Sunday, October 12, 2014

Al Farisi yang Menginspirasi

“Hai, engkau, kemarilah! Bawakan barang daganganku ini kekedai di seberang jalan sana”,pinta seorang pedagang dari Syam kepada laki-laki berbajulusuh yang dilihatnya.

Bungkusanberat berupa barang dagangan pedagang tersebut pun diangkat ke punggungkeledai. Saat laki-laki berpakaian lusuh tersebut berjalan, orang-orang yangmelihat pun berkata padanya, “Wahai amir,biarlah saya yang mengangkatnya”

Pedagangdari Syam tersebut pun keheranan karena laki-laki berpakaian lusuh yangdianggapnya seorang kuli panggul tetapi dipanggil sebagai amir. “Siapa dia? Mengapa engkau memanggilnyaamir?”, tanyanya.

Orang-orangpun menjawab, “Wahai tuan, tidak tahukahengkau bahwa dia adalah amir negeri Madain (Persia)”.

Betapaterperanjatnya pedagang tersebut. Ternyata laki-laki yang dianggapnya sebagaikuli panggul adalah seorang pembesar di wilayah tersebut. “Letakkan barang-barang itu wahai tuan. Biarkan saya sendiri yangmengangkatnya”.

Sembaritersenyum tanpa menampakkan kemarahan laki-laki berpakaian lusuh tersebutmenjawab, “Aku sudah menyanggupinya danaku akan melaksanakannya”.

Siapakahlaki-laki berpakaian lusuh tersebut?

Tidaklain, dia adalah Salman al Farisi. Dulu, dia pergi dari wilayah Persia untukmenemukan nabi akhir zaman hingga akhirnya bertemu di Madina dan mengucapkandua kalimat syahadat. Seluruh hidupnya, dia dedikasikan untuk Islam termasukide cemerlang membuat parit ketika kaum muslimin di Madinah menghadapi kepungantentara koalisi kaum kafir Qurays dan suku-suku jahiliyah di Arab. Di saat yangdemikian, Salman mengajukan usul untuk membuat parit hingga dikenalah perangyang berlangsung disebut perang Khandaq (parit). Dalam proses penggalian parit,ada batu besar yang sulit untuk dipecahkan hingga nabi sendiri yang turuntangan. Tiga kali nabi memukulkan ke tanah keras, tiga kali pula bertakbir, dannabi mengabarkan bahwa kaum muslimin akan menaklukkan Persia, Romawi, dan Syiria. Akhir dari pertempuran khandaqdimenangkan oleh kaum muslimin dan Salman al Farisi membuktikan sendiri bahwaPersia akhirnya juga ditaklukan. Bahkan, dirinya diangkat oleh Umar bin Khatab(khalifah) waktu itu menjadi gubernur di sana.

Kedudukannyasebagai seorang gubernur tidaklah mengubah hidupnya dari yang sederhana menjadibermewah-mewah. Justru keimanan dan ketaqwaannya bertambah-tambah. Kebutuhansehari-hari dipenuhi Salman dari menganyam tikar. Setiap hari, Salmanmendapatkan uang 3 dinar; 1 dinar buatnya sebagai modal, 1 dinar diberikanuntuk keluarga, dan 1 dinar disedekahkan. Begitulah kesederhanaan seorangSalman al Farisi.

KarakterSalman al Farisi ditempa oleh Islam. Beliau bertemu langsung dengan RasulullahSAW, mengikuti setiap perintah beliau, dan meneladani para sahabat nabi yanglain. Bahkan Salman, mengutamakan saudara seiman atas dirinya sendiri.

Suatukali, Salman al Farisi mendatangi rumah seorang gadis dari Bani Laits bersama Abu Darda untuk melamar gadistersebut. Salman al Farisi yang memiliki maksud, Abu Darda yang menjadi jurubicara untuk menyampaikan maksud. Namun, justru gadis yang hendak dilamar dankeluarganya lebih memilih Abu Darda. Dengan penuh kebahagiaan, Salmanmenyerahkan barang yang sudah disiapkannya untuk melamar gadis itu kepada AbuDarda. Jadilah Abu Darda yang menikah dengan gadis tersebut.

Dari Salman al Farisi,kita bisa belajar tentang keteladanan kepemimpinan dan kesederhanaan. Seseorangyang bisa mengutamakan kepentingan saudaranya dan rakyatnya akan mudah untukmenjadi pemimpin yang baik dan bijaksana. Bukan pujian dan penghargaan darimanusia yang diharapkannya tetapi ridho dari Allah SWT dan semangat meneladaninabinya.

Saturday, September 13, 2014

Dari Toilet Hingga Indikator Iman

“Barangsiapa buang air besar (BAB) atau kecing tidak disiram sampaibersih, saya doakan semoga tidak dapat BAB dan kencing lagi….!!!!”, begitulah tulisan dalam foto yang dikirim rekansaya melalui grup WA. “Ingat: Kebersihansebagian dari iman”, tegas dengan kalimat terakhir dari sebuah himbauan di sebuahtoilet sebuah instansi.

Setiap kita pasti punyapengalaman beragam terutama tentang keadaan toilet di tempat umum (stasiun,terminal, bandara dst), toilet di instansi pemerintah, dan instansi swasta. Adatempat dengan toilet yang bersih lagi wangi, ada pula yang kotor dan berbau.Jelas kita semua lebih merasa nyaman dan memberi apresiasi positif pada tempatyang toiletnya bersih.

Di lingkungan sayadilahirkan, ada sebuah pesan bijak bahwa untuk mengetahui karakter baik danburuknya seseorang cukup dengan memperhatikan keadaan dapur dan kamar mandinya.Umumnya orang akan berusaha menampilkan keadaan rapi dan bersih padatempat-tempat yang terlihat orang banyak (ruang tamu, teras, halaman rumahdst). Dalam perilaku, sudah menjadi halumum jika seseorang berusaha menampilkan perilaku terbaiknya di hadapan oranglain dan bisa jadi berbeda dengan dirinya yang sesungguhnya. Bagaimana dirinyayang sebenarnya? Tersembunyi. Tempat ‘tersembunyi” di dalam rumah adalah dapurdan kamar mandi. Dengan demikian, penilaiankarakter pemilik rumah bukan dari ruang tamunya tetapi dari dapur dan kamarmandinya. Jika dapurnya bersih dan kamar mandinya bersih, diyakini karakterpemiliknya juga baik. Setidaknya memiliki kepedulian tentang hidup sehat,kebersihan, kerapihan, dan kenyamanan.

Perilaku seseorang terkaitkebersihan toilet juga beragam. Ada orang-orang yang membersihkan benar-benarbersih setelah selesai menggunakan toilet. Ada pula yang seolah cuek, setelah selesai menggunakan lalu pergibegitu saja. Jika anak kecil yang melakukan, pastinya bisa dimaklumi tetapijika orang dewasa yang melakukan tentu menjadi perhatian yang penting bagi kitasemua. Mungkin orang akan berkomentar, “Apa saat kecil tidak diajari ya?”.

Perilaku seseorang merupakanhasil dari pengulangan dalam waktu yang lama. Termasuk dalam hal ini perilakuterkait kebersihan setelah menggunakan toilet. Dalam ilmu psikologi dikenalistilang “toilet training”. Ada masaketika anak-anak, seseorang diajari untuk menggunakan toilet dengan baik. Anakdiminta untuk memberi tahu orangtua jika dirinya sudah merasa ingin BAB/BAKsedangkan orangtua mengantar anak ke toilet. Hal tersebut merupakan bagian darimelatih anak bahwa jika BAB/BAK dilakukan di toilet. Di luar negeri, ada yangmembuat iklan layanan masyarakat tentang“toilettraining” bagi anak. Di dalam iklan layanan masyarakat tersebut, seorangayah menemani anaknya di toilet. Bahkan, si ayah membacakan buku cerita agaranaknya tetap tenang dalam BAB. Tentunya tentang kebersihan setelah menggunakantoilet juga diajarkan oleh si ayah. Lalu, bagaimana dengan perilaku orang yangseenaknya pergi begitu saja setelah menggunakan toilet? Mungkin dia tidak lulus“toilet training”atau tidak mendapat“toilet training” sehinggameninggalkan toilet dalam keadaan tidak bersih dan berbau.

Bau yang ada di toiletsendiri sebenarnya mengindikasikan adanya najis. Dalam agama, pembahasantentang najis ada dalam ilmu fiqih pada bab pertama, masuk dalam bab thaharah(bersuci). Keberadaan najis bisa dikenali dari zatnya, warnanya juga baunya. Airkencing dan tinja adalah najis sehingga setelah BAK dan BAB, kedua tempatkeluarnya dua zat tersebut haruslah disucikan. Jika ada air dengan air, jikatidak ada air bisa dengan tiga batu. Baju atau celana yang terkena najis jugaharus dibersihkan. Keadaan tubuh, pakaian, dan tempat yang bebas dari najismerupakan syarat yang menentukan sah tidaknya ibadah, semisal sholat. Dengandemikian, “kebersihan” dalam ungkapan“Kebersihan sebagian dari iman”adalah merujuk pada istilah thaharah (bersuci). Keterangan lengkap tentangfiqih thaharah silakan buka kembali tentang fiqih Islam.

Semoga mereka yang belumsadar terkait kebersihan setelah menggunakan toilet akan lebih bertanggungjawab dengan menjaga kebersihannya. Semoga perhatian akan kebersihan dankesucian menjadi bagian dari amal ibadah yang menambahi pahala kebaikan kita.Aamiin.

Saturday, August 9, 2014

Pendidikan Anak Sejak Dalam Kandungan

Menjadi orangtua dari anak yang sholih/sholiha dan menyenangkan merupakan sebuah anugerah yang luar biasa. Allah SWT mempercayakan bayi yang lahir dengan fitrahnya dan segala potensinya pada para orangtua. Arah perkembangan fitrah apakah pada kebaikan atau pada kejahatan dipengaruhi oleh orangtua. Dalam ilmu biologi dikenal bahwa setiap bayi lahir dengan potensi genetik yang diturunkan dari kedua orangtuanya. Potensi genetik akan aktif dan aktual ditentukan oleh lingkungannya. Tentu kita juga mengenal istilah ada faktor genetis, bawaan, dan lingkungan. Faktor genetis terkait kombinasi kromosom dari orangtua, faktor lingkungan dipahami sebagai lingkungan dimana individu berinteraksi (keluarga, teman, sekolah, masyarakat), dan faktor bawaan mengarah pada keadaan selama dalam kandungan. Dengan memahami hal demikian, saat-saat anak masih dalam kandungan merupakan saat yang penting juga untuk diperhatikan.
Masyarakat kita dengan kearifan lokalnya memberikan perhatian penting masa kehamilan melalui “pranata sosial” yang turun temurun. Ada kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan pada usia tertentu saat kehamilan. Ada pula pantangan-pantangan yang dipesankan bagi para ibu hamil untuk tidak boleh dilakukan. Istilah yang umum digunakan seperti “pamali, saru” dsb. Pamali jika seorang wanita membunuh binatang, ada juga pesan pada suami agar mengabulkan permintaan istrinya yang sedang hamil jika ngidam. Dalam tinjauan ilmiah, emosi seorang ibu turut berpengaruh terhadap janin yang di kandungnya. Ibu dan janin terhubung oleh plasenta, aliran darah dan hormone serta sari makanan tersalurkan pada janin dari ibu. Emosi baik positif maupun negatif akan mempengaruhi hormon yang diproduksi tubuh ibu dan selanjutnya tersalurkan juga pada janin. Dengan demikian, penting peranan suami memberikan support bagi istri. Maha Besar Allah SWT yang juga menambahkan kasih sayang dan cinta seorang suami pada istrinya saat istrinya hamil. Maha Besar Allah SWT yang menganugerahkan sesuatu yang tidak diberikan pada laki-laki, dua diantaranya adalah mengandung dan melahirkan.
Ada sebuah penelitian yang menarik tentang hal yang bisa dilakukan saat kehamilan. Penelitiannya melibatkan sejumlah ibu. Mereka diminta untuk memperdengarkan kisah dengan tape recorder pada janin selama sekian waktu. Saat sudah lahir para ibu diminta untuk memutarakan kembali kisah tersebut. Para bayi menunjukkan ketertarikan dan seolah-oleh mereka tidak asing dengan atas kisah yang diperdengarkan saat dalam kandungan dan tidak memberikan perhatian saat diputarkan kisah yang lain. Hal tersebut bisa dijelaskan bahwa fungsi pendengaran seseorang sudah aktif sejak dalam kandungan. Perkembangan otak berupa jaringan-jaringan neuron juga terjadi dengan adanya stimulasi yang diterima dari luar. Di dalam Al Qur’an, kita mendapati keterangan bahwa Allah SWT menciptakan pendengaran, penglihatan, dan hati. Allah SWT sebutkan pendengaran sebelum penglihatan yang menunjukkan adanya hikmah bahwa fungsi pendengaran telah aktif terlebih dahulu sebelum penglihatan. Hal tersebut sekaligus menjadi dasar argumentasi bahwa stimulasi sudah bisa diberikan sejak anak dalam kandungan.
Aktifitas-aktifitas dalam memberikan stimulasi bisa dilakukan secara bersama-sama ayah dan ibu. Seorang ayah membacakan cerita atau bertilawah sedangkan ibu menyimak sembari mengelus perutnya untuk berkomunikasi dengan anak yang ada dalam kandungan. Mengajak berkomunikasi dalam bentuk menyapa, mengajak bicara pada janin akan mendekatkan ikatan emosional pada ayah dan ibu. Dalam ilmu psikologi, ada istilah kelekatan yang menjadi hal penting dalam menentukan perkembangan anak (kecerdasan, rasa aman, prestasi, kemampuan sosial dst).
Semoga kita menjadi orangtua yang dikaruniai anugerah anak-anak yang sholih/sholihah, menjadi penyenang batin kita, dan menjadi orangtua yang bijaksana. Aamiin.

(Pariman Siregar) 

Tuesday, July 15, 2014

Mendidik Sejak Dini

Kesadaran akan pentingnya mendidik anak sejak dini sudah lama disadari oleh masyarakat Indonesia. Hal ini bisa diketahui dari adanya pesan-pesan bijak yang tesirat dalam pepatah dan budaya masyarakat. Ada pepatah mengatakan, “Belajar saat usia muda bagaikan mengukir di atas batu sedangkan belajar di hari tua bagaikan mengukir di atas air”. Belajar semuda mungkin, ilmu yang didapatkan akan kuat lekat dalam ingatan. Kalau sudah terlalu tua usia, umumnya mengalami kesulitan dalam mengingat.
Pepatah tersebut berangkat dari kearifan masyarakat. Dalam kajian psikologi dan perkembangan, selanjutnya diketahui bahwa otak mengalami pertumbuhan pesat dalam membangun sambungan-sambungan neuron pada usia 6 tahun pertama. Pada saat tersebut, stimulasi yang diberikan akan mudah ditangkap dan diserap oleh otak. Itu artinya, waktu-waktu yang sangat penting bagi pembelajaran. Kita tentu pernah menyaksikan acara di TV berupa ajang menemukan bakat dan kontes kemampuan anak. Ada anak-anak yang sudah hafal Al Qur’an pada usia dini. Para orangtua dengan pengetahuannya akan potensi anak memanfaatkan “golden age” untuk mengajarkan anak-anak tentang menghafal Al Qur’an. Tentu kita juga pernah menyaksikan, ada anak-anak yang memiliki kemampuan dalam menyanyi maupun bermain musik. Kuncinya ada pada stimulasi yang diberikan kepada anak sejak dini. Sebagai orangtua, perlu kiranya untuk belajar banyak tentang perkembangan anak dan cara memberikan stimulasi sebaik mungkin.
Kajian yang dilakukan Anne Martina dan Rebecca  M.  Ryan dari Columbia  University bersama dengan Jeanne Brooks-Gunna dari Georgetown  University Amerika Serikat menunjukan bahwa dukungan yang diberikan ibu sejak dini berperan besar dalam pembentukan minat dan ketekunan anak. Minat dan ketekunan menjadi hal yang penting dalam menentukan kemampuan akademik anak. Perlu kiranya dipahami para orangtua untuk bisa membangun minat dan melatih ketekunan sejak dini. Usia 1-3 tahun sudah bisa dilakukan untuk membangun minat anak.
Dalam kearifan khasanah tradisi di Jawa misalnya, para orangtua sejak dini sudah mencoba untuk mengenali minat anak. Seorang anak laki-laki raja, saat sudah bisa merangkak, maka orangtua meletakkan senjata dan buku di depan anak tersebut. Apa yang dipilih anak diyakini akan menjadi minatnya. Jika senjata yang dipilih, itu artinya ketika besar akan menjadi seorang satria atau panglima perang. Jika buku yang dipilih, itu menandakan bakatnya adalah mendalami ilmu, jadi ulama atau cendikiawan. Cara sederhana yang pernah ada tersebut, kini sudah berkembang seiring kemajuan ilmu pengetahuan. Ada tes minat dan bakat atau biasa dikenal umum sebagai tes psikologi.
Tes psikologi pada dasarnya merupakan sampel dari perilaku yang diyakini menggambarkan bagian keseluruhan dari diri seseorang baik potensi maupun kepribadiannya. Sejauhmana orangtua perlu untuk mengetahu bakat dan potensi anak dengan memberikan tes psikologi? Hal tersebut masih ada perbedaan pendapat. Kita tentu masih ingat ada yang setuju dan ada yang tidak setuju saat tes psikologi digunakan dalam seleksi masuk TK/SD? Masing-masing memiliki argumentasi dan dasar. Karena itulah, menjadi orangtua yang mengajari anak beragam hal dituntut juga untuk belajar meningkatkan ilmunya. Bukan hanya meminta anak untuk belajar tetapi belajar agar menjadi orangtua yang baik juga menjadi hal penting. Orangtua berperan dalam memberikan dukungan terbaik, membersamai anak, dan menjadikan momen bersama anak sebagai kebahagiaan.
Kajian yang saya lakukan terhadap para ayah pada tahun 2013 diketahui bahwa para ayah memiliki pengalaman puncak bersama dengan anak. Pengalaman tersebut merupakan pengalaman bermakna, membahagiakan, dan memberikan perubahan bagi seorang ayah. Momen-momen membahagiakan bagi para ayah sejak mendapati kabar bahwa istrinya hamil, membersamai istri saat kehamilan, membersamai istri saat persalinan, membersamai anak saat bermain, mengikuti perkembangan anak dari tahun ke tahun sampai pada menyaksikan momen membanggakan berupa anak yang meraih prestasi dan anak menikah. Hal ini menunjukkan bahwa parenting bukan hanya bermanfaat bagi anak tetapi bagi orangtua sendiri.

Semoga kita menjadi orangtua yang bijaksana dan membawa keberkahan bagi anak-anak. Aamiin.

(Pariman Siregar)

Saturday, June 21, 2014

Buku Inspiratif "Beyond The Dream"

Setiap kita pastilah punya cita-cita. Segala hal yang menjadi harapan, keinginan, dan menjadi semangat untuk mengusahakan serta bahagia ketika meraihnya. Impian adalah bagian dari hidup seseorang. Karena impian, seseorang bangun, bergerak, bertindak, semangat, selalu memiliki energi, dan alasan bertahan dalam keadaan apapun. Kita sendiri bagian dari produk impian, yaitu impian orangtua kita. Lihatlah segala hal baik di sekeliling kita, saya yakin segala yang kita temui adalah bagian dari impian orang-orang. Mari bercita-cita!


“Beyond the dream: sebuah perjalanan menggapai cita”, itulah kiriman buku yang saya terima beberapa waktu lalu. Buku yang berisi kisah perjalan manusia biasa yang memiliki impian melampaui hal yang biasa dalam dirinya. Saya menjadi satu dari 21 orang yang mengisahkan perjalannya dalam menggapai impian dalam buku tersebut. Saya merasa belum apa-apa dibanding senior dan teman-teman saya dalam buku tersebut. Walaupun begitu, saya bersyukur bahwa saya selalu berani untuk bermimpi. Impian-impian itu pun sudah banyak yang menjadi kenyataan dan membuat saya semakin banyak bermimpi kembali.
Prof.Dr. Heri Hermasyah, S.T, M.Eng, guru besar Fakultas Teknik UI mengawali kisah perjalan tentang meraih cita-cita dalam buku tersebut. Beliau merupakan guru besar termuda pertama sejauh ini di UI. Beliau menjadi guru besar pada usia 37 tahun. Tentulah pencapaian yang luar biasa bagi beliau. Semangat yang beliau sampaikan bahwa siapa saja yang ingin menjadi orang yang sukses, setidaknya mesti memiliki tiga hal penting. Tiga hal tersebut adalah isi hati dengan iman (keyakinan), isi kepala dengan ilmu, dan isi tangan dengan kekuatan. Seiring kesuksesan seseorang sudah seharusnya semakin besar dan semakin luas dampak positif yang bisa dirasakan orang-orang di sekitarnya, masyarakat dan bangsa.  
Sekarang cobalah renungkan, apa cita-cita atau impian anda? Apa cita-cita anda untuk negeri Indonesia?
Saya ingin share satu dari impian saya yaitu menjadi penulis. Saya ingin menjadi penulis menjelang saya lulus dari S1. “Sebelum saya lulus, saya ingin menulis buku”, begitulah keinginan saya waktu itu. Saya tidak akan mengulanginya lagi membuat janji pada diri sendiri sebagaimana janji tersebut. Seolah-olah saya ingin bilang bahwa saya lulusnya setelah berhasil menulis buku. Saya baru menyadarinya setelah lulus ketika merenungkan sebab saya lulusnya kelamaan ketika S1. Buku “Master from minder” menjadi buku pertama yang saya tulis.
Saya belajar bahwa siapapun berhak untuk memiliki impian dan siapapun bisa meraih impiannya jika impian itu mulia dan diusahakan dengan usaha terbaiknya. Berikut beberapa buku yang saya tulis baik sendiri maupun bersama; 1. Master from minder (bisa sukses dengan kemampuan terbatas); 2. Bismillah, Kami Menikah; 3. Goresan Tinta untuk Indonesia; 4. Beyond The Dream (sebuah perjalanan menggapai impian). Sempat saya menulis ebook “Hipnotis Cinta”dan beberapa tulisan lain berupa artikel ilmiah. Tulisan-tulisan saya bisa ditemukan dalam webisite pribadi saya di sini. Salam sukses!
Kontak ke FB Inspiring Man 
permintaan ngisi acara di tempat anda

This entry was posted in

Thursday, April 17, 2014

Belajar dan Sulaiman a.s: Periksa Dulu Informasinya


"Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir?” tanya Sulaiman setelah memeriksa barisan tentaranya yang terdiri dari bangsa manusia, hewan, dan jin.

“Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”, lanjut Sulaiman seraya mengancam akan memberikan hukuman.

Sulaiman dikenal sebagai seorang raja yang memiliki ilmu yang tinggi, bijaksana, dan diberikan kelebihan-kelebihan oleh Allah SWT. Beliau bisa mengendalikan angin, memerintah jin, dan memahami bahasa binatang.

Sebagai raja yang bijaksana, beliau tidak begitu saja memberi hukuman. Beliau memberi kesempatan pada burung hud-hud untuk menyampaikan alasan keterlambatannya datang. Beliau dengarkan dengan seksama setiap keterangan yang diberikan hud-hud. Beliau baru mengambil keputusan jika benar-benar sudah yakin akan validitas informasi yang diberikan.

Hud-hud yang tiba menghadap kemudian menjelaskan bahwa dirinya menjumpai seorang wanita yang memerintah kerajaan dan memiliki singgasana yang besar. Wanita tersebut dengan seluruh rakyatnya menyembah matahari, bukan menyembah Allah SWT. (Lihat QS An Naml: 23-26)

Apakah Sulaiman dengan begitu saja mempercayai keterangan Hud-hud?

"Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta”, jawab Sulaiman.
Setelah itu, beliau memerintahkan Hud-hud untuk pergi dengan membawa surat yang ditulisnya. Surat tersebut haruslah sampai pada ratu yang memerintah kerajaan yang dimaksud. Hud-hud juga diminta untuk merekam seluruh reaksi atas surat yang diberikan pada ratu itu. 

Sampai di sini, kita belajar hal penting terkait pemeriksaan informasi. Ada banyak berita yang melintas di facebook, twitter, grup WA, situs online dst. Ada pula berita dari TV, radio, Koran dst. Ingatlah bahwa berita belum tentu informasi, data belum tentu informasi. Informasi merupakan hal penting untuk membuat keputusan. Berita dan data yang tidak relevan dan valid untuk membuat keputusan hanya memenuhi folder. Dengan beragam media, tentunya perlu kecermatan untuk memilih informasi.

Dari Sulaiman kita belajar untuk pandai menyaring setiap berita yang masuk. Periksalah baik-baik setiap berita dan data, pilah mana yang benar-benar penting dan valid. Lakukan juga cross ceck sehingga bisa dipastikan keputusan yang kita ambil tepat dan berbuah kebijaksanaan. 

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”, QS Al Hujuraat: 6.

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا، وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ

،وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً، وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

وَلَا تَجْعَلْهُ مُلْتَبِساً عَلَيْنَا فَنَضِلَّ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا



“Ya ALLAH, perlihatkanlah kepada kami yang benar itu benar, dan kurniakanlah kami untuk dapat mengikutinya.  Dan perlihatkanlah kepada kami yang salah itu salah, dan kurniakanlah kami untuk dapat menghindarinya.  Janganlah ENGKAU menjadikannya samar di hadapan kami sehingga kami tersesat.  Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.” Aamiin.




Saturday, April 12, 2014

Konsep Penanganan Stres pada Remaja Secara Terintegrasi Ditinjau dari Perspektif Biopsikososial dan Spiritual


Darosy Endah Hyoscyamina, Farida Hidayati & Pariman

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsep penanganan stres secara terintegrasi (biopsikososial dan spiritual).Konsep tersebut kemudian diwujudkan dalam media pembelajaran Integrated Help for Solving Stress (IHSS). Subyek penelitian adalah  remaja usia SMA. Penggalian data melibatkan guru dan orangtua.Ada 4 tahapan yang dilakukan. Pertama, studi yang dilakukan dengan penyebaran Skala Stres pada remaja. Kedua, diskusi kelompok melibatkan remaja, pihak sekolah, dan orangtua. Ketiga, uji coba pemberian pelatihan penanganan stres. Keempat, pembuatan modul akhir.
Analisis data secara kuantatif dan kualitatif.Data dari Skala Stres dilakukan dengan SPSS 12.00.Data diskusi kelompok menggunakan analisis deskriptif.Verifikasi modul dilakukan oleh ahli.
Dari hasil penyebaran skala stres terhadap 100 siswa SMA,  diketahui bahwa 5% mengalami stres rendah, 52% mengalami stres sedang, 42% mengalami stres tinggi, dan 1% mengalami stres sangat tinggi. Hasil FGD diperoleh data bahwa siswa, pihak sekolah, dan orangtua memberikan peran yang berbeda dalam memunculkan stres. Dari pemberian pelatihan penanganan stres juga didapati bahwa konsep penanganan secara terintegrasi meliputi; pengenalan akan biologis stres, peningkatakan spiritual, pemberian teknik psikologi dalam penanganan stres, dan pemberian dukungan sosial.
Kata kunci: Stres, Remaja, Biopsikososialspiritual, Integrated Help for Solving Stress (IHSS) 

*) Dipresentasikan pada acara Temu Ilmiah Nasional I Ikatan Psikologi Klinis di Surabaya, 1-3 November 2012
This entry was posted in