insan itu dalam satu rasa. Satu rasa dalam perjalanan seraya tiada mungkin ada perpisahan di perjalanan. Cara mereka menentukan pilihan pun unik. Tidak ada pacaran dalam kamus mereka. Paling hanya ta’aruf sebatas mengenal untuk kemantapan. Tanpa saling bersentuhan fisik, masing-masing memahami itu. Tanpa berdua-duaan dan mengumbar pandangan karena mereka memahami ada Allah swt yang senantiasa mengawasi. Cinta mereka disatukan melalui pernikahan. Barulah mereka bebas berpacaran dan mengenal lebih dalam. Cinta mereka adalah cinta yang rabbani. ”Memilah dengan logika, merasai dengan cinta, dan memutuskan dengan do’a.”

Monday, December 31, 2007

Tahun 2008 adalah Milikku, Perayaan Tahun Baru Biarlah Milikmu


by Pariman, Psikologi Undip

Waktu Subyektif

Masing-masing orang mempunyai penghayatan yang berbeda terhadap peristiwa yang dialaminya. Peristiwa yang dialami bisa memunculkan suasana perasaan, baik dihayati sebagai perasaan senang atau susah. Lebih lanjut lagi, suasana itu kemudian turut menentukan tindakan yang dilakukan seseorang.

Pernah mengikuti presentasi kuliah atau seminar yang terasa ‘membosankan,’ garing? Bikin orang males mendengarkan, cuek? Mereka yang pernah mengikuti pelajaran yang ‘membosankan’ pasti bisa merasakan. “Sebenarnya tidak begitu berminat, namun karena diwajibkan mengambil, maka tidak ada pilihan lain.” Dua SKS (100 menit) rasanya begitu lama, serasa berjam-jam. Orangnya sih duduk di kelas tetapi pikirannya kemana-mana.

Sungguh beda rasanya ketika dibandingkan dengan ngobrol santai dengan temen apalagi temen lama yang baru bertemu, saking sudah lama berpisah. Ngobrol lama, sampai pagi pun dilakoni dan terasa hanya sebentar. Perasaan senang menjadikan waktu lama terasa begitu singkat.

Adanya HP sangat membantu mempererat kembali komunikasi. Jadi ingat fasilitas free talk tengah malam. Anak muda berusaha memanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk menghubungi friend-friend lamanya, maklum bisa ngirit. Kalau tarif normal, bisa jebol isi kantong. Bangun tengah malam pun diperjuangkan. Bayangin aja yang biasanya molor sampai pagi tetapi mesti tidur siang dulu atau nyalain alarm.

Tidak bisa dibayangin, seandainya kita bikin borring orang lain. Entah dengan presentasi di depan kelas yang garing, nyebelin. “Kalau sekedar membaca slide, gua juga bisa tetapi jelasin dong biar gua mudheng ?!” Wajarkan, kalau ada yang berkomentar seperti itu.

Teman-teman kita aja yang masih hormat atau kurang asertif, tidak berkomentar. Paling disampaikan dalam bentuk lain, entah ngobrol, main games HP atau ngegambar yang lagi presentasi. Jangan salah dong. “Gua bisa lakukan hal lain yang lebih bermanfaat daripada mendengarkan presentasi yang tidak menarik.” Ganti chanel.

Waktu (antara Kenangan, Realitas, dan Harapan)

Semua orang datang ke masa sekarang membawa serta masa lalunya. Ada kenangan yang senantiasa dirindukan. Ada pengalaman pahit yang senantiasa menjadi pelajaran. Masa lalu yang sempat menggembleng setiap insan dan mengantarkannya pada kedewasaan.

Dalam perjalanan menuju masa sekarang banyak masalah yang menghampiri. Ada dari kita yang menyapa, berkenalan, dan beradaptasi terhadap masalah itu, namun ada juga yang mengeluh dan menyingkir. Kesadaran membawa seseorang kepada kepemahaman kalau ternyata masalah itu mendewasan. Masalah sebagai masa orientasi yang melatih kemampuan dan memaksa seseorang mengaktifkan semua potensi yang dimilikinya.

Kegagalan pun mewarnai masa lalu. Kegagalan yang dirasakan begitu menyakitkan. Marilah kita ambil sudut pandang yang lain. Kegagalan menjadikan seseorang lebih berhati-hati, berefleksi kembali terhadap apa yang pernah dilakukan, dan menjadikan perencanaan lebih baik lagi. Senantiasa ada pelajaran kebajikan dalam setiap kegagalan. Kegagalan diri sendiri ataukah kegagalan orang lain pada dasarnya begitu berharga untuk diambil maknanya.

Perjumpaan dengan kejayaan, baik prestasi atau apapun yang membuat seseorang tersenyum atau menangis bahagia sungguh berkesan di hati. Kemenangan yang menjadikan semangat berkobar, menyala-nyala, bercampur kerinduan hati untuk segera menemui kembali. Kerinduan itu pula barangkali yang menjadi semangat Reanaisance hingga Eropa sekarang memimpin dunia. Barangkali kejayaan Islam generasi pertama pun harus ditumbuhkan dalam hati. Biarlah terwujud kembali pada masa kini atau nanti. Namun, perlu juga diperhatikan jangan sampai terhanyut kesuksesan masa lalu hingga menjadikan berbangga hati. Kesuksesan yang memasung diri, menjadikan diri mati berinovasi.

Bukan Determinisme Masa Lalu

Latar belakang dan pengalaman yang pernah ditemui tidaklah bisa dipungkiri keber-ada-annya. Pengaruhnya begitu nampak dalam cara berpikir, merasa, dan laku seseorang. Ada orang yang merasa terganggu kehidupannya dikarenakan pengalaman traumatis yang pernah dialaminya di masa lalu. Namun, kesadaran memahamkan kita bahwa manusia bukanlah emosi yang dikendalikan oleh kondisi lingkungannya. “Walaupun angin bertiup dari utara ke selatan, seseorang bebas menentukan arah langkahnya, tidak harus ke selatan.”

Thomas Alva Edison dulu dianggap orang yang bebal dalam pelajaran matematika di sekolah. Namun, nyatanya dia membuktikan dirinya bahwa ‘stempel’ bebal itu bukanlah menjadi penghalang, malah menjadi tantangan. Berkat kerja keras dan ketekunannya, umat manusia bisa menikmati terangnya malam dengan lampu pijar.

Keberhasilannya tidak lepas dari cara pandang Edison yang unik terhadap kegagalan. Beratus percobaan dia lakukan namun belum menemui keberhasilan. Apa yang dia katakan? “Aku bukannya gagal, namun aku berhasil menemukan bahan-bahan yang tidak baik untuk lampu pijar.”

Einstin semasa sekolah dianggap anak yang tidak berbakat oleh gurunya. Nyatanya dunia mengakui kalau dia ilmuan yang genius. Teorinya yang tersohor di bidang fisika tentang relativitas.

Bukanlah keterbatasan fisik, ekonomi, pengalaman gagal, traumatis yang menjadi penghalang. Keterbatasan mental yang mengkungkung langkahnya maju. Bukan perkara pinternya tetapi kepribadiannya pinter tetapi kalau malas (?) Bisa dipastikan tidak akan melejit sampai ke puncak kesuksesan.

Jadilah Pengukir Kenangan

Ada yang unik dari kenangan karena dia bisa muncul dalam kesadaran tanpa harus menemui dulu obyeknya. Kenangan datang bersama sampan kerinduan. Ya, kenangan datang bila hati seseorang merasakan kerinduan. Berita yang lebih menggembirakan lagi, kenangan itu bisa dipahatkan pada relief kehidupan. Pahatan yang dipersembahkan bukan hanya untuk pengukirnya saja, namun bagi semua orang. Mereka yang mempunyai semangat akan bisa melihatnya dengan menyusuri setiap relief perjalanan kehidupan orang-orang besar yang dengan ketulusan dan kerja keras memahatnya. Bukankah manusia yang terbaik adalah mereka yang banyak memberikan manfaat bagi orang lain? Bisa mempersembahkan yang terbaik bagi seluruh alam? Merekalah pengukir-pengukir peradaban.

Ayah pernah menasehatkan, “Nak, buatlah kerangka untuk kehidupanmu.” Singkat, namun mengandung makna yang dalam. Memang dalam kehidupan ini seakaan dihadapan kita terbentang rimba yang luas. Penjelajah rimba yang baik pastilah menyusun langkah-langkah untuk sampai kepada tujuannya dan mengantisipasi segala kemungkinan agar tidak tersesat nantinya. Mereka tidak main-main karena taruhannya adalah nyawa (kehidupan) yang hanya sekali.

Kerangka kehidupan. Bagaimana bentuknya? Istilah kerangka membawa kesadaran dan ingatan akan kerangka yang ada pada makhluk hidup. Entah, kerangka luar atau kerangka dalam, yang jelas mempunyai peran besar.

Kerangka berperan besar dalam membentuk, menegakkan tubuh, tempat melekatnya otot dan daging, melindungi organ-organ dalam yang vital, dan sebagai alat gerak pasif. Kerangka yang kuat dan bagus turut menentukan bagaimana tampang tubuh seseorang. Mereka yang merasa kurang percaya diri dengan wajahnya mengambil pilihan untuk operasi wajah. Dokter akan merubah sedemikian rupa tulang pipi, dahi, dagu, dan bagian wajah lainnya agar tampak proporsional atau cantik.

Kerangka bagi para ahli bangunan menjadi perhatian utama dalam perancangan bangunan yang akan didirikan. Kekuatan vital bangunan ditentukan oleh kerangkanya. Penghancuran gedung yang tinggi sekalipun bisa dilakukan dalam hitungan detik dengan menghancurkan bagian-bagian vital (pondasi) gedung itu.

Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar, maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari. (QS An Nahl: 26)

Luar biasa peran kerangka. Bangunan kehidupan yang terbaik itu disusun dengan kerangka-kerangka perencanaan, dikokohkan dengan kuatnya visi, dibangun dengan kekuatan amal, dan dihiasi dengan ketulusan hati.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Hasyr: 18)

Manusia adalah arsitek-arsitek bagi kehidupannya sendiri, apa yang terbayang di kepalanya, itulah yang akan dia bangun nantinya. Ada ilustrasi yang menarik. Tiga orang yang sama-sama menyusun bata. Mereka ditanya tentang apa yang dilakukannya terhadap bata-bata itu. Orang pertama menjawab, “Saya sedang sibuk menumpuk bata-bata ini.” Orang kedua lebih serius lagi, “Saya sedang sibuk membangun rumah. Rumah yang ada tamannya di bagian belakang, ada kolamnya di samping, dan area bermain bagi keluarga.” Luar biasa. Orang ketiga lebih antusias lagi nampaknya. Dia menerawang jauh dengan mata berbinar, “Bata-bata ini nantinya akan menjadi bangunan. Bangunan yang akan menjadi saksi, seorang ibu yang melahirkan manusia-manusia, pemimpin umat dan pengukir peradaban. Bata-batanya akan menjadi saksi bagaimana seorang ayah yang mengispirasi dan menjadi teladan bagi keluarganya. Bangunan yang akan menyaksikan bagaimana putra-putri yang ceria dengan wajah yang optimis menatap masa depannya.” Setiap orang yang menemuinya akan dengan reflek mengatakan, “Inilah orang yang dinanti-nanti selama ini.”


Bayar Hidupmu dengan Prestasi

Banyak anggapan kalau usia 40 tahun merupakan golden age. Usia dimana seseorang menempati puncak karier dan peran-peran sosial di masyarakat. Hidup berkeluarga menjadi suami/istri, mendidik anak, menjadi pengurus organisasi masyarakat, dan aktif menjalankan bisnis.

Setelah masa dewasa akhir, masa lansia pun menyambut. Fungsi-fungsi fisik mulai menurun. Produksi hormon seksual semakin lambat dan terhenti, tubuh pun semakin lemah. Anak-anak pun sudah mulai dewasa dan meninggalkan rumah untuk bersekolah, kuliah atau menikah. Interaksi semakin jarang, paling sekali dalam satu bulan bahkan satu tahun ketika lebaran.

Kesepian mulai dirasakan, jauh dari anak, pasangan yang sudah mendahului. Kesepian itulah yang menyadarkan kembali esensi hidup. Prestasi-prestasi masa muda yang membanggakan membuat mereka puas. Refleksi yang membawa kembali pada rasa syukur kepada Allah dan mempersiapkan kehidupan setelah kehidupan. Biarlah, anak cucu yang akan meneruskan cita-cita yang belum tercapai.

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS Al Ahqaaf: 15)

Masing-masing orang berhak mengambil pilihan hidup dan bertanggung jawab pula terhadap semua tindakkan yang dilakukan. Prestasi seperti apa yang akan mereka torehkan dalam sejarah hidupnya 1, 2, 5, 10, 20 tahun kemudian. Kenangan seperti apa yang akan disampaikan orang-orang tentang diri mereka walaupun telah tiada.

"Tahun 2008 adalah milikku, akan aku ukir prasasti di sana. Bekali aku dengan do'a dan biarlah semua menjadi saksinya. Perayaan tahun baru ambillah semua, puaskan dirimu."

Wednesday, December 26, 2007

Paksakan Diri Menjadi yang Luar Biasa

By Pariman, Psikologi Undip

Muslim yang kuat lebih dicintai Allah daripada Muslim yang lemah tetapi pada keduanya ada kelebihan masing-masing. Itulah kira-kira bunyi Hadist yang semestinya menjadi perenungan bagi setiap Muslim. Siapa yang tidak ingin dicintai Yang Maha Pemilik Cinta? Kuat, jadilah yang terkuat dibanding yang lain. Be Extra Ordinary, setiap orang tentunya tidak ingin hanya menjadi manusia rata-rata. Manusia rata-rata hanyalah manusia tipe Mubah artinya ada atau pun tiada sama saja, enggak ngefek gito lho!

Memang tidak mudah menjadi manusia melebihi rata-rata. Mereka yang ingin melebihi rata-rata harus berpikir, merasai, dan melakukan lebih dibanding yang lain, menempuhi jalan sunyi, menyusuri onak dan duri. Bukanlah bunga dan aroma harum yang mereka temui selama perjalanan tetapi halangan, rintangan yang harus mereka lalui. Proses menjadi manusia melebihi rata-rata merupakan perjalanan panjang, tidak hanya dibutuhkan kekuatan ( shulton ) tetapi juga daya tahan (endurance). Tidak jarang mereka yang tidak kuat lalu mengundurkan diri, berguguran begitu saja. Lebih buruknya lagi, bangkai mereka menyebarkan bau busuk yang membuat orang menjauh dari jalan itu.

Lalu pertanyaannya, bagaimana kita mendapatkan kekuatan itu? Bukan kemana-mana kita harus mencarinya karena sebenarnya kekuatan itu ada didalam diri kita sendiri. Tugas kita adalah membangkitkan kekuatan itu, membangunkan raksasa yang tidur dalam diri kita. Bagaimana caranya?

Pertama, kita harus yakin dulu bahwa dalam diri kita ada potensi yang maha dahsyad. Manusia diciptakan dalam sebaik-baiknya bentuk dan tidak ada ciptaan-Nya yang gagal. Jikalau ada manusia yang tidak lengkap bagian tubuhnya bukan berarti, dia manusia gagal. Yakinlah ada potensi luar biasa di sisi tubuh yang lain. Braile menemukan huruf untuk tuna netra, berawal dari semangat dan keyakinannya sebagai tuna netra bahwa Tuhan pastilah memberikan yang terbaik dalam diri setiap manusia. Benar, ternyata karena jasanyalah, mereka yang tuna netra bisa belajar, tidak kalah pintar dengan mereka yang lengkap. Ingat tuna netra yang ikut SPMB di UI? "Bukanlah fisik yang membatasi kita tetapi jiwa kita lah yang menjadikan seberapa besar diri kita."

Kedua, setelah kita menyadari, meyakini potensi besar dalam diri kita selanjutnya kita harus melakukan lebih dari yang semestinya. Seseorang menjadi juara karena dia melebihi lawan-lawannya. Juara 1 maraton misalnya, ia menjadi juara pertama karena kecepatannya lebih unggul dibanding peserta yang lain. "Bukan seberapa banyak yang kita lakukan tetapi yang penting adalah kita melakukan lebih dari yang biasa-biasa." Selisih waktu juara 1 dan juara 2 lomba renang tidak jarang hanya 0,0... detik, artinya melakuakn lebih walaupun itu hanya sedikit akan begitu berarti bagi kita. Barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, dia lah orang yang beruntung dan barang siapa yang hari ini sama atau pun lebih buruk dibanding kemarin maka dia lah yang merugi (Hadits).

Ketiga, berpikir positif, artinya menyikapi setiap permasalahan tanpa prasangka buruk kepada siapa pun, apalagi kepada Allah karena prasangka itu jauh dari kebenaran. Prasangka buruk pula lah yang membatasi potensi kita. Tahukah sampai dimana batas potensi kita? Tidak ada yang tahu persis batas potensi kita kecuali, Allah. Sayangnya, tidak jarang dari kita mendiskon diri kita. Misalnya suatu waktu kita diminta untuk presentasi di depan kelas, coba kata-kata apa yang pertama kali terlontar dari mulut kita sebelum memulai presentasi ? ”Maaf apabila nanti ada salah karena saya kurang persiapan,” secara sekilas memang benar, tetapi cobalah renungkan apa efek dari kata-kata tadi. Kalau saya sebagai peserta, saya akan merasa tidak yakin kebenaran isi yang dipresentasikan. Sebagai presenter secara tidak langsung menurunkan mental sendiri dan mengurangi kekuatan ucapan kita.

Kita kurang persiapan memang benar tetapi tidak perlu kita sampaikan, nanti kalau ternyata ada salah pada yang kita presentasikan jadikanlah pelajaran. Tidak jarang juga kita diminta untuk melakukan sesuatu (menjalankan amanah) tetapi langsung menolak sambil mengatakan tidak sanggup, cari saja yang lain. Cobalah merenung sejenak, tidakkah sebenarnya itu muncul dari kemalasan, ketakutan? Coba kita pikirkan apakah kemalasan, ketakutan merupakan hal yang tampak (teknis)? Tidak, ternyata kemalasan, ketakutan merupakan dimensi mental jadi permasalahan sebenarnya karena kerdilnya mental kita. Tidakkah demikian ? ”Saya takut karena saya tidak bisa.” Itulah alasan kita, benarkah?

Coba bayangkan seandainya kaki Anda sakit yang sebelah (pincang), suatu hari Anda berjalan di sebuah gang yang sepi tiba-tiba ada seekor anjing yang megejar Anda. Bagaimana reaksi Anda padahal mau lari sulit? Saya yakin Anda pasti akan melawan anjing tadi dengan sekuat tenaga. Anda tentunya akan membela diri entah dengan memukul anjing dengan penganga tubuh yang Anda bawa, melemparnya dengan batu atau bahkan berusaha lari. Lari Anda akan lebih cepat dibanding ketika tidak dikejar anjing, benar? Padahal kaki anda sakit. Artinya dibutuhkan keberanian untuk melawan kekerdilan di dalam jiwa kita guna memunculkan potensi dahsyad kita. Untuk menjadi orang yang luar biasa terkadang diperlukan paksaan, perlu dipaksakan.