Sunday, November 7, 2010

Karena Cinta Senantiasa Memberi Inspirasi*

Masih ingat tulisan sebelumnya yang terdapat ungkapan, “Cinta itu fitroh yang suci, dia akan terkotori oleh dominasi, keinginan memegang kendali, dan menguasai”?

Cinta yang terkotori hanya akan melemahkan pemiliki cinta itu sendiri. Kerenggangan, mengatasnamakan ketidakcocokan, dan terancam perpisahan. Tentulah hal demikian tidak perlu terjadi ketika masing-masing menempatkan cinta sebagai ungkapan saling berbagi dan memberi bukan meminta dan menuntut kembali.

Dipahamilah kemudian kenapa mereka yang biasa menjalani hubungan lama (dalam istilah umum disebut pacaran) akhirnya hanya berujung perpisahan. Meninggalkan kekecewaan yang menjadikan semacam trauma bagi seseorang dan berkembang menjadi kecurigaan tak beralasan dalam jalinan hubungan. Rasa cemburu berlebihan yang dilandasi kekhawatiran kehilangan. Tindakan yang kadang dimaknai terlalu mengkontrol dan membatasi kebebasan pasangan cintanya. Orang bijak mengomentari cinta yang demikian, “Membatasi berkembangnya potensi diri seseorang”.

Padahal bertemunya rasa cinta seharusnya melahirkan loncatan pencapain yang lebih dalam kehidupan. “Bukankan cinta itu adalah energi yang menggerakkan?” Mereka yang dalam hatinya bersemayam cinta mampu melakukan segalanya demi yang dicinta. Orang awan menyebut pengorbanan tetapi baginya, itu adalah wujud cinta yang dibuktikan. Sampai sekarang kita bias melihat Tajmahal, salah satu keajaiban dunia yang terlahir dari bukti cinta. Para penulis barangkali akan menuliskan nama yang dicintanya dalam halaman persembahan buku yang dia tulis. Buku yang akan menghiasi rak insan di pelosok negeri ini atau mungkin sampai lintas generasi. “Anda tidak akan memahami cinta jika anda tidak pernah mengalaminya,” begitu kata orang.

Hanya cinta yang rabbani yang akan melahirkan cinta sejati. Hanya cinta yang diikat dalam tali keimanan yang akan melahirkan sejarah sampai akhir zaman bahkan di surga akan jadi kenangan. Pernikahan, itulah jalan yang agama sediakan untuk mengumpulkan yang berserakan. Potensi genetis, intelektual, spiritual dst berkumpul untuk mewujudkan visi yang illahi. Kecemburuan dalam cinta yang demikian mendapat ganjaran.

Kecemburuan, sebuah kutub dalam sisi lain cinta. Kecemburuan merupakan hal wajar dalam kehidupan. Semua orang pastilah mengalaminya. Konsekuensi menaruh perasaan pada orang lain adalah kecemburuan. Mengetahui kalau yang dicintai mendapat perhatian orang lain bagi sebagian orang itu menyakitkan. Begitulah cemburu. Rasa cinta yang dimaknai harus memiliki menjadi pemicu kemunculan kecemburuan. Sebuah perasaan tidak nyaman jika si dia beralih perhatian.

Kewaspadaan berlebih hanya akan menimbulkan kelelahan dan ketidakproduktifan. Berfokus pada kelemahan dan pengalaman tidak menyenangkan hanya akan mengkungkung kreatifitas dan menghambat pencapaian. Kepercayaan merupakan kunci dalam keadaan yang demikian. Sebuah kepercayaan yang dilahirkan dari kejernihan jiwa atas segala pengalaman was-was dalam hubungan. Keterbebasan dari pengalaman tidak menyenangkan dan hubungan masa lalu yang menemui kebuntuan.

Dibutuhkan namanya Rekayasa Emosi. “Langit bisa saja mendung tetapi hati anda bisa tetap bergembira”. Artinya mencoba untuk menarik diri dari situasi dan menjadi pengamat keadaan yang terjadi lalu setelah detail memahami barulah menentukan reaksi. “Senantiasa ada sudut pandang lain dalam menyikapi masalah”. Murnikan logika dari emosi, begitu sederhananya. Dalam hubungan sesekali butuh jeda jarak memang akan masing-masing tidak larut dalam keadaan. Hal yang wajar sebagai kesempatan melihat peningkatan pencapaian. Tidak perlu dibawa ke ranah emosi dan asumsi yang malah menjadikan keruh keadaan. Tunggulah sebentar kemudian ketika semua jernih kembali, hubungan akan semakin dekat. Karena cinta senantiasa memberi inspirasi. Senyum dan tersenyumlah tidak ada yang perlu anda takutkan. Berbahagialah CINTA!

Pariman Siregar: Penulis Buku MASTER from minder dan Founder QMC
Terima kasih buat seseorang yang meyakinkan dan senantiasa memberikan semangat untuk tetap istiqomah dalam kehidupan ini.
Terima kasih buat seluruh pembaca MASTER from Minder, karena pembacalah semangat itu jadi semakin menyala dan membara.
Thanks for my mastermind in Quantum Motivation Center; Fifi, Yekti, Fery, dan Wahyu. Buat Idham, Prima, Rajab Ali. DR. Yeniar Indriana juga ibu Farida Hidayati S.Psi,. MSi, Pak Achmad Mujab Masykur S.Psi, Pak Bambang Suherman yang menjadi patner dalam sharing dan berbagi.
Mohon do'a untuk buku kedua juga S1nya :)

Saturday, November 6, 2010

Telah Aku Temukan Cinta Sejati Itu*

Pernahkah anda menaruh harapan pada seseorang tetapi akhirnya “kandas” di tengah jalan? Anda mungkin sedang dalam pencarian pasangan hidup yang selama ini begitu anda impikan tetapi belum juga kunjung datang? Atau anda sudah membangun hubungan dan ingin mendapatkan cinta berkelimpahan? Semoga tulisan kali ini bisa memberikan sedikit pencerahan.

“Cintailah dia karena ANDA BERKELEBIHAN cinta bukan karena ANDA KEKURANGAN cinta atau berharap ingin dicinta”.
Jatuh cinta pada lawan jenis adalah sebuah kewajaran apalagi ketika usia beranjak dewasa. Menaruh harapan besar pada seseorang, suatu saat menjadi pasangan pun hal yang lumrah dilakukan. Dalam kehidupan ini, semua diciptakan berpasang-pasangan. Ada laki-laki, ada pula perempuan; ada siang, ada malam; ada gelap, ada juga terang dst. Manusia diciptakan beragam; bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, tiada lain untuk saling mengenal. Diciptakan dari satu kemudian berkembang sebagaimana sekarang pun sudah Tuhan rancang. Kata seorang filsuf, “Hakekat kehidupan adalah kasih sayang”.

Rasa cinta merupakan fitroh yang suci dalam setiap diri. Seiring bertambahnya usia, rasa itu pun mengalir menemukan muaranya, bergantian dan terus berkembang. Pada awal fase kehidupan, orangtua merupakan muara kasih sayang yang terus mengalirkan cinta dan perhatian. Bergulir masa dan bertambah cinta karena pertemanan dan persahabatan. Semakin dewasa, semakin berkembang cinta mengalir menuju pasangan jiwa. Kehidupan berumah tangga, menyemai cinta, melahirkan anak-anak yang ceria yang kemudian melestarikan siklus cinta kembali. “Ketika seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan maka mereka akan belajar menemukan kasih dalam kehidupan,” begitu kata para ahli ilmu jiwa.

Suasana keluarga akan berpengaruh dalam diri seseorang terkait cara pandang terhadap dunia ini dan tindakan menyikapinya. Dikatakan bahwa orangtua akan menjadi refrensi seseorang dalam penentuan pasangan. Gambaran ideal orangtua dijadikan pertimbangan dalam pemilihan pasangan. Seorang wanita bisa begitu dekat dengan seorang laki-laki karena dia menemukan figur seperti ayahnya dalam diri laki-laki tersebut. Penuh perhatian, kasih sayang, pemaaf, dan pengertian. Demikian pula dengan laki-laki yang berharap pasangan hidupnya adalah seorang wanita yang ideal. Semua orang sah-sah saja menentukan gambaran pasangan hidupnya. Mencintai berarti mencurahkan segala yang dimiliki untuk yang dicintainya. “Selama anda mendedikasinya untuk memberi tanpa berharap kembalian maka yang terjadi anda akan lebih banyak juga dalam mendapatkan, sebaliknya jika anda terus meminta maka kekurangan yang akan anda dapatkan,” begitu orang bijak menasehatkan.

Cobalah telisik ke dalam hati untuk mengetahui alasan cinta terhadap seseorang. Ada sebagian orang yang menemukan cinta karena orang tersebut memiliki figur seperti seseorang yang darinya mendapatkan kasih sayang. Alasan cintanya lebih semacam kompensasi kalau boleh dibilang. Kemunculan cinta yang dilatarbelakangi karena sumber cinta yang selama ini memberinya telah terkurangi. Secara alamiah, hati mencari sumber lain yang bisa mengisi penuh rasa cinta itu. “Mencintai seseorang karena kekurangan cinta dan berharap dia mendapatkan balasan cinta,” begitu sederhananya.

Bagi mereka yang kemudian menyadari lalu mengubah dari kompensasi menjadi sumber energi, dari berharap menerima menjadi memberi akan mendapati kelanggengan cinta. Sedangkan mereka yang tidak menyadari dan tidak bertransformasi menemukan diri mereka dalam kekecewaan. Itulah mengapa ada orang-orang yang memiliki hubungan kedekatan lama tetapi akhirnya tidak bermuara pada rumah tangga. Ada juga yang cinta dalam rumah tangganya tergoyang dengan alasan tidak menemukan lagi kecocokan. Entah aalasan mendasar apa yang dulu dijadikan landasan cinta. Bisa jadi hanya sebatas kompensasi, subtitusi kebutuhan cinta dst. “Putusnya” hubungan cinta karena dia telah menemukan muara lain dimana dia mendapatkan lebih.

Mereka yang sama-sama kekurangan cinta kemudian bertemu, berjanji saling melengkapi akhirnya menemukan cinta sejati. Dalam kekurangannya, mereka menemukan hakekat cinta yaitu saling berbagi dan saling memberi. Selama tidak ada dominasi maka cinta akan terus abadi. “Cinta itu fitroh dan suci, dia akan terkotori oleh dominasi, keinginan memegang kendali, dan menguasai”. Selamat menemukan cinta sejati, sambut dengan bahagia di hati.


Pariman Siregar: Penulis Buku MASTER from minder dan Founder QMC
Terima kasih buat seseorang yang meyakinkan dan senantiasa memberikan semangat untuk tetap istiqomah dalam kehidupan ini.
Terima kasih buat seluruh pembaca MASTER from Minder, karena pembacalah semangat itu jadi semakin menyala dan membara.
Thanks for my mastermind in Quantum Motivation Center; Fifi, Yekti, Fery, dan Wahyu. Buat Idham, Prima, Rajab Ali, Fajri. DR. Yeniar Indriana juga ibu Farida Hidayati S.Psi,. MSi, ak Achmad Mujab Masykur S.Psi yang menjadi patner dalam sharing dan berbagi.
Mohon do'a untuk buku kedua juga S1nya :)

Sunday, October 17, 2010

Menjadi Ayah yang Mengagumkan


Selembut kelincikah?
Atau seseram harimau?
Mungkin pula semengagumkan merak?
Segagah elang?
Ataukah selayaknya beruang kutub yang senantiasa memberikan kehangatan?
Tulisan kali ini buka bertutur perihal pelajaran biologi. Sudah lewat rasanya pembahasan perihal pelajaran itu kecuali bagi kawan-kawan di MIPA. “Parenting” itulah tema tulisan kali ini. Berangkat dari mencermati derasnya status FB terkait pernikahan. Mudah-mudahan bisa menjadi bekal bagi mereka yang telah menetapkan diri menjadi seorang ibu ataupun ayah.
Ya, demikianlah. Keputusan berumah tangga tentulah diikuti dengan kepemahaman tanggung jawab menjadi orangtua. Sebelum pernikahan barangkali yang terbayangkan kebahagiaan-kebahagiaan berdua-duan dengan pasangan. Saat bangun tidur di sepertiga malam, ketika membuka mata terlihat di sana seorang pangeran tampan (bagi para wanita) atau seorang bidadari impian (bagi para laki-laki). Mungkin pula suka cita hari-hari, romatisme makan sepiring berduanya.
Ada tanggung jawab baru yang menyusul ternyata. Beberapa waktu kemudian seorang wanita hamil, mengandung buah hatinya. Dia sudah menjadi seorang ibu. “Sebegitu cepatkah?” demikian sebagian wanita mengungkapkan ketidaksiapannya akan tanggung jawab sebagai ibu. Demikian pula dengan seorang laki-laki, kehamilan seolah mengabarkan tanggung jawab sebagai orangtua sudah dimulai. Bukan lagi perihal pasangan tetapi buah hati, cinta yang selama sekian waktu disemai ternyata bertumbuh. Tugas selanjutnya setelah benih tersebut tumbuh adalah menjaganya, miliharannya hingga suatu saat nanti berbuah dan siap dituai. Karena itulah orang Jawa memimiliki istilah “ngundoh mantu” ketika putri mereka menikah.
Jika anak hidup dengan omelan, Ia belajar mengomel
Jika anak hidup dengan permusuhan, Ia belajar berkelahi
Jika anak hidup dengan ejekan, Ia belajar jadi pemalu
Jika anak dengan dipermalukan, Ia belajar merasa bersalah dan rendah diri
Jika anak hidup dengan toleransi, Ia belajar bersabar
Jika anak hidup dengan dorongan, Ia belajar kebenaran
Jika anak hidup dengan rasa aman, Ia belajar percaya
Jika anak hidup dengan persetujuan/penerimaan, Ia belajar menyukai dirinya
Jika anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, anak belajar menemukan kasih di dunia
Lebih luas lagi ternyata tanggang jawabnya. Mencarikan nafkah dengan bekerja itu hal yang biasa. Bekerja siang malam untuk anak dan istri (bagi laki-laki) atau membantu suami bekerja untuk menambahi pendapatan keluarga (bagi wanita). Namun, menyediakan waktu untuk berdiskusi dari hati ke hati, mendengarkan curhatan anak, menyemak hafalan Al Qur’an mereka, dan interaksi dengan anak sudah selayaknya mendapat perhatian. Ketika menjadi orangtua, ayah atau ibu, ingin seperti apa dalam pandangan anak-anak?
Selembut kelincikah? Atau seseram harimau? Mungkin pula semengagumkan merak? Segagah elang? Ataukah selayaknya beruang kutub yang senantiasa memberikan kehangatan? Karakter apa saja yang menggambarkan diri anda? Menjadi ayah yang mengagumkan? Atau menjadi ibu yang menginspirasi? …
Pariman Siregar: Penulis Buku Master from Minder dan Founder QMC
Terima kasih buat temen-temen QMC
Terima kasih buat seseorang yang meyakinkan dan senantiasa memberikan semangat untuk tetap istiqomah dalam kehidupan ini.
Terima kasih buat seluruh pembaca MASTER from Minder, karena pembacalah semangat itu jadi semakin menyala dan membara.
Thanks for my mastermind in Quantum Motivation Center; Fifi, Yekti, Fery, Ali, dan Wahyu. Buat Idham, Prima, Rajab Ali, Fajri. DR. Yeniar Indriana juga ibu Farida Hidayati S.Psi,. MSi yang menjadi patner sharing dan berbagi.
Mohon do'a untuk buku kedua juga S1nya. : )

Tuesday, September 28, 2010

Aku Nanti di Gunung Fuji


“Anda bukannya kak, Arim?” sapa perempuan itu dengan nada ragu, setengah tidak percaya.
Suasana pesawat boleh dibilang cukup hening. Mereka sibuk dengan aktifitas sendiri, ada yang membaca koran, majalah, tidur, ada pula yang diam memandang ke luar. Getaran pesawat sedikit terasa, mendakan ketinggian bertambah. Rumah-rumah penduduk semakin lama hanya kelihatan seperti titik-titik kemerahan akhirnya lenyap digantikan sedikit awan putih.
Pesawat Jakarta-Beijing sudah hamper 1 jam terbang. Seorang pramugari menghampiri seorang laki-laki yang duduk di bagian tengah. Sepertinya ada yang dia butuhkan.
“Anda bukannya kak, Arim? Kakak kelas saya?” tanya pramugari itu.
“Dik, dirimu jadi pramugari di sini?” jawab lelaki itu sedikit terhenyat melihat seorang perempuan di hadapannya. Wajah perempuan itu tidaklah asing bagi dirinya. Dia adalah adik kelasnya waktu kuliah dulu dan sempat mengambil mata kuliah yang sama.
Sudah kali ketiga ini sebenarnya dia menaiki pesawat yang sama untuk tujuan Jakarta-Beijing. Kali pertama dalam rangka keberangkatan memenuhi undangan kedutaan besar RI di Jepang. Di sana dia diminta untuk presentasi community development yang selama ini dikembangkannya di wilayah Jawa Tengah. Kali kedua dalam rangka pertemuan dengan kolega pengembangan SDM untuk beberapa perusahaan Jepang di Indonesia. Namun demikian, perjalanan ke Jepang yang ketiga inilah tampaknya yang spesial. “Ngeteh”, ya ngeteh. Keberangkatan untuk memenuhi undangan sahabat-sahabatnya satu angkatan dulu. “Ngeteh sambil menikmati keindahan Gunung Fuji”.
Dulu, semuanya boleh dibilang hanya angan-angan tetapi sekarang semuanya menjadi sebuah kenyataan. Entahlah, sepertinya memang sudah menjadi tabiat alam, mereka yang memiliki impian dihadapkan dengan kenyataan keadaan. Realitas keadaan yang umumnya menjadi semacam kendala, alasan, mungkin pula penghalang seseorang untuk merajut dan merangkai gemilang masa depan.
Use your imajination to creat the future don’t use your memories”. Mereka yang menggunakan rekaman masa lalu untuk merangkai masa depan terutama pengalaman masa lalu tidak menyenangkan hanya akan dihadapkan pada hambatan, keterbatasan bahkan ketidakberdayaan. Keadaan yang menjadikan seseorang semakin sempit ruang imajinasi.nya Padahal, ruang imajinasi adalah ruang kebebasan untuk membangun kenyataan. Dari ruangan itulah kaberanian dimulai, energi, pencapaian, dan keyakinan bisa menemukan kesejatiannya. Hanya dibutuhkan kemenangan dan keberhasilan kecil berulang untuk menguatkan menjadi kenyataan. Ya, itulah keadaan mereka dan apa yang mereka lakukan sekian tahun yang lalu.
Masih jelas dibenaknya sharing pekanan bercerita tentang impian. Hanya sebagian yang bersedia menyampaikan keinginan mereka di masa depan. Seolah-olah menanggung dosa besar jika impian itu tidak menjadi kenyataan. Seakan aib jika orang lain tahi impiannya. Namun, dia yakian dalam hati teman-temanya pastilah ada semangat, energi besar yang akan mentransformasi bayangan dan angan menjadi realitas. Tidak butuh waktu lama ternyata, kepompong yang dulu diam dan malu-malu sekarang menjadi kupu-kupu dengan ragam keindahan. Kupu-kupu yang menjadikan taman negeri ini semakin indah. Ada yang menjadi konsultan SDM, penulis, dosen, pengusaha tour and travel, pemiliki rumah sakit, ada pula yang memiliki klinik, konsultan kesehatan masyarakat, pengusaha sesuai bidang mereka, ada yang besar di pemerintahan, ada pula yang besar dari sektor swasta, dan ada juga di pelayanan publik. Arab, Thailand, Jerman, Singapura, Malaysia, UK, Afrika Selatan, US, dan banyak Negara yang pernah mereka singgahi.
Ada yang bilang, bekal utama yang Tuhan berikan pada manusia adalah keyakinan. Manusia diminta untuk terus menjaga keyakinanan pada Tuhan dimanapun dan sampai kapanpun. Keyakinan akan potensi yang dimiliki, masa depan yang cerah, orang-orang juga lingkungan memberi suplai energi meraih mimpi. “Yakin bisa pasti bisa, jujur, disiplin, berani, dan kerja keras!” untaian kalimat yang menjadi jargon.
Semua menjadi kenyataan dan sebentar lagi akan bertemu dengan mereka di Jepang. Melihat putihnya salju Gunung Fuji, merasai udara dingin pegunungan sambil menikmati hangatnya secangkir teh yang mengepul dengan aromanya yang khas. Duduk bercengkrama, bereuni bersama teman-teman lama, masing-masing membawa keluarga, dan saling bercerita perjalanan suksesnya. Itulah hal yang spesial di perjalanan kali ini.
“Halo…Mas Arim melamun? Masih ingat nama saya?” tanya pramugari yang tidak lain adalah adik kelasnya itu.
“Ee…Saya hanya kaget, sudah tiga kali menaiki pesawat yang sama tetapi baru kali ini bertemu. Saya masih ingat, dong. Siapa yang tidak ingat perempuan secerdas dirimu?” jawabnya menyembunyikan kekagetan.
“Ngomong-ngomong, siapa perempuan cantik dan anak kecil yang manis di sebelah Mas Arim?”

-->
Pariman Siregar: Penulis Buku Master from Minder dan Founder QMC
Terima kasih spesial untuk Guru saya di Semarang Bpk Effendi Nogroho beserta keluarga atas bimbingannnya.
Teman-teman di Etos Semarang baik pendamping maupun etoser.
Buat seluruh pembaca Master from Minder, terima kasih juga untuk my mastermind in Quantum Motivation Center; Fifi, Yekti, Ali, Fery, dan Wahyu.

Thursday, September 16, 2010

(Jangan) Lihat Ke Bawah!


“Melihatlah ke bawah!” nasehat yang umum pernah orang dapatkan. Artinya, membiasakan diri agar senantiasa mensyukuri setiap nikmat yang didapatkan. Memahami bahwa nikmat yang Tuhan anugerahkan jauh lebih melimpah dari keadaan kenyataan yang seseorang rasakan. Dengan kepemahaman tersebut, tumbuhlah optimisme, energi yang menggerakkan dalam pencapaian impian-impian.
“Kepahlawanana kolektif,” kata Anis Matta.
Ada satu masa seseorang mengalami kemandegan, kelambatan dalam mencapai impian. Dalam keadaan yang demikian, perlulah dipahami bahwa sebenarnya Tuhan menghendaki untuk sejenak melihat proses yang selama ini dijalani. Adakah yang perlu disempurnakan? Setelah benar-benar mencermati, umumnya langkah-langkah berikutnya lebih mudah. “Ternyata hanya begitu saja” begitu simpulnya ketika melewati garis finish. Setiap orang memang memiliki jatah masing-masing yang harus diselesaikan. Tidak perlu berpanas-panas dalam persaingan, justru kasih sayang dan saling memberi dukungan yang ditumbuh suburkan. “Mampu menyumbangkan peran dalam kesuksesan, itulah sebagian kesuksesan”. Manusia super power sekalipun tetaplah memerlukan dukungan dalam meraih impian-impian.
“Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah engkau hidup selama-lamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah engkau mati esok hari,’ demikian pesan Umar.
“Melihat ke bawah!” Bukan berarti mandeg dari berusaha. Tetaplah anda menyebar jalan perihal jumlah ikan yang datang, biarlah Tuhan yang menghadirkannya. Dalam suatu kesempatan, perlu direnungkan ketika ingin melihat ke bawah. Jangan-jangan justru dirinya yang berada di posisi paling bawah, tidak ada lagi orang yang lebih bawah. Mengatasnamakan zuhud untuk membenarkan kemalasan bangkit dari keadaan. Seseorang yang memiliki segala kelimpahan untuk digunakan tetapi tetap memilih hidup dalam kesederhanaan, itulah zuhud.
Lebih pilih mana bahagia tetapi miskin; tidak bahagia tetapi kaya; dibanding bahagia ‘tetapi’ kaya?
“Saya lebih memilih berlimpah bahagia dan super kaya!”

-->
Pariman Siregar: Penulis Buku Master from Minder dan Founder QMC
Terima kasih buat temen-temen QMC
Terima kasih buat seseorang yang meyakinkan dan senantiasa memberikan semangat untuk tetap istiqomah dalam kehidupan ini.
Terima kasih buat seluruh pembaca MASTER from Minder, karena pembacalah semangat itu jadi semakin menyala dan membara.
Thanks for my mastermind in Quantum Motivation Center; Fifi, Yekti, Fery, dan Wahyu. Buat Idham, Prima, Rajab Ali, Fajri. DR. Yeniar Indriana juga ibu Farida Hidayati S.Psi,. MSi yang menjadi patner sharing dan berbagi.
Mohon do'a untuk buku kedua juga S1nya. : )

Saturday, August 14, 2010

Say "Thanks", Get More Than: Mau Tambah Banyak? Berterima Kasihlah


“Wahai Musa, aku adalah seorang yang miskin dan hidup dalam kekurangan. Adakah saran untukku agar aku menjadi berkelimpahan?” terang si miskin minta penjelasan.

“Perbanyaklah syukurmu pada Allah,” jawab Musa dengan penuh keseriusan.

“Bagaimana aku bersyukur, keadaanku saja dalam kekurangan … “ dengan nada tidak puas, Yahudi miskin itu meninggalkan nabi Musa.

Dalam kesempatan yang lain, datanglah seorang yang bajunya bagus dan menampakkan serba kecukupan. Dia pun mendatangi Musa untuk meminta saran darinya.

“Wahai Musa, banyak kelimpahan yang Allah berikan padaku. Aku ingin sesekali merasakan menjadi orang biasa saja (miskin). Adakah saran untukku?” tanya ummat Musa itu.

“Janganlah engkau bersyukur,” saran Musa.

“Bagaimana aku bisa tidak bersyukur,

Tuesday, July 27, 2010

Seberapakah Expert Anda?

...Sekian buku, materi, pelatihan (apalagi ya?) telah didapati| Namun bertanyalah pada diri sendiri tentang spesialisasi yg telah anda miliki| Jika orang berpendapat tentang diri anda maka apa yg mereka katakan tentang anda? | What expert do you have?|...