Saturday, April 12, 2014

Biopsycososiospiritual Methode as Integrated Help for Patient with Cancer


 Pariman
Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Abstrak
Kanker masih termasuk penyebab terbanyak kematian di dunia. Selain belum adanya penanganan secara memuaskan juga deteksi tentang kanker yang cenderung terlambat. Hal tersebut menambah keluhan terkait kanker terutama ketidaknyamanan fisik dan keadaan psikologis pasien kanker. Pihak keluarga yang tidak mengalami secara langsung pun mengalami ketidaknyamaan dengan keadaan anggota keluarganya yang mengalami kanker. Walaupun penanganan terhadap kanker dari dunia medis sudah coba untuk ditingkatkan tetapi masih terkesan berfokus pada penanganan secara medis melalui kemoterapi. Padahal pada kenyataannya, mereka yang mengalami kanker mengeluhkan berbagai hal yang perlu penanganan secara terintegratif dari berbagai pihak.
Tulisan ini bertujuan untuk memberikan paparan gambaran penanganan secara terintegratif melalui berbagai pendekatan yang dimungkinkan bisa membantu penyembuhan dan/atau peningkatan kualitas hidup penderita kanker. Berbagai informasi dari penelitian-penelitian sebelumnya menyebutkan peran penting dukungan sosial, peningkatan kualitas psikologis penderita kanker, penanganan medis, dan kualitas religiusitas seseorang dalam penyembuhan. Pendekatan biopsycososiospiritual yang melibatkan peran dokter, psikolog, teman, anggota keluarga, dan komunitas.
Dari konsep penanganan yang diperoleh selanjutnya bisa menjadi masukan bagi berbagai pihak untuk membantu para penderita kanker. Selain itu, konsep yang diperoleh juga menjadi dorongan para pemerhati kesehatan untuk diuji secara empirik.
Kata Kunci : Pasien kanker, Penanganan Terintegrasi, Biopsikososial dan Spiritual

*) Dipresentasikan pada acara Temu Ilmiah Nasional I Ikatan Psikologi Klinis di Surabaya, 1-3 November 2012.
This entry was posted in

Friday, April 11, 2014

#Romantis


Mungkin istrimu tidak pandai menjahit, tapi dia pandai menambal kekurangan-kekuranganmu, itulah #Romantis
Mungkin istrimu tidak pandai memasak, tapi dia selalu bisa mengolah segala rasa sehingga membuatmu bahagia dan damai, itulah #Romantis
Bisa jadi suamimu bukan direktor sebuah perusahaan, tapi dia bisa memimpin keluargamu secara adil dan bijaksana, itulah #Romantis.
Bisa jadi suamimu tidah ahli membangun rumah, tapi dia selalu menjadikan rumah tanggamu bahagia dan damai, itulah #Romantis
Pilihlah pasangan hidupmu yang baik agamanya. Dia akan selalu berusaha membahagiakanmu. Jika tidak bisa membahagiakanmu, setidaknya dia tidak akan menyakitimu.
#Romantis itu, ketika seorang suami menjadi imam dalam sholat malam dan istrinya menjadi makmum di belakangnya. Saat suami sampai pada membaca, “….Ghairil  maghdhuu bi ‘alyhim waladhaalliyn”. Istri menjawab lembut, “Aamiin
#Romantis itu, ketika seorang istri meraih tangan suaminya setelah selesai sholat berjamaah lalu disalami dan dikecupi tangan suaminya lembut mesra. Suami membalasnya dengan kecupan di dahi istrinya sembari mengucap syukur dan doa untuk kebaikan rumah tangganya.
Bersamalah dalam ketaatan kepadaNya. Kemudahan dalam hidup dan kebahagiaan, Tuhan hadirkan pada mereka yang selalu menjaga ketaatan. Jika Tuhan sudah berkehendak kebaikan, siapa lagi yang bisa menghalanginya?
#Romantis itu tidak selalu perihal makan sepiring berdua. Hal terpenting adalah selalu bersama menikmati segala rasa dalam kehidupan ini bersama-sama.
#Romantis itu tidak selalu perihal pasangan yang sempurna. Hal terpenting adalah selalu bisa saling melengkapi, menyempurnakan, menghebatkan, mendamaikan, membahagiakan, dan mensejahterakan.

Thursday, March 27, 2014

Belajar Dari (Dua) Umar


Umar bin Abdul Aziz, seorang laki-laki yang disebut-sebut sebagai khalifah ke 5 kaum muslimin. Dalam waktu kurang dari 3 tahun dia memerintah, rakyat merasakan kemakmuran dan kebahagiaan. Bahkan saat itu, tidak ada penduduk yang mau menerima zakat karena mereka semua berzakat. Binatang buas (serigala) yang seladang dengan domba-domba pun enggan untuk memangsa domba yang digembalakan. Begitulah seorang pemimpin yang dirahmati dan membawa rahmat bagi seluruh rakyatnya. Para musafir yang datang ke negeri muslim diterima sebagai tamu, dijamu, dan disediakan penginapan. Kita semua merindukan seorang pemimpin yang demikian.


Umar bin Abdul Aziz tidak sebagaimana pemimpin sebelumnya, berjalannya tanpa pengawal, tunggangannya sederhana, dan kehidupan rumah tangganya juga sederhana. Kepemimpinan yang menjadikan cermin bagi para pemimpin masa sekarang. Keteladanan sepanjang zaman bagi generasi manusia. Saat sekarang ketika para pemimpin hidup glamour, meminta kenaikan gaji saat kemiskinan meningkat, kunjungan ke masyarakat dengan iring-iringan yang membuat macet, dan kekayaan penguasa berlimpah sedangkan rakyatnya menderita. Kita membutuhkan pemimpin yang menjadi teladan, dari Umar bin AbdulAziz kita belajar.


Hari itu adalah hari pertama Umar binAbdul Aziz diangkat sebagai khalifah.
“Apa yang sedang engkau lakukan ayah?”, tanya Abdul Malik, anaknya tercinta.
“Aku sedang beristirahat sejenak sembari menunggu waktu dzuhur, hari ini cukup melahkan”, begitu kira-kira jawabUmar.
“Ayah, siapa yang menjamin usia ayah sampai dzuhur?”, ucap Abdul Malik mengingtakan ayahnya.


Umar bin Abdul Aziz sesegera beranjak lalu menghampiri anaknya. Dikecup kening anaknya seraya berucap syukur atas karunia yang Allah SWT berikan. Dia tidak memarahi anaknya tetapi justru bersyukur. Ucapan Abdul Malik yang mengingatkan dirinya bahwa menjadi pemimpinitu akan ditanyai pertanggungjawaban.


Sangatlah manusiawi ketika Umar binAbdul Aziz tiduran sejenak. Dari pagi dia sudah sibuk mengurusi pemakaman saudaranyadan mengurus rakyat. Namun demikian, kesadarannya sebagai pemimpin dan amanah besar yang kelak dimintai pertanggungjawaban membuatnya bersegera bangkit. Rasa lelahnya seolah hilang seketika. Seperti Umar bin Khatab yang tidak bisa tidur pulas jika urusan rakyatnya belum tuntas. Kakek Umar bin Abdul Aziz yang tidurnya di serambi masjid beralaskan pelepah kurma dan tanpa pengawalan seorangpun. Panglima Romawi yang tertawan berucap perihal Umar bin Khatab, “Engkau tidur pulas karena engkau telah mengurus urusan rakyat”. Cerminan bagi para pemimpin sepanjang zaman. Kala ada para pemimpin yang cuti dari mengurus rakyat hanya untuk berkampanye. Bagaimana dia menjawabnya jika nantinya ditanya di akhirat? Tidak mudah menjadi pemimpin.


Sebuah kehati-hatian perlu kiranya dimiliki seorang pemimpin. Kehati-hatian yang merupakan cerminan dari keimanan dan ketaqwaan pada Allah SWT bukan sifat keraguan. Layaknya Umar bin Khatab saat dilapori rakyatnya perihal kuda-kuda gemuk milik putranya. Abdullah bin Umar memang membeli kuda-kuda yang awalnya kurus lalu digembalakan di tempat penggembalaan Madinah. Namun Umar bin Khatab memiliki pandangan lain, dia khawatir jika para penduduk memberi perlakuan spesial karena orang-orang tahu bahwa kuda-kuda yang digembala milik putranya, anak amirul mukminin. Umar tidak ingin kedudukan digunakan keluarganya untuk mendapat perlakukan khusus. Putranya pun diminta untuk menjual kuda-kuda tersebut dan hanya mengambil uang sebesar modal awalnya. Renungan bagi kita semua agar menempatkan kehati-hatian yang sekarang dikenal dengan istilah penyalahgunaan wewenang.


Pelajaran lain yang masyur kita dapatkan dari Umar bin Abdul Aziz. Pastilah kisah tentang suatu malam ketika seorang tamu datang padanya dan pembicaraan dilakukan tanpa penerangan lampus udah sampai pada kita. Tamu yang datang ingin membicarakan sesuatu lalu ditanya oleh Umar bin Abdul Aziz perihal maksud kedatangannya apakah untuk urusan rakyat atau untuk urusan pribadi. Ternyata kedatangan tamu tersebut untuk kepentingan pribadi. Lampu kerja Umar bin Abdul Aziz pun dimatikan seraya dia berucap, “Lampu ini milik rakyat sedangkan kedatanganmu untuk urusan pribadi”. Umar tidak ingin dirinya kelak ditanya diakhirat tentang minyak lampu yang digunakannya. Dia tidak ingin disebut menggunakan fasilitas Negara untuk kepentingan pribadi. Lagi-lagi pelajaran penting kita dapatkan.


Kepemimpinan bukanlah dinasti dan warisan dari garis keturunan. Negara ini bukan warisan keluarga sehingga siapapun yang memiliki kualitas dan kapasitas diri paling layak menjadi pemimpin. Abdullah bin Umar adalah anak Umar bin Khatab yang dikenal kapasitasnya dan termasuk sahabat terbaik. Para sahabat banyak yang mendukungnya menjelang Umar bin Khatab wafat. Namun demikian, Umar bin Khatab tidak menginginkan hal demikian. Dia menunjuk beberapa sahabat terbaik untuk bermusyawarah dan memilih pemimpin yang terbaik. Kita mengambil banyak pelajaran tentang Umar bin Abdul Aziz dan Umar bin Khatab.

Tuesday, January 21, 2014

Pengantar Buku, "Bismillah, Kami Menikah"


Penemuan Cinta,
Seperti oksigen, bisa dirasakan segarnya tapi tak terlihat. Dia ada dalam setiap tarikan nafas kita. Mengalir dalam setiap aliran darah kita. Siapapun membutuhkannya. Begitulah cinta.

Cinta dan kehidupan seperti tubuh dengan ruhnya. Tubuhnya adalah kehidupan sedangkan ruhnya sebagai cinta. Tuhan memerintahkan kita semua untuk selalu mengawali perbuatan baik dengan mengucap “Bismillahirrahmaanirrahim”. Menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tuhan ingin agar dalam setiap tindakan baik yang dilakukan manusia merupakan cerminan kasih dan sayangNya.

Setiap yang ada di dunia ini Tuhan ciptakan berpasang-pasangan, demikian juga manusia. Ada siang, ada malam; ada laki-laki, ada perempuan; ada tampan, ada cantik; ada kanan, ada kiri dst. Seolah nampak berbeda tetapi tidak semua yang berbeda bertentangan. Dengan rasa kasih sayang, kita akan menemukan bahwa apa yang tampak berbeda itu, Tuhan hadirkan untuk saling melengkapi dalam kehidupan. 


Setiap manusia lahir dengan jodohnya masing. Hanya saja, Tuhan tidak memberi tahukan pada kita sedari awal. Tuhan letakkan pada tempat yang berbeda. Tuhan bisa saja menghadirkannya ke dunia berbeda waktunya.Tuhan perjalankan manusia hingga akhirnya Tuhan satukan dalam pernikahan penuh keberkahan. Dari situlah kita belajar bahwa niat hanya untuk beribadah padaNya yang paling utama. Selisih usia, jarak, budaya, dan realitas kehidupan hanyalah sebuah realitas yang hendaknya tidak menjadi permasalahan jika memang sudah jodoh.

Saya selalu yakin bahwa setiap doa akan menemukan pengabulannya. Setiap penantian akan Tuhan pertemukan dengan yang dinantikannya. Setiap hati akan menemukan pasangan hatinya. Setiap cinta akan menemukan muara cintanya.  Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”, begitulah sebagian doa saya yang saya kutip dari Al Qur’an surat Al Furqaan ayat 74.

Saya percaya wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Hanya dengan terus memperbaiki diri, menyiapkan diri, dan melayakkan diri sebaik-baiknya jalan mendapatkan yang terbaik. Saya percaya ketika saya menjaga diri sebaik-baiknya; ada seseorang yang sudah Tuhan siapkan menjadi jodoh saya juga melakukan hal yang sama. Saya yakin ketika bangun malam dan bermunajat memohon dipertemukan di satukan dengan pasangan hidup saya; ada seseorang yang Tuhan sudah siapkan melakukan hal yang sama. Saya belum bertemu dengannya tapi bisa jadi sudah jatuh cinta. Saya dengannya memang masih berjarak (dulunya) tapi itu saya dengannya tidak terpisah.

Tuhan sengaja tidak memberitahu bagaimana dan kapan pertemuan saya dengan jodoh saya. Hanya keyakinan bahwa Tuhan Maha Baik dan akan memberikan yang terbaik. Tuhan sedang menyiapkan kejutan-kejutan kebahagiaan hingga setiap detail momentumnya menjadi kebahagiaan. Pertemuannya adalah kebahagiaan, prosesnya adalah kebahagiaan, kehidupannya adalah kebahagiaan. Begitulah yang saya rasakan.

Sampailah suatu kesempatan membahagiakan, dalam momentum yang tiada disangka-sangka, saya dipertemukan dengan seorang wanita yang spesial dalam hidup saya. Sekali bertemu, banyak hal yang membuatnya merasa cocok. Semakin hari semakin kuat lalu melalui doa akhirnya saya memohon petunjuk dan yakin dia jodoh saya.

Awalnya cinta mungkin butuh alasan tetapi kemudian saya tahu bahwa cinta yang kemudian memberi banyak alasan. Alasan untuk berani, bersabar, kuat, bersungguh-sungguh, dan melakukan yang terbaik. Saya beranikan diri untuk menemui keluarga wanita tersebut untuk meminangnya. Sampailah keputusan bahwa pada tanggal 25 Januari 2014, kami bersatu dalam ikatan cinta melalui pernikahan suci dan mulia untuk membina rumah tangga.

Mohon doanya dari pembaca semua untuk kami untuk kelanggengan rumah tangga kami, agar keluarga kami menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah, bahagia sejahtera, berlimpah, berkah, dan mensurga bersama, agar dikaruniai anak-anak dan cucu-cucu yang shalih dan shalihah.

 “Barakallahu laka baraaka ‘alayka wajama’a baynakumaa fii khair”, semoga Allah memberkahi kalian berdua dalam susah dan senang dan menghimpun kalian dalam kebaikan. Aamiin.

Special for you my love, Rizka Hayati

Pariman

This entry was posted in

Saturday, December 14, 2013

#EbookSpesial: Hipnotis Cinta



“Buku ‘Hipnotis Cinta’ spesial saya tulis untuk seseorang yang Allah SWT masih rahasiakan. Dia yang kelak membersamai mengukir bahagia kehidupan ini dan nanti. Dia yang  suatu saat akan mengetahui bahwa buku ini adalah salah satu yang spesial untuknya”, (Pariman Siregar, Juni 2011)

“Alhamdulillah, saya sudah menemukan seseorang yang selama ini saya cari dan saya nanti. Dia yang menjadi pengabulan atas doa-doa saya. Dan saya sudah menyiapkan buku spesial untuknya yang akan saya luncurkan pada 25 Januari 2014”

“Cinta itu energi. Cinta itu penggerak. Cinta itu kemauan. Cinta itu memberi. Cinta itu semangat. Cinta itu perhatian. Cinta itu menumbuhkan. Cinta itu karya. Awalanya, barangkali cinta membutuhkan alasan untuk mencintai tetapi berikutnya cinta yang memberi alasan untuk semuanya. Alasan untuk tetap kuat, selalu bahagia, dan selalu berkarya”, (Pariman Siregar, Desember 2013)

Link Download Hipnotis Cinta

Friday, December 13, 2013

#SebuahRefleksi: Menjadi Manusia


Beberapa waktu lalu, tempat saya praktek (Yakkum, Yogyakarta) mengadakan Peringatan Hari Disabilitas Internasional. Kegiatannya berupa lomba mewarnai yang pesertanya adalah anak-anak yang mengalami disabilitas dan anak-anak dari sekolah sekitar yang diundang. 


Ada hal yang menarik yang menjadi perhatian saya saat anak-anak mulai mewarnai. Saat itu, para orangtua yang mengantar diminta untuk mengambil jarak (menjauh) dari anaknya. Namun demikian, saya melihat ada orangtua-orangtua yang dari kejauhan memberi instruksi akan warna-warna yang digunakan oleh anaknya untuk mewarnai. Anaknya sendiri bukannya tenang tetapi justru tampak cemas dibandingkan anak-anak lain yang mengambil pilihan warna sesuai keinginan mereka. 


Saya tidak yakin jika orangtua ikut mewarnai, hasilnya akan menjadi juara. Saya berpikir, mengapa anak-anak itu tidak dibiarkan saja mewarnai sesuai keinginan sendiri? Membiarkan mereka bertumbuh inisiatifnya, kepekaannya, dan keberanian dalam mengambil keputusan akan warna-warna yang dipilih. Bukankah dalam kehidupan ini, mereka dihadapkan akan pilihan-pilihan? Memberikan kepercayaan pada mereka untuk melakukan akan menjadi modal yang bagus untuk masa depan mereka. Bagaimana jika mereka tidak juara? Memberi penghargaan atas apapun yang dicapai, itulah hal yang bisa dilakukan. “Bagaimana kalau …..?”


Kecemasan, ketakutan, kekhawatiran adalah tema-tema yang seolah melatarbelakangi. Perasaan cemas, takut, khawatir akan kegagalan, ketidaksempurnaan, dan harapan-harapan lebih atas pencapaian. Banyak orang yang menghindari ketakutan, menghindari rasa sakit, tidak ingin susah demi lebih memilih aman. Pada kenyataannya, kehidupan ini berisi ketakutan-keberanian, siang-malam, dan semuanya berpasangan. Mengapa tidak membiarkan diri mengalami ketakutan, kecemasan, rasa sakit, rasa susah sebagai kesempatan belajar menjadi manusia seutuhnya? 


Orang yang tidak memiliki mobil mengira jika memiliki mobil, kebahagiaannya akan meningkat. Dia lupa bahwa setelah sekian lama menggunakan mobil, dia akan merasa bosan dan anggapan tentang mobil yang membahagiakan berkurang. Orang mengira jika tidak merasakan sakit itu seolah hal yang selalu diinginkan. Di sisi lain, ada orang yang sebagian tubuhnya tidak merasa sakit, bahkan tidak merasakan apapun walau dicubit keras. Sadarlah kita bahwa memberi kesempatan pada diri untuk menerima apa-apa yang ada dalam kehidupan ini merupakan hal yang menyenangkan. Membiarkan diri dengan percaya diri menghadapi kemungkinan-kemungkinan? 


Ketakutan bukanlah musuh yang harus dihindari dan dibenci. Bukankah terkadang ketakutan itu mengajarkan kita akan keberanian setelah melampauinya? Bukan lagi dualitas yang kita lihat dalam kehidupan ini tetapi kontunuitas. Biarkan diri bertumbuh dan terus bertumbuh. Saat kita takut, saat itulah kita sadar bahwa kita hanyalah manusia biasa. Sebagai manusia biasa, ada sisi berani dalam diri kita yang selama ini kita abaikan. Mengapa tidak membiarkannya kesempatan bertumbuh?

Saturday, November 30, 2013

#SebuahRefleksi: Bermental Pengemis?


“Pengemis”, sebutan yang tidak asing lagi untuk para peminta-minta. Dulu, orang mengemis karena benar-benar kelewat miskin. Saya ingat saat saya masih kecil, ada pengemis yang meminta-minta dari rumah ke rumah. Tujuannya mengemis sekedar untuk makan, tidak lebih dari itu. Pengemis itu juga malu ketika ada orang yang menyebutnya “pengemis”. Seolah dia sebenarnya tidak menginginkan untuk menjadi pengemis andai bisa melakukan usaha yang lain. 


Dulu saat saya masih kecil memang sangat lain dengan sekarang. Saya menemukan banyak pengemis di zaman sekarang ini sudah menjadi “pekerjaan”. Cara yang dilakukan juga beragam. Pernah saya menemukan, anak-anak masuk di bus lalu menyebarkan amplop kosong dengan tulisan tangan. “Mohon bantuannya untuk membayar sekolah”. Bukannya pendidikan dasar itu gratis ya?


Ada juga yang menyanyi dulu sebelum minta, biasanya di perempatan jalan. Sasarannya para pengguna jalan yang berhenti saat lampu merah. Dulunya mungkin karena memang benar-benar kepepet melakukan hal tersebut tetapi sudah bergeser karena malas bekerja keras. Bagaimana tidak, suatu kali saya menemukan orangnya sedang asyik telpon. Saya yakin HPnya bukan HP yang harga 200an ribu tapi mungkin 700an ribu. Ketika ada salah seorang pengendara motor yang berselorok pada pengemis tersebut, dia hanya bilang kalau sedang telpon pacarnya. Keesokan harinya, biasanya pengemis itu menyanyi dengan diiringi tutup botol yang dirangkai dengan paku pada kayu tetapi saat itu sudah berganti dengan sound system kecil. 


Fenomena demikian semakin hangat dibicarakan ketika di Jakarta didapati seorang pengemis dengan uang 25 juta. Jumlah yang sangat fantastis. Ada banyak orang yang memiliki pengalaman yang membuat dahi berkerenyit. Seorang teman pernah bertanya tentang uang yang didapat. Jawab pengemis dengan enteng, “Lagi sepi hari ini, cuma dapat 200rb”. Dapat 200rb dianggap sepi? 


Kalau ditotal 200rb x 30 hari sudah 6 juta. Jumlahnya berlipat-lipat dari UMR dan gaji PNS yang baru awal diterima. Ada juga yang tahu persis kalau ada pengemis yang rumahnya mewah. Pengemis menjadi pekerjaannya. Ada pula yang sawahnya luas, pergi ke kota karena musim kering lalu mengemis. Saat sudah musim hujan, balik lagi menggarap sawah. Mendapati kenyataan tentang pengemis yang penghasilannya banyak, ada seorang yang mengatakan menyesal dan tidak akan lagi memberi uang receh karena gajinya ternyata lebih banyak yang diperoleh pengemis. Baru saja kemarin, saya menemukan ada peminta-minta dengan HP Black Berry. Dalam hati saya berkata, “Apa yang salah dengan negeri ini?” Nampaknya, fenomena tentang pengemis menggambarkan problem kronis secara mental.


Sebuah refleksi untuk diri sendiri, “Apakah mentalitas pengemis itu ada dalam diri kita juga?” Bentuknya bisa saja sangat lain karena norma yang kita pegang masih bisa mengendalikan dorongan mentalitas itu dalam bentuk perilaku yang lebih bisa diterima sebagai kewajaran. Mentalitas “mengemis” ditandai dengan “dependensi, meminta-minta, tidak mandiri”. Sampai seusia sekarang ini, masihkan menggantungkan pemenuhan kebutuhan pada pihak-pihak tertentu tanpa adanya kerja yang menghasilkan uang padahal jika berusaha lebih bisa menghasilkan sendiri? Berapa banyak jumlah yang diberikan atau disumbangkan selama ini? Dalam konteks lebih luas, dimana posisi kita, apakah menjadi beban atau memberi solusi?


Jika ada 1 “pengemis” saja, berarti Negara mengalokasikan pengeluaran untuk membiayani pengemis tersebut melalui dinas terkait. Jika 1 “pengemis” mendapat alokasi 1 juta tiap bulan dan ada 1 juta pengemis berarti ada 12 x 1 juta x 1 juta, totalnya ada 12.000.000.000.000,- Hitungannya sebagai “beban” anggaran karena dihitung sebagai konsumsi. 


Jumlah uang yang sangat besar dan sangat cukup untuk membeli modal tukang bakso keliling (misalnya). Jika modal tukang bakso keliling adalah 5 juta berarti ada (12.000.000.000.000,- : 5.000.000) 2,4 juta pedagang bakso. Berapa banyak orang yang diuntungkan, roda ekonominya digerakkan? Jika tukang bakso memiliki 2 anak yang masih sekolah, istrinya yang membantu bekerja, 1 pelayan yang membantu melayani, pembuat gerobak, penjual daging, pembuat mie dan pangsit dst. Roda ekonomi yang digerakkan lebih banyak dibandingkan jika anggaran tersebut dialokasikan pada “pengemis” 


Sampai di sini, jika boleh digarisbawahi bahwa segala yang menjadi beban anggaran itu layaknya posisi “pengemis”. Saya sendiri jadi tersadar saat dulu menerima beasiswa, berarti dulu itu alokasi anggaran untuk pengeluaran bukan pendapatan bagi pemberi beasiswa? Saya jadi ingat saat masih menggantungkan kiriman dari orangtua, berarti posisi dalam pos anggaran saya seperti pengemis? Segala fasilitas yang masih disubsidi dan dalam pos anggaran pengeluaran terhitung posisi sebagaimana pengemis? 


Saya jadi termenung dengan berbagai fenomena yang anda. Apakah selama berdoa juga lebih banyak memposisikan diri sebagai “pengemis”, minta melulu? Jika mendapat keadaan sedikit sulit, belum-belum sudah mengeluh. Sudahkah bersyukur hari ini? Sepertinya lebih banyak saya meminta daripada bersyukur atau berterima kasih. Semoga kita senantiasa menjadi hamba yang pandai bersyukur atas berlimpahnya nikmat Allah SWT. (#RefleksiDiri)